Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 17: Penderitaan Dan Penderitaan


__ADS_3

—Saat dia bangun yang dia dapatkan hanyalah...


... Penderitaan, semua yang dia lihat hanyalah penderitaan. Semua yang dia rasakan hanyalah penderitaan.


Semuanya penderitaan, penderitaan dan penderitaan.


Kesakitan, kesedihan, kehilangan, kemarahan, dan segala jenis penderitaan ada padanya.


Penderitaan itu semakin membesar dan mengikat tubuh gadis kecil itu, mereka membakarnya dan mentertawakannya.


Semuanya bagaikan seutas tali yang di ikat terus menerus dan membuat tali tebal penuh penderitaan.


Mereka di balut, dan di ikat. Ikatannya semakin tajam dan menjerat tubuh gadis kecil itu.


Semuanya gila, semuanya tidak masuk akal, semuanya hanyalah rasa sakit.


... Tenggorokannya serak dan terbakar.


Seluruh tubuhnya kesakitan seakan-akan dirinya saat ini di jerat oleh tali yang berduri.


Kenapa harus dia? Kenapa harus dia yang mengalami penderitaan ini? Semuanya kejam.


Mereka meninggalkan dirinya sendirian dalam penderitaan, padahal dia saat ini sedang menderita.


Lalu kenapa tidak ada yang menolongnya? Dia benci, dia sakit, dia berteriak...


Tapi tidak ada yang memperdulikannya, semuanya telah meninggalkan dirinya di telan oleh api yang membara.


Apa itu kemarahan? Apa itu kesedihan? Tidak, semuanya salah. Itu adalah api penderitaan.


Dia menderita, dia meminta tolong, dia terbakar, tapi semuanya telah meninggalkannya. Jadi bagaimana dia akan di tolong?


Tentu saja, tidak ada pertolongan. Ini adalah keputusasaan sejati, lebih baik menyerah saja.


Meringkuk, menangis, menjerit, semuanya tidak ada gunanya. Lagian sekarang dia sendirian.


Sangat konyol, semuanya terasa sangat konyol, dia ingin tertawa dan berlari ke arah kematian.


Tertawa dan menerima kematian—


“Kau ada di sini ternyata.”


—Udara panas menjalar di pipinya, gadis itu terjatuh dan kesakitan.


Apa yang terjadi?... Demi mengetahui jawaban dari pertanyaan itu dia membuka matanya.


Tapi, dia tidak dibiarkan begitu saja. Sekali lagi, udara panas menjalar di pipinya dan membuatnya terjatuh dalam kesakitan.


Rasanya sangat sakit, dia ingin menangis, tapi kenapa tidak keluar air mata dari matanya.


Apa semuanya sudah habis? Siapa yang menghabisinya?...


Dia tidak tau, dia ingin berteriak. Tapi dia tidak di perbolehkan.


Setelah itu, kakinya terangkat, badan terangkat, semua tubuhnya terangkat, tenggorokannya terasa panas dan susah untuk bernafas.


Mulutnya terbuka dan mencari oksigen untuk bernafas, tapi dia tetap tidak bisa.


Dia mencoba untuk melawan, tapi tenggorokannya di ikat oleh sesuatu sehingga dia tidak bisa melawan.


Tidak, buat apa dia melawan? Bukannya ini justru sangat bagus.


Jika lehernya di ikat terus-menerus maka dia akan mati, dia akan bebas dari penderitaannya.


Jadi buat apa dia melawan, biarkan saja dia di ikat sampai mati.


... Sungguh gadis kecil yang malang.


“Hei, Meily-chan. Apa kau ingin bunuh diri?”


Seorang laki-laki bertanya, gadis yang di panggil Meily itu melihat ke arah seorang pemuda laki-laki dengan rambut yang berwarna putih.


Mungkinkah pemuda itu yang mengikatnya. Tidak, kurasa tidak, dia mencekik tenggorokan gadis itu dengan kuat dan mengangkatnya.


Semuanya terasa sakit, sesak, dan panas seakan-akan dirinya di tusuk oleh besi yang membara.


