
Setelah perpanjangan dari segala cerita yang berawal dari kematian. Hubungan di antara Rogant dan Pandora semakin dekat.
Namun—
“Pandora... barusan, kau mengatakan apa?”
Mata Rogant melebar dengan tidak percaya. Tapi, Pandora mengulanginya dengan suara yang tenang.
“Baiklah, akan kukatakan sekali lagi, kali ini, dengarkan aku baik-baik... Rogant, apa kau memiliki keinginan untuk hidup sekali lagi?”
Remaja itu mengerutkan keningnya, dan terdiam sejenak untuk beberapa saat.
Kemudian, dia menghela nafasnya, dan berdiri dari tempat duduknya sambil membawa wajahnya yang berubah menjadi suram.
Pergerakannya terlalu tiba-tiba, jadi tidak ada siapapun yang bisa menebak apa yang ingin dia lakukan.
Rogant berjalan ke arah Pandora, yang hanya berada beberapa langkah dari garis pandangnya.
Setelah itu, membuang semua perasaan yang bercampur dihatinya, Rogant berkata dalam suaranya yang dingin.
“Pandora... kau mengecewakanku.”
Setelah dia mengatakan itu, tangannya meraih leher ramping milik gadis di depannya, dan mengerahkan kekuatannya untuk memperkuat cengkramannya.
Rogant menjatuhkan Pandora, menduduki tubuh rapuhnya seperti mengendarai kuda, dan melingkari lehernya dengan kedua tangannya.
Tindakannya mengejutkan, tidak ada keraguan sedikitpun saat dia mencekik tenggorokan gadis itu dengan semua kekuatannya.
Rogant bergerak diluar kendali, dan melototi Pandora dengan tatapan yang hina dan benci.
Jelas, remaja itu sangat serius ingin membunuhnya.
“Pandora, padahal aku pikir kau bisa mengerti diriku. Tapi... kenapa, kenapa kau mempermainkanku?”
Suaranya bergetar, yang membuktikan betapa kecewanya dirinya.
Raut wajahnya meringis, saat dia dengan enggan mencoba untuk membunuh Pandora.
Melihat itu pun, Pandora masih tetap tersenyum, dan tangannya mencoba untuk menjangkau wajah Rogant yang terlihat menderita.
“Rogant, apa kau... marah?”
Mendengarkan pertanyaan yang muncul dari suaranya yang lembut, Rogant menggelengkan kepalanya dengan lemah.
“Menurutmu kenapa?”
Sejujurnya, alasan kenapa dia marah kepada Pandora, karena perkataan Pandora yang sama sekali tidak bisa dia toleransi.
Bagi Rogant yang mencintai kematian, dan telah mendapatkan kebahagiaan dari kematiannya yang sebelumnya.
Adalah sebuah penghinaan saat dia ditawari untuk hidup kembali.
Meskipun dia ingin percaya bawa dia hanya salah dengar. Tapi, harga dirinya tidak membiarkannya untuk melarikan diri.
Sebelumnya Pandora pernah mengatakan, bahwa dia tertarik kepada pola pikir kehidupan Rogant, yang berada di luar nalar.
Itu membuat Rogant sedikit merasa senang karena ada orang lain yang mengerti dirinya selain dari ibunya sendiri.
Tapi—
“Maafkan aku...”
Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menahan emosinya. Bahkan, meskipun itu Pandora, dia tidak akan pernah memaafkannya.
[“Sayang, kebahagiaan itu selalu datang dari lubuk hati yang terdalam. Bila nanti saat kau bertemu dengan orang spesialmu, kalian harus saling mencintai untuk dapat meraih kebahagiaan yang sempurna, apa kau mengerti?”]
Rogant mengingat kembali apa yang pernah dikatakan oleh ibunya.
Tidak ada kesalahan dalam perkataan ibunya, dan itu lah yang selama ini dia percayai.
Tapi, untuk saat ini saja.
Dia melanggar kepercayaannya sendiri, dan mencoba untuk menggulingkan hatinya yang telah ternodai.
“Kenapa, kau menangis?”
“....”
Mata Rogant melebar, merasa terkejut saat dia mendengarkan pernyataan langsung dari Pandora.
Dia sendiri tidak sadar, bahwa ada air mata yang mengalir dari matanya, Rogant terheran.
