
Menerjang, memukul, menusuk, menolak, melukai, dan saling membunuh—
Dua siluet tengah bertarung saat ini di bawah sinar bulan yang hanya setengah bagian.
Kegelapan menari-nari dengan sangat menakutkan dan menelan segalanya.
Sembilan ekor rubah berjuang dengan anggun menghalau semua kegelapan.
Tidak ada yang bisa menghentikan mereka berdua, pohon-pohon di sekitar mulai berhamburan.
Angin di sekitar mulai merinding melihat pertempuran yang memiliki skala di luar kemanusiaan.
Dengan kecepatan seperti angin kencang, kegelapan dan ekor sembilan mulai beradu kekuatan.
“Nah, Meily-chan. Apa kau marah karena aku membunuh pemuda itu?”
“.....”
Tidak ada jawaban, Meily hanya diam dan membentuk kegelapan yang besar, lalu berniat menimpa ekor sembilan tersebut.
Kizuna dengan anggun mengibaskan ekornya dan menghancurkan kegelapan itu dengan elemen cahayanya.
>Unique Bless: Saint< adalah kemampuan untuk membuat penggunanya memakai elemen cahaya sesuka hatinya.
Yang di lakukan Kizuna adalah melapisi sembilan ekornya dengan elemen cahaya, dengan begitu dia bisa menghalau kegelapan milik Meily dengan mudah.
Akan tetapi, Meily tetap tidak menyerah. Dia berusaha mencari titik buta Kizuna dan membunuhnya dari situ.
Kalau Kizuna bisa menggunakan elemen cahaya sesuka hatinya, maka Meily juga bisa menggunakan elemen kegelapan sesuka hatinya juga.
Ini adalah pertempuran antara kegelapan dan cahaya.
“Hmm~ Ini lebih sulit dari yang aku pikirkan.”
Meily menghela nafas pelan, ada sedikit keringat yang muncul di dahinya.
Dia sedikit kelelahan, mereka sudah bertarung selama beberapa menit. Dan masih belum ada yang terluka satupun.
Tapi, dia tetap tidak berhenti untuk terus menyerang lawannya, dia tidak pernah memberi lawannya istirahat.
Sedangkan lawannya yang merupakan rubah ekor sembilan yang bernama >Kizuna Miko< itu juga sedikit kelelahan.
Tapi, dia tetap dengan anggun terus menghalau kegelapan Meily dengan sembilan ekornya yang berwarna biru cerah.
Sampai sekarang dia hanya terus bertahan dan bertahan dari serangan Meily.
Seandainya di sini Kizuna bisa melakukan penyerangan, maka semuanya akan berubah.
Dia tidak menyangka kalau lawannya yang hanyalah seorang gadis kecil bisa sekuat ini.
“Hei, Meily-chan. Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sini? Bagaimana caranya kalian mengetahui tempat ini?”
Dengan suara yang menggoda, Kizuna menggerakkan bibirnya yang lembut di tengah-tengah pertempuran.
Meily yang saat ini di kelilingi oleh kegelapan membalasnya dengan suara yang menggoda juga.
“Hmm~ Kami ke sini bersama dengan wanita yang bernama Reyna.”
“Reyna-chan?”
Mata Kizuna melebar keheranan, dia kenal siapa Reyna. Mereka sudah berkenalan sejak Reyna masih kecil.
Mereka sering mengobrol satu sama lain, tapi akhir-akhir ini dia jarang lagi berjumpa dengan dia.
Jadi bisa mendengar nama seseorang yang dia kenal di situasi seperti ini benar-benar membuatnya terkejut.
—{Kenapa Reyna-chan mengantar mereka berdua ke sini? Apa sebenarnya mereka adalah tamu?}, Pikir Kizuna yang mencari jawabannya.
Kalau memang begitu, Kizuna sedikit merasa bersalah karena telah membunuh salah satu dari tamu tersebut.
Seharusnya dia sedikit memperhatikan situasi terlebih dahulu sebelum menyerang, tapi dia juga memiliki alasannya sendiri.
Sebenarnya, dulu Kizuna pernah menyuruh seluruh anak buahnya untuk tidak pernah mendekati hutan selama satu musim ini.
Soalnya, Kizuna adalah ras demi-human yang langka, dia takut jadi bahan buruan.
Selama ini, dia terus memalsukan identitasnya, dan seseorang yang mengetahui identitasnya hanya orang-orang kepercayaannya saja seperti Reyna.
Meskipun begitu, Kizuna menyuruh mereka untuk tetap tidak boleh pergi ke dalam hutan menemuinya.
Jadi, saat seseorang datang ke rumahnya, dia terpaksa harus curiga. Dia pikir yang mengetuk pintunya adalah seorang penjahat yang ingin memburunya.
Tapi, dia sedikit salah paham. Jika mereka memang adalah tamu yang telah di antar oleh orang terpercayanya.
