Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 16: Pendosa Yang Aneh


__ADS_3

Cinta adalah takdir, takdir adalah kematian, dan kematian adalah kebahagiaan.


Dia terus menaruh dan mengulangi kata-kata tersebut di dalam hatinya dan membakarnya.


Takdirnya benar-benar sangat rapuh dan menyedihkan. Semuanya hancur di tangannya sendiri...


Dia menginginkannya, tapi dia harus menghancurkannya.


Akan tetapi, dia memiliki kekuatan untuk menulis ulang segalanya. Sungguh kekuatan yang menyedihkan.


Dia harus mati, mati, dan menahan seluruh rasa sakitnya. Semuanya terus terulang dan terulang kembali hingga hancur untuk selamanya...


Dia akan mengemban seluruh penderitaan, beban, rasa sakit, kesedihan, dosa dan segala jenis miliknya.


... Sampai pada akhirnya dia akan menyelesaikan segalanya.


Meskipun dia di robek, di siksa, di kubur, di remuk, di genggam, di khianati, di bunuh, di hina, di pukul, di tendang, di bakar, di tusuk, di cakar, di ubah, di rasuki, di tangkap, di buru, di jatuhkan, di tenggelamkan, di patahkan, di hancurkan dan walaupun dia terus mengulangi segalanya...


Dia akan terus bangkit, berdiri, dan terus bergerak tanpa putus asa.


Untuk itulah, hanya untuk itulah Night Rogant akan—


...---[★★★★★★]---...


Kematian mengenaskan sekali lagi menghampiri Rogant. Namun—


“Hei, bisakah kita berteman saja?"


—Dia menulis ulang takdirnya kembali untuk menghindari kematian.


Dosa Kemalasan >Lozi Kyarnet< yang melihat itu hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali.


Matanya, gerakannya, pakaiannya, baunya dan semuanya hanya terlihat seperti orang yang sudah mati.


>Lozi Kyarnet< sama sekali tidak terlihat seperti orang yang hidup, bahkan detak jantungnya sama sekali tidak terdengar.


Pria itu benar-benar penuh dengan misteri. Rogant sama sekali tidak memahami karakter orang tersebut.


Dia sama sekali tidak melirik ke arah Rogant, tapi Lozi membunuhnya tanpa aba-aba.


Mata Rogant melebar terkejut, tapi itu segera berakhir dengan kematiannya sekali lagi.


Kepala Rogant hancur tanpa sisa, dan tubuhnya terjatuh seperti boneka yang talinya terputus.


“Yah, sudah kuduga ini tidak berhasil.”


Itu adalah suara Lozi, dia berjalan dan menatap ke arah mayat Rogant yang mati mengenaskan.


Darahnya berceceran di mana-mana, tubuh tanpa kepala itu tergeletak di tanah yang basah.


Sudah jelas itu adalah mayat Rogant dengan kepala yang sudah hancur, namun—


“Ahahaha! Hahaha! Ini luar biasa! Kau benar-benar luar biasa, tuan Kemalasan! Barusan itu apa? Apa yang kau lakukan? Aku sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi?! Aaah~ Ini membuatku sangat tertarik–!!”


—Untuk kedua kalinya, Rogant muncul lagi dan mayatnya hilang entah kemana.


Kali ini, Rogant tertawa dan tersenyum dengan lebar seperti orang sinting.


Meskipun dia mengalami kematian yang mengenaskan, dia masih bisa tersenyum bahagia.


Kematian adalah kebahagiaan. Tapi, apa jadinya jika dia sama sekali tidak menyadari kematiannya.


Apa dia benar-benar bisa mendapatkan kebahagiaan itu?


Tanpa sadar dia sudah mati, itu adalah rasa baru. Rogant ingin merasakannya sekali lagi dan lagi.


Matanya melukiskan seperti seorang anak polos yang menginginkan mainan baru.


... Permainan kematian dengan rasa baru.


Kegilaan dan keanehan Rogant benar-benar sangat menyeramkan dan menakutkan.


Meskipun begitu, Lozi hanya menghela nafas berat dengan acuh tak acuh menatap ke arah Rogant.


Mata mereka saling bertemu, ini adalah pertarungan antar sesama pengguna >System Seven Daily<.


Pertarungan antara dosa Kemalasan dan dosa Kebanggaan.


