
Mengurangi, mengurangi, mengurangi, sampai dia menemukan dirinya.
Mengurangi, mengurangi, mengurangi, sampai dia mendapatkan jawabannya.
Mengurangi, mengurangi, mengurangi, terus mengurangi sampai dia menyelesaikan segalanya.
“Hei, taukah kau namaku?”
Si gadis remaja, Oshima Yuko menahan nafasnya setelah seorang laki-laki bertanya demikian.
Bukan berarti itu pertanyaan yang ada maksud tersembunyi di baliknya, itu hanya pertanyaan biasa yang tidak perlu untuk berpikir terlalu lama menjawabnya.
Jika dia tidak tau, maka jawab saja tidak tau. Jika dia tau, maka jawab saja tau. Hanya itu saja...
“—Hei, taukah kau namaku?”
Pertanyaan yang diulang-ulang itu mengikat tenggorokan Yuko dengan sangat kuat.
Bukan berarti laki-laki itu bermaksud seperti itu, malahan dia dengan baik hati mengulang kembali pertanyaannya.
Namun, sekarang Yuko bingung apa yang harus dia jawab, apa dia perlu menjawab tidak tau? meskipun dia tau, atau sebaliknya?
“—Hei. Taukah. Kau. Namaku?”
Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya sekali lagi dengan ketidaksabaran. Rasa putus asa mulai merayap memeluk tubuh Yuko.
Sekarang, sebuah pertanyaan terbesar yang mengemban hidup enam belas tahunnya di tanyakan kepada Oshima Yuko.
Jika hidup adalah serangkaian pilihan. Maka di sini Yuko memiliki beberapa opsi mudah untuk memilih pilihannya...
Atau mungkin, ini akan menjadi pilihan terbesar dalam hidupnya.
Yah, apapun itu, saat ini pertanyaan yang membosankan tersebut telah membuatnya sangat kebingungan.
Jika bagi orang lain itu hanyalah pertanyaan biasa, tapi bagi Yuko itu adalah pertanyaan yang membuatnya khawatir dan menyiksa.
Namun sesungguhnya, laki-laki itu hanya ingin Yuko menjawabnya saja.
Jadi seharusnya dia bisa menjawabnya dengan Iya atau Tidak. Dengan begitu dia bisa terbebas dari siksaan pertanyaan itu.
“—Hei, taukah kau namaku?”
Mata hitam yang terlihat penuh penyesalan dan penderitaan menatap Yuko yang meringkuk ketakutan.
Dia benar-benar bisa melihat wajahnya yang menyedihkan dari cermin mata hitam tersebut.
Meskipun laki-laki itu terlihat sangat lemah dan kurus, dia benar-benar tidak bisa berhenti gemetar, gemetar, dan gemetar ketakutan.
Rambut hitam laki-laki itu seakan-akan menusuk tubuh Yuko sehelai demi sehelai dan mengotak-atik organ dalamnya.
Aroma kematian terus terpancarkan dari tubuh laki-laki itu. Meskipun biasanya dia tidak terlalu memahami apa itu nafsu membunuh.
Sekarang dia benar-benar sangat memahaminya dengan baik dan jelas.
“—Hei, taukah kau namaku?”
Tekanan kuat mendadak memberinya kesan kematian, namun di dalam dirinya terbalik, ada harapan kecil yang tumbuh.
Itu adalah harapan kecil yang harus dia buat sendiri. Caranya sangat mudah, dia hanya perlu menjawab pertanyaan dari laki-laki itu.
Seandainya dia bisa menjawabnya, maka dia bisa terbebaskan dari semua ini.
Tapi, sekarang yang membuat Yuko tertekan adalah apa jawaban yang benar di sini? Apa dia perlu menjawab tau atau tidak tau?
Seketika memikirkannya, dia tersadar perasaan suram yang mendominasi kesadarannya yang mulai memudar.
Perasaan tercekik datang dari desakan kuat keraguannya mengenai apa yang mesti dia jawab.
Dia seolah-olah di cekik sampai dadanya mau runtuh dan hancur.
Namun, di sini Yuko harus membulatkan tekadnya dan menjawab pertanyaan tersebut.
Karenanya, dengan bibir gemetar, dia sekali lagi menatap mata hitam itu.
“–Hei, taukah kau namaku?”
Dia akan terbebas dari mati lemah jika dia menjawab pertanyaan itu.
Mengerahkan segenap kekuatannya, Yuko akhirnya menggerakkan bibirnya yang gemetar, kemudian merangkai kata-kata.
“T... Tidak...”
