Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 44: Takdir Dari Seorang Kakak


__ADS_3

Gelap dan gelap, bintang dan bintang, malam dan malam, darah dan darah, jeroan dan jeroan...


... Mari kita taburi mereka dengan rasa keputusasaan dan menari-nari menikmatinya.


Kepala manusia yang pecah, mayat yang kotor, tubuh yang terpotong, dan bau busuk yang menjijikkan.


Di atas semua itu, tiga siluet terlihat sedang berdiri dengan bangga di atas tumpukan mayat-mayat para sampah.


Sudrim Tolekas adalah satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian yang tidak manusiawi itu— Dia beruntung.


Setelah itu, tiba-tiba—


“Sudrim-san, kau tidak perlu takut.”


—Seseorang memanggil namanya.


Pikirannya membeku seakan-akan darahnya menghilang di dalam tubuhnya dan tidak membiarkannya untuk berpikir.


Dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak kencang sampai ke gendang telinganya.


Nafasnya terengah-engah, saat dia menarik nafas, hanya bau busuk dan udara panas yang menyiksa tenggorokannya.


Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar hebat dengan ketakutan dan suara teriakan yang terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya.


Apa yang dia lihat? Apa yang dia rasakan? Semuanya seperti sebuah batu besar yang terjatuh dan meremukkan hatinya.


Lalu, suara itu segera menghantui dirinya kembali.


“Sudrim-san? Apa kau baik-baik saja?”


Seseorang memanggil namanya, hal itu telah memberikan tamparan yang keras untuk membuat Sudrim sadar dengan kenyataan.


Dia mengambil oksigen dengan mulutnya seperti seekor ikan emas kelaparan, karena jika dia bernafas melalui hidung, bau busuk akan membuat matanya sangat perih.


Segera pikirannya kembali jernih setelah menghirup oksigen kotor dan membuat otaknya kembali berfungsi.


Seakan-akan seperti roda gigi yang berputar, Sudrim menatap ke arah tiga siluet yang berada di hadapannya.


Sudrim takut, tapi, dia harus bertahan hidup. Karena adik perempuannya telah menunggu kepulangannya.


Dia sama sekali tidak berniat untuk mati di sini—


“Nah, Rogant. Apa yang harus kita lakukan dengan dia? Apa perlu Meily bunuh saja?”


“... Hk?!”


Tenggorokan Sudrim tercekik, sekilas dia bisa membayang dirinya terpotong-potong oleh kegelapan yang menari-nari di sekitar tubuh gadis kecil itu.


Dia ingin kabur dari sini, dia tidak ingin mati, dia ingin hidup dan kembali ke rumahnya, lalu tinggal bersama adik perempuannya.


Dia juga akan berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi dan berkerja dengan baik. Dia hanya ingin hidup bersama keluarganya.


Namun, itu hanyalah sebuah pemikiran yang manis saja. Dia tidak memiliki kemungkinan untuk hidup, dia akan mati.


Dia akan mati seperti teman-temannya yang di bantai. Itu adalah takdirnya, dia sama sekali tidak bisa menghindar dari takdir itu.


Lalu, selagi dia memikirkan hal itu. Tiba-tiba suara orang lain merayap ke telinganya.


“Tidak, kita tidak akan membunuhnya.”


Mata Sudrim melebar terkejut, dia menatap ke arah si penutur tersebut. Dari suaranya, Sudrim tau bahwa dia laki-laki.


Dia adalah seseorang yang berdiri tepat di hadapan Sudrim seakan-akan sedang melindunginya.


Hatinya di penuhi dengan kegembiraan, apa yang di katakan si penutur itu telah memberi nya sedikit harapan untuk bisa hidup. Yah, hanya sedikit...


Lalu, si penutur membuka jubahnya, begitu juga dengan dua orang lainnya.

__ADS_1


“Oh, reaksi yang cukup bagus.” Kata pemuda dengan rambut yang berwarna putih.


Sudrim akhirnya dapat melihat penampilan mereka bertiga, satu wanita dewasa, satu gadis kecil, dan satu laki-laki remaja, seperti yang Sudrim duga.


Akan tetapi, dia terpesona. Sudrim terpesona dengan kecantikan dari ketiga siluet tersebut.


Di sebelah kiri ada seorang gadis kecil dengan rambut hitam yang berkilau seperti langit malam.


Di sebelah kanan ada seorang demi-human dengan sembilan ekor rubah yang bercahaya biru cerah.


