Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 33: Kebiasaan Di Pagi Hari


__ADS_3

Tempat itu terlihat sangat tua, temboknya terbuat dari kayu-kayu yang kokoh.


Meja, kursi, jendela, semua yang ada di sana terbuat dari kayu sehingga itu terlihat sangat unik.


Tapi, meskipun begitu, setidaknya tempat itu masih layak untuk di tinggali.


Jendela di rumah tersebut terbuka dan sinar matahari memasuki rumah kayu itu tanpa izin.


Terdengar suara burung-burung dan serangga-serangga yang bernyanyi di pagi hari.


Matahari telah terbit menyambut hari yang baru. Hari ini, hal baik apa yang akan terjadi?


“Meily-chan, buatlah lebih kuat lagi kegelapan mu!”


“Umm~ Ini sulit.”


“Ahaha, berjuanglah. Jika kau bisa memperkuat kegelapan mu lagi, maka kau bisa melukai diriku.”


Dua siluet terlihat di halaman depan rumah kayu tersebut.


Yang satu gadis kecil dengan kegelapan yang menari-nari di sekelilingnya dan yang satunya lagi seorang wanita dengan ekor sembilan yang bersinar warna biru cerah di belakangnya.


Pagi ini, Kizuna dan Meily berlatih bersama-sama di dalam hutan.


Sebagai orang yang berpengalaman, Kizuna mengajari Meily cara bertarung yang lebih baik menggunakan kekuatannya.


“Aaah~ Ini mustahil bagi Meily.”


Menjatuhkan tubuhnya yang mungil ke tanah, Meily menggerutu dengan nafas terengah-engah.


Melihat itu, ekor sembilan Kizuna yang tadinya berdiri dengan cahaya biru mulai menunduk dengan cahaya yang ikut menghilang.


Berjalan dengan pakaian gadis kuilnya yang terlihat mesum, Kizuna menatap Meily yang terjatuh di tanah dengan tatapan lelah.


Menghela nafasnya, dia berkata dengan suara yang menggoda kepada gadis kecil itu.


“Meily-chan, lakukanlah sesuai arahan ku. Bukannya Meily-chan mau jadi lebih kuat lagi.”


“Hei, berhenti memanggilku dengan tambahan '-chan'. Meily bukan anak kecil!”


“Hmmm, bukannya Meily-chan masih sepuluh tahun.”


Kizuna memiringkan kepalanya dan menutup sebelah matanya saat dia mengatakan hal itu dengan gaya yang menggoda.


Mendengar sesuatu yang tidak bisa di abaikan, Meily melompat dari kejatuhannya dan membentak wanita rubah itu.


“Meily tahun ini sudah tiga belas tahun! Jadi, Meily sudah dewasa!”


“Ahaha, Meily-chan benar-benar menggemaskan. Baiklah, kita akan melanjutkan latihannya.”


“Hei, apa kau mendengarkan Meily, Kizuna?!”


Sesuatu yang hitam dan gelap muncul dari balik bayangan Meily dan menerjang Kizuna yang membalikkan badannya.


Tapi, dia dengan anggun menghalau kegelapan itu dengan sembilan ekornya yang bercahaya biru cerah.


Melihat itu, Meily benar-benar terkejut. Tapi selain itu, dia hanya semakin kesal saja.


“Lihatlah, kau bahkan belum bisa sepenuhnya mengendalikan kekuatan dan emosimu. Meily-chan, perlu di latih lagi.”


“Hmph! Walaupun Meily tidak latihan, Meily tetaplah kuat.”


Seperti yang Meily katakan, meskipun dia tidak berlatih. Kekuatan Meily sudah setara dengan seribu orang dewasa.


Dia adalah pengguna Unique Bless yang langka, tapi bukan berarti dia sangat kuat.


Bagaimanapun, Meily tetaplah anak kecil. Dia kekurangan pengalaman bertarung, dia masih terlalu muda untuk di bilang kuat.


Contohnya saat ini Meily sama sekali tidak bisa mengalahkan Kizuna yang sesama pengguna Unique Bless.


Bukan berarti dia menang karena memiliki kekuatan cahaya yang merupakan musuh alami kegelapan.


Meily hanya kekurangan pengalaman dan strategi saja dalam bertarung. Yah, lagi pula perbedaan umur Meily dan Kizuna juga jauh.


