Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 26: Kekacauan Di Kota Malam


__ADS_3

Malam gelap dengan bulan yang hanya setengah bagian dan langit yang di penuhi dengan bintang-bintang yang indah.


Gerbang besar berwarna merah yang sengaja di buat secara mencolok berdiri dengan angkuh di sebuah kota malam.


Orang-orang yang berjalan di sana-sini melewati gerbang membuat wajah melankolis yang tampak aneh.


Bangunan yang berjejer di kiri dan kanan dipenuhi dengan suasana romantis.


Serta lampu-lampu yang berkilau-kilau menyinari sepanjang jalan.


Tidak lupa dengan godaan-godaan lembut dari para wanita-wanita cantik yang ada di setiap tempat manapun.


—Benar, ini adalah distrik lampu merah di Ibukota Kerajaan Lavendel.


“Egh! Rogant, apa ini urusan yang ingin kau lakukan di Ibu kota?”


“Aku tidak tau apa yang sedang kau pikirkan. Yah, pada intinya aku memang memiliki urusan di sini.”


Dengan senyuman lembut Rogant membalas pertanyaan Meily yang terdengar seperti jijik.


Bagaimanapun, saat ini mereka berada di distrik lampu merah yang merupakan tempat prostitusi.


Meskipun Meily terbilang masih anak kecil, setidaknya dia masih tau pengetahuan umum tentang hal itu.


“Baiklah, tidak ada waktu untuk terus di sini. Mari kita masuk ke dalam...”


Rogant dengan santai melangkahkan kakinya ke dalam distrik lampu merah, Meily yang melihat itu juga mengikutinya dengan enggan.


Ini adalah kali pertama Meily masuk ke dalam tempat yang seperti ini, tempat para orang dewasa berkumpul.


Meskipun dia ingin mengatakan sesuatu kepada Rogant, dia hanya bisa diam karena semuanya pasti memiliki alasan.


Meily tidak tau alasan Rogant masuk ke dalam distrik lampu merah yang merupakan tempat untuk melampiaskan nafsu.


Namun Meily percaya bahwa Rogant bukan orang yang seperti itu, jadi pasti dia memiliki sesuatu yang lain untuk di lakukan.


Keraguannya sedikit demi sedikit mulai berkurang saat dia memikirkan hal itu, tapi itu tidak sepenuhnya menghilang.


Jika kau mengatakan bahwa kemungkinan itu tidak terbatas, maka kau harus memikirkan kemungkinan lain yang berbeda.


Masih ada kemungkinan kalau Rogant ke sini untuk menunjukkan sisi jantannya, bagaimanapun dia juga laki-laki.


Jika memang seperti itu, seharusnya Meily tidak perlu mengikuti Rogant. Dia seharusnya meninggalkan Rogant untuk pergi sendiri, lagian dia masih anak kecil, jadi ini masih—


Meily mengerutkan keningnya saat dia memikirkan hal tersebut. Dia segera menggelengkan kepalanya berkali-kali dan mencoba untuk tidak memikirkannya.


Saat mereka berjalan selangkah demi selangkah melewati distrik lampu merah, suara bisikan yang lembut dan menggoda terus menyerang mereka.


... Tapi, Rogant sama sekali tidak memperdulikannya.


Dia hanya berjalan santai dan mengabaikannya, bahkan dia sama sekali tidak melirik satu wanita dari mereka.


Sedangkan Meily terus berwaspada dan merasa tidak nyaman sambil mengikuti Rogant dari belakang tubuhnya dan memegang erat bajunya.


“Hmm~ Ngomong-ngomong, kita ingin melakukan apa di sini?”


Dengan segenap keberaniannya, Meily mencoba menanyakan pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan.


Jantungnya berdetak kencang, tangannya sedikit gemetar, dia menelan ludahnya, lalu menggigit bibirnya.


Meskipun dia sedikit ketakutan, Meily mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk bertanya.


Sekarang giliran Rogant untuk menjawabnya. Sambil terus berjalan tanpa memperdulikan apapun, Rogant menjawab pertanyaan Meily.


“Apa aku belum mengatakannya? Ada sesuatu yang ingin kuketahui. Kita akan mencari beberapa informasi dari sini.”


Mendengar itu, mata hitam Meily sedikit berkilau dan melebar. Perasaan lega segera menghampirinya, seakan-akan seperti ikan yang akhirnya di taruh di dalam air.


Meily akhirnya bisa bernafas dan berjalan dengan tenang, walaupun masih banyak yang perlu untuk di pertanyakan.


Yah, setidaknya dia tau kalau Rogant ke sini bukan untuk urusan pribadinya, melainkan hanya untuk mencari informasi.


Informasi apa itu Meily sama sekali tidak mengetahuinya, tapi siapa yang peduli dengan hal sepele seperti itu.


