Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 23: Langkah Pertama Menuju Ibu Kota Kerajaan


__ADS_3

Jika dunia ini di buat oleh Sang Pencipta. Mungkin, dia terlalu besar dalam menciptakan dunia ini.


Dunia ini terlalu besar dan luas, sampai membuat manusia susah untuk memperhatikan jarak mereka.


Meskipun masih banyak manusia yang hidup dalam kebersamaan, masih tetap saja ada manusia yang hidup dalam kesendirian.


Mereka menangis, tertawa, menderita, semua itu terlihat seperti bukan apa-apa bagi dunia yang besar ini.


Dunia ini terlalu luas sampai membuat manusia itu sendiri terlihat seperti seekor serangga.


Oleh karena itu, walaupun manusia mati atau hidup. Dunia ini akan tetap terus berjalan mengabaikan mereka.


Namun, jika saja, jika saja ada seseorang yang—


...---[★★★★★★]---...


—Melangkah kakinya selangkah demi selangkah, Rogant berjalan dengan penuh kebanggaan.


Rambut putihnya yang bersinar seperti bulan, masih terlihat tetap bersinar terang di pagi hari.


Mata hitamnya terus memandang ke arah jalan bebatuan yang sepi dan menjulang panjang.


Hari ini, dengan senyuman yang lembut, Rogant terus melanjutkan perjalanannya.


“Hmm~ Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan dengan penduduk desa yang kabur? Apa kita bunuh saja?”


>Night Meily<, salah satu rekan Rogant bertanya dengan senyuman menggoda di sampingnya.


Dengan tangan yang saling bergandengan, Rogant menghela nafasnya dan menjawab pertanyaan dari rekannya itu.


“Tidak. Kita tidak akan melakukan apapun kepada mereka...”


Itu adalah jawaban singkat dan jelas, tapi itu membuat alis mata Meily naik keheranan.


Soalnya, sangat aneh melihat Rogant yang bersikap lembut dengan membiarkan mangsanya melarikan diri.


Dia adalah orang sinting yang selalu menjunjung tinggi kebahagiaan egoisnya.


... Kematian adalah bentuk kebahagiaan.


Itulah yang selalu di katakan oleh Rogant, dia akan membunuh orang lain demi memberi mereka kebahagiaan yang setara.


Selama ini, selama tiga tahun ini Rogant terus membunuh seluruh penduduk desa tanpa pandang buluh.


Jadi sangat aneh mendengar kata-kata dari mulut Rogant untuk membiarkan mereka kabur begitu saja.


Meily pikir Rogant akan menyuruhnya untuk membasmi penduduk desa yang kabur semuanya tanpa sisa.


Tapi, sekarang dia malah di suruh untuk tidak melakukan apapun. Itu terlalu mencurigakan...


Meily menatap ke arah mata hitam Rogant mencoba mencari tau isi pikirannya.


Rogant yang menyadari hal itu, berhenti sebentar dan menatap ke arah Meily dengan senyuman lembut.


“... Kau tau, Meily. Para penduduk desa dengan keinginan mereka sendiri kabur dari kita, benar?”


Mendapatkan pertanyaan itu, Meily mengangguk beberapa kali. Lalu Rogant kembali melanjutkannya.


“Itu artinya kita harus menghargai keputusan yang mereka buat. Mereka lari karena mereka tidak ingin kebahagiaan, jadi kita tidak perlu repot-repot mengurus mereka semua, kau mengerti?”


“Aaah~ Aku mengerti.”


Sambil menaruh jarinya di dekat pipinya dengan menggoda, Meily menyatakan bahwa dia mengerti.


Rogant mengendus senang dan mengelus kepala Meily dengan lembut.


Seperti yang Rogant katakan sebelumnya, dia tidak perlu repot-repot mengurus orang toIoI yang menjauh dari kebahagiaan.


Jika para penduduk desa memang ingin melarikan diri, maka Rogant harus menghargai keputusan mereka.


Dia paham bahwa setiap mahkluk hidup pasti selalu membuat keputusan selama masa hidupnya.


Karena itu, dia harus menghargai setiap keputusan yang mereka buat.


Kalau mereka ingin mati, maka matilah...


Kalau mereka ingin kabur, maka kaburlah...

__ADS_1


Kalau mereka ingin hidup, maka hiduplah...


Itu adalah pemikiran sederhana dan fleksibel, tapi Rogant sangat menyukai pemikiran seperti itu.


Dimana dia tidak perlu memikirkan sesuatu yang rumit dan bisa hidup dengan bebas.


Kehidupan adalah kebebasan, kematian adalah kebahagiaan. Itulah maksudnya...