“Aku benar-benar membenci matamu itu.”


Kematian segera menghampiri Rogant setelah Lozi menghela nafasnya dengan berat.


Namun, Rogant sama sekali tidak memperdulikannya. Dia mati dengan senyuman lebar seperti orang gila.


Tubuh Rogant kali ini benar-benar hancur berantakan, tidak ada sisa dari tubuhnya.


“Aku harap dengan ini sudah berakhir.”


Lozi benar-benar terlihat seperti boneka, sebuah boneka yang penuh dengan aroma kematian.


Boneka tanpa perasaan yang dengan mudahnya membunuh seolah-olah itu adalah hal yang wajar.


“Ahahaha! Hehe! Ini belum berakhir loh~ Hei, tunjukan aku kematian itu lagi, kali ini aku ingin tau apa yang kau lakukan?!”


Mayat Rogant menghilang dan di gantikan dengan tubuh Rogant yang masih utuh.


Rogant menjerit atau lebih tepatnya tertawa dengan penuh kegilaan.


Dia ingin merasakannya, dia ingin mengetahuinya, dia ingin melihatnya, dan dia ingin membakarnya di dalam tubuhnya.


Kematian yang berbeda, kematian yang paling misterius. Dia ingin mencari tau misterinya dan mengungkapkannya.


Perasaan gila yang selama ini belum dia dapatkan. Kematian baru yang pertama kali dia rasakan.


Ini seperti seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta dengan kematian.


“Kau... benar-benar menyebalkan.”

__ADS_1


Lozi berbicara dengan suara yang serak seperti rekaman suara yang rusak.


Dia menghela nafas, setelah itu kematian menghampiri Rogant tanpa dia sadari.


Sial, sial, sial, kali ini dia juga gagal. Apapun itu dia ingin mengetahuinya, jenis kematian yang membuatnya bergairah.


Dia ingin, dia ingin merasakannya lagi dan lagi sampai dia mengetahui triknya.


Dia ingin menari dengan kematian itu dan tertawa dengan sangat keras.


Oh tidak, dia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Ini kematian yang sangat sangat sangat sangat sangat luar biasa !!


“Hehe! Hahaha!! Aaah~ Sial, semuanya terasa sangat menyenangkan. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Pandora nantinya!”


Rogant kembali lagi dengan senyuman yang sangat lebar seolah-olah bibirnya akan koyak.


Ini adalah kenikmatan yang baru, ini adalah kematian yang berbeda dari sebelumnya. Ini adalah bentuk kebahagiaan yang baru.


Apa yang harus dia lakukan agar dia bisa merasakan kematian itu lagi? Dia sudah ketagihan.


Rasa senang membuat Rogant bernafas terengah-engah. Semuanya sangat luar biasa, dan benar-benar menyenangkan.


Rambut Rogant berkilau lebih terang dari biasanya, bulan purnama menerangi seorang iblis yang menakutkan.


Syal merah gelap Rogant membuatnya terlihat seperti iblis yang menikmati darah segar di bawah bulan purnama.


Rogant berjalan seperti anak kecil yang ingin pergi ke tempat hiburan yang sudah dia nantikan.


Setelah itu—


“Oi, kau tadi bilang apa?”


—Suara yang seperti petir runtuh itu membuat Rogant diam membeku.


Suasananya berubah, semuanya semakin mencekam sampai membuat waktupun berhenti.


Apa yang terjadi? Seseorang telah mengeluarkan nafsu membunuh yang sangat besar.


Tidak ada yang bersuara, semuanya penuh dengan keheningan. Lalu—


“Oi, kau tadi bilang apa?”


—Suara seperti sebelumnya terulang kembali dengan kata-kata yang sama dan pertanyaan yang sama.


Rogant berbalik melihat asal dari suara yang penuh dengan kemarahan tersebut, dan dia tau kalau suara itu berasal dari seorang pria yang bernama >Lozi Kyarnet<.


Kebencian, Ketakutan, Kemarahan, Kesedihan, Keputusasaan, Kepanikan, semua perasaan itu bercampur aduk di dalam mata >Lozi Kyarnet<.


Semuanya berubah, mata yang dulunya hanya terlihat seperti orang mati, seperti orang yang tidak memiliki motivasi hidup...