Hidup Meily hanya untuk Rogant, tidak peduli perintah apapun dan tujuan apapun yang Rogant inginkan, Meily akan selalu ada untuk mendukungnya.

__ADS_1


Selama dia bisa terus bersama Rogant, maka Meily tidak peduli dengan hal yang lainnya.


Itu adalah perasaan cinta yang telah Meily dapatkan. Bagaimanapun, Meily sangat mencintai Rogant, tapi dia juga tau kalau Rogant sudah memiliki seorang kekasih.


Jadi dia tau kalau Rogant tidak bisa menjadi miliknya, wajar saja jika dia sedikit sedih dengan hal itu.


Akan tetapi, meskipun begitu, walaupun Rogant tidak bisa menjadi miliknya, Meily bisa menjadi milik Rogant.


Walaupun Meily tidak bisa menjadi nomor satu di hatinya, Rogant tetaplah nomor satu di hati Meily.


Itu adalah bentuk Kebanggaan yang di emban oleh Meily.


Ada sedikit perasaan senang saat gadis kecil itu memikirkannya, dia tersenyum tipis dengan perasaan yang bahagia.


“Baiklah, kita sudah sampai.”


Sesaat Meily kehilangan pandangannya dengan dunia nyata, Rogant menyadarkannya dengan sepatah kata yang sederhana dan jelas.


Di depan mereka adalah salah satu pondok prostitusi yang ada di distrik lampu merah, namun yang satu ini sedikit mewah dari pada yang lainnya.


Tampilan luarnya terlihat lebih mencolok dari pada pondok-pondok prostitusi manapun, itu juga memiliki ukuran yang sangat besar.


Melihat itu, Meily sedikit kagum dan terpesona dengan keindahan dari pondok prostitusi tersebut.


Sedangkan Rogant mendengus pelan dan dengan santai berjalan memasuki tempat tersebut. Tentu saja, Meily juga mengikutinya...


Setelah itu—


“Maaf, bisakah aku bertemu dengan pemimpin kalian?”


—Dengan penuh keangkuhan, Rogant langsung mengatakan tujuannya tanpa basa basi.


Para wanita dan juga pelanggan yang mendengar itu melebarkan matanya penuh keterkejutan, begitu juga dengan Meily.


Dia sama sekali tidak menduga hal ini, suasana di sekitar membeku seakan-akan waktu sedang berhenti.


Namun, Rogant tersenyum lengkung layaknya bulan sabit. Tidak ada keraguan di dalam tindakannya.


Sesaat kemudian, semua orang akhirnya tersadar dan mulai menatap Rogant dengan penuh kecurigaan dan kebingungan.


“Maaf, tuan yang terhormat. Pertama, bisakah anda memberitahu saya alasan anda untuk menemui pemimpin kami?”


Dari penampilan dan perkataannya, sepertinya wanita itu adalah orang yang profesional dalam menangani situasi yang seperti ini.


Melihat ekspresi dari wanita lainnya, Rogant sadar kalau wanita yang sekarang ada di hadapannya adalah orang yang terpercaya.


Mereka dengan cepat kembali lagi ke pekerjaan mereka masing-masing dan menyerahkan semuanya ke wanita itu.


Rogant sedikit memperlembut senyuman lalu berkata dengan nada yang aneh.


“Ah, maafkan aku, maafkan aku. Ini adalah kebiasaan burukku. Yah, seperti yang aku bilang tadi, aku memiliki urusan dengan pemimpin kalian dan untuk alasannya...”


Sebelum Rogant melanjutkannya, dia membuka kerudung jubah miliknya. Begitu, rambut putih yang bersinar seperti bulan di nampakan.


Semua orang yang melihat langsung terpesona dengan keindahan rambut putih itu, tapi ada juga sedikit rasa takut yang merasuki diri mereka.


Namun, Rogant sama sekali tidak memperdulikannya. Dia segera melanjutkan kata-katanya.


“... Sepertinya aku tidak perlu memberitahu alasannya kepada kalian.”


Segera sesuatu mencekik tenggorokan dan jiwa mereka, tubuh mereka seolah-olah di peluk oleh ketakutan yang aneh.


Tekanan kuat dari rasa takut itu membuat mereka sulit untuk bernafas, jantung mereka seolah-olah di tusuk oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Di dalam ruangan tersebut tidak ada satupun dari mereka yang berani bergerak, namun itu berbeda untuk orang yang bodoh.


“Oi, kau sialan! Kau baru datang sudah sok sombong, apa kau mengerti tempat apa ini?! Ini bukan tempat untuk orang miskin seperti mu! Pergilah jauh-jauh, bocah!”


Seorang pria dengan pakaian mewah seperti seorang bangsawan mengatakan hal itu dengan nada yang jijik dan tidak senang.