Tapi, siapa yang peduli dengan itu? Dia bisa mati, dia tidak akan menderita lagi.

__ADS_1


Pandangannya semakin lama semakin kabur, dia tidak bisa melihat dengan jelas pria yang ada di depannya.


Hanya ada satu hal yang dia tau, saat ini dia akan bahagia dengan kematiannya.


Pemuda itulah yang akan membunuhnya, dia harus berterima kasih kepadanya nanti.


“Sangat di sayangkan Meily-chan, aku tidak akan membunuhmu.”


Dia tidak bisa mendengar dengan baik, dia tidak bisa mengambil nafas dengan baik.


Terus apa yang di katakan pemuda itu?


Semuanya sangat menyedihkan bagi gadis itu, dia terlalu menyedihkan.


Tapi, tapi, tapi, ada satu hal yang dia tau. Jika saat ini dia masih hidup, dia yakin kalau dia akan jatuh cinta kepada pemuda yang baik hati ingin membunuhnya itu.


Namun—


“Yah, kurasa ini akan sedikit lama untuk memperbaiki mentalnya agar dia tidak bunuh diri.”


—Pemuda itu menjatuhkannya seperti sebuah barang rongsokan yang tidak berguna.


Gadis itu mengerang kesakitan, dia kesakitan, tapi selain itu, dia merasa lega bisa bernafas.


Tidak, kenapa dia harus merasa lega? Bukannya dia menginginkan kematian.


Apa yang harus dia lakukan agar dia mendapatkan kematian? Apa yang harus dia lakukan saat ini agar bisa mendapatkan kematian?


Pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam benak gadis itu. Dia ingin mati, dia ingin mati, dia harus mati.


Hanya kematian yang bisa menghilangkan penderitaannya.


Bagaimana jika dia memakan tanah sampai dia meledakkan perutnya, dia yakin dengan itu dia bisa mati.


Lalu menunggu apa lagi, dia harus mati—


“Sudah kubilang, jangan bunuh diri.”


—Sebuah tendangan menghampiri perut gadis itu, dia terlempar dan terjatuh.


Perutnya sakit, tapi tidak terlalu sakit lagi. Kenapa? Kenapa dia tidak kesakitan lagi?


Apa ini belas kasih dewa untuk membuatnya mendapatkan kematian tanpa rasa sakit?


Pertanyaan, dia ingin pertanyaannya di jawab. Tapi, harus sama siapa dia bertanya agar mendapatkan jawaban?


“Kurasa, semuanya percuma saja.”


Tentu, tentu ada. Bukannya saat ini dia bersama pemuda itu. Dia hanya perlu bertanya kepadanya.


Dia hanya perlu menggerakkan bibirnya dan merangkai kata-kata yang dia inginkan.


Tapi, apa itu? Kata-kata apa yang tepat untuk saat ini? Dia ingin mengatakan apa?


Gadis itu bodoh, jadi dia tidak tau harus berbuat apa. Pikirannya kosong dan kekosongan itu hanya di isi dengan penderitaannya.


Dia harus bertanya, dia harus bertanya, dia ingin bertanya dan seseorang menjawab pertanyaannya.


Semuanya hanya tinggal gerakan bibirmu, itu sangat mudah, bukan?


Dia harus menggerakkan gigi, lidah, rahang, dan mulutnya untuk bertanya sesuatu.


Tunggu, tunggu sebentar. Dia hanya ingin mati, jadi ngapain dia bertanya?


Apa yang sebenarnya dia inginkan? Tentu saja, itu ada kematian. Dia ingin kematian.


Oleh karena itu, dia harus menggerakkan mulutnya dan menggigit lidahnya.


Mungkin saja dia akan mati, atau mungkin dia masih akan tetap hidup? Yah, tidak ada yang tau jika dia belum mencobanya.


Gadis itu harus mencobanya, dia ingin mati dan hanya mati saja. Apa susahnya itu?


Dia sudah menderita, menderita, dan menderita, jadi tolong biarkan dia mati.


Hanya kematian yang bisa menghilangkan penderitaannya, jika dia mati dia akan bahagia.