Antara dua digit dan tiga digit, masih banyak kekurangan dari Meily kalau dia ingin mengalahkan Kizuna.


Gaya bertarung Meily juga sangat berbeda dengan Kizuna. Meily terlalu kasar dalam bertarung dan selalu terbawa emosi.

__ADS_1


Sedangkan Kizuna memiliki keanggunan dalam teknik pertarungannya. Seperti yang di duga dari salah satu mahkluk agung.


Selagi mereka terus bertengkar dan berlatih, seseorang dengan rambut berwarna putih polos seperti sinar bulan terus melihat mereka berdua dari jendela rumah kayu tersebut.


Dengan senyuman lembut, Rogant menyambut pagi harinya dengan secangkir kopi susu.


“Nah, Pride-chan. Menurutmu apakah Meily memiliki bakat bertarung?”


Menyeruput kopi susunya, Rogant bertanya kepada seseorang. Tidak, dari pada di sebut seseorang, itu lebih tepatnya sesuatu.


Rogant bertanya kepada sesuatu yang ada di dalam kepalanya.


Lalu tiba-tiba suara seorang wanita terdengar di dalam kepala Rogant.


[Meskipun sekarang masih belum, jika Meily-chan bisa mengendalikan emosinya. Saya pikir dia memiliki potensial.]


“... Emosi ya?”


Sudah jelas itu mustahil bagi Meily, jika ini adalah kasusnya.


Rogant yakin kalau Meily akan selalu membunuh siapapun yang membuatnya kesal.


Bahkan dia pernah membunuh seseorang tanpa sengaja. Sudah jelas mustahil baginya untuk berpikir tenang dan dingin.


Saat Rogant memikirkan hal itu, dia mendesah pelan dan meminum habis kopi susunya.


“Yah, setidaknya dia masih berguna untukku.”


[Master benar-benar jahat kepada anak kecil.]


“Begitukah? Aku hanya melakukan sesuatu demi kebahagiaan. Sama sekali tidak ada kejahatan di dalam situ.”


Mengangkat tubuhnya dari kursi, Rogant berjalan ke arah pintu rumah kayu tersebut.


Saat dia membukanya, pemandangan hutan yang indah langsung tertangkap di penglihatan kedua matanya.


Angin pagi segera terhembus dan membelai rambut putih Rogant yang bersinar terang,


Senyuman lembutnya di penuhi dengan kepolosan dan kejahatan seakan-akan meremehkan segalanya.


Sambil melambaikan tangannya, Rogant memanggil mereka berdua yang masih berlatih.


Merasa diri mereka di panggil, kedua-duanya menolehkan pandangannya ke arah Rogant.


Meily tampak ceria dan langsung berlari ke arah Rogant. Sedangkan Kizuna tampak bermasalah, wajahnya sedikit memerah.


Dia telah berusaha untuk menyembunyikan ekspresi malunya kepada Rogant, tapi saat Rogant menyebut namanya entah kenapa jantungnya selalu berdegup kencang.


Perasaan itu selalu menyiksa dirinya, tapi sepertinya Rogant sama sekali tidak memperdulikannya.


“Oy, Kizuna. Cepatlah, atau makanannya akan dingin.”


“Hmmm... Y-Yah, aku akan datang, Tuan.”


Melakukan langkah kecil yang aneh, Kizuna berjalan mendekati rumah kayu tersebut.


“Hei, Kizuna. Bukannya sudahku bilang untuk memanggilku 'Rogant' saja. Kau tidak perlu memakai bahasa formal.”


“Eh? Umm~ Ta-Tapi...”


Berbicara dengan gelisah, Kizuna menundukkan matanya dengan wajah tersipu malu.


Ekornya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri dengan cepat, telinganya menegang dengan warna merah merona.


“Ada apa, Kizuna? Wajahmu merah, apa kau baik-baik saja?”


Memiringkan kepalanya kebingungan, Rogant mengatakan itu tanpa maksud apa-apa.


Namun, tiba-tiba perkataan itu membuat sembilan ekor Kizuna menegang, dia semakin menundukan wajahnya.


“Ugh...! Tu-Tuan, maaf! Sepertinya aku sudah lapar, jadi bisakah aku makan duluan!”


Karena sudah tidak tahan lagi, Kizuna langsung dengan buru-buru pergi masuk ke dalam rumah kayu meninggalkan Rogant di luar.