Jadi para penduduk desa yang memutuskan untuk melarikan diri dari kebahagiaan, itu juga harus Rogant hargai.


Dia bahkan sampai melindungi mereka selama masa perjalanan yang mereka lakukan.


Rogant telah menyuruh Meily untuk membersihkan para bandit dan binatang iblis yang ada di sekitar mereka.


... Semuanya demi membiarkan mereka selamat dalam perjalanan ke ibu kota.


“Aaah~ Begitu ya, Rogant benar-benar orang yang sangat baik hati.”


Rogant mengabaikan Meily yang mulai bertingkah aneh dan kembali berjalan lagi.


Mereka terus berjalan di atas bebatuan yang sepi sambil bergandengan tangan.


Tidak ada maksud tertentu dalam gandengan tangan itu, Meily hanya mengatakan bahwa dia suka berjalan sambil bergandengan tangan.


Jadi Rogant menurutinya dengan begitu saja, lagian jika itu membuat Meily bahagia, maka Rogant akan terus memegang tangan kecil itu kapan saja dan dimana saja.


“Oh iya, Rogant. Sebenarnya kita akan pergi ke mana?”


“Kita akan ke Ibu kota Kerajaan Lavendel.”


“Hmm~ Ngapain kita pergi ke sana? Apa kau ada perlu di Ibu kota itu?”


Meily terus bertanya saat mereka berjalan berdampingan, Rogant juga menjawabnya dengan kerendahan hatinya.


“Yah, itu juga, aku ingin mencari beberapa informasi di Ibu kota. Tapi, tujuan utama yang akan kita lakukan adalah—”


Sebelum Rogant sempat memberitahu Meily, tanah yang ada di sekitar mereka tiba-tiba bergetar.


Dengan waspada mereka berhenti dan memalingkan pandangan mereka ke belakang.


Saat Rogant menyipitkan matanya, dia melihat sesuatu sedang berjalan ke arah mereka.


Sudah jelas itu adalah kereta kuda yang sering di jumpai di dunia fantasi ini.


Melihat itu, Rogant dan Meily minggir di sudut jalan untuk membiarkan kereta kuda itu lewat.


Suara dari telapak kaki kuda yang berlari dengan tidak teratur itu semakin keras kian mendekati kelompok Rogant.


Saat dia berpikir untuk mengabaikan suara berisik yang menganggu telinganya itu, tiba tiba suaranya berhenti.


Kereta kuda itu berhenti tepat di depan Rogant, jadi dia memiringkan kepalanya kebingungan.


Segera seseorang turun dari kereta itu dan berjalan menghampiri Rogant.


“Hei, apa yang kau lakukan di jalan ini sendirian? Jika ada bandit gimana, itu bahaya!”


Seorang pria tua dengan jenggot yang tebal dan topi yang terbuat dari kulit hewan mengatakan hal itu dengan nada tinggi.


Rogant mengangguk paham dan memasang senyum lembutnya seperti biasa.


“Yah, kau benar. Maafkan aku, maafkan aku. Tapi, tenang saja aku tidak sendirian.”


Mendengar perkataan Rogant yang aneh, pria tua itu melirik ke arah gadis kecil yang bersembunyi di balik tubuhnya.


Tapi, pria tua itu segera kembali menatap ke arah Rogant dengan tatapan lembut.


“Begitu, jadi kalian berdua. Maafkan aku. Pertama, perkenalkan namaku Queran Hohol, aku adalah seorang pedagang keliling.”


Memperkenalkan dirinya dengan sopan, Rogant hanya mengangguk untuk menanggapinya.


Dia juga menatap ke arah pria tua yang bernama >Queran Hohol< itu dan memperkenalkan dirinya.


“Begitu, aku mengerti, Queran-san. Kalau begitu, perkenalkan namaku Night Rogant, dan gadis ini adalah Night Meily. Yah, kami adalah kakak beradik biasa seperti pada umumnya.”


Mendengar itu, yang pertama kali bereaksi adalah Meily yang berada di balik tubuh Rogant.


Dia menarik-narik jubah Rogant seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi, Rogant mengabaikannya.

__ADS_1


Queran yang melihat mereka berdua hanya mengangguk paham, lalu dia tersenyum kecil dan berkata.


“Ngomong-ngomong kalian ingin pergi ke mana? Kalau tidak masalah aku bisa mengantarkan kalian berdua.”


“Tidak perlu repot-repot, kami tidak apa-apa. Sebaiknya Queran-san lanjutkan saja, sepertinya anda sedang terburu-buru.”


“Tapi, sangat berbahaya jika kalian hanya berdua di sini, aku dengar terkadang ada bandit atau binatang iblis yang muncul di daerah sini. Jadi, lebih baik ikut aku saja.”


