
Di suatu tempat yang gelap dan lusuh.
“Kakak, kau ingin pergi lagi?” Tanya seorang gadis kecil yang memiliki rambut coklat sepinggang yang sedikit kotor.
Pria itu yang merupakan kakak dari gadis kecil itu membalikkan badannya menatap ke arah adiknya yang menarik bajunya.
Dia terlihat seperti seorang pria yang sudah berumur dua puluh-an, memiliki rambut coklat cerah dengan iris mata berwarna coklat gelap. Dia saat ini memakai jubah kusang yang menutupi penampilannya.
Dia adalah seorang pria dengan nama Sudrim Tolekas
“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan kembali lagi ke sini.” Kata Sudrim sambil menepuk kepala adiknya, wajahnya tersenyum tipis.
Dia tersenyum tipis, sangat tipis sampai itu terlihat seperti senyuman palsu yang dia buat-buat hanya untuk menipu adiknya.
Namun, sepertinya adiknya tidak menyadari hal itu. Dia menundukkan kepalanya dengan sedih, dan dengan pasrah mendengarkan ucapan kakaknya, “Baiklah, aku mengerti.”
“Bagus, kau anak yang baik.” Kata Sudrim mengelus kepala adiknya. Sejujurnya, dia juga merasa bersalah, tapi dia harus pergi, “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.”
Adiknya mengangguk pelan, “Berhati-hatilah, kakak, dadah.” Kata si adik sambil melambaikan tangannya dengan murung.
Sudrim tidak membalasnya, dia hanya berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah adik perempuannya.
Dia memiliki pekerjaan yang harus dia lakukan, semuanya demi menghidupi adiknya. Semuanya demi menghidupi mereka berdua.
Karena mereka hanya tinggal berdua saja, jadi dia harus melakukannya seorang diri.
Dia harus sendirian menghidupi keluarganya, jadi, walaupun dia terjatuh ke dalam jalan yang sesat. Sudrim Tolekas tidak peduli!
Dengan raut wajah yang berbeda dari yang sebelumnya dia perlihatkan oleh adiknya, Sudrim dengan hati-hati berjalan memasuki hutan. Ini adalah sore hari, tapi hutan itu masih tetap gelap seperti di malam hari.
Tapi, karena Sudrim sudah tau dia harus pergi ke arah mana. Dia tidak membutuhkan penerangan sama sekali.
Saat dia terus berjalan dan berjalan, akhirnya dia melihat cahaya. Itu adalah sebuah cahaya dari lentera malam.
Di sana Sudrim bisa melihat beberapa siluet seseorang, mereka ada sekitar delapan orang, tidak, mungkin sembilan.
Tanpa ragu-ragu, Sudrim mendekati tempat tersebut, tapi dia tetap hati-hati dengan sekitarnya. Karena dia berada di dalam hutan, dia takut binatang iblis menyerangnya.
“Oi, Sudrim, kau terlambat!” Teriak salah seorang yang berada di dekat cahaya lentera, atau lebih tepatnya, dialah yang memegang lentera itu.
Mendengar suara teriakan temannya, Sudrim mempercepat langkah kakinya, “Ya yah, aku minta maaf. Ada urusan penting tadi.” Kata Sudrim, membuat senyum palsunya.
“Hah! Baiklah, tapi, tidak ada siapapun yang mengikutimu, kan?” Tanya temannya yang lain dengan tatapan tajam.
“Tenang saja. Aku tidak di ikuti oleh siapapun, Joe.” Sudrim menjawab, dia menyebut nama dari temannya.
Joe memiliki rambut berwarna jingga, dia memiliki kerutan di wajahnya, mungkin umurnya sekitar tiga puluh-an.
Ngomong-ngomong, mereka semua adalah sekolompok bandit. Sudrim adalah salah satu dari mereka, dia mencari uang dengan cara merampok kekayaan milik orang lain.
Tentu saja pekerjaan ini dia sembunyikan dari adik perempuannya. Dia tidak ingin keluarganya tau bahwa dia menjadi bandit.
“Jadi, apa hari ini kita akan melakukannya?” Tanya Sudrim, dia bertanya kepada Joe yang berada di sampingnya.