... Sekarang berubah menjadi mata seperti binatang buas yang murka.


Rogant kebingungan dengan situasi yang berubah secara tidak terduga ini. Lalu—


“Oi, kau tadi bilang apa?”


—Rogant mati dengan begitu tiba-tiba.


Sekarang nafsu membunuh itu benar-benar terasa sampai membuat buluh kuduknya merinding.


Namun, kematian segera menghampirinya saat dia memikirkan hal tersebut.


Sesaat kemudian, Rogant kembali muncul lagi—


“Oi, kau tadi bilang apa?”


—Tapi, dia segera mati lagi setelah mendengar suara itu.


Semuanya berubah menjadi tidak masuk akal, Rogant sama sekali tidak bisa di biarkan untuk berbicara.


Dia segera mati setelah menulis ulang takdirnya.


Dia bahkan sama sekali tidak merasakan rasa sakit, hanya kebingungan yang menghantuinya.


“Oi, kau tadi bilang apa? Kau tadi bilang apa? Kau tak bilang apa? Kau tadi bilang apa? Kau tadi bilang apa? Kau tadi bilang apa? Kautadibilangapakautadibilangapakautadibilangapakautadibilangapa !!...”


Setelah Rogant menulis ulang kembali takdirnya, dia segera di hujani dengan pertanyaan yang sama berulang kali.


Suara dari dosa Kemalasan itu terdengar seperti orang sinting yang terus berbicara tanpa bernafas sama sekali.


Semuanya berubah, >Lozi Kyarnet< sekarang terlihat seperti boneka yang benar-benar sudah rusak.


Rogant menyipitkan matanya dan mencoba mencari tau apa yang terjadi? Namun—


“Oi, kau tadi bilang apa?”


—Sekali lagi Rogant mati tanpa dia sadari.


Semuanya terus berlanjut seperti itu, Rogant mati sebelum dia bisa berbuat sesuatu.


Tanpa dia sadari seluruh tubuhnya sudah hancur lebur tanpa tersisa sedikitpun. Dia sama sekali tidak merasakan rasa sakit saat kematiannya.


Kali ini, kematiannya terasa seperti sebuah petasan kembang api berwarna merah darah.


Dia hancur dan darahnya bermuncratan, dia mati dan darahnya bermuncratan, pengulangan itu terus berlanjut.


Rogant mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati, dia mati...


... Dia terus menerus mati seperti kembang api yang sangat indah.


Setelah Rogant menulis ulang takdirnya, dia meledak dan darahnya bermuncratan dimana-mana.


Sungguh pemandangan yang sangat indah, kau bisa menyebut ini seperti festival kembang api berdarah.


Namun—


“Yah, aku juga harus segera serius.”

__ADS_1


—Rogant muncul dengan suara yang seperti anak kecil yang sudah bosan.


Tentu saja, setelah melihat Rogant yang kembali hidup tidak mungkin di biarkan oleh Lozi.


... Dia akan segera membunuhnya seperti biasa.


“Oi, kau tadi bilang apa?”


“Aku tidak bilang apa-apa.”


Kali ini Rogant menjawab, dia masih hidup, dia sekarang masih ada di sana tanpa hancur terluka sama sekali.


Bagaimana caranya? Tentu saja, kali ini Rogant tidak menerima kematian itu.


Dia menggunakan >Book of Destiny< untuk menulis ulang takdir dari terkena serangan menjadi tidak kena.


Oleh karena itu, dia bisa berjalan tanpa perlu mengkhawatirkan dia akan mati seperti tadi.


Tapi, karena dia tidak terkena serangan itu. Malah pohon yang ada di belakang Rogant yang terkena serangannya.


Pohonnya hancur lebur dengan sangat mengerikan, setelah itu pohon tersebut jatuh ke belakang.


Melihat daya hancur yang mengerikan itu, Rogant sedikit menaikkan alisnya. Mungkin dia kagum melihatnya...


Akan tetapi di sini yang paling terkejut adalah >Lozi Kyarnet< itu sendiri.


“Apa yang kau lakukan?”


Kali ini Rogant mendapatkan pertanyaan yang berbeda, tapi tetap saja sepertinya dia pada akhirnya juga di bunuh.


“Haah~ Sebenarnya kau kenapa sih?”


