
...Peringatan! ...
...Bab ini penuh dengan imajinasi pembajakan sawah yang berujung berkembang biaknya si Juno!!...
Ditatapnya wajah Farez dengan sangat teliti. Sedikit bulu yang ada di dagu dan rahangnya itu sebenarnya bukan masalah besar. Lagi pula itu hanya brewok, bukan bulu ketiak Samson yang punya kekuatan super, jadi di cukur saja sudah cukup.
Lalu dia melihat gestur wajahnya. Mata sedikit sipit dengan alis tebal dan simetris, memang sudah sesuai dengan kriterianya. Belum lagi, hidung mancung dan bibir kemerahan itu.
Lizi menelan ludah, mengingat roti sobek yang sempat dia lihat sebelumnya. Lalu mulai menimbang matang-matang, jika Farez sebenarnya cukup menarik untuk dijadikan pasangan di kondangan.
Namun karena terlalu lama menimbang, Lizi tidak sadar jika tangan Farez perlahan mengusap bibirnya, dan mulai memangkas jarak dengan sekelebat. Iyalah siapa yang meragukan ketangkasan seorang duda?
Dan entah sejak kapan, dua lidah itu saling bergulat dengan segit. Berlari kesana, berlari ke sini, dan akhirnya beradu satu sama lain.
Tangan Farez mulai menggerayangi tubuh Lizi, membuka resleting dressnya hingga dress putih itu melorot menampilkan pundak putih mulusnya. Menyadari dressnya sudah hampir lepas landas dari tubuhnya, Lizi mendorong tubuh Farez dan menutupi dadanya dengan kedua tangan yang bersilang.
"Tu-tunggu, Pak. Sa-saya belum mandi!" seru Lizi dengan wajah merona.
"Ngak masalah! Aku suka – yang alami!" Farez mendorong tubuh Lizi hingga ia jatuh terlentang tak berdaya, lalu dengan satu kungkungan saja, ia mulai mengukur tanah yang akan dibajak menggunakan bibirnya.
Wait wait! Ini ngak beneran langsung adegan Ikeh Ikeh kan?
Lizi menggelinjang, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Farez. Namun kungkungan om-om duda rupanya lebih kuat dari yang bisa ia lepaskan.
__ADS_1
"Pak, Om, Mas!" Panggilan Lizi sontak membuat Farez memandangnya. "Langsung di gas nih? Gak pemanasan dulu? Katanya mau tes di Juno?"
Farez yang sejak tadi berdiri di atasnya langsung menyibak rambut dan mengangkat satu sudut bibirnya. "Ini aku lagi tes. Kalau dia udah oke, bisa langsung di ajak membajak sawah!"
Glek!
Lizi sekali lagi di buat kik-kuk oleh jawaban Farez. Niat hati ingin mengulur adegan ikeh-ikeh, namun yang terjadi justru sebaliknya.
"Paling gak, kita perlu mengadakan Konferensi Ranjang dulu sebelum memulainya." Perkataan Lizi membuat Farez mengerutkan kening.
"Sadar sih, Pak. Kalau saya memang harus tanggung jawab, tapi nanti kalau hamil gimana?" Lizi menatap serius wajah Farez.
"Lahirin lah, apa lagi? Selagi nama kamu ada di bawah namaku dalam Kartu Keluarga, kamu sepenuhnya jadi tanggung jawabku. Ngerti?"
"Ta-tapi saya belum pengalaman, Pak!" Lizi tergagap dan membuang muka. Sedangkan Farez justru tersenyum dengan licik, sembari pelan-pelan membuka pengait kedua gunung kembar Lizi.
Yeah, My Trip My Adventure!!
Dan entah sejak kapan, seluruh kain yang menempel di tubuh Lizi telah ditanggalkan. Hingga membuat Farez menaikkan satu alisnya dan berkata, "Kalau gitu, kelas membajaknya kita mulai sekarang!"
Lizi menutup matanya rapat-rapat, saat Farez kembali mengukur lahan yang akan dia bajak. Namun kali ini, dia ingin menyusuri dua gunung yang terlihat indah penuh pesona.
Setelah puas bermain di atas gunung, kini sudah waktunya Farez turun menyusuri lembah. Tangan besar dengan jemari panjang itu telah siap menyusuri hutan yang tidak terlalu lebat, dan mengukur kedalaman gua.
"Aduh, Pak. Pelan dikit dong! Masih segel nih!" pekik Lizi mencengkam rambut Farez yang kini mulai menelisik kondisi gua menggunakan lidahnya.
__ADS_1
Kelembaban yang dirasa telah sesuai, dan akan cocok menjadi lahan pembajakan oleh si Juno, Belut Super andalan Farez.
Farez dengan satu gerakan langsung membuka bathrobes miliknya, dan melemparnya ke sembarang arah. Kini, tidak ada sehelai kain pun yang menutupi dirinya.
Buset! Gede juga si Juno! Rasa-rasanya, aku udah di kibulin sama dia?
Namun sudah terlambat bagi Lizi menyadari taktik licik Farez untuk mengejarnya. Ijab sudah berlangsung, buku nikah on the way di proses. Kini, mau mengelak pun sudah tidak bisa.
Farez kembali mengungkung Lizi, dan siap mengajak si Juno membajak lahan persawahan baru yang sudah sah ia miliki.
"Ayo, waktunya berkembang biak!"
"Aah … Pak, Om pelan dong. Masih ting-ting nih!" Keluh Lizi sedikit frontal saat si juno mulai membajak sawah miliknya.
Selamat tinggal, keperawanan gue!
Selamat ber-traveling dan ber-Adventure ria ...
Jangan lupa pake helem, takut ntar palanya kejedot 🤭
Kopi kopi ... sajen sajen ...
Setelah ketemu babang Die, sekarang ketemu bang Farez. Diabetes, diabetes deh 🤣
__ADS_1