
“... Nngh!”
Pria itu mengerutkan matanya, mencoba untuk bangun. Tapi segera rasa sakit menyerangnya.
“Ughh...”
Tubuhnya tidak bisa bergerak karena rasa sakit di pinggangnya, saat dia melihatnya. Dia mendapati dirinya sedang tergeletak di lantai dan melihat bercak darah di kain yang mengikat pinggangnya.
Pria itu mengerang kesakitan, kesulitan untuk bangun, tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia merasa seperti dirinya bukanlah dirinya.
Perasaan itu semakin kuat dan menghantui jiwanya. Masih tetap tergeletak, pria itu mencoba untuk melihat ke sekelilingnya.
Dan itu adalah neraka.
“A-Apa ini?... Apa yang terjadi di sini?!”
Kepanikan dan kebingungan menggambarkan dirinya pada saat ini.
Darah merah, mayat manusia, anggota tubuh yang bermacam-macam, organ dalam dari usus sampai otak, semuanya berceceran dimana-mana.
Pemandangan itu membuat tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar ngeri, dia ingin muntah, tapi sayangnya malah darah yang keluar dari mulutnya.
Itu membuatnya semakin panik dan panik, dia benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Dia terus mencoba untuk mencari bagian dari dirinya yang hilang, mencari kepingan dari ingatan sebelum dirinya pingsan.
Namun, ingatannya berakhir saat dia melarikan diri bersama anak buahnya. Selain itu, dia tidak mengingatnya. Dia tidak ingat kenapa dia bisa terluka, apapun dan segalanya telah hilang dalam dirinya.
Hal itu membuat pikirannya terguncang dengan sangat hebat. Pendarahan di lukanya yang sudah berhenti kembali mengalir.
Pria itu mencoba menekannya dengan tangannya, tapi itu percuma saja. Rasa sakitnya semakin besar dan besar.
Dia mencoba untuk menyeret tubuhnya ke arah dinding di sampingnya.
“Uughh!!... Sial sial sial! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!”
Pria itu mengetuk dirinya sendiri, tubuhnya semakin panas sampai membuatnya dengan keringat yang terus bercucuran.
Pikirannya tidak bisa jernih berkat kebingungan dan kesakitan yang saat ini dia rasakan.
Nafasnya terengah-engah bersamaan dengan erangan yang serak, dia mencoba untuk menganalisis informasi yang dia dapatkan setelah dia berhasil menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakangnya.
Namun sayangnya, saat dia ingin memurnikan kembali pikirannya, sesuatu bergelinding ke arahnya.
“... Hm? Apa ini?”
Dia menolehkan pandangannya ke arah sesuatu itu, mencoba menggerakkan tangannya dan melihatnya lebih jelas.
Saat itulah, dia tersadar. Dia menarik nafasnya dengan jeritan yang lirih pada saat mata mereka saling bertemu.
Mata kosong itu menatap ke arah wajahnya yang suram, itu adalah sebuah kepala manusia. Kepala yang sudah tidak terhubung lagi dengan bagian tubuh lainnya.
Akan tetapi, bukan itu yang membuat pria tersebut terkejut. Hal yang lebih mengejutkan berada pada kepala siapa itu.
Memiliki rambut berwarna hijau kehitaman dan wajah yang seperti seorang pencuri. Dia kenal siapa pemilik dari kepala itu.
Jantungnya di tekan dengan sangat kuat dan menimbulkan rasa sakit yang menyiksa. Mayat dari salah satu anak buahnya telah menggagalkan pikirannya.
Tidak, bukan hanya satu. Saat pria itu mencoba untuk melihat tubuh-tubuh lainnya, dia mendapatkan mayat dari seluruh anak buahnya.
“... Nnngghh! A-Apa yang— sebenarnya terjadi, di sini?!”
Terlalu banyak pertanyaan yang menghantam pikirannya, tapi tidak ada satupun yang berhasil mendapatkan jawabannya.