Dia memiliki bentuk tubuh yang begitu indah dan penuh dengan daya tarik seksual, dia memiliki aura seperti seorang pelacur.


Namun, yang bikin Sudrim lebih terkejut adalah seorang pemuda yang berdiri di tengah-tengah mereka berdua.


Dia memiliki rambut putih yang bersinar seperti bulan, dengan paras wajah yang terlihat tidak manusiawi.


Senyumannya menyihir membuat jantung Sudrim berhenti berdetak selama beberapa saat. Dia di sadarkan oleh hembusan udara dingin di malam hari.


“Baiklah, seperti yang telah Tuan katakan. Kita tidak akan membunuhnya.” Kata wanita rubah, dia berbicara sambil menutup sebelah matanya dengan anggun, “... Lalu, apa yang akan kita lakukan kepadanya?” Lanjutnya.


Sudrim menahan nafasnya, saat topik tentang dirinya di bawa, dia merasa kematian sedikit demi sedikit mendekatinya.


Tiga orang yang berada di hadapannya adalah seorang Dewa, mereka adalah eksistensi yang akan menentukan takdir Sudrim. Apa itu kematian atau kehidupan, merekalah yang menentukan hal itu.


Sudrim merasa dirinya seperti sebongkah batu kecil yang berada di pinggir sungai, dia hanya mahkluk rendahan yang tidak pantas untuk berada di hadapan ketiga orang ini.


Namun, meskipun begitu dia masih berharap. Meskipun itu sangat menyedihkan, dia akan bertahan hidup.


Harapan itu sangat tipis dan kecil seperti api yang berdiri di badai salju, Sudrim harus melindunginya meskipun dia kedinginan.


Tapi, dari pada gemetar kedinginan, akan lebih tepat jika kau menyebutnya ketakutan.


“Hmm, Sudrim-san, bagaimana menurutmu? Apa yang kau inginkan?” Pemuda putih bertanya, dia tersenyum seolah-olah sedang menikmatinya.


Sudrim tersentak, dia merasa darahnya mengalir deras ke bawah tubuhnya dan membuatnya setengah mati.


Sekarang, dia harus membuat menjawab, tapi apa yang jawaban yang tepat di sini?


Pertanyaannya— Apa yang kau inginkan?— Itu adalah pertanyaan yang cukup ambigu, namun, jika bisa Sudrim ingin hidup.


Hanya itulah keinginannya, hanya itulah harapannya.


Akan tetapi, Sudrim takut, dia takut mengatakannya, mungkin saja itu bisa menyulut kemarahan mereka karena mendengar keinginan Sudrim yang egois.


... Apa yang harus dia jawab? Mungkinkah ini pertanyaan jebakan?


Lagian, dari awal, apa dia bisa mempercayai mereka? Apa mereka yang telah membunuh teman-temannya Sudrim bisa di percayai?


Lalu, apa lebih baik di sini dia tidak usah menjawab?


Tapi, bagaimana kalau nanti mereka sudah tidak sabar dan memenggal kepala Sudrim?


“Sudrim-san?”


Mata hitam itu sekali lagi mengintip ke dalam jiwa Sudrim yang meronta-ronta.


Mata semua orang menatapnya, dia bahkan bisa mendengar suara temannya yang sudah mati sedang menertawakannya.


Apa yang harus dia jawab?


“A... Aku,” Sudrim menggerakkan bibirnya, merangkai beberapa kata-kata dengan gagap seperti orang yang baru belajar membaca, dia mengeluarkan seluruh keberaniannya, dan menjawabnya dengan jujur, “... A-Aku ingin bersama adik perempuanku.”


Sudrim meludahkan keinginannya seakan-akan seperti seseorang yang mengakui dosanya dan ingin bertaubat.


Rogant tersenyum, dia tersenyum lembut yang membuat Sudrim terkejut.


Setelah itu, dia berkata.

__ADS_1


“Begitu, keinginan yang bagus. Aku bisa merasakan keyakinan yang kuat di dalamnya.” Pemuda putih mengangguk puas, lalu melirik ke arah Wanita rubah dan gadis kegelapan, “Bagaimana menurut kalian?” Tanyanya.


Wanita rubah hanya memberikan senyuman menggoda dan mengangkat bahunya.


Sedangkan gadis kegelapan mendengus pelan dan berkata, “Hmm~ Jika itu keinginan Rogant, maka Meily baik-baik saja.”


