Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 11: Meily Vs Keputusasaan Sejati


__ADS_3

Kesadarannya mengapung, itu adalah tempat yang tidak dia kenal, begitu gelap dan hampa.


Pikirannya yang tenggelam tidak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuhnya.


—Menangis, tertawa, marah... perasaan yang selama ini dia bayangkan, bagaikan mimpi dari negeri yang jauh.


Tapi, dia ingin mencoba untuk mengulurkan tangannya, menggapainya, dan menjadikan itu sebagai miliknya.


Begitu dia membuka matanya, penglihatannya melihat cahaya.


Cahaya terang yang menyelimuti kegelapannya, yang terbuka seperti kelopak bunga yang sedang mekar.


Saat dia tidak tau apa yang akan terjadi. Kesadarannya langsung melompat, di tarik paksa oleh cahaya tersebut.


Dan begitu dia sadar, dia– Meily, menyadari bahwa tubuhnya hanya seutas benang mimpi yang tidak berdaya.


...\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=...


Meily terbangun, nafas keluar melewati tenggorokannya, menyatakan dunianya yang masih hidup.


Mata coklat terbuka dalam kebingungan, saat dada mulai mengempis dan mengembung, dia mengangkat tubuhnya dan melihat wilayah di sekelilingnya.


Dia terbaring di kasur.


Tapi, itu sungguh aneh untuk berpikir bahwa ada kasur di tempat yang daerahnya dari bawah hingga langit-langitnya hanya batu.


“Ini.. dimana?”


Ingatannya masih belum jelas, mencoba untuk mengindentifikasi hal-hal yang normal, dia masih belum sanggup.


Tapi, ketika suaranya kecilnya bertanya.


Jawaban yang dia inginkan, datang dari belakang penglihatannya, yang berada di sudut sana adalah warna yang sama dengan cahaya yang dia lihat di dalam mimpinya.


“Yah, selamat pagi, Meily-chan. Aku bersyukur kau sudah bangun— Tidak, aku salah, ini sudah malam. Jadi, seharusnya ini selamat malam, kan?”


Sontak, Meily menolehkan pandangannya ke arah pemilik suara itu, dan melihat seorang remaja laki-laki dengan rambut putih pucat.


Meski dia tidak tau siapa remaja itu, tiba-tiba, bibirnya bergerak dengan sendirinya.


“Night... Rogant...”


“Oh, kau mengingatku. Itu bagus, dengan begini, kita bisa mempersingkat pembicaraan.”


Bibir remaja itu membentuk senyuman, dalam bentuk yang menggambarkan tema kelembutan.


Meily tidak terlalu berpikir panjang, dia menganggap bahwa remaja itu bukanlah orang jahat. Waspada-nya segera berkurang, dan dia segera berdiri dari tempat tidurnya.


Tapi, itu malah membuat Rogant mengerutkan keningnya dengan khawatir.


“Kau yakin sudah bisa bergerak, itu akan lebih baik jika kau beristirahat sebentar.”


Meily menatap ke arah Rogant, dia senang atas perhatian itu, tapi dia menggelengkan kepalanya.


“Aku baik-baik saja.”


“Begitu, kau anak yang kuat.”


Meily tersenyum lebar, hatinya merasa senang saat dia dianggap sebagai anak yang kuat.


Kemudian, Rogant berjalan ke arah Meily, menundukkan tubuhnya sejajar dengan pandangan Meily.


Setelah itu, dia mengambil sesuatu dari saku celananya, dan mengulurkan tangan kirinya ke depan Meily, dengan telapak tangan yang masih tertutup.


“Sesuai janji, ini adalah hadiah dari pertemanan kita.”

__ADS_1


Rogant membuka telapak tangannya, dan di sana, terdapat permen yang masih dibungkus oleh plastik.


Tentu, Meily tidak tau apa itu?


Namun, lebih dari itu, tiba-tiba sengatan dari ingatannya menyerang, meski agak kabur, dia yakin. Sebelumnya, dan seharusnya, tangan yang saat ini berada didepannya...


—Sudah terpotong.


Tapi, itu ada di sana, dengan eksistensinya yang masih utuh tanpa ada tanda-tanda bekas luka.


—Apa itu hanya perasaanku saja?


Meily bertanya, untuk sesaat hatinya merasa gelisah. Tapi, saat dia mengangkat pandangannya dan melihat ekspresi Rogant yang tidak bersalah, perasaannya melunak.


Mungkin aku terlalu banyak pikiran.


“Ada apa, Meily-chan? Oh, apa kau tidak tau apa ini? Ini adalah manisan.”


Rogant berkata, dalam suara apatisnya yang anehnya terdengar menyenangkan.


Kemudian, dia membantu Meily untuk membuka bungkus dari permen tersebut, dan memberikan isinya kepada Meily.


“Makanlah, rasanya manis.”


Mendengar kata “Manis”, Meily menerimanya dengan senang hati.


“Terima kasih.”


“Tidak apa-apa, jika kau ingin lagi. Aku bisa memberimu.”


“Rogant-san orang yang baik.”


