Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 09: Kebahagiaan Dibawah Kesengsaraan


__ADS_3

Kelemahan itu selalu ada di setiap orang, mau seberapa kuat orang itu, dia pasti akan memiliki kelemahan.


Hal yang sama juga berlaku kepada seluruh umat manusia. Andaikan malapetaka berdiri didepanmu, tidak ada jaminan kau bisa melarikan diri.


Melihat ajal yang semakin dekat, apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan manusia lakukan?


Ketakutan, kebingungan, kepasrahan, kegilaan, kesedihan—


Begitu banyak hal yang sama telah terjadi, dan kebanyakan dari mereka tidak berhasil melawan diri mereka sendiri.


Yang pada akhirnya, mereka tidak bisa mempertahankan akal sehat mereka.


“Pe-Pergilah!”


Di dalam hutan, suara keras dari seorang gadis kecil bergema dengan teriakan yang memilukan.


Itu rasa takut, yang dihantui oleh taring tajam milik sang lawan yang mengerikan.


Saat lawan melangkah, dada dipenuhi dengan kegelapan dan membuatnya sesak nafas.


Wajahnya pucat pasi, berteriak dengan menyedihkan saat suara serak keluar dari rongga mulutnya.


“Hrk! Me-Menjauhlah dariku!”


Gadis itu adalah Meily, berada di dalam hutan dan di kepung oleh sekelompok serigala hitam.


Dia sendirian, tanpa ada satupun harapan yang merestuinya.


Itu adalah sebuah keberanian saat dia mengangkat batang kayu dan mencoba untuk melawan sekelompok serigala buas itu. Tapi, keberanian itu tidak jauh dari kebodohan.


Buku memiliki nilai-nilai tentang kehidupan, seperti dongeng atau cerita rakyat.


Menjadi petualang kuat dan mengalahkan naga jahat, kisah seperti itu akan menjadi idola bagi para anak kecil... dan Meily adalah salah satunya.


Dia tidak jauh dari kata 'imajinasi bebas' atau 'delusi kuat'. Bagaimanapun, dia juga masih anak kecil.

__ADS_1


Yah, pada intinya...


Saat seorang anak kecil dengan paksa diberi tau tentang kenyataan.


Akal sehat mereka akan hancur tanpa disadari, dan mereka akan terpeleset ke dalam jurang keputusasaan dengan begitu mudah.


Kaki kecil bergetar dengan hebat, seakan-akan telah terjadi gempa bumi. Wajah pucatnya tercermin jelas di mata serigala itu, membawa keruntuhan yang parah di dalam hatinya.


Tubuh yang menciut tanpa ada tanda-tanda kesehatan, keringat yang melewati dahi, dan air mata yang keluar dari ujung pelipis matanya.


Itu semua adalah ciptaan dari rasa takutnya.


Jiwa yang polos telah pergi entah kemana, hanya tersisa keputusasaan yang mendominasi seluruh pikirannya.


Gadis itu tidak lagi tersenyum atau tertawa. Suara lemah yang dia keluarkan, membuatnya terlihat menyedihkan meskipun dia tidak menginginkannya.


Alhasil, pada saat seluruh logika di dunia ini meninggalkannya. Dia tidak bisa lagi memohon sebuah harapan pada sang penciptanya.


“ROORRR–!!”


Namun—


“Aku heran, kenapa di hutan ini hanya ada sekolompok serigala bodoh? Kau tidak akan bercanda kalau para hewan lainnya telah punah karena ulah serigala ini, kan?”


Sedamai mungkin, setenang mungkin, dan sejelas mungkin.


Suara yang terdengar itu begitu dingin saat dia merayap ke pendengaran Meily.


Tapi, itu sudah cukup untuk memberinya harapan yang membuatnya bisa membuka matanya kembali.


“.... Ah..”


Hanya ada suara konyol saat dia mencoba untuk membuka mulutnya, tidak cukup berpengetahuan untuk memilih kata-kata yang sederhana.


Matanya terpesona, oleh apa yang dilihatnya. Tapi, tidak dalam nuansa yang baik, dia tidak bisa membedakan yang mana manusia dan yang mana monster.

__ADS_1


Rambut putih jernih yang terlihat pucat, dengan iris mata belang yang unik, tapi dengan kesan misterius yang menakutkan.


Apa yang ada di sana adalah seorang pemuda, yang dengan wajah datar membiarkan tubuhnya menjadi tameng untuk melindungi Meily menjadi santapan para serigala.


Gigi taring menggigit kaki kanannya, menusuk tajam ke dalam perisai dagingnya.


Gigi taring menggigit tangan kirinya, meneteskan darah merah saat taringnya mengupas pembuluh darahnya.


Gigi taring menggigit perut sampingnya, membongkar isi dalam tubuhnya dan memperlihatkan organ ususnya yang keluar.


Tiga dari masing-masing serigala itu, telah berhasil melukai tubuh pemuda itu dengan sangat brutal.


Tapi, mata yang sayu dan gelap itu, tidak menunjukkan reaksi manusiawi yang seharusnya di rasakan oleh setiap manusia.


Mulutnya masih bisa mengoceh meski tubuhnya dalam kondisi yang bisa membuat orang lain muntah melihatnya.


“Kenapa kau terdiam?– Tidak, itu adalah pertanyaan yang salah. Maaf. Seharusnya aku terlebih dahulu bertanya 'apa kau terluka?' atau 'apa kau baik-baik saja?'. Yah, itu adalah pertanyaan yang tepat untuk situasi seperti ini, maafkan aku. Tidak akan ku ulangi.”


“....”


Meily tidak tau harus menjawab apa saat pemuda putih itu meminta maaf kepadanya. Pikirannya yang masih dangkal, tidak bisa mengelola informasi dengan baik.


“Yah, sebagai perkenalan diantara kita. Namaku adalah Night Rogant. Kau siapa?”


Saat pemuda itu bertanya, rasa takut dan gelisah mengikat tenggorokan Meily.


Tapi, meskipun begitu, dia mengeluarkan segenap kekuatannya, menggerakkan bibirnya, dan merangkai beberapa kata-kata.


“Namaku... Meily...”


Mendengar itu, sang pemuda mengangguk, mengulurkan tangan kanannya dan berkata.


“Begitu, jadi kau Meily. Kalau begitu, Meily-chan, ayo berteman, aku akan memberimu permen.”


Meski dia tidak tau apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Tapi, yang pasti, pemuda aneh itu telah menyelamatkannya dari bahaya.


__ADS_2