Dia meratapi dirinya yang putus asa di sekitar mayat dari anak buahnya yang telah dia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Pikiran dan tubuhnya tidak bisa berjalan normal sesuai keinginannya, kebingungannya telah di ubah menjadi keputusasaan.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Saat ini dia tidak bisa bergerak dan sudah kehilangan banyak darah, sudah pasti hanya kematian saja yang menunggunya. Tidak ada harapan bagi dirinya sekarang.
Semuanya telah menghilang, tidak ada satupun yang dia inginkan. Dari lubuk hatinya dia berharap—
“... Aku ingin cepat-cepat mati...”
—Itu adalah keinginan murni dari keinginan murni lainnya yang bisa dia pikirkan.
Kewajaran itu benar-benar membuatnya stres dan bergidik ngeri. Rasanya, itu seperti hal yang biasa dan normal.
__ADS_1
Seakan-akan itu adalah satu-satunya karunia Tuhan yang dia dapatkan.
Satu-satunya pilihan yang bisa dia bayangkan.
Satu-satunya hal normal yang bisa dia pikirkan.
Seseorang yang menginginkan kematian, apa ada dosa yang lebih besar dari itu. Pria itu benar-benar putus asa dan lelah...
Yah, sudahlah, semuanya sudah berakhir untukku, pikirnya.
Namun saat dia ingin memejamkan matanya untuk selamanya, tiba-tiba dia menangkap sesuatu di penglihatannya.
Itu adalah sinar bulan, sebuah sinar bulan yang indah dan kian mendekati dirinya.
Tapi, jika kau melihatnya lebih teliti. Itu adalah siluet dari seorang remaja laki-laki.
Dia memiliki rambut putih indah dengan kepolosan dan kekejaman yang murni.
Senyuman lembutnya seakan-akan dirinya meremehkan segala bentuk kehidupan dan kematian.
Dia berjalan santai sambil bersenandung riang, seakan-akan dia adalah orang paling bahagia di dunia ini.
Pemuda itu berjalan ke arah si pria yang bersandar di pinggir lorong yang gelap, senyumnya terlihat menyihir.
Perasaan bahagia yang aneh terpapar jelas di raut wajahnya yang tidak manusiawi. Pria itu terus menatapnya, tidak menyipit atau berkedip, dia terpesona.
“Hmmm... Yah, sepertinya masih terdapat satu orang yang masih hidup. Benar-benar merepotkan.”
Tanpa di sadari, pemuda itu sudah berada di hadapannya. Dia terlalu tercengang sampai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Si pria mencoba untuk mengeluarkan suara, tapi tidak ada satupun yang keluar dari tenggorokannya yang kering.
Pemuda itu terkekeh melihat dirinya yang menyedihkan, namun perasaan nyaman yang aneh membuat si pria tidak memperdulikannya.
“Baiklah, sepertinya aku bisa membiarkan mu. Lagian kau juga akan segera mati, hal itu benar-benar sesuatu yang menggembirakan.”
Sepertinya pemuda itu sama sekali tidak berniat untuk menolong dirinya, tapi itu tidak masalah. Malahan itu lebih baik untuknya.
Akan tetapi, berkat tingkah laku aneh yang di lakukan pemuda itu membuatnya penasaran. Dia menyipitkan matanya mencoba mengintip ke arah mata hitam milik pemuda tersebut.
Melihat itu, pemuda tersebut menertawakan nya. Dia menundukkan wajahnya, sekarang mereka sejajar. Mata hitam pemuda itu menatap mata suram milik si pria.
Pertanyaan yang di lontarkan pemuda itu membuat si pria kebingungan, tapi dia tetap memikirkannya.
Mengulangi pertanyaannya dari pemuda itu di pikirannya, si pria mencoba untuk mencari jawabannya.
Dia sekali lagi menatap ke arah depannya, namun segera setelah itu pemuda tersebut sekali lagi mengatakan sesuatu yang aneh.