Linangan air mata itu menetes jatuh dan mengalir melewati pipi Pandora yang halus.
Rogant melepaskan cengkeramannya dari leher Pandora, dan beralih ke wajahnya untuk memastikan bahwa itu benar-benar air mata.
Ini membuatnya bingung dengan dirinya sendiri, dan bertanya-tanya kenapa dirinya menangis?
“Aku...”
Suaranya bergetar, seandainya dia hidup untuk mendapatkan kebahagiaan.
__ADS_1
—Lalu, setelah dia mati, apa lagi yang harus dia lakukan?
Dia berusaha keras untuk mendapatkan kebahagiaannya di atas kematiannya.
Dan dia telah mendapatkannya.
Tapi—
“Aku... mungkin, masih belum puas.”
Itu semua belum cukup. Kebahagiaan yang seperti ini saja masih belum cukup.
Keinginan dan nafsunya masih menginginkan bentuk kebahagiaan yang bahkan melampaui pemahaman ibunya sendiri.
Dia ingin lebih, dan mendapatkan rasa puas yang tidak bermoral saat dia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
“Aku ingin lebih bahagia!”
Pernyataannya damai, tapi, bobot di dalam keinginannya telah berada di luar nalar.
Itu sombong, sekaligus egois, dia menyadari apa yang dia inginkan. Tapi, proses yang dia butuhkan untuk mengorganisir semuanya terlalu sulit dilakukan jika dia hanya sendirian.
Dia butuh sesuatu, semacam pendamping atau pasangan, dia membutuhkan orang lain yang bisa mewujudkan keinginannya untuk meraih kebahagiaan yang sempurna.
Itu kegilaan, dari sebuah keinginan polos yang tak terkendali.
Begitu wajah aslinya terlihat, guncangan kuat dari dalam lubuk hatinya membuatnya tidak bisa berhenti untuk menangis.
Itu bukanlah air mata kesedihan seperti yang dia pikirkan.
Tapi—
Itu adalah air mata kebahagiaan!
Dia telah berhasil mencapai puncak kegilaannya.
“Pandora, aku...”
Suaranya masih bergetar, hati yang bergejolak masih menghantuinya, dan keinginan yang membara itu membuatnya sulit untuk memilah kata-kata yang dia inginkan.
Sesaat sebelum dia berhasil merangkai kata-kata dikepalanya, pikirannya tersentak.
Saat tubuhnya berlutut dalam kegirangan. Pandora, yang mungkin mengetahui perasaan
Rogant, memeluk tubuhnya dengan lembut.
Tindakannya hangat, dia menempelkan kepala Rogant ke dadanya, dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Lambaian dari setiap helusan tangannya adalah halus, seperti sutra yang dibuat secara khusus, dengan godaan akan kenyamanan duniawi.
“Tidak perlu kau katakan, aku tau apa yang sedang kau pikirkan.”
“Pandora...?”
Pandora memberikannya tatapan yang ramah, dan tersenyum bagaikan seorang ibu yang menghibur anaknya yang sedang menangis.
Rogant melembutkan wajahnya dan menerima kenyamanan ini dengan lapang dada.
“Fufu.”
Pandora tertawa kecil.
Saat suara rendahnya yang lembut dan polos mencapai telinga Rogant, dia merasakan perasaan aneh yang tidak pada tempatnya.
“Apa yang kau tertawakan?”
Pandora menjawab, dengan lantunan yang menggoda dari setiap ayat kata-katanya.
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir, itu sangat lucu melakukan hal ini kepada seseorang yang baru pertama kali kau kenal.”
Baru kau kenal.
Yah, itu mungkin benar.
“Ini... aneh.”
Rogant juga merasakan hal yang sama.
Meskipun dia tau ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
Tapi, entah kenapa, perasaan seperti mereka telah bersama untuk waktu yang lama masih membekas didalam jiwanya.
Dan itu adalah perasaan yang sama saat dia baru pertama kali melihat Pandora.
Dia melihat sosok itu sebagai sesuatu yang indah, yang selama ini telah lama dia dambakan.
Sebelumnya dia masih ragu dengan keinginannya sendiri. Tapi, saat ini, dia sudah cukup yakin untuk membuat kesimpulan yang dia inginkan
“Rogant...”
Saat dia masih berada didalam pelukannya, Pandora adalah yang pertama kali angkat suara.