Maka seharusnya di sini Kizuna menyambut mereka dengan secangkir teh hangat.
Namun, saat dia akhirnya mendapatkan kesimpulan seperti itu. Tiba-tiba semuanya hancur saat Meily menyelanya.
“... Yah, tapi dia sudah mati. Aku telah membunuhnya. Karena itu, Rogant juga sudah menghukumku.”
“Hah?”
__ADS_1
Kizuna benar-benar terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Meily.
Pikirannya langsung hancur menjadi beberapa bagian seperti sebuah puzzle.
Dia tidak bisa langsung mencerna apa yang baru saja dia dengar.
Tapi, dia harus menyusun puzzle kembali dan mencari jawabannya secepat mungkin.
Itu terjadi secara otomatis, puzzlenya mulai tersusun satu-persatu, mulai membentuk satu persatu.
Pecahan kata kematian dan pembunuhan membuat puzzle itu membentuk sesuatu yang aneh.
Itu adalah bentuk dari keterkejutan dan kemarahan. Rasanya seakan-akan sebuah petir menyambar pikirannya.
Angin malam sedikit membelai rambutnya dengan ringan, Kizuna berhenti melakukan pertempuran.
Sedangkan Meily terus menatap wanita rubah yang terdiam membeku dari tadi dengan wajah yang sama sekali tidak tertarik.
“Ti-Tidak! Itu? Hah? Apa mungkin? Hei, Meily-chan. Kau tidak boleh bercanda loh.”
Kizuna tidak percaya, apa yang Meily katakan terlalu sulit untuk di percaya. Itu semua akan terlihat sangat konyol.
Mata Kizuna sedikit berkilau memancarkan cahaya harapan, dia berharap bahwa dia hanya salah dengar.
Dia menatap tajam ke arah Meily dan terus menunggu balasan yang dia harapkan.
Tapi, Meily tetap mengatakannya seolah-olah dia tidak terlalu memperdulikannya.
“Hmm~ Meily tidak bercanda kok. Meily benar-benar membunuhnya.”
Kizuna mengernyitkan dahinya mendapat jawaban yang serupa, dia sekarang tidak salah dengar.
Perasaannya sedikit bercampur aduk dengan harapan dan kenyataan, ekornya sedikit menegang.
“Meily-chan, berbohong itu tidak baik loh. Apa itu semacam lolucon yang disuruh sama Reyna?”
Benar, bukan berarti kemungkinan seperti itu tidak ada. Dia tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.
Bagi mahkluk yang memiliki hidup panjang seperti dirinya, dia harus bijak dalam memikirkan sesuatu.
Di dunia ini ada yang namanya kemungkinan tak terbatas.
Dia harus memikirkan kemungkinan lainnya juga karena dia adalah mahkluk yang bijak.
Lagian Meily hanyalah anak kecil, ada kemungkinan dia hanya bercanda.
Ada kemungkinan juga bahwa dia hanya ingin membingungkan dirinya saja untuk membuat dirinya lengah.
“Meily tidak berbohong! Wanita itu memang sudah mati, Meily sama sekali tidak berbohong soal hal itu.”
Gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya dan mendengus kesal karena dianggap pembohong.
Namun, Kizuna tetap tidak percaya omongan kosong anak kecil tersebut.
Dia menyipitkan matanya menatap Meily dan menganggap semua omongannya tidak penting.
Bagaimanapun, dia adalah mahkluk agung. Jadi, tidak boleh dengan mudah mempercayai perkataan yang tidak jelas.
Namun—
“Oh iya, Rogant menyuruh untuk membawa itunya juga. Dia menyuruhku untuk memperlihatkannya kepadamu.”
Menaruh jarinya di dekat bibirnya, Meily dengan santai mengambil sesuatu menggunakan kegelapannya.
Kegelapan itu menjulur ke arah hutan yang gelap dan datang membawa sesuatu.
Benda yang di bawah langsung di lempar ke arah Kizuna dengan kasar. Benda itu cukup besar.
Saat terjatuh terdengar suara yang becek, benda itu berguling beberapa kali, lalu berhenti di depan Kizuna.
Bau memikat segera menyerang indera penciuman serigala biru, itu adalah bau bangkai yang busuk.
“Ugh...! Apa ini, Meily-chan?”
Kizuna menutup hidungnya menggunakan ekornya, dan bertanya kepada Meily dengan ekspresi jijik.
Pertanyaan itu membuat Meily memiringkan kepalanya seolah-olah dia tidak mengerti apa yang di katakan Kizuna.
Tapi, Meily tetap menjawabnya dengan suara yang menggoda.
“Itu adalah mayat dari wanita yang bernama Reyna Loyalis.”
Meily tersenyum lembut saat menjawabnya, sedangkan Kizuna seakan-akan waktu berhenti dia berseru kecil.
“Eh?”
Matanya melebar penuh keterkejutan. Pupil matanya kehilangan cahaya kehidupannya sesaat.
