Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 36: Kegilaan Yang Bergairah


__ADS_3

Malam masih berlanjut, bulan menggantung di atas langit menerangi sebuah mansion mewah.


Sinarnya merembes masuk ke dalam sela-sela jendela dari mansion mewah tersebut.


Klak klak klak...! Terdengar suara langkah kaki yang berisik dan tergesa-gesa.


Beberapa siluet orang yang memakai jubah hitam terlihat sedang berlari di dalam koridor mansion mewah itu.


Bukan berarti mereka sedang bermain kejar-kejaran. Mereka sedang berlari untuk menyelamatkan hidup mereka.


Ketakutan dan keputusasaan terpapar jelas di raut wajah mereka saat berlari dari sumber pelarian mereka.


Seandainya mereka tau kalau ini yang akan terjadi, maka mereka tidak akan memutuskan untuk bergabung dengan organisasi ini.


Namun, dadu sudah di lempar. Tidak ada gunanya sekarang untuk menyesal.


“Hah Hah Hah... Oi, bagaimana dengan mereka yang tertinggal?”


Salah satu dari mereka berbisik kepada yang lainnya sambil menolehkan pandangannya ke arah lorong gelap yang ada di belakang mereka.


Kekhawatirannya berasal teman-temannya yang tertinggal di belakang sana.


Sampai sekarang tidak ada terdengar suara teriakan atau apapun dari teman mereka dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Wajahnya sangat pucat, nafasnya terengah-engah, dia telah berjuang keras untuk terus berlari. Begitu juga dengan yang lainnya.


Meskipun mereka khawatir kepada teman mereka, tapi mereka tetap mengutamakan nyawa mereka sendiri.


Saat mereka terus berlari sekuat tenaga dengan sangat menyedihkan seperti seekor tikus yang di kejar kucing.


Tiba-tiba salah satu dari mereka berhenti, hal itu membuat yang lainnya terkejut dan memberhentikan langkah kaki mereka.


“ToIoI! Apa yang kau lakukan?! Larilah!”


Teriakan yang dipenuhi kepanikan itu membuat pria yang berhenti itu tersentak.


“A-Aku... Aku tidak akan lari!!”


Pria yang berhenti itu menundukkan kepalanya dan meledakkan rasa putus asanya kepada yang lainnya.


Wajah mereka di penuhi dengan kebencian terhadap pria yang berhenti itu, tapi mereka masih bisa memakluminya.


Bagaimanapun, semuanya juga merasa putus asa. Namun, mereka masih tetap berjuang untuk melarikan diri agar terus hidup.


Sedangkan pria bodoh itu memutuskan untuk diam dan menunggu ajalnya, perbuatan itu membuat semuanya juga ragu.


... Sekarang mereka memiliki dua pilihan.


Pertama, lari dengan menyedihkan berjuang keras untuk kehidupan mereka selanjutnya atau hanya diam dan menunggu kematian.


Pada awalnya, mereka ingin memilih opsi yang pertama. Tapi, salah satu dari mereka memilih opsi yang kedua.


Itu membuat semuanya berada di dalam jalan buntu, kebingungan itu membuat dada mereka terasa panas.


Tidak ada satupun yang bisa mereka lakukan, perkataan pria yang berhenti itu juga ada benarnya.


Tapi, tetap saja mereka ingin hidup. Itu adalah naluri yang wajar bagi setiap mahkluk hidup.


Lalu bagaimana dengan pria itu, pria yang memutuskan untuk menyerah kepada kehidupannya dan menerima kematian.


Keputusasaan dari pria itu menyebar dan mulai merayap menyelimuti jiwa yang lainnya. Jika, mereka terus seperti ini, maka mereka akan mati.


Akan tetapi, mereka juga tidak bisa lari dan meninggalkan teman mereka.


Pemikiran seperti itulah yang membuat semuanya bingung harus ngapain.


Memegang dadanya untuk menenangkan perasaannya, salah satu dari mereka berjalan mendekati pria yang berhenti itu.


“Hah! Apa mau mu?! Biar kau tau saja, semuanya percuma! Tidak ada jalan untuk melarikan diri!! Kita akan mati!”


Meskipun pria yang berhenti itu sedikit takut, tapi dia memberanikan dirinya untuk tetap menggerutu dengan putus asa.


Namun, pria yang mendekatinya sama sekali tidak menanggapi perkataan dari pria yang berhenti tersebut.


Matanya berputar-putar penuh dengan kegilaan, semuanya yang melihat melebarkan matanya keheranan.


Tapi, segera mereka semua di kejutkan. Dia menarik pisau di sakunya dan menusuk leher pria yang berhenti itu.


“... Hk?!”