Rogant menolehkan pandangannya ke pria tersebut dan menyipitkan matanya, tapi dia segera mengabaikannya.


Dia segera menyimpulkan kalau pria itu bukan apa-apa, tidak ada gunanya untuk berurusan dengan sesuatu yang tidak penting.


Mengetahui dirinya yang diabaikan, pria itu semakin kesal.

__ADS_1


Dia segera berjalan ke arah Rogant dengan langkah kaki yang menghentak keras ke lantai.


“Oi, bangs*t! Apa kau tau sedang berhadapan dengan siapa hah?!Aku adalah Trenbi Den Bosch, seorang pewaris dari bangsawan besar!! Jadi bersikaplah yang lebih sopan, rakyat jelata!!”


Pria yang bernama Trenbi Den Bosch itu membentak Rogant dengan penuh kemarahan dan keangkuhan.


Tapi, Rogant sama sekali tidak meliriknya. Dia tidak bisa menghabiskannya waktunya untuk mengurus sesuatu yang tidak berguna.


Pria yang baru saja direndahkan itu segera mengangkat tangannya ingin memukul pemuda bodoh yang berani melawannya.


Salah satu pelayan yang ada di sana mencoba untuk menghentikannya, tapi semuanya sudah terlambat.


Rogant menghela nafasnya dengan lelah dan berkata dengan suara yang pelan.


“Meily, lakukanlah.”


Segera sesuatu yang hitam dan gelap muncul dari balik bayangan Meily.


“Oi, apa kau mendengarkanku?! Sudah ku bilang pergi—”


Pria yang toIoI itu segera terbunuh tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.


Kegelapan segera menerjang tubuhnya tanpa aba-aba. Tebasan demi tebasan memotongnya tanpa ampun.


Tubuhnya segera terpotong-potong menjadi beberapa bagian dari kaki sampai kepala. Tapi, tidak cukup sampai di situ saja.


Tubuh yang telah terpotong-potong segera di makan oleh kegelapan sampai tidak menyisakan apapun.


Darah, tulang, daging, dan keberadaan dari pria yang bernama >Trenbi Den Bosch< itu menghilang ditelan kegelapan.


Semua orang yang melihat hal itu terdiam membeku tidak bisa mencerna informasi yang terlalu besar langsung ke dalam kepala mereka.


Namun itu hanya terjadi sesaat saja.


“Hah?”


Suara seru itu adalah sebuah lonceng untuk menyatakan di mulainya kekacauan.


Segera setelah itu—


“AAAAAAHHHHHH—!!”


—Teriakan keras yang memekakkan terdengar di seluruh ruangan tersebut, suara itu tumpang tindih dengan suara wanita dan pria.


Mereka semua langsung panik dan lari ketakutan. Mereka ingin keluar, tapi pintu keluar di cegat oleh Rogant.


Yang bisa mereka lakukan hanyalah berteriak dan saling mendorong satu sama lain. Mereka benar-benar terlihat sangat menyedihkan...


Wanita yang tadinya menghampiri Rogant terjatuh duduk sambil membuat suara keputusasaan.


Semuanya berubah menjadi kekacauan dalam sekejap. Tapi Rogant tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Akan sangat merepotkan jika sampai para ksatria kerajaan mengetahui kalau salah satu pondok prostitusi di serang.


Jadi dia segera membungkam mereka semua dengan suara tepukan yang sangat keras.


Plak!... Suara satu tepukan tangan yang keras itu bergema di seluruh ruangan.


Pandangan semua orang segera tertuju ke arah Rogant yang mengeluarkan suara tepukan tersebut.


Melihat semuanya sudah sedikit lebih tenang, Rogant mengangguk dengan puas.


Namun meskipun semuanya tenang, tatapan suram dari semua orang yang ada di ruangan itu masih bisa terlihat.


Mereka masih dipenuhi dengan ketakutan, detak jantung mereka berhenti bersama dengan suara tepukan Rogant.


Bukan hanya Rogant saja yang menjadi faktor ketakutan mereka, tapi itu juga tertuju pada kegelapan yang menari-nari di sekitar tubuh gadis kecil yang ada di sebelah Rogant.


Senyuman menggoda dari gadis kecil itu seakan-akan mengatakan kalau dia siap untuk membunuh mereka kapan saja.


Akan tetapi, Rogant sama sekali tidak memperdulikannya. Dia sama sekali tidak memperdulikan semuanya.


Yang dia lakukan hanya tersenyum dengan lembut sambil merentangkan kedua tangannya dengan pelan, lalu berkata.


“Baiklah, bisakah kalian antarkan kami ke tempat pemimpin kalian.”

__ADS_1


—Tidak ada satupun dari mereka yang berani membantah perkataan Iblis itu.


__ADS_2