__ADS_1
Sesuai dengan keinginan hatinya, Yuko menjawab bahwa dia tidak tau...
Melepaskan pikirannya dari pilihan-pilihan yang tersedia sampai berhenti sendiri di benaknya.
... Dengan sangat jelas menjawab pertanyaan nya.
Faktanya, dia benar-benar tidak tau nama ataupun wajah dari laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang.
Itulah sebabnya, seterkenal apapun laki-laki itu. Baginya, dia hanyalah orang asing yang tidak dia kenal...
Setelah itu—
“... Begitukah?”
—Laki-laki itu menjawab dengan jawaban singkat.
Dia tidak tau apakah emosi mendalam atau kekesalan yang tertuang dalam jawaban itu.
Seandainya hidup adalah serangkaian pilihan dan keputusan, maka hal itu juga berlaku untuk semua orang.
Karena Yuko telah memilih, maka laki-laki itu juga harus memilih.
Lalu sesaat kemudian—
“... Hk?!!”
—Yuko merasakan perasaan panas yang menusuk tenggorokannya dan membuatnya terjatuh.
Laki-laki itu telah menusuk leher Yuko dengan pisau yang dia sembunyikan entah dimana.
Yuko sesak nafas, tubuhnya kejang-kejang, matanya mengeluarkan air mata dan mulutnya di penuhi dengan air liurnya yang tumpah.
Dia merasa sesak, sesak, sesak, sesak, sesak, dan sesak sampai membuatnya benar-benar tersiksa.
“A... Aaah...”
Yuko ingin berteriak, tapi tenggorokannya tidak bisa mengambil nafas yang cukup untuk berteriak.
Hanya ada rasa sakit dan sesak nafas yang tak tertahankan. Mulutnya terbuka dan tertutup berharap mendapatkan oksigen.
Namun, hanya udara panas yang memasuki tubuhnya dan membuatnya tersiksa semakin parah.
Tubuhnya gemetar, dia menggeliat kesakitan dengan sangat menyedihkan di lantai yang dingin.
Kesadarannya mulai menipis dan menghilang, dia akan segera mati.
... Seharusnya dia tau kalau ini yang akan terjadi.
Oshima Yuko sadar bahwa dari awal dia sudah tau hanya kematian saja yang menunggunya.
—Bagaimanapun juga, tempat yang dia masuki saat ini di penuhi dengan tumpukan mayat-mayat dari manusia sebelum dirinya.
“Aa... Aaah...”
Sesaat kemudian, Oshima Yuko juga telah menjadi salah satu mayat yang ada di sana.
Melihat mayat gadis remaja enam belas tahun yang tergeletak mengenaskan itu, laki-laki tersebut hanya menghela nafas penuh dengan kelelahan dan penyesalan.
Semuanya berakhir seakan-akan dirinya lah yang paling menderita di sini.
Mata hitam nya di penuhi dengan keputusasaan yang tidak terukur itu menghina seluruh mayat yang ada disana.
... Setelah itu, dia bertanya pada dirinya sendiri—
“—Sebenarnya siapa namaku?”
Mengurangi, mengurangi, mengurangi, sampai dia menemukan dirinya.
Mengurangi, mengurangi, mengurangi, sampai dia mendapatkan jawabannya.
Mengurangi, mengurangi, mengurangi, terus mengurangi sampai dia menyelesaikan segalanya.
...---[★★★★★★]---...
—Di suatu tempat yang kotor dan berisik dengan suara pelanggan yang berdatangan.
Di salah satu meja yang ada di tempat tersebut.
“Oi, apa kalian sudah mendengar rumor itu?”
Seorang pria tua dengan pipinya yang memerah seperti orang mabuk memulai pembicaraan.
__ADS_1
Mendengar pria tua itu yang memulai pembicaraan dengan cara yang aneh, teman-temannya mulai menatap ke arahnya.
Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan dan memutuskan untuk minum-minum di malam hari.
Setelah mendapatkan perhatian dari semuanya, pria tua itu mulai melanjutkan pembicaraannya setelah meminum birnya satu tegukan.
“Aahh~... Yah, ini tentang >Iblis Putih< itu yang akhir-akhir ini menjadi terkenal di sekitar sini.”
Mendengar itu, teman-temannya mulai memasang wajah yang suram. Apa itu ketakutan atau kekhawatiran?...
Mereka semua langsung menarik nafas mereka saat mendengar >Iblis Putih< dari pria tua itu.
Masing-masing dari mereka di penuhi dengan perasaan yang berbeda-beda dan bercampur aduk.
Bukan berarti pria tua itu tidak mengerti perasaan teman-temannya, malahan dia juga ikutan terlihat suram.