Tentu saja, Rogant tidak terkena serangan Lozi dan tidak jadi di bunuh.


Kali ini giliran Rogant yang bertanya, rasanya semuanya benar-benar sangat lama.


Sehingga Rogant menghela nafasnya dengan kelelahan. Apa boleh buat, lagian dari tadi dia terus menerus di bunuh tanpa ampun.


... Bahkan Rogant pun bisa kelelahan.


“Jadi, apa yang kau inginkan?”


Rogant bertanya dengan senyuman lembut dan gerakan yang santai seakan-akan dirinya sedang berbicara dengan hewan peliharaan.


Akan tetapi, Lozi sama sekali tidak menatap ke arah Rogant. Dia hanya diam dan diam.


“Hei, giliran aku bertanya kau tidak mau menjawab. Apa-apaan ini?”


Semuanya sangat tidak adil, padahal Rogant telah di bunuh sampai ratusan kali lebih namun yang dia dapatkan ini.


Setidaknya, dia pantas di beri penghargaan sebagai orang terbanyak yang pernah mati.


Kenapa dia malah di abaikan seperti dia bukan siapa-siapa? Itu membuatnya kesal.


“Oi, sebenarnya apa yang kau inginkan?”


Dengan penuh belas kasih Rogant menahan amarahnya dan bertanya sekali lagi.


Padahal dia hanya bertanya dengan pertanyaan yang gampang, kenapa pria itu tidak bisa menjawabnya? Apa dia benar-benar sudah rusak?


“... Apa... Kau... Mengatakan... Tentang... Pandora?”


Dia pikir mungkin kali ini dia juga tidak akan mendapatkan jawaban lagi, tapi pria itu menggerakkan bibirnya dan merangkai kata-katanya.


Yah, meskipun kata-katanya sedikit patah-patah setidaknya Rogant masih tetap mendapatkan jawaban.


Dia mengangguk puas, dan menjawab pertanyaan dari pria yang sudah berusaha keras itu.


“Maaf, tapi aku sama sekali tidak kenal dan tidak tau apa itu Pandora. Apa dia nama orang? atau apa? Mungkin saja kau hanya salah dengar.”


Rogant menjawab dengan mantap tanpa kesalahan dari pertanyaan pria sinting itu.


Mendengar jawaban itu, mata Lozi yang tadinya dipenuhi dengan berbagai macam perasaan sekarang kembali lagi menjadi seperti orang yang mati.


Melihat itu, Rogant sedikit senang karena dia menyukai matanya yang terlihat seperti orang yang sudah mati atau orang yang tidak memiliki motivasi hidup sama sekali.


Nafsu membunuhnya juga menghilang seperti di bawah oleh angin malam yang terasa dingin.


“... Begitukah?”


Lozi melirik ke arah Rogant dengan penuh arti, tapi Rogant hanya memiringkan kepalanya dengan kebingungan.


Setelah itu, Lozi menundukkan kepalanya dengan menyesal dan menghela nafas berat.


“Baiklah, mungkin sudah saatnya untuk pergi. Aku masih memiliki urusan yang perlu di urus. Aku harap mereka baik-baik saja...”


“... Mereka?”


Tanpa memperdulikan Rogant yang berseru, >Lozi Kyarnet< menghilang dengan suara ledakan yang kuat.


Ledakan itu membuat api unggun Rogant mati padam dan membuat Rogant sedikit terkejut.


Yah, apapun itu. Orang sinting itu sudah pergi, jadi Rogant sekarang bisa beristirahat dengan tenang.


“Hmm... atau mungkin tidak juga.”


Saat Rogant berbalik, dia melihat ke bawah dan di sana tidak ada siapapun.


Seharusnya, di sana ada seorang gadis kecil dengan rambut berwarna hitam yang tertidur dengan nyenyak. Namun sekarang sudah dia menghilang.


Ada bekas dan jejak-jejak yang tertinggal di sana.


... Mungkin saja dia kabur, pikir Rogant.


“Semuanya benar-benar merepotkan.”


—Meskipun begitu, sebuah senyuman seperti iblis terbentuk di wajah Rogant.

__ADS_1


“Baiklah, aku perlu menghukum anak yang nakal.”


Sekali lagi, teror dari iblis yang bernama >Night Rogant< menghantui seorang gadis kecil yang malang.


__ADS_2