Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 00: Permulaan Dari Kebahagiaan


__ADS_3


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membentuk dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membahagiakan dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan—


—Terus menambahkan sampai dia menyelesaikan semuanya.


“Hm hm hm hm hm~”


Seorang remaja laki-laki berambut putih pucat berjalan santai sambil bersenandung dengan suara yang tampak ceria, dengan nada lembut yang semua orang yakin bahwa dia telah mengalami hidup yang bahagia.


Remaja laki-laki itu memiliki rambut putih pucat dengan mata belang hitam yang terlihat tidak manusiawi.


Dia memakai pakaian yang serba hitam, yang menggambarkan tema dari dosanya sendiri, dengan tambahan syal merah di lehernya.


Syal merah yang berwarna ruby itu membungkus lembut di sekitar lehernya, memperlihatkan eksistensinya yang sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya.


Dia tampak seperti seorang anak SMA biasa, akan tetapi, tidak ada tanda-tanda pemahaman orang dewasa di ekspresi wajah remaja itu.


Dia terlihat polos, seperti anak kecil yang baru memulai masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan.


Ada lingkaran hitam di sekitar matanya yang gelap, terlihat begitu melankolis darimana pun kau melihatnya.


Hm hm hm hm hm hm hm hm~


“Sungguh, ini sangat luar biasa!”


Ada sedikit kekaguman di balik suaranya yang apatis, dia menyipitkan matanya dengan cara yang aneh, dan tersenyum lembut seakan-akan dia mendapatkan keberkahan duniawi.


Remaja itu meringis, dengan cara yang membuat semua orang berpikir— Dia bahagia.


Tentu saja, bagaimana pun juga.


Tujuan manusia hidup adalah untuk mendapatkan bahagia.


Hm hm hm hm hm hm hm hm~


“Aaaahh~ mau berapa kali pun aku merasakannya, ini benar-benar sangat luar biasa!”


Dia terus mengulangi kata-katanya, seakan-akan sedang memuji dan mengagumi keindahan dari pemandangan yang tak termaafkan.


Itu adalah pemandangan yang begitu indah, dimana pohon-pohon dan bunga-bunga menghiasi seluruh tempat dengan warna merah yang tidak seorang pun akan melupakan keindahan mereka.


Pohon itu menetaskan dosanya, saat angin kencang menerpa daun-daun yang rindang akan warnanya.


Bunga itu tertawa, merasa bahagia akan kedatangan kupu-kupu merah yang hinggap di kelopak bunga mereka.


Itu bentuk keindahan alam yang bahkan telah melampaui apa yang mereka bayangkan.


Dunia berputar, berharap semua manusia mengabadikan momen membahagiakan ini.


“Aa, aaah... To, long.. aku...”

__ADS_1


—Itu adalah suara dari serangga kotor yang berkumpul di taman indah ini.


Serangga itu merangkak, di tanah yang subur akan bunga-bunga indah yang berwarna merah. Tangannya mengulur dengan putus asa, mencoba untuk meraih pergelangan kaki remaja itu.


Tapi, karena dia tidak ingin siapa pun mengganggu momen istimewanya.


Dia hanya bisa tersenyum lembut kepada serangga tersebut dan mengabaikannya dengan cara yang sopan.


Dia melanjutkan perjalanannya, sembari bersenandung dengan sangat bahagia...


—Saat dia menikmati keindahan dari taman merah yang semuanya terbuat dari ratusan mayat manusia tersebut.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membentuk dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membahagiakan dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, manambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan—


—Terus menambahkan sampai dia menyelesaikan segalanya.


Sampai dia mendapatkan karma yang selama ini dia dambakan.


\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=


Di suatu tempat di dunia yang berbeda, seorang remaja laki-laki mengabadikan hidupnya kepada bentuk kebahagiaan yang telah di ajarkan oleh orang tuanya.


Remaja itu percaya, keinginannya yang kuat untuk mendapatkan kebahagiaan dan menyebarkan kebahagiaan, adalah hal terindah yang telah menjadi misi hidupnya.


Itu disebuah ruangan yang gelap, dengan perabotan rumah tangga yang sudah berantakan.


Suasana di rumah itu suram, saat seorang wanita kurus memeluk anaknya dengan sangat erat.


Remaja itu memeluknya juga sebagai balasan, merasa nyaman saat dia merasakan kehangatan dari tubuh ibundanya yang tercinta.


“Tidak apa-apa, ibu. Selama ibu bahagia, aku baik-baik saja.”


Mendengar hal itu, wanita yang tampak sangat kurus yang dipanggil 'Ibu' oleh remaja itu—yang merupakan anaknya sendiri, melepaskan kasih sayangnya dan tersenyum lebar.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia oleh keakraban keluarga yang harmonis.


