
Itu seperti bau busuk, atas kelahiran dari kehidupan yang baru.
Berlambai-lambai pada singkatnya kehidupan, dia merangkak dan berjalan.
Pola pikirannya telah berhasil menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Penghargaan atas apa yang dia puja, merayu mimpi akan kelaparan.
Terbang dan berlari, mengejar mayat kupu-kupu yang telah hilang.
Mendidik taring dan napsu, sejak pertama kali dia merasakan penderitaan, tiada bukti yang meragukan keberhasilannya.
Perasaannya hancur, dan rasa lapar yang tak bersahaja mengobarkan api neraka yang mengerikan.
Hidup bagaikan dosa yang berurutan.
Dia menyesal, dia menyesal karena telah menginjak tanah.
Dia menyesal, dia menyesal karena bermimpi ingin menggapai langit.
Akan kah dia sadar bahwa dia berada di tangan hukum alam?
Tidak yakin akan hal itu, pada akhirnya dia akan mati di tangan sang akhir.
...\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=...
Remaja itu membuka matanya, terheran-heran atas mimpi palsu yang dia dapatkan.
Tapi, lebih dari itu, dia merasakan denyutan sakit kepala yang kuat dari setiap ingatan yang mulai berputar-putar, seperti roll-film dalam lautan yang tak berperasaan.
“Apa... ini?!”
Uratnya membentuk dalam kenistaan. Tidak tahan dengan rasa sakitnya, tangan di taruh di kepala, menahan pening yang tak tertahankan.
Rogant di ludah, oleh semacam serangan batin yang membunuh. Dia tidak mengerti asal-usul penderitaannya, yang membuat ini semakin menakutkan.
Pikirannya terguncang, dia merasakan sensasi yang selama ini tidak pernah dia rasakan.
Dia merasa seperti sedang mengalami kehidupan orang lain. Dihantam secara tiba-tiba oleh ingatan yang berawan.
Itu bukan lolucon, itu memiliki keseriusan yang tidak normal saat kau merasakannya sendiri.
Rogant merasakan kesedihan atas kehilangan nyawa seseorang, dan perasaan senang saat berhasil melakukan pengalaman pertamanya, tapi... itu bukan miliknya.
Dia tidak pernah ingat memiliki ingatan yang seperti ini.
Rasa sakit itu merayap ke dalam jiwanya, ketakutan itu menenggelamkannya ke dasar kegelapan, dan kelaparan itu membuatnya menderita sampai-sampai dia rela memakan dagingnya sendiri.
Itu bukan dirinya, tapi dia bisa merasakan takdir yang sama dengan 'dia'.
Ada juga pengalaman saat dia tertusuk oleh ribuan jarum dari hawa dingin yang seperti neraka, dan dia hanya bisa berlemah hati atas takdirnya sendiri.
__ADS_1
Perasaan itu gelap, seperti kepuasan dalam pemburuan, dan kesenangan dalam merasakan setiap rasa dan aroma dari bangkai dan darah yang dia telan.
Itu menjijikan untuk dibayangkan, tapi sangat meragukan untuk menghentikan senyuman puasnya.
“Apa mungkin ini ingatan dari serigala yang kubunuh?”
[Benar, itu adalah ingatan dari serigala yang Master bunuh. Tapi, bukan hanya itu, perasaan, penderitaan, kesengsaraan, kemampuan, dan juga pengalaman masuk ke dalam jiwa Master, dan bercampur aduk di ingatan Master. Ini adalah hasil dari >Skill: Authority of Pride< yang Master aktifkan. Menambahkan segala bentuk kematian dan akal sehat dari mahkluk yang Master bunuh.]
Singkatnya, itu bisa membuat Rogant membaca ingatan apapun dari mahkluk yang dia bunuh, mengalami pengalaman yang sama dengan sang pemilik saat dia masih hidup hingga kematian menjemputnya.
“Kh?!”
Tapi, Rogant tidak memiliki waktu untuk membalas perkataan serius Pride System, dia hanya bisa merintih saat seluruh keringat mulai bercucuran melewati rasa sakit yang luar biasa.
Rogant terus bertahan, meski sedikit sulit, tapi dia mencoba untuk bertahan dari penderitaannya.
Sejujurnya, itu tidak penting untuk melakukannya. Jika dia memang sangat menderita... dia hanya perlu mati.
Bagaimanapun, dia memiliki >Skill: Book of Destiny< di tangannya, yang mana, dia dapat menulis ulang takdirnya sendiri.
Mengubah kematian menjadi kehidupan, dan mengubah rasa sakit menjadi kenyamanan.
Dia bisa melakukannya, itu mudah.
Gagasan tentang dirinya terlalu sakit untuk memikirkannya, itu tidak ada.
Setiap manusia memiliki pertahanan diri otomatis, menarik jerami saat tenggelam adalah perbuatan sia-sia. Tapi, saat merasakan kematian di depan mata, manusia akan menunjukkan sifat aslinya.
Itu adalah hal yang wajar, bahkan bagi remaja seperti Rogant sendiri.