“Ketua, kau harus hidup dan melarikan diri. Kami semua saling membunuh hanya untuk dirimu, kami menyayangimu. Oleh karena itu, kami akan mati untuk dirimu. Semua ini adalah salahmu! Ini salahmu!! Ini salahmu!!! INI SALAHMU! INI SALAHMU! INI SALAHMU! INI SALAHMU! INI SALAHMU! INI SALAHMU! INI SALAHMU! INI SEMUA KARENA SALAHMU, KETUA!!!”
Perkataannya semakin keras dan keras, mata ketua kembali tersadar. Dia mengerutkan keningnya dengan keputusasaan sekali lagi.
Jantung berdetak sangat kencang, matanya melebar penuh penghinaan terhadap dirinya sendiri, nafasnya terengah-engah menunggu sesuatu untuk di keluarkan.
Pikirannya terus terombang-ambing dengan kata-kata pemuda tersebut, tubuhnya gemetar ketakutan lebih dari biasanya.
Rasa sakit yang tadinya sudah tidak dia rasakan sekarang kembali seakan-akan mencoba untuk menekan kesadarannya.
Perutnya menjerit-jerit minta pertolongan, namun ketua kembali lagi mengingat perkataan pemuda itu.
'Ini salahmu!'
“AAAAAARRRRRGGGHHHH—!!!”
Dia berteriak melalui tenggorokannya yang kering, rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya.
Dia menangis, dia menghantamkan kepalanya ke dinding di belakangnya dengan gila.
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya.
'Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu!'
“Eerrrgghhh!!... Aaarrrrggghhh!! Tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak!! Aaagghhh!! Berhentilah memasuki pikiranku!!!”
Kepalanya pusing, semua berdenyut-denyut dengan rasa sakit yang luar biasa. Pria itu mulai terus menghantam kepala ke dinding.
Darah mulai keluar dari kepalanya yang pecah, tapi dia tidak peduli.
Dagingnya mulai tercuil-cuil, rambutnya mulai rontok dengan tetesan darah di setiap sehelai rambutnya, tapi dia tidak peduli.
__ADS_1
Pikirannya menjadi gila dengan kata-kata yang sebelumnya di ludahkan oleh pemuda itu, rasanya terbakar. Pikirannya rusak dan rusak.
Bagaimana menggambarkan situasi saat ini ya? Kau bisa membayangkan bagaimana jika seluruh saraf otakmu terbakar dan di tusuk dengan besi panas. Yah seperti itulah.
Hal itulah yang di rasakan pria menyedihkan itu, dia terbakar dengan kata-kata yang terus di ulang-ulang di dalam pikirannya.
Dia terus menghantam kepala berharap pikiran itu hilang dari otaknya, tapi semakin keras dia melawan. Semakin kuat pula suara dari kata-kata itu.
'Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini salahmu! Ini semua adalah salahmu, ketua!!'
“TIDAAKKKKK!!! HENTIKAN! HENTIKAN! AKU MOHON HENTIKAN!! AAAARRGGHHHHH!!”
Pria itu memohon di bawah rengekannya, dia merengek seperti anak kecil. Pikirannya terus di hantui dengan kata-kata itu.
Air mata perih terus membanjiri pipinya, lama-kelamaan air mata mulai berubah menjadi darah.
“AAAARRRRGGHHHHHH—!!!”
Rasa sakit yang luar biasa terus menerus melilit erat jiwa dan raga pria tersebut.
Sakit, pusing, panas, dan berdenyut-denyut. Itu lah kesakitan yang dia rasakan saat ini dan itu semakin kuat dan kuat.
Hanya kegilaan yang tersisa di dalam dirinya, tidak, bahkan dia tidak yakin apakah dia benar-benar dirinya atau bukan.
Semuanya menjerit, semuanya menari di dalam api kata-kata. Pria itu terus menerus dengan gila menghantam kepalanya.
Kuat, sangat kuat, dan semakin kuat. Hal itu terus dia lakukan tidak peduli seberapa banyak dirinya terluka.
