Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 51


__ADS_3

Setelah aksi jahil yang gagal, Lizi menekuk nekuk wajahnya, lalu berlari secepat mungkin dan mengunci dirinya rapat-rapat di kamar milik Farez. Sedangkan Farez yang sempat melihat wajah memerah Lizi, langsung menyusul istrinya. Sayangnya, pria yang masih membelit tubuh bagian bawah dengan handuk itu, justru tertahan di pintu.


"Zi … Lizi," panggilnya sambil mengetuk pintu, tapi tak ada respon apapun dari dalam.


"Zi, Come on! Kamu ngak ngambek karna ulahmu sendiri, terus lampiasin ke aku kan?" Farez beberapa kali membujuk Lizi, tapi pintu itu belum terbuka.


Oke, ini cara terakhir. "Lizi, Sayang, Istriku." Farez masih mencoba dengan taktik terakhirnya.


Farez masih ingin membujuk Lizi, namun belum sempat kalimatnya berlanjut, pintu kamar perlahan terbuka. Dua sudut bibir Farez langsung terangkat. Ya, setidaknya Lizi masih bisa di ajak bicara baik-baik.


Namun, saat Farez hendak masuk ke dalam, Lizi sudah buru-buru melempar baju dan langsung menutup pintu. Tidak tahu harus berekspresi seperti apa, Farez hanya diam sambil memegang baju beserta cangcut dengan notif Minions yang baru dia beli beberapa hari lalu, dan juga ... sarung.


Dia yang bikin gara-gara, dia juga yang ngambek!


Lagi lagi Farez harus menyiapkan kesabaran yang extra untuk menghadapi Lizi. Bukan karena tak ada alasan untuk marah, mungkin karena sudah terlanjur cinta, atau mungkin karena sudah menjadi suami dari Lizi Azizah.


Tanpa protes, Farez pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya. Dia baru saja selesai memakai cangcut yang dipilih sang istri dan kaos hitamnya, saat suara Salep tiba-tiba terdengar jelas di telinganya.


"Zi? Lu Lizi Azizah kan? Anak buahnya Koko Yongki, alias Koyo?"

__ADS_1


Mendengar suara Salep, Farez buru-buru memakai sarung dan keluar. Ia bahkan belum sempat merapikan sarungnya dan hanya mencengkram ujungnya agar tidak melorot, lalu berlari secepat mungkin mendekati arah suara.


"Lu ngapain di rumah Farez? Bawa koper segala. Kamu bukan …."


Belum sempat Salep melanjutkan kalimatnya, Farez sudah lebih dulu menarik tangan Lizi.


"Masuk ke dalam. Biar aku yang jelasin," ucap Farez menatap wajah gugup sang istri.


Dua mata Lizi terlihat berkaca kaca penuh dengan air mata. Dia masih terdiam sejenak memandang Farez dengan koper di tangan nya, sampai Farez menatapnya dengan wajah sendu sambil meletakkan tangan di ubun-ubun Lizi.


"Masuk ke kamar, ya! Aku yang jelasin ke dia. Gak usah khawatir," ucap Farez lembut.


"Rez, lu … sama si Lizi …." Perkataan Salep tertahan ketika Farez justru mengabaikannya dan berjalan masuk ke dalam lalu duduk di sofa. Wajah Farez terlihat santai, dia bahkan tidak memperdulikan Salep yang sedang penasaran.


"Gue udah nikah sama dia," jawab Farez santai.


"Ni-nikah?" Kedua mata Salep membulat penuh. Antara kaget dan tidak percaya, Salep bahkan menunjuk Farez dan menuduhnya berbohong.


"Jangan ngadi-ngadi ya, Rez. Gue bisa lapor sama Om Set," tegasnya lantang.

__ADS_1


"Bilang aja." Farez mengambil ponsel di atas nakas, lalu mencari nomor pamannya, Setyo, dan langsung menghubunginya.


"Ya, Rez. Kenapa?" Suara berat seorang pria paruh baya terdengar jelas, lantara Farez dengan sengaja menekan tombol pengeras suara.


Salep yang sudah tidak sabar, langsung mengambil ponsel Farez untuk berbicara dengan Om Setyo.


"Halo, Om Set. Om, ini aku, Salendra," seru Salep terdengar tergopoh-gopoh saat berbicara. "Om, si Farez, beneran udah nikah?" lanjutnya.


"Farez? Nikah?" Jawaban mengambang Setyo membuat Salep menaikkan satu alisnya sambil menatap Farez.


"Oh iya. Dia nikah beberapa hari lalu, aku jadi saksinya. Kamu cepetan nikah ya, Sal. Jangan jomblo ter–"


Belum sempat Setyo melanjutkan kalimatnya, Salep udah buru-buru mengakhiri panggilan itu dan melempar ponsel Farez di sofa begitu saja. Lalu ia menatap tajam ke arah Farez.



...Salendra Evan Putra...


Sory gaes, hari ini agak gak optimal nulisnya. Kalau agak datar, maapin ye 😌😌

__ADS_1


__ADS_2