Namun, hal yang berbeda berada pada pola pikir orang itu sendiri. Dalam hal ini, Rogant—
“Heh.”
Tersenyum lebar dalam kenikmatan yang berbalut oleh kegilaannya sendiri.
“Hehe, haha, ahahahahahahahahaha–!!”
Tangan direntangkan, mulut terbuka lebar, dan dia terus tertawa keras.
Setelah itu, Rogant berlutut, menyipitkan matanya dengan cabul, dan tersenyum lembut seakan-akan ada sayap yang tumbuh di belakang punggungnya.
“Ini luar biasa... tidak hanya ingatan, tapi perasaannya juga bisa kurasakan! Dia menjerit, dia menangis! Aku mengenal siapa dirinya. Itu aku. Karena aku adalah dirinya. Mau seberapa banyak aku memikirkan hal itu, ini sangat luar biasa! Ini membuatku gila! Aku bisa merasakannya, aku bisa mengetahuinya! Di detik-detik terakhir kematiannya, aku tau bahwa dia... bahagia.”
Rogant meringkuk, terus memegangi kepalanya dan terus mengoceh-ngocehkan sesuatu yang sulit dimengerti. Itu perasaan yang menenangkan, tapi kuat. Seperti ombak laut yang menghantam pikirannya.
Meskipun dia merasakan hal yang tidak seharusnya manusia ketahui, remaja itu, dengan perlahan-lahan dituntun oleh kegilaannya sendiri.
“Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih! Aku ingin lebih dari ini semua!!”
Di ulang-ulang dan terus di ulang-ulang, perkataan yang mirip dengan yang di awal dan di akhir terus di ulang-ulang.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar, dia meringkuk dan menempelkan lututnya di bawah keningnya.
Bentuk itu mirip seperti orang yang sedang ketakutan atau menangis. Tapi, meskipun postur tubuhnya menggigil dan gemetaran.
Senyuman lebar yang menghiasi wajahnya tidak mengatakan apapun tentang rasa takutnya.
Senyumannya gelap, dengan niat yang tersembunyi dalam hal-hal buruk yang berada di balik senyumannya.
Seakan-akan seperti sedang di anugrahi oleh tuhan, dia terus tersenyum, meneteskan air mata prihatinnya yang menunjukkan rasa puas akan dahaganya.
Tapi, dalam butiran cahaya yang mulai menghilang, senyuman polosnya juga menghilang, dan begitu segalanya kembali tenang.
Bibirnya bergerak dan merangkai beberapa kata-kata begitu malam telah datang.
“Aku masih ingin terus merasakannya.”
Mata belangnya sedikit berkedut mencurigakan saat sebuah kata yang lembut seperti helaan nafas keluar dari mulutnya.
Setelah sedikit mendapatkan ketenangannya, sekarang Rogant merasakan keinginan egois yang terus membara di dalam dirinya.
Itu adalah keinginan untuk mencoba Skillnya lagi— >Authority of Pride<, yang mana bisa membuatnya menambahkan segala jenis perasaan dan ingatan di dalam dirinya sendiri.
Jika dipertimbangkan, mungkin skill itu tidak ada gunanya, karena selama penambahan. Dia hanya akan mendapatkan penderitaan yang luar biasa dari rasa sakit dan pengalaman sang pemiliknya.
Namun, meski demikian, dia masih ingin mencoba. Ini bukan masalah tentang rasa sakit atau penderitaan.
Karena ingatan yang dia ambil akan sampai kepada kematian sang pemilik.
Itu artinya, dia juga bisa merasakan perasaan bahagia dari berbagai jenis kematian yang dia buat. Ini membuatnya merasakan getaran kebahagiaan yang berkali-kali lipat.
Bukan hanya kematiannya sendiri, dalam setiap kematian orang lain memiliki rasa yang berbeda-beda. Dan itu... sangat luar biasa!
Ini kali pertama dia merasakan hal ini, mencicipi berbagai jenis rasa kematian. Yah, dia masih ingin merasakannya lagi.
Dia ingin melihat dan mengetahui rasa apa yang dimiliki oleh orang lain saat mereka mati.
Serigala itu memberikannya rasa pahit dari kehidupannya yang keras, tapi itu juga sangat menarik untuk di rasakan.
Namun, itu saja belum cukup.
“Aku ingin lebih dari ini. Sesuatu yang benar-benar berbeda. Tapi... dimana aku bisa mendapatkannya?”
Begitu dia bertanya, kepakan sayap gagak bergema di seluruh hutan, dan jawaban atas pertanyaannya datang di dalam jiwanya sendiri.
[Bagaimana jika Master ke desa manusia? Saya yakin di sana Master bisa mendapatkan apa yang Master inginkan.]
Menjawab keinginan asusila tak bermoral masternya, Pride System berkata seakan-akan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Sebab itulah, dia tidak pernah berpikir. Bahwa apa yang dia katakan.
—Akan menyebabkan tragedi tersadis yang pernah ada.
__ADS_1
“Manusia? Itu... ide bagus.”
Saat sinar bulan menimpanya, terlihat jelas senyuman kejam nan gelap yang menghiasi wajah dari iblis putih itu.