
Itu adalah sebuah desa terpencil, dengan luas wilayahnya yang tidak seberapa.
Namun, orang-orang yang hidup di sana memiliki wajah yang bahagia, menikmati hidup mereka dengan usaha yang mengagumkan.
Seorang pria bekerja di ladang, menggaruk tanah dengan cangkul mereka. Sedangkan para wanita menyiapkan makan siang untuk keluarga mereka.
Kehidupan mereka damai, ini juga adalah bukti bahwa penguasa di desa itu mencintai mereka.
Angin sejuk menghampirinya, diiringi dengan gelombang rambut yang berkibar.
Gadis itu melihat ke arah kejauhan, menikmati kehidupan bahagianya di desa ini.
Saat dia melihat kenalannya, dengan nada yang riang dia mencoba untuk memanggilnya.
“Hei, Eras-chan, apa yang kau lakukan?”
Gadis itu bertanya, dia memiliki rambut berwarna prem pendek dengan gaya rambut bob, iris coklatnya berkilau ceria saat dia menghampiri temannya yang sedang sibuk.
Gadis itu bernama Meily, seorang gadis desa berumur 8 tahun.
Di kejutkan oleh kedatangan Meily yang tidak terduga, temannya– Eras, mengerutkan keningnya dan menggerutu kesal.
Dia memberinya sebuah peringatan yang cocok untuk anak sesuainya.
“Meily-chan, aku sedang bekerja. Jika kau mengganggu, aku tidak akan berteman denganmu lagi.”
Eras memiliki karakteristik yang tenang, dia memiliki rambut emas panjang dan indah, yang sangat tidak kontras untuk seukuran gadis desa.
Penampilannya yang menawan dan terlihat dewasa, membuatnya terlihat mencolok saat dia kotor dengan pakaian biasanya.
Iris mata merahnya menunjukkan keinginan yang kuat akan tekadnya.
Namun, meskipun begitu, dia adalah tipe gadis yang tidak bisa menunjukkan emosinya dengan jujur.
Meily sama sekali tidak menghiraukannya, dan masih memasang senyuman riangnya seperti biasa.
“Eras-chan, daripada melakukan hal itu, ayo kita pergi ke hutan dan mencari serangga besar, setelah itu kita bisa pamerkan sama anak laki-laki bodoh itu!”
Tidak ada niat untuk mundur di dalam matanya.
“Meily-chan, aku sedang bekerja.”
“Ayo bermain!”
“Aku sedang bekerja.”
“Ayo bermain!”
“Kau lihat, aku sangat sibuk, tidak memiliki waktu untuk bermain.”
“Tapi, kau bisa mengerjakannya nanti saja, untuk sekarang, ayo kita bermain!”
Eras bermasalah atas tanggapan riang temannya, dia menghela nafasnya putus asa.
“Yeey! Kita akan bermain!”
“Tunggu, Meily-chan! Aku belum mengatakan apapun! Tolong biarkan aku izin dulu dengan kakakku!”
__ADS_1
“Aku mengerti! Ayo cepat minta izin!”
Meily menarik tangan Eras secara sepihak, dan membuatnya hampir terjatuh karena terkejut.
Mereka berlari dipinggiran ladang ketang yang mau dipanen, atau lebih tepatnya, itu sudah siap untuk dipanen.
Eras membantu kakak laki-lakinya untuk memanennya, jadi akan bermasalah jika dia pergi tanpa izin terlebih dahulu.
Untungnya, mereka telah mendapatkan izin, kakak laki-lakinya baik kepadanya, dan Eras juga menyukai kebaikan itu. Tapi, karena mereka sekeluarga hanya mereka berdua, dia tidak ingin terus dimanjakan oleh kakaknya.
Dia juga ingin berusaha, orang tua mereka mati saat Eras masih kecil. Dia hampir tidak memiliki ingatan apapun tentang ayah dan ibunya, jadi kebanyakan dia menghabiskan waktu dengan kakak laki-lakinya.
“Hei, Meily-chan, apa kau yakin ingin masuk ke dalam hutan? Bukankah itu berbahaya?”
“Tenang saja, kita tidak akan pergi jauh-jauh!”
“Aku harap begitu.”
Eras memiliki wajah yang suram, matanya tidak bisa tidak waspada saat dia mendengar gerak-gerik sesuatu disekitarnya, dan selalu menjerit setiap kali ada yang bersuara.
Itu tingkah yang lucu, dan Meily juga senang karena disaat-saat seperti ini, hanya dia yang bisa diandalkan.
“Eras-chan benar-benar penakut.”
Meily mengatakan itu sambil tertawa, yang membuat Eras sedikit kesal.
Ini membuatnya ingin balas dendam, meskipun itu sedikit aneh melihat anak seusianya sudah pintar untuk memikirkan balas dendam.
Saat dia memiliki ide untuk menjahilinya, Eras tersenyum lebar dengan aneh, mendekati Meily dan berkata.
“Harta karun?!”
Melihat umpannya terpancing, senyuman Eras semakin lebar.
Mereka berhenti sebentar, mata Meily dipenuhi dengan kilauan bintang harapan saat dia mendengar kata “Harta Karun”. Dia suka petualangan, jadi dia tidak bisa tidak tertarik saat mendengar kata harta karun.