“Ah, begitu ya. Maafkan aku, maafkan aku. Ini salahku, aku buruk, aku buruk.”


Melihat tingkah Rogant yang sedikit aneh, Queran menyipitkan matanya menatap Rogant.


Meskipun dia sedikit curiga dengan Rogant, tapi kecurigaan itu segera sirna saat Rogant kembali berbicara.


“Meily, dia orang baik. Jangan bunuh dia.”


Setelah itu, sesuatu yang hitam dan gelap muncul dari bawah bayangan Meily dan menebas leher dari pria tua itu.


Semuanya berakhir dalam sekejap, kepala Queran segera terbelah dan melayang meninggalkan tubuhnya.


Matanya melebar tidak percaya, tidak ada rasa sakit yang dia rasakan, dia terkejut melihat tubuhnya yang terpisah dari kepalanya.


Setelah berputar beberapa kali di udara, kepalanya terjatuh ke jalan dengan bekas darah yang bermuncratan.


Lalu, tubuhnya yang sudah berpisah dengan kepalanya juga ikut terjatuh seperti boneka yang talinya terputus.


Melihat tuannya mati mengenaskan, kedua kuda yang ada di kereta kuda itu menjerit dan berlari ketakutan.


Akan tetapi, segera kegelapan menerjang ke arah mereka dan membunuh kedua kuda itu dengan kejam.


Tubuh mereka di mutilasi menjadi beberapa bagian dan mati begitu saja.


Rogant yang melihat kejadian itu menghela nafasnya dengan berat dan menatap ke arah Meily yang menjadi pelakunya.


“Meily, bukankah sudah aku bilang jangan di bunuh.”


Mendapatkan teguran dari Rogant, Meily menundukan kepalanya dengan ekspresi bersalah.


“Maafkan aku, saat aku mendengar kata 'bunuh' dari Rogant, Meily pikir kau menyuruhku untuk membunuhnya.”


Mendengar alasan Meily yang sedikit aneh, mau tidak mau Rogant menghela nafas lagi.


Bukan berarti Rogant menyalahkan Meily karena membunuh pria tua tadi, hanya saja...


“Setidaknya kau tidak perlu sampai membunuh kuda nya juga. Jika seperti ini terus, kita masih lama sampai ke Ibukotanya.”


“Umm~ Karena Meily sudah lama tinggal di hutan. Meily jadi sedikit peka dengan keberadaan hewan, jadi aku tidak sengaja ikut membunuhnya.”


Yah, bagaimanapun, di sini Meily sudah mengatakan alasannya dengan jelas dan meyakinkan.


Dia melakukan itu karena biasanya kalau di dalam hutan, Rogant selalu menyuruhnya untuk membunuh binatang iblis, jadi apa boleh buat.


Di sini Rogant harus memakai kerendahan hatinya dan memaafkan perbuatan Meily.


“Baiklah, tidak apa-apa. Meily hanya berusaha untuk melindungiku, jadi aku akan memaafkan mu. Tapi, sekarang tolong bantu aku untuk membersihkan mayat mereka.”


Mengelus kepala gadis kecil yang bersedih itu, Rogant mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Jadi berhentilah bersedih...


Mendengar itu, Meily mengangkat kepalanya dan menikmati tangan Rogant yang mengelus kepalanya.


“Hmm~ Aku mengerti!”


Sudah kembali bersemangat lagi, Meily membantu Rogant untuk membersihkan mayat-mayat yang ada di sana.


Sangat berbahaya jika menaruhnya begitu saja di pinggir jalan, jadi mereka menguburnya di dalam hutan.


Setelah itu, mereka kembali lagi berjalan kaki menuju Ibu kota Kerajaan Lavendel.


Sebenarnya, kejadian seperti ini sudah terulang sebanyak tiga kali selama dalam perjalanan mereka.


Berkat Meily yang selalu tanpa pikir panjang membunuh siapapun yang lewat, mereka terpaksa harus melakukan perjalanan dengan berjalan kaki.


Namun, Rogant hanya membiarkan Meily melakukan apapun yang dia suka, jadi dia terpaksa harus menerimanya.


Jika saja Meily tidak melakukan pembunuhan secara tiba-tiba, mungkin saja mereka sudah mendapatkan tumpangan dan sampai lebih cepat ke Ibu kota Kerajaan Lavendel.


“Yah, perjalanan lama juga tidak buruk.”

__ADS_1


—Sekali lagi, Rogant kembali berjalan sambil bergandengan tangan dengan Meily di jalan bebatuan yang sepi.


__ADS_2