Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 59


__ADS_3

Farez kembali melanjutkan perjalanan pergi ke daerah Dharmawangsa, Kebayoran Baru. Setidaknya satu jam perjalanan dengan kondisi jalanan yang sedikit macet, hingga mereka akhirnya tiba di sebuah apartemen mewah.


Suka Suka, tulisan itu terpampang dengan jelas dan sangat mudah dibaca oleh siapapun, termasuk Lizi. Dia bahkan ternganga saat melihat bangunan tinggi dan megah itu. Ya, meski ia sudah lama merantau di Jakarta, tapi dia belum pernah sama sekali masuk ke dalam kawasan apartemen mewah seperti ini.


"Kita mau ngapain ke sini, Ayank?" tanya Lizi menatap heran sang suami.


"Ajak kamu liat tempat tinggal baru. Biar leluasa," jawab Farez santai, tapi belum berhasil menjawab semua pertanyaan dalam benak sang istri.


"Ja-jangan bilang kita kontrak disini?" cletus Lizi asal.


"Aku gak semiskin itu sampai ngontrak, Sayang."


Fix, kali ini jawaban Farez berhasil membuat Lizi berdecak kesal. "Ckck, dasar orang kaya!" ledeknya secara terang-terangan sambil bersedekap tangan.


Namun Farez hanya tersenyum saat mendengar candaan Lizi yang memang, itu kenyataannya. Sampai pada akhirnya mereka tiba di tempat parkir. Seperti biasa, Farez turun lebih dulu lalu membantu Lizi membuka pintu dan mengulurkan tangannya.


"Ayo, biar kamu ngak nyasar!" Lizi terlihat mencibir sesaat, lalu meraih tangan Farez dan menggandengnya.

__ADS_1


"Jadi, Ayank punya unit disini?" tanya Lizi saat mereka berjalan masuk ke dalam.


"Iya, tapi cuma satu."


What! Cuma? Oke oke, gue lebih baik No Coment daripada makin sakit ati.


Farez masih menggandeng sang istri, masuk ke dalam lift dan menekan angka 20 yang menunjukkan lantai tempat unitnya berada. Setelah sampai di lantai dua puluh, Farez masih menggenggam tangan Lizi, mengajaknya menyusuri lorong hingga sampai di pintu yang terletak paling sudut.


Lizi masih terlihat santai saat Farez membuka kunci. Namun saat pintu dibuka dan lampu dinyalakan, barulah bibirnya menganga lebar.


Apartemen yang dikira hanya seuprit, ternyata cukup luas. Sangat luas bahkan bisa ia pakai untuk arisan bareng Trio EM.


Lizi terlihat begitu senang saat melihat unit apartemen milik Farez yang di luar ekspektasi. Padahal, unit itu masih kosong, hanya ada sofa dan kitchen set. Namun entah mengapa, Lizi terlihat begitu antusias.


"Gimana, suka?" tanya Farez yang tiba-tiba memeluk Lizi dari belakang.


"Yah, lumayan." Lizi mengangguk pelan. "Tapi kenapa masih kosong? Kamu gak pake?"

__ADS_1


"Apartemen ini baru jadi setengah tahun lalu. Cuma sempet cek aja, belum sempat nempatin," terang Farez.


"Kenapa?"


"Karna sibuk ngejar kamu!" Farez yang semula tenang, tiba-tiba menyerang Lizi. Dengan ganas ia menggigit cuping telinga sang istri dan menjiilatnya beberapa kali. Hingga membuat Lizi menggelinjang geli.


"Stop ya! Jangan sampe ada adegan nanggung!" cerca Lizi kesal dan akhirnya membuat Farez menciumi pipi Lizi lantaran gemas.


"Jadi gimana? Mau tinggal disini?" tanya Farez. "Kalau mau, kita bisa cicil beli perabot."


"Tempatnya oke, ngak ada masalah sih."


Farez yang senang langsung menggendong Lizi dan mendudukannya di meja bartender. Ia menarik tengkuk leher sang istri, lalu mulai menantangnya bermain silat lidah.


"A-ayo pulang aja!" ajak Lizi dengan raut wajah memerah, dan langsung mendapat anggukan manja dari Farez.


"Ayo kita lanjutkan di rumah."

__ADS_1


"Siapa yang mau lanjut? Aku laper mau makan!" seru Lizi sambil turun dari atas meja. Nanun Farez tahu dengan jelas, jika itu hanyalah alibi untuk menutupi gengsinya. Ya, Lizi seakan enggan mengakui jika Juno berhasil membuatnya ketagihan.


...☆TBC☆...


__ADS_2