“Begitu.” Pemuda putih mengangguk pelan setelah mengkonfirmasi pendapat temannya, setelah itu dia kembali lagi menatap ke arah Sudrim yang terdiam, “Yah, seperti itulah, Sudrim-san, kau bisa bertemu adikmu.”


“Eh...?” Sudrim terkejut, dia masih bingung, apa ini mimpi? “A-Apa... Apa boleh?” Tanya nya dengan suara yang gemetar.


“Yah, kau boleh bertemu dengan adik perempuanmu.”


Seakan-akan pikirannya runtuh, Sudrim menangis, dia menangis tersedu-sedu. Tapi, ini berbeda dari tangisan yang membuat matanya perih itu.


Dia bisa merasakan kehangatan di dalam hatinya saat menangis. Dia akhirnya bisa bernafas dengan perasaan lega.


Sudrim mendongak melihat ke atas langit malam dan berterima kasih kepada Dewa karena telah memberinya kesempatan ini.


Lalu, secara pelan-pelan Sudrim mengangkat tubuhnya, tapi kakinya terlalu lemah untuk bisa berdiri lagi. Dia terlalu lega sampai sulit untuk mengeluarkan tenaganya...


“Kau baik-baik saja.” Kata pemuda putih, dia mengulurkan tangannya ke arah dirinya.


“Te-Terima kasih.” Sudrim dengan gelisah meraih tangan pemuda putih dan dia di tarik untuk di bantu berdiri, “A-Aku benar-benar berterima kasih banyak.”


Sudrim membungkuk dan mengucapkan rasa terima kasihnya yang tulus dan dalam.


Pemuda putih menggeleng pelan, “Tidak, tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukan apapun.” Balasnya, tersenyum.


Meskipun Sudrim sebelumnya takut kepada pemuda putih itu, sekarang dia tidak merasakan hal itu lagi. Dia malam merasa bisa berteman dengan pemuda putih ini.


Tapi, lebih baik dia menghapus pemikiran seperti itu. Akan berbahaya jika dia di anggap tidak sopan. Mungkin saja pemuda itu adalah seorang bangsawan besar.


Dia memiliki aura dan penampilan yang berbeda para rakyat jelata seperti dirinya.


Dan dua orang yang ada di sisinya mungkin adalah pengawal atau kekasihnya. Yah, memang benar, wanita rubah itu terlihat sangat cantik. Terus apa gadis kecil itu anak mereka— Mungkin saja.


Selagi Sudrim terus berfantasi seperti orang konyol seperti itu, dia dengan kaki yang seperti orang pincang berlari cepat menuju rumahnya untuk pulang.


Perasaannya benar-benar bahagia, dia merasa dirinya saat ini bisa terbang saat dia mulai berlari menuju rumahnya.


Wajah adik perempuannya yang menunggu kepulangannya terbayang di dalam benaknya. Sudrim tersenyum lebar, hampir terlihat menyeramkan.


“Tunggulah aku! Aku akan segera pulang...!”


Dengan kaki yang lemah, Sudrim terus berlari dan berlari seperti anak kecil yang mengejar impiannya.


Wajahnya penuh dengan harapan, dia melewati semak-semak dan hutan yang gelap dengan penuh percaya diri tanpa penerangan.


Sudah jelas, bahwa dia itu sangat—


“—ToIoI.”


Seseorang berkata.


Seketika itu juga, suara binatang yang meraung menggelegar di dalam hutan.


Burung-burung yang ketakutan mulai terbang menjauh.


Lalu, secara bersamaan suara jeritan kematian terdengar keras dari dalam hutan.


“AAAARRRRRGGGGGGHHHHH—!!!”


Dengan begitu, seorang kakak mati mengenaskan di tengah jalan tanpa bisa kembali dengan adik perempuannya.


“Haahh...!” Rogant menghela nafas lelah, dia menghina seorang kakak yang mati itu dengan senyuman lengkung, “Dasar toIoI, pergi ke dalam hutan dengan tubuh yang bau darah dan tanpa membawa penerangan. Kau hanya akan menjadi santapan binatang iblis jika seperti itu.”


Sesaat setelah itu, kelompok Rogant menggunakan koin untuk menentukan takdir dari adik perempuan Sudrim, dan pada akhirnya mereka juga membunuhnya.

__ADS_1


—Hanya penderitaan dan kematian yang kau dapatkan setelah kau berhadapan dengan eksistensi >Iblis Putih<—


__ADS_2