__ADS_1
“... Ini tentang tawaranku yang sebelumnya...”
Mungkin dia membahas tentang keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang baru.
Alis mata Rogant terangkat, saat dia mendengar kata-kata yang muncul selanjutnya.
“... Bisakah kau melupakannya?”
“....”
Butuh waktu yang lama untuk mengoreksi perkataannya. Tapi, dia segera memberikan jawabannya dengan senyuman.
“Jangan khawatir, aku sudah tidak memikirkannya lagi.”
“Terima kasih.”
Mereka masih berpelukan, dan memendam perasaan kasih sayang yang terdalam.
Suara yang mereka keluarkan seolah-olah mereka ingin membuat ruang lingkup pribadi yang cocok untuk mereka bermesraan.
Selanjutnya, Rogant lah yang memulai bisnisnya.
“Pandora...”
Dia melepaskan rangkulannya. Tapi, kedua tangannya masih memegang bahu kekasihnya saat dia ingin membuat jarak yang ideal untuk melakukan pembicaraan.
Mata gelap Rogant menatap mata biru Pandora yang indah. Pandangannya lurus, dan penuh dengan arti yang istimewa.
Itu juga membuat Pandora salah mengartikan, dan dia memiringkan kepalanya dalam batu kebingungan.
Kemudian, suara angin yang menerpanya, menjadi sebuah keterkejutan yang menghempaskan batu kebingungannya.
“Pandora, aku tau ini mungkin egois... Tapi, maukah kau mencintaiku?”
Matanya melebar, pandangannya masih tidak jatuh dari tatapan gelap mata hitam remaja itu.
Pandora tidak menyangka bahwa Rogant akan menjadi yang pertama mengungkapkannya.
Bila apa yang dia ucapkan adalah kesungguhan, atau kebenaran yang bersemayam dalam hatinya— maka, dia juga seperti itu.
Dengan tutur kata yang terucap halus, Pandora meraih bibir kekasihnya yang membentuk senyuman.
“... Rogant, kau dengan warna-warna yang layak padamu, itu sangat indah loh.”
“....”
Ketika itu, mata Rogant terbuka lebar, matanya penuh dengan deras air mata.
Di pandangannya yang mengabur, orang yang menatap lembut dirinya masih setia di sana.
Saat dia berkedip, air mata mulai mengalir dari pipi.
Sepertinya dia menangis, melihat sosoknya hingga akhir adalah harapannya.
Gadis itu, Rogant sama seperti dirinya, gadis itu mengatakannya.
Setelahnya, pasti ada sebuah alasan, alasan dirinya berada di sana demi Rogant.
Dulu, dari perbuatannya, aksi acaknya sangat mempengaruhi hidupnya.
Itu telah berubah, berubah, dan berubah kepadanya seperti ini.
Bahwa dia, demi Rogant, perlakuan ini, adalah untuk membebaskannya.
“Rogant, aku juga mencintaimu.”
“....”
Lidahnya kaku, menggigil dan gemetaran, Pandora menyatakan kalimat cintanya.
Kalimat yang tersembur seperti desahann lembut, saat didengar oleh remaja laki-laki yang berada di depan matanya, gerakannya sedikit terhenti.
Terhadap kebulatan hatinya, Rogant—
“Terima kasih, dengan begini, aku bisa membunuhmu.”
Maksud perkataan itu, dia pasti sudah mengerti, Pandora hanya membeku dalam anggukannya yang sederhana.
Bahwasannya akan hadir penolakan, Pandora tak terlalu mendambakannya.
Hanya saja, kalau perpisahan terakhirnya, bila itu yang datang mencari-cari dirinya, dia pasti mendengarnya dengan baik.
“Aahhh.”
—Jadi, terhadap senyumnya, dia menyetujuinya, dan kepala Rogant hancur dan kacau.
Oleh senyuman kasih sayangnya, oleh tutur yang terucap ramah, oleh pisau yang terangkat dalam berkatnya.
Rogant menusuk tubuh Pandora menggunakan pisau buah yang dia pungut sebelumnya.
“Aku mencintaimu, Pandora.”
__ADS_1
Sekali lagi, tetesan air mata besar, mengalir melewati pipi gadis yang memerah, menggulung dan terjatuh.
—Setelah itu mati dalam pelukannya.