
Farez bagun lebih dulu setelah tidur ronde ke dua bersama Lizi. Tak terasa, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 lewat 13 menit. Farez meraih ponsel di atas nakas, lalu memeriksa kotak pesannya. Rupanya, ada pesan dari Salep dan Koyo yang masuk.
Ya, pesan mereka hanyalah kabar tidak penting bagi Farez, tapi setidaknya itu cukup penting bagi, Lizi lantaran pengunduran dirinya berhasil di proses. Kini, dia hanya perlu datang untuk menandatangani pengunduran dirinya dan mengambil gaji terakhir.
Fix gajian! Ini yang selalu Lizi tunggu-tunggu setiap bulan selain jadwal drama terbaru dari negeri seberang. Namun sayangnya, ini adalah gajian terakhir yang dia terima.
Farez beranjak dari ranjang dengan hati-hati, takut membangunkan Lizi yang masih lelap di balik selimut. Lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Dalam hal ini, Farez memang terbilang cukup ahli dibandingkan Lizi. Mungkin karena dia sudah menduda cukup lama dan tinggal sendiri.
Sarapan hampir matang, dan Lizi baru saja mengerjapkan matanya. Lantaran tenggorokannya kering, ia pun turun ke bawah untuk mengambil air. Baru beberapa langkah keluar kamar, harum gurih semerbak mengusik hidungnya.
Siapa yang masak nih? Jangan bilang mantan duda?
Lizi buru-buru turun. Melihat Farez di dapur hanya menggunakan celemek dan boxer, rasanya dia ingin tertawa, tapi keindahan tubuh sang suami pada akhirnya membuat ia menelan salivanya kasar.
Pagi pagi sarapan roti sobek! Tambah mayo sama sosis bakal enak nih!
"Mikir apa? Buruan mandi terus sarapan!" uhar Farez tanpa menoleh kebelakang, menatap Lizi yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
Mata Lizi langsung membulat penuh, tak sangka jika Farez tahu jika ia berdiri di belakang meski tanpa menoleh
Nih mantan duda punya mata batin pasti!
Lizi sempat memanyunkan bibir, sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Kali ini, ritual mandinya berjalan seperti biasa. Dengan kecemprengan tiada tara, ia memulai konsernya dengan air shower yang mengucur membasahi tubuhnya.
Entah, lagu mana yang dia nyanyikan saat ini, lantara Farez dan Author kompak tutup telinga.
Tak sampai 20 menit, akhirnya penderitaan Farez berakhir. Lizi menghentikan suara cempreng yang membahana itu, dan keluar dari kamar mandi. Layaknya rumah sendiri, Lizi kini sudah mulai terbiasa dengan setiap sudut rumah Farez.
"Pak Su, ini gak ada nasi pecel gitu?" tanyanya sambil duduk di sebelah Farez.
Farez yang sudah menghabiskan setengah porsi, hanya menghela napas kasar lalu memandang sang istri. Berpikir jika Lizi juga termasuk wanita cerewet, Farez akhirnya menyuapi wanita yang hanya menggunakan bathrobes miliknya.
"Makan aja yang ada!" ucap Farez sambil memasukkan spageti ke dalam mulut Lizi dengan paksa.
__ADS_1
"Asi ecel aak!" Lizi mencoba berbicara, tapi mulutnya sudah terlanjur penuh oleh spageti.
"Nanti beli pecel!"
Lah? Dia tau yang aku ucapin! Wah, bener bener indiho!
Tidak ada bambu, maka rebung pun jadi. Tak ada pecel, spageti pun oke.
Pepatah ini lah yang pada akhirnya membuat Lizi menghabiskan satu piring spageti dengan lahap hanya dalam beberapa menit.
Masakannya lumayan, kenapa gak ikut audisi Bapak Chef aja sih? Kan name tagnya bisa pake Duta Sawit, Duda Tajir Sarang Duwit.
Hari ini dan besok mau kelarin bang Farez. Senin baru Crazy Up babang Jeff dan Becca. 😌
Jangan tanya kenapa 🥲
__ADS_1
kopi dong kopi 😌😌