Suasana yang tadinya sangat meriah berubah menjadi tegang dan canggung.
“>Iblis Putih
Seorang pria tua dengan tubuh gendut mengatakan hal itu dengan ekspresi yang marah.
Itu adalah kemarahan murni dari seorang pria yang telah kehilangan kampung halamannya.
Melihat itu, temannya yang lain hanya bisa diam dan mengerutkan keningnya.
“Ini sudah 3 tahun sejak kemunculan mahkluk itu, tapi ksatria kerajaan masih saja belum bisa membasminya.”
Seorang pria tua yang botak mengatakan hal itu sambil menatap ke arah gelas birnya yang masih terisi.
Mungkin dia menjadi tidak selera lagi dengan minuman dan makanannya karena membahas sesuatu yang sensitif.
Namun, berbeda dari yang lainnya. Pria tua yang memulai pembicaraan ini meneguk birnya berharap bisa merasakan kenikmatan sesaat.
Pria gendut, dan pria botak yang melihat itu sedikit tersenyum tipis lalu ikutan meneguk bir mereka sendiri.
Setelah menjatuhkan gelasnya dengan tidak sopan, pria tua itu berbicara lagi.
“Sebenarnya, aku memiliki kerabat di desa Tulis. Setelah kerabatku tau kalau desa sebelah sudah hancur karena >Iblis Putih< itu. Mereka memutuskan untuk segera kabur dan pergi ke ibu kota mencari pertolongan.”
“Begitu ya, aku harap kerabatmu baik-baik saja.”
Pria botak mencoba untuk menenangkan kekhawatiran pria tua itu dengan tepukan di punggungnya.
Meskipun mereka baru-baru ini berkenalan, mereka tetap seorang teman yang berbagi penderitaan yang sama dengan >Iblis Putih<.
“... Tapi, bukan hanya desa Tulis. Semua desa mulai ketakutan dan memutuskan untuk melarikan diri ke ibu kota. Berkat itu, saat ini ibu kota sedang berada dalam kekacauan, aku tidak yakin mereka bisa menampung orang lebih banyak lagi.”
Perkataan yang datang dari pria gendut itu membuat semua orang menatapnya dengan dengki dan curiga.
Bagaimanapun juga, pria gendut itu sama sekali tidak bisa membaca suasananya dan membuat pria tua semakin khawatir.
Namun pria gendut itu hanya memakan daging dengdeng yang sedikit alot dan mengunyahnya dengan suara yang tidak sopan.
Setelah menelan makanannya, dia mengebrak meja dengan kuat dan berteriak.
“Apapun itu! Aku benar-benar berharap iblis bajing*n itu segera mati !!”
Semua orang yang ada di sana tersentak kaget dengan nafsu membunuh yang besar dari pria gendut itu.
Tapi itu wajar saja, karena pria gendut itu sudah kehilangan kampung halamannya dan keluarganya baru-baru ini sejak kemunculan >Iblis Putih<.
Saat dia mengetahui kabar bahwa anak dan istrinya telah mati terbakar, dia benar-benar syok dan berubah menjadi pemalas.
Perutnya yang menjadi buncit dan matanya yang dipenuhi dengan penyesalan adalah bukti kalau dia benar-benar sangat terpukul.
... Tapi, dia masih sangat beruntung karena tidak bunuh diri.
Soalnya akhir-akhir ini banyak orang yang memutuskan untuk bunuh diri pergi ke hutan mencari >Iblis Putih< tersebut.
Pria gendut itu terlalu pengecut untuk melakukan tindakan nekat seperti itu.
“Yah, semua orang yang pergi ke hutan sampai sekarang tidak pernah kembali lagi. Saat pasukan penyelidik menyelidikinya mereka pada akhirnya juga berakhir tidak pernah kembali. Sejak saat itu, tidak ada yang berani lagi mencari jejak >Iblis Putih< itu.”
Semuanya telah menjadi kekacauan, kehancuran, keputusasaan, kesedihan, dan ketakutan yang amat besar.
Sejak kemunculan >Iblis Putih< seluruh dunia benar-benar di gemparkan dan tertekan dengan kehancuran yang tidak kian berhenti.
Teror ketakutan dari >Iblis Putih< mulai merayap sedikit demi sedikit mengikis kedamaian dunia.
Pada intinya, yang ingin mereka katakan pada saat ini adalah—
__ADS_1
“—Ini mungkin akan menjadi kehancuran yang sama seperti yang di lakukan para pendosa tujuh dosa besar yang menyebarkan kekacauan enam ratus tahun lalu.”