Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 60


__ADS_3

Selesai dari apartemen, Lizi dan Farez berdua tak langsung pulang ke rumah. Mereka menyempatkan diri untuk singgah di restoran untuk mengisi tenaga. Namun saat memesan, keabsurdan Lizi kembali kambuh.


Dia mendekatkan bibirnya di dekat telinga Farez, lalu berbisik, "Ayank, gak ada pecel lele ya?"


Farez yang mulai terbiasa untuk tidak bengek dan tertawa lepas. Hanya tertunduk sambil menghela napas panjang.


"Pilih aja yang disitu, Sayang," ucap Farez dengan penuh kesabaran, yang akhirnya membuat Lizi memanyunkan sedikit bibirnya.


Ya, pada akhirnya, Lizi meminta Farez untuk memesankan satu porsi steak. Meski pada akhirnya mereka tetap membeli pecel lele setelah pulang dari restoran, lantaran perut sang istri masih belum kenyang.


"Besok pagi ada orang dari pihak wedding organizer yang datang, tidurlah di rumah," ucap Farez saat ia tiba di indekos dan memarkirkan mobilnya.


"Lagi?" seru Lizi menoleh ke arah Farez.


Namun Farez hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum, lalu turun dari mobil. Hela napas Lizi terdengar sedikit berat, sampai akhirnya ia memakai topi dan turun dari mobil.


Beruntung, saat itu sudah pukul 10 malam, beberapa penghuni kos mungkin sudah terlelap. Entah tidak sengaja atau memang sudah diprediksi oleh Farez. Sehingga Lizi tidak perlu mengendap endap layaknya maling cangcut yang takut akan digrebek warga.

__ADS_1


Farez langsung meletakkan jaket kulit yang baru saja di lepasnya ke atas sofa. Lalu ia berjalan ke dapur mengambil segelas air dan memberikannya pada Lizi.


"Cuci tangan dulu baru makan," ucap Farez menatap sang istri yang sudah duduk di sofa, sambil membuka bungkus pecel lele.


Gini ya rasanya punya suami. Lizi tersenyum getir lalu beranjak bangkit dan pergi mencuci tangan. Ia bergegas kembali untuk segera menikmati pecel lele yang sudah melambai lambai dengan cantik di atas meja. Maklum, seporsi steak dengan berat 150 gram tanpa nasi hanya mampu mengganjal setengah lambungnya.


Lizi masih asik menikmati pecel lele, sedangkan Farez yang duduk disamping Lizi terlihat fokus dengan laptopnya. Kesibukan sang suami seakan menggelitik rasa keponya, dan akhirnya keluarlah se-icrit pertanyaan.


"Sibuk apa sih, kan gak kerja?"


Pertanyaan se-icrit Lizi langsung membuat Farez menoleh ke arahnya. "Bikin konsep resepsi."


"Aku bikin beberapa, nanti kamu pilih. Kalau gak suka, kamu bilang mau konsep yang gimana," jelas Farez sambil memandangi Lizi yang kembali melahap pecel lelenya.


Mereka masih sibuk dengan aktivitasnya masing masing, saat tiba-tiba terdengar suara ribut di luar. Farez dan Lizi sempat saling menoleh, sebelum pintu rumah mereka di gedor dengan keras.


"Rez, buka!" Suara serak seorang wanita terdengar, bersahutan dengan yang lain.

__ADS_1


"Rez, buka! Gue tau lo di dalem!" teriak mereka sekali lagi.


"Siapa itu?" tanya Lizi kaget mendengar suara gaduh bersamaan dengan pintu yang digedor cukup keras.


"Entah." Farez mengedikkan bahunya. Dia sendiri tidak tahu siapa yang mendatangi rumahnya tiba-tiba seperti ini.


"Mantanmu demo kali tuh!" sahut Lizi menatap penuh curiga.


"Aku gak punya mantan, Sayang."


Mendengar jawaban Farez, Lizi hanya memutar bola matanya seakan tak percaya dengan ucapan sang suami.


Di luar masih bising, tapi Lizi dan Farez justru berdebat. Sampai akhirnya, mereka kompak berdiri. Lalu berjalan ke arah pintu, dan membukanya perlahan.


Dan Mak Jreng ....


...☆TBC☆...

__ADS_1


Likenya dong, jangan baca aja 🥲


Aku mantau jempol kalian loh 😌😌


__ADS_2