Dia benar-benar tersiksa untuk tubuh dan pikirannya, semuanya sakit dan berdenyut-denyut.
Sangat parah dan sangat parah, sama sekali tidak ada peruntungan untuk kebebasannya.
Dia bernafas sekali dan menghantam kepalanya, semuanya untuk menghilangkan suara yang terus berdenyut-denyut di dalam kepalanya.
“AAAAGGGGHHHHHH—!!! AKU INGIN MATI!!! AKU INGIN MATI!!! KUMOHON CEPAT BUNUH AKU!! AAARRRGGHHHH—!!!”
Jeritannya terus menerus bergema di dalam lorong tersebut seperti teriakan setan, Rogant menutup telinganya saat dia mendengarnya.
“Terlalu berisik, tapi yah, aku pikir itu bagus untukmu karena mau menerima kematian. Hei, apa kau ingin mati?”
“AKU INGIN MATI! AKU INGIN MATI!! AKU INGIN MATI!!! KUMOHON CEPATLAH BUNUH AKU SEBELUM AKU BENAR-BENAR HANCUR!!!”
Dengan suara yang serak dan memohon dengan mati-matian, Rogant menghela nafas lega dan tersenyum dengan bahagia.
“Begitu ya, syukurlah. Kau menginginkan kebahagiaan atas keinginanmu sendiri, itu adalah sesuatu yang luar biasa! Yah, kau benar-benar luar biasa, ketua! Kalau begitu, aku akan memberikan pedang ini kepadamu, gunakanlah untuk membunuh dirimu sendiri.”
Rogant tersenyum misterius, dengan tatapan lembut, dia memberikan pedang pendek yang dia pungut dari lantai dan melemparnya ke arah pria tersebut.
Segera seperti anjing yang tidak di kasih makan, pria itu mengambil pedang pendeknya.
Wajahnya tersenyum, air mata hangat mengalir dari matanya. Dia seakan-akan sedang ingin bertaubat atas perbuatannya.
Menaruh pedang itu di lehernya dengan tangan yang gemetar, pria itu tersenyum semakin lebar dengan nafas yang terengah-engah.
“Ahahahaha!! Bagus, kau anak yang baik! Sekarang kau bisa membunuh dirimu sendiri, selamat.”
Rogant merayakannya dengan senyuman lembut, sama sekali tidak ada niat untuk menghentikannya.
Dia dengan sabar menunggu pria itu membunuh dirinya sendiri seperti melihat anaknya yang ingin melakukan hal yang luar biasa.
Tubuhnya gemetar, tangannya gemetar, saat pria itu memegang pedangnya, pikirannya terus terngiang-ngiang dengan kata-kata tersebut.
“INI SALAHMU!”
Tanpa aba-aba, pria itu langsung menusuk tenggorokannya. Rasanya sangat panas dan sakit, tubuhnya kejang-kejang.
Pernafasannya berhenti, darah mulai keluar dari leher dan mulutnya yang terluka. Pria itu telah mati dalam kebahagiaan yang setara.
Pria itu telah mengakhiri penderitaan dan hidup nya dengan tangannya sendiri.
Tubuhnya tergeletak di situ bersama dengan mayat anak buahnya, sudah pasti dia mendapatkan kebahagiaan yang setara sekarang.
... Dia telah mendapatkan kebahagiaan yang serupa dengan anak buahnya.
Rogant mengangguk puas melihat itu, dan kembali berjalan menyusuri lorong yang gelap sendirian.
“Baiklah, sudah saatnya untuk berkumpul dengan Patrecia... Oh ya, kalau gak salah ada satu orang yang kabur. Harus aku apakan dia ya? Hmmm, yah kupikir Patrecia bisa melakukan sesuatu untuk itu.”
Meskipun masih banyak tanda tanya di dalam kepalanya, Rogant sama sekali tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Sambil bersenandung riang, dia kembali berjalan menuju kebahagiaan selanjutnya.