Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 45: Langkah Pertama Menuju Kuil Kehidupan


__ADS_3

Perjalanan masih berlanjut, kelompok Rogant saat ini berada di daerah yang tidak di kenali menuju >Kuil Kehidupan<


Kereta naganya mengeluarkan suara yang berderit di sepanjang jalan berbatu.


Dari pagi sampai siang, pemandangan di sekitar Rogant hanya pohon dan pohon, terkadang mereka melewati sungai juga.


Mengintip dari jendela gerbong kereta, Rogant mengernyit. Dia melihat awan di langit sedikit gelap, mungkin mendung.


“Sepertinya nanti malam akan hujan, sangat merepotkan.”


“Hmm~ Meily tidak suka hujan.” Gerutu Meily yang berada di pangkuan Rogant.


Gadis kecil dengan rambut hitam ini dari tadi hanya bermain dengan boneka beruangnya yang dia beri nama Teddy.


Rogant tersenyum masam, dan menepuk kepala gadis kecil nan imut itu dan berkata.


“Yah, aku tau perasaanmu. Tapi, dengarlah Meily, hujan adalah berkah, kalau hujan tidak turun, maka tumbuhan juga akan mati. Jika seperti itu, udara juga tidak akan bersih dan kita akan mati karena terik matahari.”


“Umm~ Meily juga tidak suka itu.” Kata Meily sedikit cemberut, suaranya terdengar halus dan menggoda tidak seperti penampilannya,


“Kenapa harus ada hujan dan matahari? Dunia benar-benar membingungkan.” Lanjut Meily menggerutu yang membuat Rogant tertawa keras.


Dia tersenyum lembut, dan mendengus pelan.


“Yah, aku juga setuju. Dunia memang membingungkan.” Katanya, hampir seperti hembusan angin yang menghilang di udara.


Setelah itu, dia menolehkan pandangannya kembali melihat dunia luar yang awannya mulai mengebul dan menjadi gelap.


Rogant menghela nafas.


“Haahh... Aku tidak yakin kita bisa menuju ke kota terdekat untuk menyewa penginapan. Sepertinya hari ini kita akan berkemah di luar lagi atau melanjutkannya saja.” Kata Rogant dengan suara yang tampak tidak senang.


Karena hujan sudah pasti akan turun nanti malam, maka, mereka harus berhenti dan menyewa penginapan. Namun, untuk itu mereka harus singgah di kota terdekat.


Sedangkan kota terdekat di sekitar sini tidak ada sama sekali, atau lebih tepatnya sama sekali tidak ada kota jika kau sudah semakin dekat dengan >Kuil Kehidupan<


Tidak ada yang berani membangun kota atau desa di dekat hutan >Kuil Kehidupan<, jadi Rogant harus membuat kemah atau tetap seperti ini dan terus melanjutkan perjalanan mereka meskipun di tengah-tengah hujan.


Akan tetapi, mereka juga harus memikirkan tentang Kizuna yang bertugas sebagai pengemudi kereta naganya, mungkin saja dia nanti kelelahan, tidak baik memaksanya.


Begitu juga dengan para naga, bagaimana pun juga, mereka tetaplah mahkluk hidup, mereka membutuhkan waktu istirahat.


Kalau begitu, pilihan yang mereka miliki adalah membuat kemah di dalam hutan, tapi karena akan turun hujan, mungkin itu sulit.

__ADS_1


—{Yah, mungkin Meily dan Kizuna bisa tidur di dalam gerbong kereta. Masalahnya adalah aku tidur dimana? Tidak mungkin bersama mereka berdua juga, pria dan wanita harus di pisah.} Pikir Rogant, membuat pose berpikir.


[Master, jika anda kesusahan. Saya bisa membeli beberapa tenda untuk berlindung dari hujan nanti malam. Apa perlu?]


Tiba-tiba suara seorang wanita muncul di dalam kepala Rogant dengan nada yang mekanikal dan penuh dengan loyalitas.


Mungkin karena melihat Masternya yang kesusahan, Pride System mengulurkan tangannya untuk membantu Masternya.


Mendengar itupun, Rogant tersenyum senang dan mengangguk menyetujuinya.


“Oh, kau benar. Yah, bisa tolong lakukan, Pride-chan.” Kata Rogant, santai.


[Sesuai keinginan anda, Master.]


Dengan begini masalah tempat perlindungan dari hujan sudah selesai. Yah, sejujurnya, jika Rogant ingin tidur bersama Meily dan Kizuna di dalam gerbong, mereka berdua tidak akan menolaknya, malahan mereka akan senang.


Namun yang jadi masalahnya di sini adalah Pride System. Dia seperti seorang kakak tiri yang mengawasi kekasih adiknya agar dia tidak melakukan tindakan selingkuh.


Bahkan Rogant pun bisa belajar dari setiap pengalamannya saat di ceramahi oleh Pride System tentang mana saja yang akan di anggap sebagai tindakan 'Selingkuh'.