Semuanya menjerit lirih melihat pemandangan yang mengejutkan itu.


Mereka semua semakin pucat dan pucat, nafas mereka di blokir oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Tidak ada satupun dari mereka yang berani berkedip dari pemandangan yang horor itu.


Kepanikan yang luar biasa telah mengutuk mereka semua, tapi salah satu dari mereka tetap mengeluarkan komplainnya.


“Oi, berengsekk!! Apa yang kau lakukan?!”


Pria berkerudung hitam itu meneriakkan kemarahannya kepada bajing*n yang telah membunuh salah satu teman mereka.


Tapi, sama sekali tidak ada reaksi apapun dari bajing*n itu. Dia hanya diam terpaku di tempat tersebut.


Hal itu, membuat pria berkerudung hitam semakin marah dan marah. Dia menatap tajam ke arah bajing*n itu.


Darah yang ada di dalam dirinya semakin panas sampai membuatnya benar-benar seperti bisa meledak.


Kemarahan telah menguasai dirinya, dia melangkahkan kakinya dengan hentakan keras ke arah bajing*n yang hanya diam itu.


Semuanya yang melihat itu juga hanya bisa diam, karena mereka semua juga marah dengan bajing*n yang telah membunuh teman mereka.


Meskipun semuanya hanya kenalan dalam pekerjaan, setidaknya mereka pikir mereka adalah teman dekat.


Semuanya harus saling tolong-menolong, tapi pemandangan sekarang memutar balikkan pemikiran seperti itu.

__ADS_1


Salah satu dari teman mereka telah mengkhianati mereka semua, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.


Pria berkerudung hitam berjalan mendekati penghianat itu dan menarik kerah bajunya.


Mata hitam yang tidak memancarkan kehidupan terlihat jelas di wajahnya yang pucat.


Hal itu membuat pria berkerudung hitam tersentak dan terdiam membisu sebelum bisa meludahkan kemarahannya.


“Aa...”


Suara kecil terdengar dari mulut penghianat itu, dia menggerakkan bibirnya dengan sekuat tenaga.


Alis mata pria berkerudung hitam naik ke atas dengan terkejut, dia menunggu penghianat itu mengatakan sesuatu.


Namun—


“... Aha, haha...”


—Hanya senyuman lemah dan suara tawa yang terdengar dari bibirnya yang keriput.


Mengerutkan keningnya, tanpa segan-segan pria berkerudung hitam menikam perut penghianat itu.


Tusukan yang dia berikan terasa ringan, dia sama sekali tidak merasa bersalah.


Dengan cepat menarik kembali tusukannya dan mendorong penghianat tersebut.


Suara becek terdengar jelas di lorong gelap itu, sinar bulan yang masuk dari sela-sela jendela menerangi dua mayat yang mati mengenaskan. di dalam lorong gelap tersebut.


Senyuman aneh yang dipenuhi kepuasan terlihat jelas dari wajah pria berkerudung hitam.


Semua orang yang melihatnya hanya diam, bukan berarti mereka marah atau tidak senang. Justru kebalikannya...


... mereka semua merasa senang dengan apa yang di lakukan pria berkerudung hitam itu.


Mereka semua senang, namun itu membuat si pria berkerudung hitam merasa tidak senang.


Kenapa hanya dirinya yang melangkah kakinya? Kepengecutan teman-temannya membuat dirinya tertawa kecil.


Rasanya tidak puas, rasanya tidak adil, padahal dia sudah menggerakkan tubuhnya melawan rasa takutnya untuk membunuh.


Dan yang dia dapatkan hanya ini, semuanya sangat tidak adil. Kenapa harus dia yang merasakan semua ini?


Semuanya juga harus merasakannya, agar semuanya menjadi adil. Dunia ini harus adil.


“Hah! Ha-ha-ha, ahahahahaha!!”


Suara tawa yang keras bergema di seluruh lorong tersebut.


Yang mengeluarkan suara tawa itu adalah si pria berkerudung hitam. Dia tertawa dengan puas dan bebas seakan-akan ada sayap di punggungnya.


Menatap langit-langit lorong dan terus tertawa keras, pria itu mulai merencanakan sesuatu.


Waktunya hanya sebentar. Agar, dirinya bisa selamat dia harus cepat. Dia harus cepat membunuh teman-temannya.


“... Hehe! Hahahahahaha!!”


Mereka semua menatap lurus ke arah pria tersebut dan hanya terdiam kebingungan.


Sesaat kemudian, pria itu kembali menatap ke arah mereka semua. Semua yang melihat wajah pria itu langsung menarik nafasnya.


Perasaan akan kematian langsung di tekankan oleh insting mereka yang selama ini mereka kembangkan.