Joe sedikit melirik ke arah Sudrim, dia mendengus kesal, dan menjawab, “Yah, kita akan melakukannya. Kali ini sepertinya mangsa kita cukup besar.”
Mendengar itu, Sudrim mengerutkan keningnya, “Tunggu, kalau begitu, kenapa hanya ada sepuluh orang di sini?”
“Aku juga tidak tau, sepertinya bos sedang memikirkan sesuatu. Dia memecah kelompok kita menjadi beberapa bagian.” Joe menjawab, hampir terlihat kesal.
“Itu artinya kali ini kita akan melakukan pengepungan ya.” Sudrim mengangguk setelah menggumamkan hal itu, terus dia menatap ke arah Joe lagi, “Terus bagaimana dengan pihak mangsa kita kali ini?”
Mendengar Sudrim bertanya terus menerus, itu membuat Joe mendecakkan lidahnya, “Tch! Yah, sepertinya di pihak musuh hanya ada tiga orang.”
“Hah?!” Sudrim terkejut, matanya melebar, “Apa mereka pedagang? Apa mereka tidak menyewa pengawal? Satupun?”
“Hah! Mana aku tau! Lebih baik kau tengok saja sendiri!” Teriak Joe yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Itu membuat Sudrim tersentak, tapi, dia segera memulihkan dirinya dan memenangkan Joe yang sudah marah.
Setelah itu mereka pergi ke kelompok mereka masing-masing dan mengobrol satu sama lain tentang harta yang akan mereka dapatkan jika berhasil dan hiburan seperti apa yang akan mereka temukan.
Namun, karena kali lawannya hanya tiga orang mereka tidak terlalu berharap dengan hiburannya.
Yah, hiburan, maksudku seorang wanita, mereka ingin menghibur nafsu mereka. Sudrim tidak nyaman saat mereka sudah mencapai ke pembahasan tentang hal itu.
Tapi, dia berpura-pura agar tidak terlalu terlihat mencurigakan.
__ADS_1
Karena bagaimanapun, dia sendiri tidak bisa berkomentar tentang temannya, kalau dia sendiri juga salah satu dari mereka.
Selagi mereka terus mengobrol, malam sudah datang. Bulan menggantung di atas langit malam bersama dengan lautan bintang-bintang.
Saat, di dalam hutan tanpa penerangan sama sekali, Sudrim dan teman-temannya diam diam berjalan ke arah target mereka.
Di sana mereka dengan jelas melihat sebuah cahaya, itu adalah sebuah cahaya dari api unggun yang menyala-nyala.
Dan dia bisa melihat dengan jelas tiga siluet yang duduk melingkari api unggun itu, tapi, karena mereka memakai jubah, Sudrim tidak bisa melihat jelas rupa wajah mereka.
Akan tetapi, dia tidak tertarik dengan itu. Matanya, atau lebih tepatnya, mata semua bandit itu tertuju ke arah kereta kuda yang terlihat sangat mewah dengan corak bunga bunga berwarna emas.
—{Mungkinkah mereka bangsawan, tapi, rasanya ada yang janggal.}, Pikir Sudrim dengan hati-hati.
Sedangkan teman-temannya yang lainnya telah di penuhi dengan keserakahan dan nafsu yang membara.
Mereka semua terlihat seperti hewan buas yang sudah tidak sabar memakan mangsa nya yang sekarang berada di hadapannya.
Semua orang bersembunyi di balik semak semak melingkari kelompok mangsa mereka.
Ini adalah rencana pengepungan untuk melakukan serangan dadakan yang telah di pikirkan oleh bos mereka.
Di sudut mata Sudrim, dia bisa melihat bosnya yang memiliki wajah mengerikan yang diam-diam memberikan aba-aba untuk mereka mulai menyerang.
Seketika itu juga, jantung Sudrim berdetak kencang, dia ketakutan, karena mereka akan melakukan sesuatu yang buruk.
Tidak aneh, jika di kelompok mereka nanti akan ada korban yang berjatuhan dan mungkin saja korban itu adalah dirinya.
Dia takut dengan kematian. Dia masih memiliki keluarga yang menunggunya pulang, dia tidak ingin mati di sini.
—{Tenanglah, kali ini lawannya hanya tiga orang. Pasti baik-baik saja.} Pikir Sudrim menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah itu secara tiba-tiba, bos mereka memberikan mereka semua sinyal untuk menyerang, “SERANGGG—!!!”