Selagi Rogant memikirkan hal itu, tiba-tiba pintu depan di ketuk, mungkin itu Kizuna.


“Ada apa, Kizuna?” Tanya Rogant.


“Tuan, sepertinya kita mendapatkan beberapa tamu yang besar.” Jawab Kizuna dengan suaranya yang terdengar hangat, seperti matahari di musim semi.


Tepat berada di tengah jalan, terdapat seekor binatang iblis. Dia terlihat seperti seekor serangga ngengat, tapi ukurannya membuat Rogant mengerutkan keningnya.


“Apa biasanya binatang iblis tipe serangga sebesar itu?” Tanyanya, tidak percaya.


“Aku rasa tidak, Tuan. Ukuran terbesar yang aku tau, hanya sekitar tiga meter.” Jawab Kizuna dari kursi pengemudi.


Rogant mengernyit, “Tiga meter?” Dia terdengar bingung, lagian, “Mau di lihat dari manapun mahkluk itu memiliki ukuran sebesar lima belas meter lebih.”


Seperti yang Rogant katakan, binatang iblis yang sekarang berada tepat di depan mereka memiliki ukuran yang bahkan melebihi gajah.


Dia adalah seekor ngengat berukuran lima belas meter dengan duri-duri hitam di kulitnya yang membuatnya terlihat semakin menyeramkan, tapi yang lebih menarik perhatian adalah sayap yang dia miliki.


Itu bahkan lebih besar lagi dari ukuran tubuhnya sendiri, dia memiliki corak hitam dengan beberapa duri di sudut sayapnya.


Dan yang lebih parah lagi, sekarang mahkluk seperti itu sedang menghalangi jalan kelompok Rogant.


Tidak ada pilihan lain selain bertarung.

__ADS_1


“Kizuna, bisa kau hitung berapa jumlah mereka, dari sini aku tidak bisa melihat semuanya dengan jelas.” Kata Rogant dengan tegas mengambil keputusan.


Kizuna yang dari kursi pengemudi bisa melihat ke depan dengan jelas, berbeda dengan Rogant yang hanya bisa melihat lewat jendela gerbong saja.


Tapi, Kizuna terdengar ragu saat dia menjawabnya, “Umm... Kurasa ini sangat gawat, Tuan.”


“Hah?” Perkataan Kizuna membuat Rogant khawatir, “Ada berapa jumlah mereka?”


“Aku juga sebenarnya kurang yakin. Tapi, kurasa mereka sekitar lima puluh, Tuan.”


Mata Rogant melebar terkejut, “Lima puluh.” Dia mengulangi kata-kata itu secara reflek. Yah, mau bagaimana lagi, itu adalah jumlah yang sangat banyak.


Bayangkan, seekor monster ganas yang memiliki ukuran melebihi seekor gajah dengan jumlah yang bahkan setengah dari penduduk desa berada di depanmu.


Bahkan, itu bisa membuat buluh kuduk Rogant berdiri merinding.


“Ha-ha, pantas saja tidak ada yang mau membuat kota atau desa di sekitar sini.” Kata Rogant dengan senyuman melengkung, dia terlihat menikmatinya, “Sepertinya aku terlalu meremehkan racun dosa Kerakusan.”


“Apa perlu Meily bunuh semua?” Tanya Meily yang dari tadi hanya diam bermain dengan boneka beruangnya, dia terdengar santai.


“Kalau begitu, aku juga akan ikut membantu. Tuan, tolong anda tinggal saja di—”


“Tidak.”


Sebelum Kizuna sempat menyelesaikan kalimatnya, Rogant menyela.


Lalu, dengan nada yang terdengar senang tidak memperlihatkan ketakutan sama sekali, Rogant melanjutkannya.


“Tolong biarkan aku sendiri yang membasmi mereka semua.”


Lawannya adalah binatang iblis tipe ngengat yang telah terkontaminasi dengan racun dosa Kerakusan dan berubah menjadi monster dengan ukuran lima belas meter.


Jumlah mereka sekitar lima puluh. Sudah jelas, itu jumlah yang tidak masuk akal untuk binatang iblis. Tapi, sayangnya ini hanya awal dari kengerian >Kuil Kehidupan<


Masih banyak lagi kengerian yang melebihi ini jika kau semakin dekat dengan hutan >Kuil Kehidupan<


Pada saat ini, Rogant telah menyatakannya.


Dia akan bertarung sendiri melawan binatang iblis yang sudah berevolusi.


Kebodohan dan keangkuhannya sangat patut untuk di beri tepukan tangan.


Tapi, jangan salah paham, dia sama sekali tidak berniat untuk kalah.

__ADS_1


Kalau dia kalah di sini, maka itu akan membuktikan bahwa dia tidak pantas untuk menantang >Kuil Kehidupan<


“Yah, mungkin ini akan lebih cepat selesainya.”


__ADS_2