“Benarkah? Ini pertama kalinya aku dibilang seperti itu... dan, kau bisa memanggilku Rogant saja. Tidak perlu bersikap formal, lagian kita sudah menjadi teman.”


Tapi, segera pandangannya berubah ke arah 'Permen' yang sekarang ada di tangannya.


Kata Rogant, ini adalah manisan. Tapi, ini pertama kalinya aku melihat manisan yang seperti ini.


Meskipun dia sedikit ragu, tapi Meily tetap memasukkan permen itu ke dalam mulutnya, dan mengemutnya secara perlahan.


Kemudian, tak kala di saat yang bersamaan—


“Manis...”


Suara lembut dari bibirnya, mengekpresikan reaksinya yang menyenangkan.


Mata Meily terbuka lebar, merasa heran dengan rasa manis dari permen yang dia makan.


Tapi, dia menikmatinya.


“Ini enak.”


“Aku senang kau menyukainya.”


Selagi Meily menikmati waktunya dengan wajah yang ceria, Rogant tersenyum, dan kemudian berkata dengan nada yang sedikit berbeda dari sebelumnya.


“Hei, Meily-chan, ini sudah malam. Bukankah seharusnya kau pulang ke rumahmu. Aku yakin orang tuamu akan sangat khawatir saat mereka tau kalau kau telah menghilang.”


“....”


Tiba-tiba Meily berhenti, tubuhnya terdiam seakan-akan dibekukan.


Mendengar apa yang Rogant katakan, sepertinya itu membuatnya teringat kembali.


“Itu benar! Aku harus segera pulang, aku tidak bisa membuat Eras-chan menunggu lebih lama lagi!”

__ADS_1


Meily menjadi panik, dia berlari ke sana ke sini dengan ekspresi yang pucat. Sepertinya dia sedang dalam masalah.


Melihat itu, Rogant mendekatinya dan menangkapnya yang mencoba untuk berlari lagi.


“Tenanglah Meily-chan, akan terlalu berbahaya untuk anak kecil sepertimu pergi malam-malam melewati hutan.”


“Tapi...”


Wajah Meily memelas, seperti akan menangis kapan saja.


Tanpa disadari, Rogant menghela nafasnya. Setelah itu, dia tersenyum lembut dan berkata.


“Aku akan mengantarkanmu pulang sampai rumah, jadi kau akan baik-baik saja.”


Seketika, mendengar itu, wajah Meily berubah menjadi ceria kembali. Dia melepaskan dirinya dari pegangan Rogant dan berlari untuk memeluk tubuh Rogant, meski dia hanya bisa menjangkau pergelangan kakinya.


“Terima kasih, Rogant!”


“Sama-sama... Kalau begitu, ayo segera berangkat.”


“Dimengerti!”


Meily mengangguk dengan semangat, dan setelah selesai bersiap-siap, mereka berdua pergi bersama menuju ke arah desa, dengan Meily yang memimpin.


Tapi—


...\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=...


Waktu, segenggam waktu di tangannya, jatuh bersama dengan jiwanya.


Angin dan kegelapan yang dilewatinya dengan keceriaan, malah terbuang dengan sia-sia.


Menghadapi sebuah kenyataan, hati nuraninya tidak dapat mempertahankan bentuknya.


Canda tawa dari kepribadiannya yang lalu, hanyalah mimpi palsu yang pasti telah dia lupakan.


Masa lalu, masa depan, dan masa kini, apa ingatan yang selama ini dia lakukan bisa menghilang dengan begitu mudahnya?


Dia mungkin harus bertanya, apa ini mimpi?


—Kehidupan, itu adalah kata dari mahkluk yang bernyawa. Tapi, apa sekarang dia bernyawa?


Ketidakyakinan itu membuatnya jatuh ke dalam omong kosong kematian.


Pertanyaan-pertanyaan yang dia miliki di buat jungkir balik oleh kenyataan yang membara.


Panas di dadanya, itu pasti adalah bukti. Bukti bahwa ini semua hanyalah kenyataan.


Sesak nafas, sesak nafas, sesak nafas, sesak nafas, sesak nafas, sesak nafas, sesak nafas—


Rasa sakit yang luar biasa ini, membuatnya sesak nafas sampai tidak bisa berkata apapun.


Oksigen yang keluar dari paru-parunya, terasa begitu perih saat dia mencoba untuk menarik nafasnya kembali.


Pupil matanya yang coklat berubah menjadi merah berkat cermin penglihatannya yang berlinang oleh air mata kehilangan.


Api berkobar-kobar seperti monster yang sedang mengamuk. Menghancurkan, membakar, dan menghanguskan segalanya.


—Apa ini mimpi?


Dia bertanya kembali. Tapi, jawaban tidak akan datang mau berapa kali pun dia bertanya.


Meily, yang pergi untuk pulang ke kampung halamannya dengan wajah yang gembira. Di hantamkan langsung oleh sebuah kenyataan, bahwa—


—Desa yang dulunya dia cintai, telah hangus terbakar ditelan oleh api merah yang membara.

__ADS_1


__ADS_2