“RAAARRGGGHHHH—!!!” Semua orang berteriak dengan sangat keras dan berlari ke arah tiga orang yang menjadi target mereka.
Namun, karena Sudrim terlalu fokus dengan dirinya sendiri, dia tidak bisa mengikuti gelombang momentum teman-temannya.
Dia telat bereaksi, tapi, dia beruntung.
Karena bagaimanapun juga—
“Yah, kalian benar-benar kasar. Bisakah kalian menunggu sebentar saja dulu.”
—Mereka telah memilih lawan yang salah.
Saat para bandit menerjang ke tiga kelompok itu dengan suara teriakan yang keras. Pada saat yang bersamaan dua suara itu muncul.
Itu adalah suara seorang wanita. Tentu saja, hal itu telah membuat para bandit semakin bergembira dan bersemangat.
Akan tetapi, itu tidak untuk Sudrim. Dia hanya menonton dan diam membisu. Dia tidak bisa mempercayai dengan apa yang dia lihat.
Dia bahkan lupa untuk bernafas, matanya tidak berkedip sekalipun saat dia mulai menonton teman-temannya yang satu per satu mati di tebas oleh kegelapan .
“AAAARRRRGGGGHHHH—!!!”
Jeritan kematian temannya membuat tubuhnya tidak bisa gemetar ketakutan.
“AARRRGGGHHHH—!!! A-APA YANG TERJADI?!”
Semuanya menjadi kacau, sesuatu yang hitam dan gelap muncul dari salah satu ketiga kelompok itu, dia memiliki tubuh yang kecil, mungkin adiknya lebih tinggi dari dia.
Kegelapan itu menerjang teman-temannya dan memutilasi tubuh mereka satu persatu, kaki mereka di potong menjadi tiga bagian.
Tubuh mereka di potong secara vertikal membuat organ dalam dari usus sampai otak mereka berhamburan dimana-mana.
Tangan mereka di potong sampai habis menjadi beberapa bagian dari jari sampai bahu, kegelapan itu terlihat seperti sedang menikmatinya saat dia memotong tubuh manusia itu menjadi beberapa bagian.
“SIAL SIAL SIAL!! APA YANG TERJADI?! SIAPA SEBENARNYA KALIAN INI?!!”
“Aku tidak memiliki jawaban untuk pria kasar seperti dirimu.” Kata salah satu dari ketiga kelompok itu, suaranya begitu hangat dan halus seperti sedang membelai telingamu.
Kau juga bisa melihat lengkungan tubuh yang bagus dari balik jubah hitamnya, sudah jelas dia pasti wanita.
Tapi, sesaat kemudian keluar sesuatu dari balik jubahnya yang membuat semua orang menjerit ketakutan.
“E-EEEEKKKK?!! A-APA ITU?!!” Teriak salah satu dari bandit itu dengan gemetaran.
__ADS_1
“Apa kau tidak bisa melihat kecantikan dari sembilan ekor ini? Haha, dasar babi jelek.”
Meskipun Sudrim tidak bisa melihat ekspresi dari wanita itu. Dia yakin bahwa sekarang dia pasti tersenyum mengejek kebodohan kami.
Karena sembilan ekor yang berdansa di belakangnya itu terlihat seakan-akan menghina seluruh keberadaan rendahan yang ada di sekitar tempat itu—Para Bandit.
Satu ekor itu menusuk kepala para bandit dan membanting mereka ke tanah dengan keras. Kekejaman seperti itu terus berlanjut.
Mereka terkadang di pukul dan terhempas menabrak pohon sampai membuat mereka muntah darah dan menjerit kesakitan.
Tidak berakhir di situ saja, terkadang ekor sembilan yang bersinar biru cerah itu melilit tubuh para bandit dan meremuk mereka sampai mati.
Kelopak mata mereka keluar bulat-bulat saat mereka di banting ke tanah dengan kejam.
Darah merah, jeroan manusia, tubuh mereka semuanya di hancurkan, di potong, di banting, di remuk, di tusuk, di mutilasi, dan di permainkan.