Apa yang dia dengar benar-benar membuat segala pikiran dan tubuhnya menjadi kacau.
Terlalu banyak informasi yang dia dapat, sehingga pikirannya tidak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
Namun, raut wajahnya berubah menjadi suram saat dia menatap mayat tersebut. Apa yang dia lihat benar-benar tidak bisa di percaya.
Seharusnya dia menyadarinya, dari bau parfumnya, gaunnya yang dia pakai, dan rambutnya yang berwarna biru gelap.
Dia kenal seseorang yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan mayat yang ada di hadapannya.
Matanya tidak bisa lepas dari tubuh mayat yang bahkan sudah kehilangan bentuk manusianya itu.
Seharusnya dia tau ini, tapi dia mencoba untuk tidak mendengarnya.
Seharusnya dia tau ini, tapi dia mencoba untuk mengabaikannya.
Seharusnya dia tau ini, tapi dia mencoba untuk tidak memikirkannya.
... Dan sekarang yang dia dapatkan adalah keputusasaan.
Sekarang setelah mendapatkan bukti ini, apa dia perlu mengelak lagi?
Mayat dari kenalannya sekarang ada di hadapannya dengan tubuh yang mati mengenaskan.
Itu adalah mayat dari salah satu bawahan kepercayaannya.
Itu adalah mayat dari salah satu wanita favoritnya.
Itu adalah mayat dari salah satu anak yang dia sayangi.
Bagi Kizuna, semua orang yang menjadi bawahannya adalah anaknya, temannya, keluarganya.
Karena berkerja di distrik lampu merah terlalu berbahaya, Kizuna selalu melindungi mereka, dia selalu bersama mereka.
Selama ini, dia selalu menyayangi mereka, selalu melindungi mereka, selalu mencintai mereka.
Lalu, Apa yang dia lihatnya ini hanyalah mimpi semata? Atau semua itu hanyalah tipuan untuk membuatnya lengah?
Untuk mengetahui hal itu, Kizuna melangkahkan kakinya ke depan menuju mayat tersebut.
Tubuhnya gemetar penuh ketakutan, semua ekornya menurun dengan kesedihan, jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
Langkah kakinya sangat berat seakan-akan sekarang dia sedang berjalan membawa sebuah gunung.
Saat dirinya sampai di dekat mayat tersebut, kakinya menjadi lemas dan terjatuh.
Matanya sekarang sangat suram dan pucat, tapi dia tetap mengulurkan tangannya yang gemetar.
Angin malam menyentuh seluruh tubuhnya, Kizuna menarik nafasnya dan menyentuh mayat tersebut.
Menggapai mayat itu dengan hati-hati dan gemetar, Kizuna membalik tubuh mayat tersebut.
“... Hk?!”
Melihat itu, dia langsung menarik nafasnya, mengernyitkan dahinya, dan menutup mulutnya dengan tangannya.
Matanya sedikit berputar-putar, apa yang dia lihat benar-benar mengerikan.
Wajah manusia yang hancur dipenuhi dengan air mata, kedua tangannya yang terpotong menampakkan daging dan tulang putihnya.
Serta mata kosong yang sudah tidak memiliki nyawa lagi. Tubuhnya telah kehilangan bentuk manusianya.
Kizuna benar-benar terguncang melihat hal itu, semuanya bukan mimpi, semuanya bukan tipuan.
... Ini adalah kenyataan.
Itu adalah mayat dari salah satu anak kesayangannya.
Saat ini, mayat anaknya yang mengenaskan telah ditunjukkan kepada dirinya.
Kizuna menggertakkan giginya, dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
Ekornya juga ikut bereaksi, warna rambut bersinar dengan warna biru cerah yang terang, begitu juga dengan ke-sembilan ekornya.
Mereka semua bersinar di selimuti dengan cahaya biru cerah yang sangat indah.
... Sekarang di sini Kizuna memiliki dua pilihan.
Perasaan kesedihan dan kemarahan, mana duluan yang perlu dia luapkan?
“Kau—”
“Ahahahaha! Hehe! Hahahaha!! Ya yah, maaf membuat kalian menunggu lama. Kurasa ini sudah saatnya aku muncul.”
Sebelum Kizuna meledakan amarahnya, dia segera di sela dengan suara tawa keras yang bergema di seluruh tempat itu.
Dia menyipitkan matanya mencari sumber suara tawa tersebut, tapi segera suara tepuk tangan menyusulnya.
Seseorang berjalan dari arah kegelapan menuju ke arah mereka, Kizuna sedikit berwaspada dengan itu.
Sedangkan Meily mendengar itu dengan senyuman menggoda yang terlihat sangat bahagia.
“Baiklah, mari kita mulai pesta utamanya, Ki,zu,na-chan♡”
—Yang muncul adalah seorang iblis putih dengan senyuman lebar sampai membuatmu berpikir mungkinkah bibirnya koyak.
__ADS_1