Mari kita bersorak untuk gadis malang tersebut yang menginginkan kematian demi kebahagiaan.

__ADS_1


Setelah itu—


“Meily-chan, tidak perlu takut. Aku ada bersamamu, jadi aku tidak akan membiarkan dirimu mati.”


—Suara lembut memasuki telinga gadis itu, dia gemetaran.


Saat ini dia benar-benar bisa mendengar suaranya, suara lembut bagaikan seorang malaikat.


... Dia ingin menangis, tapi dia tidak bisa.


Suara itu mengatakan kalau dia tidak akan membiarkan gadis itu mati. Jadi mungkinkah dia iblis?


Siapa yang peduli? Gadis itu benar-benar menyukai suaranya.


Pikirannya menjadi kosong dan di penuhi dengan kelembutan, duri-duri yang menusuk tubuhnya di ubah menjadi kasur yang lembut.


Dia ingin tidur, apa jika dia tidur penderitaannya akan menghilang?


“Yah, tidurlah untuk saat ini.”


Suara lembut itu sekali lagi memasuki pikirannya. Rasanya dadanya saat ini berdetak dengan sangat kencang.


Apa itu? Apa ini? Semuanya benar-benar sangat nyaman.


Dia ingin tidur, rasa ngantuk sudah menyerangnya dengan penuh kelembutan.


Dia ingin tidur, dia ingin tidur untuk selamanya.


Dia harus tidur, dia harus tidur karena dia sudah sangat kelelahan.


Ini berbeda dengannya saat dia mencari kematian, dia tidak perlu repot-repot mencari tau bagaimana caranya tidur.


Dia hanya perlu memejamkan matanya, merilekskan tubuh dan pikirannya, lalu dia bisa tertidur dengan nyenyak.


“Bagus, tidurlah dengan nyenyak. Selamat bermimpi indah, Meily-chan.”


Mata gadis itu mulai menutup secara perlahan, tubuhnya mulai bergoyang mencari tempat untuk beristirahat.


Suara lembut yang bagaikan nyanyian tidur itu membuatnya semakin mengantuk.


Semuanya sangat tenang, semuanya sangat damai. Tidak ada penderitaan, tidak jeritan, tidak ada tangisan.


Dia benar-benar merindukan kedamaian seperti ini, dan kedamaian itu diberikan oleh pemuda berambut putih tersebut.


Benar-benar orang yang berhati lembut, dia benar-benar jatuh cinta kepadanya.


Mari kita berdoa agar saat dia tertidur, dia akan memimpikan tentang pemuda tersebut.


“... Selamat... malam...”


Bibir gadis itu bergerak dan mengeluarkan kata-kata yang sederhana.


Namun, itu membuat alis mata pemuda itu sedikit naik.


—Setelah itu, Meily menutup matanya dan sekali lagi tertidur dengan sangat nyenyak.


Dia tertidur dengan senyuman kebahagiaan, dia pasti sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.


“... Dan semua itu berkat diriku. Mungkin kau harus memuji rencanaku, Pride-chan.”


Pemuda itu tersenyum bahagia dan tertawa dengan penuh kebahagiaan.


[Yah, sedikit menyebalkan karena rencana 'Jatuh Cinta' yang saya buat sedikit di ubah.]


Lalu, sebuah suara yang entah darimana muncul atau lebih tepatnya itu suara yang ada di kepala pemuda itu, >Night Rogant<.


“Semuanya berjalan sesuai rencanaku, jadi tidak apa-apa. Lagian aku juga tidak terlalu suka rencanamu, Pride-chan.”


[Hmph! Dasar Master bodoh!]


Rogant hanya tertawa mendengar suara Pride System yang tampak seperti seorang gadis yang ngambek.


Malam yang panjang masih terus berlanjut dengan suara tawa yang menyeramkan.


Mungkin pembicaraan mereka sangat susah untuk di mengerti, tapi jika di singkat ini akan menjadi...


—Rencana iblis baru saja terselesaikan dengan sangat lancar—

__ADS_1


__ADS_2