
Beberapa pasukan emak emak dengan daster dan sapu menyerbu rumah Farez. Ada setidaknya sepuluh wanita yang berdiri dengan tatapan marah saat Farez membuka pintu.
"Oh ini yang kumpul kebo!" teriak salah seorang emak emak dengan serbet di pundaknya.
"Mana itu kebo betinanya? Bawa ke sini, ayo!" seru emak emak lain memperkeruh suasana.
"Tunggu tunggu! Ini ada apa?" tanya Farez berusaha tenang, tapi beberapa penghuni kos mulai keluar rumah, sedangkan Lizi bersembunyi di belakang pintu mencari aman.
"Lu kumpul kebo, Rez!" pekik seorang ibu ibu muda yang umurnya hanya beberapa tahun lebih tua dari Farez.
"Gue liat beberapa hari ini ada betina yang masuk ke rumah. Gak siang gak malem. Lo tuh berdosa banget, Rez!" lanjutnya seakan tidak memperdulikan Farez yang ingin menjelaskan.
"Ini semua salah paham. Saya bisa jelasin!" tegas Farez mencoba meredam keadaan, tetapi beberapa emak emak itu seakan tidak mau tau dan ingin menerobos masuk dan menarik Lizi keluar.
Farez yang kesal langsung memukul daun pintu, hingga suara 'Brak' langsung membuat emak-emak itu terdiam.
"Kalian tahu batas tidak! Mau diselesaikan ke kantor polisi?" Seru Farez lantang hingga Mang Udin penjual ketoprak di seberang jalan pun menghampiri indekos Farez.
"Gini, Rez. Gue tau kalau lu ini pengacara gabut yang lagi beralih profesi, tapi seenak jidat juga dong! Gue ini punya bukti kalau Lu bawa betina masuk ke rumah!" sahut salah seorang diantara mereka sambil menunjukkan beberapa foto saat Lizi masuk ke dalam.
"Iya, tapi betina yang ibu maksud itu istri saya!" tegas Farez lantang hingga urat di lehernya meregang.
__ADS_1
"Alah bulshit tuh! Bu RT aja kagak tau kalau lu udah nikah!" sahut si kompor meleduk.
Farez menghela napas kasar, lalu meminta Bu Rt untuk menghubungi sang suami. Pada awalnya Bu Rt menolak lantaran bukti di tangannya sudah cukup akurat. Namun Farez tidak kekurangan ide untuk memojokan emak emak beranak dua itu. Hingga akhirnya dia mau menghubungi sang suami yang memang sedang dinas ke Bandung.
"Pa, Mama lagi di rumah Farez. Dia bilang kalau dia udah nikah!" ucap Bu Rt menghubungi sang suami.
"Iya. Seminggu lalu dia telpon, katanya mau nikah, terus minta surat pengantar. Pulang dari kampung, dia minta ijin buat bawa bininya tinggal satu rumah," jelas Pak Rt.
"Terus kenapa dia gak laporan?"
"Dia nikah sirih, Ma. Dadakan, soalnya orang tua bininya minta langsung nikah. Tadi sore dia baru laporan, kalau buku nikah dia udah jadi dan besok mau ke rumah."
Glek
Alih-alih meminta maaf, Bu Rt yang sudah mati kutu dan gaya, tapi tetap mempertahankan gengsinya, masih berusaha memojokkan Farez.
"Lain kali itu langsung lapor gitu loh. Kalau udah begini, siapa yang rugi?" ucap Bu Rt mengalihkan matanya, sibuk memasukkan ponselnya.
"Ibu sendiri!" jawab Farez tegas. "Kalau saya langsung menuntut ibu ibu disini semua gimana?"
"Ya, ya itu tetap salahmu. Kenapa gak lapor?"
__ADS_1
"Kenapa juga ibu tidak tanya Pak Rt dan langsung bertindak?"
Skakmat. Bu Rt dan beberapa emak emak langsung diam tidak berkomentar. Sedangkan Mang Udin si tukang ketoprak dan beberapa penghuni kos yang sempat keluar, langsung bertepuk tangan dengan heboh.
"Muasok Pak Eko!" teriak mang udin lantang dan langsung membuyarkan para emak emak berdaster kembali ke rumahnya masing-masing.
Setelah emak emak yang membawa perabot dapur itu pergi, beberapa penghuni kos berdatangan ke rumah Farez.
"Wah, Bapak udah nikah beneran?"
"Kandas dong gue, Pak."
"Bapak kapan nikah, kok kita gak di undang?"
"Bininya mana, Pak. Kenalin napa?"
Mendengar berbagai pertanyaan dari penghuni koz, Farez hanya bisa menghela napas kasar.
"Resepsi besok, datang ya. Undangan lewat online aja!" ucap Farez sambil tersenyum, lalu pamit undur diri.
__ADS_1
Lanjut gak? lanjut gak?
Sajennya dulu lah 😌😌