Suasananya kembali menjadi hening, tapi Rogant masih bingung dengan tingkah laku Kizuna sebelumnya.


Dia menaruh jari jempol dan telunjuknya di dagunya dan membuat gaya seseorang yang sedang berpikir.

__ADS_1


“Apa aku melakukan kesalahan? Tingkah laku Kizuna sedikit aneh, apa dia masih sedih karena Reyna mati.”


[Master, saya pikir anda perlu belajar lagi tentang perasaan wanita.]


“... Hmm? Aku akan berusaha.”


Mendengus pelan, Rogant melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kayu tersebut.


Dia menutup pintunya perlahan dan berjalan ke arah dua orang yang sudah duduk di meja makan.


Makanan mewah yang sudah di siapkan Rogant menggunakan bahan dari dunia lain terletak di meja makan dengan rapi.


Ada bermacam-macam makanan yang di buat Rogant. Ada susu, roti, nasi, sup miso, dan ikan bakar.


Rogant mengangguk merasa puas dengan apa yang dia buat. Meskipun dulu dia jarang belajar memasak, sekarang dia sudah hebat.


Yah, setidaknya makanannya masuk ke dalam kategori makanan yang bisa di makan.


“Baiklah, selamat makan~”


Duduk di tengah-tengah antara Meily dan Kizuna, Rogant mengambil sumpitnya lalu langsung melahap makanannya.


Perasaannya penuh dengan kebahagiaan saat dia memakannya sedikit demi sedikit, yang lain juga ikut memakannya setelah Rogant.


“Ini enak.”


“Benarkah? Yah, syukurlah...”


“Umm~ Y-Yah.”


Mendapatkan senyuman lembut dari Rogant, Kizuna memalingkan wajahnya dengan wajah yang tersipu malu.


Namun, selain itu, ada senyuman tipis di bibir lembutnya. Dia merasa senang bisa berada di sisi Rogant.


Sedangkan Meily dengan lahap terus memakan makanannya sendiri mengabaikan adegan rom-com yang baru saja terjadi.


Selesai mereka menghabiskan seluruh makanannya, Rogant menghela nafas dengan puas.


Yang lainnya juga merasa puas. Kizuna menata rapi peralatan makannya, sedangkan Meily masih tetap berantakan.


Akan tetapi, Kizuna berdiri dan membersihkan piring-piring kotor milik Meily dan Rogant.


“Yah, maafkan aku karena merepotkanmu.”


“Tidak apa-apa, Tuan. Aku juga suka melakukannya.”


“Begitukah? Dapat melakukan sesuatu yang kau suka itu bagus.”


Mata Kizuna melebar keheranan, dia segera tersadar kembali dan memikirkan kata-kata Rogant.


Dulu saat dia menjadi pelacur, dia sama sekali tidak pernah melakukan hal ini.


Dia sama sekali tidak bisa melakukan sesuatu yang dia suka, tugasnya hanya melayani dan melayani para pria.


Semua kehidupan sehari-harinya juga selalu di urus dengan pelayannya.


Jadi dia tidak menyangka dirinya akan sesenang ini saat melakukan tugas yang seharusnya pelayan yang melakukannya.


Senyuman bahagia terlihat di wajahnya yang halus dan putih seperti salju. Warna merah juga menghiasi wajahnya yang cantik.


Kebahagiaan yang hangat segera mengalir ke dalam dirinya, dengan semangat Kizuna pergi membawa piring kotor dan mencucinya.


Setelah selesai mencuci, Kizuna kembali lagi ke meja makan. Tapi, kali ini suasananya berubah.


Udaranya semakin tegang, Kizuna kesulitan mengambil nafas di ruangan tersebut.


Namun dia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, jadi dia langsung dengan tatapan serius berjalan ke arah meja makan.


Meily dengan senyuman menggoda bermain main di kursinya, sedangkan Rogant hanya menatapnya dengan lembut.


Kizuna menarik nafasnya dan kembali duduk di meja makan tersebut dengan anggun.


Melihat semuanya sudah berkumpul, Rogant mengangguk dengan sangat puas.


Dia mengubah senyuman lembutnya menjadi senyuman misterius yang penuh dengan kebahagiaan.


Menyipitkan matanya, Rogant menggerakkan bibirnya merangkai beberapa kata-kata.

__ADS_1


“Baiklah, berikan aku semua informasi yang kalian punya tentang >Kuil Kehidupan


__ADS_2