Ibu memeluk anaknya dengan sangat erat dan penuh dengan cinta kasihnya yang tak terbatas.


Begitu juga dengan remaja itu, dia menyukai ibunya, yang mana—


—Cintanya terlalu menyimpang jauh dari yang seharusnya.


“Jadi... kapan ibu akan membunuhku?”


Remaja itu bertanya dengan senyuman polos yang siapapun akan tersentak saat dia mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang seperti seorang anak kecil yang bertanya kapan dia bisa pergi berpiknik.


Ibunya menangis mendengarkannya.


Dan menjawab pertanyaan anaknya dengan senyuman bangga disetiap raut wajahnya.


“Aah, aaaahh, tolong maafkan ibu, sayang! Bagaimana bisa ibu melupakan hal terpenting yang harus ibu lakukan?! Tolong maafkan ibumu ini karena membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna!”

__ADS_1


“Jangan khawatir bu, aku tidak bermasalah.”


“Oooohh! Luar biasa! Luar biasa! kau benar-benar tumbuh menjadi anak ibu yang hebat! Sedangkan ibumu, hanyalah orang toIoI yang bahkan melupakan hari kebahagiaan anaknya sendiri!”


“Ibu tidak perlu khawatir, aku mencintai ibu apa adanya.”


“SUNGGUH! SUNGGUH! SUNGGUH! SUNGGUH! SUNGGUH! SUNGGUH! Kau benar-benar anak yang sungguh luar biasa! Kau tumbuh dengan sempurna!”


Ibu itu memeluk anaknya dengan lebih erat, dan mulai mengekpresikan kebahagiaannya dengan menjambak-jambak rambutnya sampai rontok.


Matanya melotot, mengeluarkan deras air mata yang tampak perih saat kau membayangkannya.


Kemudian, dia memendamkan kepala anaknya ke pelukannya, dan berkata dengan nada yang sedu.


“Tenang saja, sayang. ibu akan membunuhmu! Ibu pasti akan membunuhmu dan memberikan kebahagiaan yang seharusnya telah kau dapatkan! Bagaimanapun juga, ibu sangat sangat mencintaimu!”


Itu adalah perkataan yang sangat tidak masuk akal. Mereka sama sekali tidak mengerti apa itu kemanusiaan, dan apa itu kegilaan.


Pemahaman tentang kebahagiaan mereka telah menyimpang jauh, yang bahkan sudah tak terselamatkan lagi.


“Yah, aku juga sangat mencintai ibu. Jika bisa, aku juga ingin membunuh ibu.”


“Kau benar-benar sudah dewasa sampai mulai mengenal apa itu cinta. Suatu saat nanti, aku yakin anak ibu ini akan menjadi orang yang hebat.”


“Tapi bu, aku ingin mati.”


“Oh ya, kau benar, maafkan ibu, ibu lupa lagi.”


“Tidak apa-apa, ibu selalu seperti itu.”


Mereka berdua tertawa bersama, menambahkan momen kecil itu disedikit waktu dari memori mereka berdua.


Hubungan anak dan ibu itu terlihat sangat baik, akan tetapi akal sehat dan logika dari definisi kata 'baik' sudah tidak lagi melambangkan kebahagiaan yang seharusnya.


Semuanya sangat tidak masuk akal, semuanya berada di luar logika manusia.


Persimpangan antara keluarga yang bahagia dan gila ini, hanya sebanding dengan dua ikat benang yang saling berkaitan.


Kemudian—


“Mmmppphh!! Mmmpphhh!!”


Itu adalah suara aneh yang tidak berasal dari mereka berdua.


Itu berasal dari sudut ruangan tersebut, yang di sana terdapat orang lain selain mereka.


Dia adalah seorang pria paruh baya yang terlihat sedikit kurus dan menjijikan dengan penampilannya yang kotor.


Pria itu memakai jas kantor seorang pegawai rendah, dan bertindak seperti orang konyol saat dia diabaikan dari sudut pandang yang berbeda.


Dia tergeletak di sana dalam keadaan yang tidak berdaya.


Mulutnya ditutup menggunakan lakban hitam, menguncinya agar tidak bisa berteriak.


Tangannya di ikat oleh seutas tali, sehingga membuatnya tidak bisa bergerak untuk melarikan diri.

__ADS_1


Suara yang menyedihkan terus dia keluarkan, semua itu berasal dari rasa takut saat anak dan ibu itu melirik ke arahnya.


“Tentu saja, ayah juga akan kami bunuh. Karena kami juga mencintai ayah.”


__ADS_2