“Yah, sebuah harta karun. Kau suka 'kan sesuatu yang seperti ini?”
Meily mengangguk dengan begitu cepat, mendengarkan perkataan Eras dengan penuh antusias.
“Dimana?! Dimana aku bisa menemukan harta karun itu?! Hei, Eras-chan, ayo kita pergi ke sana bersama-sama!”
“Tidak, tidak, tidak, aku tidak ikut. Kau harus pergi mengambilnya sendiri, jika aku ikut, bukankah nanti kau hanya akan mendapatkan sedikit hartanya.”
“Hm? Apa masalahnya? Bukankah itu wajar untuk kita membaginya.”
Entah kenapa untuk sesaat, Eras merasa sedikit bersalah saat dia melihat wajah polos Meily yang mengatakan hal itu.
Apa aku harus menyudahinya?— tidak, aku harus melakukannya. Setelah sampai sejauh ini, tidak mungkin aku untuk mundur!
Meskipun perasaannya sedikit goyah untuk sesaat, dia berhasil mempertahankannya, dan membuat senyuman yang lembut kepada Meily.
“Sayangnya, aku tidak bisa. Maafkan aku.”
“Ke-Kenapa?!”
Eras dengan buru-buru mencoba untuk mencari alasannya, dan dia mengingat sesuatu.
__ADS_1
“Ka-Kau tau, goa itu sangat gelap, dan aku tidak bisa melihat jika berada di kegelapan, aku hanya akan menjadi beban. Aku berbeda dengan Meily-chan yang memiliki >Bless: Night Vision<, yang bisa melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Jika aku pergi, aku pasti akan ketakutan. Tapi, jika itu Meily-chan hasilnya akan berbeda, kan?”
Memang benar, Meily memiliki >Bless: Night Vision<, yang mana dia bisa melihat dengan jelas di dalam kegelapan seperti melihat pada siang hari.
[Bless] adalah sebuah kemampuan yang diberikan oleh dewa kepada orang-orang tertentu saja, tidak semua orang bisa memilikinya.
Meily adalah kasus yang langka.
Setelah memikirkan resikonya terlalu besar untuk mengajak Eras. Wajah Meily menunduk dan hanya bisa pasrah.
“Memang benar, jika Eras-chan yang penakut ikut, dia akan menangis ketakutan. Aku mengerti, aku akan pergi sendiri sambil membawa keinginan Eras-chan bersamaku.”
Meskipun Eras sedikit berkedut saat mendengar kalimat persetujuannya, dia masih tetap mempertahankan senyumannya.
Setelah itu, dia berkata dengan senyuman yang kaku.
“Y-Yah, jika itu Meily-chan, aku yakin Meily-chan pasti bisa! Karena Meily-chan kuat dan pemberani! Aku sebenarnya juga ingin ikut, tapi apa boleh buat, aku hanya akan menjadi beban...”
“Jangan khawatir, Eras-chan! Aku akan kembali dan membawakan hadiah untukmu, tunggu lah aku di desa! Aku akan kembali setelah aku menaklukkan petualangan besarku!”
Meily memegang bahu Eras, dan mengatakan hal itu dengan wajah tangguh. Kemudian, dia memutar badannya dan berjalan ke arah goa yang disebutkan sambil membelakangi Eras.
“Baiklah! Aku pasti akan menjadi legenda di desa sebagai 'Meily sang penakluk goa'!”
Dengan semangat yang membara dia pergi menuju kejayaannya, dan meninggalkan Eras sendirian di tempat itu.
“Tunggu, bagaimana aku pulang?”
Sekarang Eras juga memiliki masalah yang lain setelah Meily meninggalkannya.
Tapi, pada akhirnya dia berhasil pulang sembari berteriak dan menangis saat dia berlari kencang menuju desa.
Dalam hati, dia meminta maaf kepada Meily kerena telah membohonginya. Namun, di sisi lain dia juga mengutuk Meily karena telah meninggalkannya.
...\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=...
Saat ini, Eras hampir sampai di gerbang depan desa. Dia terlihat lesu dan berantakan, dengan nafas yang terengah-engah selesai berlari kencang.
“Syu-Syukurlah, akhirnya aku sampai juga.”
Begitu dia menghela nafas lega, Eras berjalan ke arah gerbang pintu, dan saat dia semakin dekat, secara tidak sengaja, dia mendengar pembicaraan penjaga gerbang.
“Oi, apa kau tau? Ku dengar Kapten pernah melihat tumpukan mayat binatang buas di dalam hutan, dan itu tidak hanya 10 atau 20. Itu ada 100 lebih, dan semuanya mati dengan tubuh yang hancur mengerikan.”
“Hah? Bukankah itu hanya rumor.”
“Aku juga tidak tau, tapi, kita di suruh untuk lebih berhati-hati lagi. Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang tidak beres dengan hutan ini.”
”Yah, kau benar.”
Mendengar percakapan kedua penjaga itu.
Buluh kuduk Eras merinding, tulang belakangnya menggigil dalam kedinginan, dan perasaannya terasa tidak enak.
Saat dia mengingat kembali apa yang baru saja dia lakukan, dia berkata dengan suara yang rendah sembari membayangkan wajah seorang gadis kecil yang merupakan temannya.
“Meily-chan...”
__ADS_1