
Wui Wui!!
Bab ini ngetiknya sambil panas dingin, dengan henpong jadul yang penuh dosah. Othor jadi mendadak agak keki, tapi … yodah nikmatin ae.
...||...
Setelah menenggelamkan kepalanya di antara dua gunung kembar yang ternyata cukup hangat. Farez buru-buru membuka kaos putih yang dikenakan Lizi, beserta underwear putih dengan dua bentuk love rajut di pojok atas.
It's so Amazing.
Tanpa aba-aba, Farez langsung mencium dan meninggalkan jejak jejak pendakian di leher jenjang nan mulus sang istri. Dessah Lizi pun berhasil lepas, terutama saat Farez mulai menikmati buah kenyal dengan kemucuk kemerarah.
Gila nih mantan duda, servicenya ... uhhh. Nagih!
Lizi sesekali mencengkram pundak Farez dan kembali melepas racuan suara sexynya. Benar, baru kali ini Farez mengakui jika suara Lizi sangat amat merdu.
Puas bermain dengan dua gunung kembar hingga membuat wajah sang istri memerah. Kini saatnya Farez mempersiapkan gua hangat yang semalam berhasil membuatnya lupa diri.
"Pa-Pak, pelan dikit, Oke!"
"Yah, semua tergantung permainanmu juga."
__ADS_1
Farez menatap Lizi sesaat, sebelum akhirnya mencium bibir tipis Lizi. Lidah tanpa tulang itu mulai menjelajah, menyesap rasa mint manis yang entah berasal dari mana. Namun, perlu Farez akui, jika rasa ini sudah menjadi candu baginya.
Tangan besar Farez mengerayang turun. Melepas kancing celana gemes yang dikenakan sang istri, lalu membuangnya entah kemana.
Setelah disuguhi pemandangan dua gunung berkulit putih mulus yang menakjubkan. Kini pemandangan indah lainnya adalah cangcut pink dengan love di sudut atas. Sepertinya, Lizi sengaja memakai satu set underwear hari ini.
Namun yang paling menakjubkan lagi, tentu saja bagian isinya. Sarang belut yang bisa membuatnya ginjal serta isi di dalam perutnya hangat. Setelah Farez melepaskan semua pakaian Lizi, dan membuangnya begitu saja seolah tidak berguna, kini giliran Farez yang beraksi.
"Sudah siap, Sayang?"
Haduh! si Mantan Duda pakai nanya lagi. Gue udah bulet bulet kek tahu gini, masih aja di kasih kata sambutan!
Lizi menatap Farez sepintas, melihat dada kekar yang berhasil menggoda iman dan pertahananya.
Sudahlah, gas aja! Lagipula juga udah halal.
Ada barang bagus, kenapa harus dianggurin? Mubazir namanya.
Lizi menarik handuk Farez. Dalam satu gerakan langsung beralih posisi dengan Farez. Kini, pria bertubuh kekar itu berada di bawah, sedangkan Lizi duduk menindih Juno yang sudah menegang, tapi masih tertutup handuk.
"Bapak lama deh!" ucap Lizi sembari mengelus dada dan perut Farez, sedangkan tangan satunya melepas handuk.
__ADS_1
"Si Juno sudah siap, nih. Kita mulai ya, Pak … eh, Sayang."
Jika semalam Farez yang mengambil alih dan bermain sampai puas, sekarang giliran Lizi mempraktekkan ilmu dari film Ikeh Ikeh yang selama ini ia tonton.
Setelah memeriksa dan memastikan jika kelembabannya sudah cukup pas untuk berkembang, Lizi perlahan menurunkan pinggulnya, hingga Belut Super Farez terbenam sempurna.
Lizi terlihat menggigit bibir bawahnya, lalu melepaskan lelungan yang berhasil menaikkan adrenalin di dalam darah Farez.
"Haah …."
Lizi sempat mengatur napasnya sebentar, sebelum akhirnya memulai aksi pacuan kuda yang penuh dipenuhi dengan bulir bulir keringat.
Racauan dan ******* mereka berdua menjadi pengiring bagi mentari yang mulai terbenam serta langit yang perlahan berubah. Senja sore itu seakan jadi background yang sangat sempurna bagi mereka.
Wah, banyak menonton film ternyata bisa menambah wawasan. Salah satunya memuaskan suami. Sepertinya, aku perlu banyak praktek untuk mengasah kemampuanku.
...☆TBC☆...
Enak, jadi cuman bisa pasrah ya, Zi 🤣🤣
lagian juga Mubazir, ada barang cakep tapi dianggurin 🤣🤣
__ADS_1