Sama sekali tidak belas kasihan di sana, tempat itu dalam sekejap telah menjadi neraka dengan mayat-mayat yang tertimbun di mana-mana dengan bentuk yang sudah tidak bisa di sebut manusia lagi.
Sudrim yang melihat itu dari awal sampai akhir di balik semak-semak gemetar ketakutan seperti anak kecil.
Nafasnya terisak-isak seakan-akan dia sedang tersedak di dalam tenggorokannya. Jantungnya berdetak kencang membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Air mata perih mulai keluar dari matanya yang memerah terus melotot, dia satu kali pun belum berkedip.
Hal itu telah memberinya rasa sakit yang tak tertahankan. Organ-organ dalamnya terus meronta-ronta saat dia terus menonton pertunjukan sadis itu di depan matanya sendiri.
Dulu, dia sangat yakin bahwa yang dia lakukan itu sangat buruk dan tercela. Dia juga merasa bersalah dengan itu, dia bahkan pernah tersiksa dengan rasa bersalahnya.
Akan tetapi bagaimana dengan yang sekarang? Bagaimana dengan orang-orang itu yang membunuh teman-temannya seperti sedang menikmatinya?
... Apa mereka bisa di sebut jahat?
Kurasa tidak, karena bagaimanapun yang mereka bunuh adalah para bandit, seorang sampah, seorang penjahat.
Mereka pantas mendapatkan kematian ini—
“Uukh...?! Uooeeekkkk!!”
—Sudrim yang tidak bisa menahan rasa jijiknya saat melihat pemandangan yang berada di hadapannya, akhirnya muntah.
Dia memuntahkan seluruh makanan yang berada di perutnya dengan rasa sakit dan tangisan yang terisak-isak.
“Apa ini?! Apa ini?! Uooeekkk...!! Mustahil! Mustahil! Mustahil! Mustahil kita bisa menang melawan mereka!! Uooeeekk...!!”
Sudrim terus muntah dan muntah saat dia meludahkan jeritan keputusasaan-nya.
Di depannya dia hanya bisa melihat darah merah dan jeroan manusia saja. Dia tidak ingin melihat hal itu, tapi, matanya tidak bisa berpaling dari neraka itu.
Tubuhnya gemetar dan menangis seperti seorang anak kecil yang melihat orang tuanya di siksa di depan matanya sendiri, tapi, dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu mereka lepas dari siksaan itu.
Dia benar-benar menyedihkan dengan ketidakberdayaannya. Dia ingin segera lari saja dari situ, tapi, kakinya terpaku dan sulit untuk di gerakan seakan-akan di lilit oleh tali yang tidak terlihat.
“AAAARRRRGGGHHHH—!!!”
“TOLONG AKUUU—!!!”
“KUMOHON!! MAAFKAN AKU—!!!”,
“AAARRRGGGHHH!! AKU TIDAK INGIN MATI!!”
“SIAPAPUN!! TOLONG AKU—!!!”
“HAH?! KENAPA INI?!! APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI SINI?!!”
“AAAAARRRRRGGGGHHHHH—!!!”
Meskipun dia terus menerus mendengar jeritan kematian dari teman-teman mereka. Sudrim hanya bisa diam dan menonton mereka sambil meratapi kematian teman temannya yang sadis.
Dia bahkan sudah tidak melihat Joe lagi, mungkin dia sudah menjadi potongan daging dan berserakan di tanah.
Pemandangan itu benar-benar sangat tidak kelihatan seperti kenyataan, rasanya seperti mimpi buruk.
Tapi, sayangnya, rasa sakit dan perasaan campur aduk yang dia rasakan saat ini adalah kenyataan yang kejam.
Matanya sama sekali tidak bisa berpaling dari pemandangan itu, dia hanya diam membeku dan melihat temannya mati satu per satu.
Jantungnya berdegup sampai ke otaknya, keringatnya terus menerus bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya terengah-engah saat udara panas keluar dari mulutnya, dan matanya terus mengeluarkan air mata kesedihan dan keputusasaan.
__ADS_1
Dengan wujud menyedihkan seperti itu, Sudrim Tolekas melihat akhir dari teman temannya yang terbantai dengan sadis.
Jika ini semua adalah takdir yang di berikan Dewa kepada mereka, maka, Dewa itu pasti adalah seorang Iblis Keji.