Seakan-akan itu adalah hal yang normal, semuanya menarik pedang pendek di saku mereka dan mengarahkannya ke pria yang tertawa gila itu.


Wajah mereka menegang, tubuh mereka gemetar ketakutan. Ada keraguan di mata mereka.


Pengalaman membunuh teman mereka sendiri itu telah membuat semuanya menjadi gila.


Rasanya sangat panas, rasanya sangat puas, rasanya sangat gila, rasanya sangat nikmat.


Pria berkerudung hitam itu melakukan langkah pertama untuk membunuh semua teman-temannya dengan suara tawa yang menggelegar penuh kegilaan.


Pikirannya benar-benar kosong, rasa sakit yang dia rasakan terasa sangat nikmat dan adil.


Semua temannya telan merasakan perasaan dimana mereka harus membunuh atau melukai teman mereka sendiri.


Itu membuat pria berkerudung hitam itu terasa puas, rasa panas yang mencekik dadanya telah menghilang, di gantikan dengan gairah membunuh yang aneh.


Dia merasa hari ini dirinya diberkati oleh para dewa, meskipun jumlahnya sangat tidak seimbang.


Namun dia merasa bisa membunuh mereka semua dengan mudah, bahkan sampai membuatnya ingin tertawa keras mengagumi dirinya sendiri.


Segera setelah itu, koleksi mayat temannya semakin bertambah dan bertambah.


Pertumpahan darah sudah tidak bisa lagi di hindari, semua orang yang ada di sana di rasuki oleh kegilaan dan saling membunuh.


Teriakan demi teriakan terus di lontarkan oleh seorang pecundang yang mati dalam pertempuran.


Akan tetapi, suara tawa yang benar-benar keras meredam semua suara teriakan menyedihkan itu.


Dengan gaya yang benar-benar gila, pria berkerudung hitam itu terus menerus membunuh temannya dengan suara tawanya.


Satu tusukan, dua tusukan, tiga tusukan, dia sudah tidak lagi menghitung sesuatu yang tidak penting seperti itu.


Dia hanya ingin membunuh temannya dan mengoleksi mayat mereka semua.


Satu, dua, tiga, empat, secara terus menerus mayat dari temannya terus berjatuhan. Sampai pada akhirnya, semuanya terbunuh.


Si pria berhasil membunuh semua temannya, kegembiraan yang aneh segera menghampiri dirinya.


“Hah! Hah hah hah...”


Selesai membunuh semua teman-temannya, pria itu menjatuhkan pantatnya di mayat temannya sambil terengah-engah.


Senyuman lebarnya membuatnya terlihat seperti iblis sungguhan.

__ADS_1


Perasaan aneh yang terus mengalir ke dalam dirinya, membuatnya sama sekali tidak memperdulikan apapun.


Dia dengan santai duduk di atas mayat temannya seperti sebuah kursi.


Darah merah yang membasahi seluruh tubuhnya membuat pria itu semakin bergairah.


Dia benar-benar tidak bisa berhenti tertawa, perasaan gila itu membuatnya semakin menikmatinya.


Dia sudah tidak peduli lagi dengan semuanya, kegilaan ini telah memberinya kekuatan yang luar biasa.


Tidak ada hal yang lebih penting lagi daripada hal tersebut, melihat mayat-mayat temannya membuat dirinya semakin dan semakin bergairah.


Dadanya terasa panas, itu mengartikan bahwa dirinya masih belum puas. Dia ingin lebih dari ini...


Dia ingin membunuh lebih dan lebih lagi, perasaan itu membuatnya sangat bahagia.


Kebahagiaan itu membuatnya sangat puas, kepuasan itu membuatnya merasa tidak cukup.


Masih banyak teman-temannya yang masih hidup di luar sana, dia harus membunuhnya.


Bagaimanapun, dia adalah keadilan. Dia ingin semuanya adil, itu adalah perasaan yang mulia.


“Hah! Ahahahaha!! A... Aku harus—”


“Maafkan aku karena mengganggu kesenangan mu. Tapi, bisakah kamu tidak melawan dan menyerah saja.”


Suara lain menyela perkataan pria tersebut, segera pandangannya menoleh ke sumber suara itu.


Di lorong yang gelap, pria itu melihat api yang membara. Tapi, jika kau melihatnya lebih teliti, itu adalah siluet seorang wanita.


Wanita cantik dengan rambut merah panjang yang di ikat dengan gaya ponytail, dan iris mata berwarna biru semurni langit.


Rasa takut kepada sosok itu membuat tubuh si pria tak bisa berhenti gemetar. Dia kenal siapa sosok wanita tersebut.


