
Sebelum napas Lizi disedot habis, Farez sudah lebih dulu melepaskan kecupannya. Sedangkan Lizi masih dalam posisi yang sama, terdiam dengan mata yang masih berkedip, mungkin butterfly effect masih cukup terasa hingga membuat kinerja otaknya sedikit melambat.
Lizi melirik ke samping, menatap Farez yang kembali tertidur dengan lelap.
Terus, yang nyipok tadi siapa? Wah, nglindurnya kelewatan nih orang. Lama-lama disini bisa di perkodok nih!
Lizi buru-buru bangkit, dan pergi meninggalkan Farez sambil mengendap. Dia pikir, Farez benar-benar tertidur, tapi sebenarnya, tidak. Pria itu mengintip Lizi dengan satu mata yang terbuka. Dua sudut bibirnya meninggi, melihat Lizi masih berjalan pelan, keluar melewati connecting room.
Setelah kembali, Lizi buru-buru menutup pintu, lalu merebahkan dirinya di kasur. Entah kenapa, tangannya tiba-tiba meraba bibir, membayangkan bagaimana lidah itu menerobos masuk ke dalam bibirnya.
Hilang sudah keperawanan bibirku ini!
Mentari menyapa kemucuk bumi bagian timur, sama seperti biasa. Namun itu di kota lain, bukan di kota tempat Lizi menginap yang justru dirundung mendung.
Setelah adegan nglindur yang di pikirkan Lizi, tetapi justru memang disengaja Farez, mereka akhirnya kembali bertemu di restoran hotel. Tepat setelah Farez menjemputnya di depan kamar.
Lizi yang duduk di hadapan Farez, dengan sepiring nasi goreng dan dua butir telur mata sapi di mejanya, sesekali melirik pria itu. Melihat bagaimana Farez menggigit roti sambil melihat ponsel, membuat Lizi menelan salivanya kasar. Kala membayangkan adegan lumatt-mellumat yang mereka lakukan semalam.
__ADS_1
Konsentrasi makan Lizi juga mendadak hilang, saat melihat pria itu mengusap remahan roti yang tertinggal di sudut bibir dengan lidahnya.
Nyes … mempesona, sungguh mempesona. Bahkan Lizi pun sampai terbatuk-batuk melihat adegan fenomenal seorang Farez Febian.
"Makan pelan-pelan, udah gede juga!" gerutu Farez mengambilkan segelas air putih yang ada di hadapannya. Lizi dengan ceoat meneguk segelas air hingga habis tak tersisa.
"Pak, Bapak mau lamar anak orang ngak bawa siapa-siapa gitu? Sendirian aja?" tanya Lizi berharap Farez menunda perjalanan mereka.
Farez menengok jam tangan sesaat, "Nanti mereka menyusul, gak perlu khawatir!"
Glek.
Sampai tibalah mereka di sebuah rumah tanpa pagar dengan halaman luas. Ada sebuah mobil sedan kuno yang terparkir, juga taman indah yang kelihatan dirawat dengan baik.
"Pa-pak, gimana kalau masuknya nunggu keluarga Bapak datang? Biar enak, jadi saya yang masuk dulu kasih kabar."
Farez menatap gadis yang duduk di sampingnya untuk sesaat sambil berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia setuju. "Oke, aku nunggu di mobil."
Lizi buru-buru turun dengan wajah senangnya. Akhirnya, dia berhasil menunda waktu untuk memberitahu kabar mengejutkan ini pada ayah dan ibunya. Lantaran jika dia menghubungi lewat telefon, pasti akan bertambah panjang ceramah yang akan dia dengar.
__ADS_1
Kedatangan Lizi tentu disambut hangat oleh kedua orang tuanya meski tanpa nyala kembang api. Basa basi jelas terjadi saat mereka melihat anaknya pulang tanpa kabar, seperti kejutan mendadak yang membahagiaan. Namun raut wajah Pak Bakti dan Bu Eja mendadak kecut saat mendengar alasan anaknya pulang.
"Kamu, ngak hamil kan?" tanya Bu eja, wanita paruh baya berumur 45 tahunan itu.
Harus menjelaskan seperti apa? Tidak mungkin juga Lizi memberi fakta bahwa Farez meminta pertanggung jawabannya hanya karena insiden konyol itu dengan pernikahan. Tapi apa dikata, semua sudah terlanjur, beras pun sudah menjadi bubur.
"Jadi kamu pulang sama dia? Dimana dia sekarang?" tanya Pak Bakti.
"Di-Di luar, Yah."
Berbeda dengan Bu Eja yang hanya bisa menghela napas panjang. Respon Pak Bakti justru di luar dugaan Lizi. Tanpa bertanya apapun, Pak Bakti pergi ke kamar mengambil keris koleksinya dan langsung keluar menemui Farez.
"Mana! Mana yang mau nikahin anak gadisku dadakan begini?" Teriaknya lantang sembari memegang keris, dan tangan kirinya memegang sarung yang belum sempat dirapikan
"Mana orangnya! Mau jadi tokoh utama di serial Ujug-Ujug Nikah?"
Nungguin respon Pak Bakti sama Bu Eja pas liat bang Farez, bisa sambil ngopi dulu kali yaa 🤭🤭
__ADS_1