Di dunia ini tidak ada satupun yang tidak mengenalnya, sosok pahlawan sejati yang di kenal oleh seluruh dunia.


Meskipun lawannya seorang wanita, tidak ada satupun perasaan lega di hatinya.


Pria itu mengepalkan tangannya yang tidak bisa berhenti gemetar ketakutan. Dia seperti anak kecil yang sedang di marahi orang tuanya.


“Aku benar-benar tidak bisa mentoleransi semua perbuatanmu, bukannya mereka rekanmu. Apa yang membuatmu sampai melakukan semua ini? Hal itu sama sekali tidak bisa aku mengerti.”


Pedang Suci, Patrecia Van Strovius mengernyit sesaat setelah dia melihat pemandangan yang ada di sekelilingnya.


Mayat-mayat yang mati dengan mengenaskan bertumpukan di sepanjang lorong gelap tersebut.


Patrecia menatap ke arah pria itu dengan tatapan jijik, dia segera paham dengan apa yang terjadi disini.


“Hah! Hahaha, Ahahahahaha... Yo yo, Pedang Suci-san! Aku tau ini mustahil, tapi... Bwahaha, yah, setidaknya aku akan berjuang keras!”


Pria itu tertawa dan berdiri, tapi dia masih menginjak mayat temannya sendiri.


Tentu saja, hal itu membuat Patrecia menggenggam erat pedang kayu sampai mengeluarkan bunyi tidak menyenangkan.


Dia sudah bersiap-siap untuk menebas kepala pria itu, rasa jijiknya membuatnya ingin segera mengakhiri semua ini.


Suasana yang di sekitar semakin mencekam sampai membuatmu susah bernafas.


Namun, pria itu hanya tertawa gila dan tersenyum lebar dengan kebahagiaan yang aneh.


Pedang Suci dengan santai mengangkat pedang kayunya dan berbicara dengan suara yang bermartabat.


“Pahlawan Pedang Suci generasi sekarang, Patrecia Van Strovius.”


Dia memperkenalkan dirinya seperti yang di lakukan antar ksatria saat ingin melakukan duel.


Tapi, kali ini sedikit berbeda. Ini adalah pertarungan yang mempertaruhkan nyawa seseorang.


Alasan Patrecia mengenalkan dirinya hanya karena dia adalah seorang ksatria. Dia telah di besarkan untuk menjadi ksatria sejati.


Meskipun dia benar-benar tidak memikirkannya, akan sangat tidak sopan jika dia tidak memperkenankan dirinya.


Pria itu mendengus pelan mengejek Pedang Suci, tapi sangat jelas bahwa dia masih gemetar.


Dia tidak bisa dengan mudah menghapus semua ketakutannya, bagaimanapun, kali ini lawannya adalah Pedang Suci.


Sangat mustahil baginya untuk bisa menang, dia juga paham dengan hal itu. Jika bisa dia ingin segera kabur.


Tapi, niat itu langsung dia urungkan. Soalnya, lawannya adalah Pedang Suci, jika dia benar-benar berhasil kabur.


Maka dia pasti akan memamerkan hal itu selama masa hidupnya. Namun, itu hanyalah pemikiran yang manis...


Mengambil kuda-kuda siap bertarung, pria itu tertawa keras. Ada perasaan gembira di dalam hatinya.


Meskipun dia sudah tau kalau dia tidak akan bisa menang, namun gairah membunuhnya membuat dirinya tidak sabar untuk bertarung dengan Pedang Suci.


Senyuman lebarnya membuat Patrecia sedikit tersentak, tapi itu hanya sesaat. Dia segera mengambil nafas dan menatap lurus pria itu.


“Bwahahahaha!! Ini membuatku sangat bergairah!!”


—Pertarungan di mulai.


Segera udara di sekitar meledak, ruangannya terdistorsi seakan-akan melampaui ruang dan waktu.


Pedang Suci Patrecia Van Strovius bergerak melampaui hukum fisika dan menerjang lawannya yang tertawa.


Kepala dari pria gila itu seketika langsung terpotong dengan sangat rapi di bagian lehernya menggunakan pedang kayu.


Melayang di udara selama beberapa detik, dan terjatuh dengan suara yang becek.


Tidak ada darah yang bermuncratan, semuanya benar-benar sangat sempurna.


Wajah pria yang tertawa masih membeku di kepalanya yang terpotong. Lalu di ikuti dengan tubuhnya yang terjatuh seperti boneka yang talinya terputus.


Tidak ada keraguan di dalam diri Patrecia saat dia memotong pria itu dengan niat membunuh.

__ADS_1


Pertarungan langsung berakhir dalam sekejap dengan kemenangan mutlak Pedang Suci.


__ADS_2