
Hembusan angin musim semi membelai pipi Kizuna saat dia membuka jendela kamarnya.
Wajah cantiknya tersenyum lembut saat dia menarik nafas dan menghelanya, “Baiklah, sudah jelas bahwa hari ini akan jadi hari yang begitu indah.”
Burung-burung bersiul merdu di pagi hari yang segar, bunga-bunga menghiasi dunia dengan keindahannya sendiri.
Merasa puas dengan gelombang musim semi di pagi hari, Kizuna pergi dari kamarnya menuju kamar mandi. Dia biasanya mandi di air terjun yang berada di tengah hutan, itu adalah tempat rahasianya.
“Musim semi telah datang~ Musim semi telah datang~ Musim kami telah datang~” Dia bernyanyi dengan suara khasnya sendiri.
Itu adalah nyanyian yang sering di nyanyikan oleh ras-nya saat mereka menyambut musim semi. Yah, untuk menghibur diri saja.
Dia berjalan dan menari, saat itu juga telinga nya berkedut. Dia mendengar suara, itu adalah suara yang cukup keras dan deras.
Dia sangat familiar dengan suara itu, itu adalah suara dari cipratan hantaman air yang terjatuh dan aliran sungai yang deras.
Tanpa ragu sedikitpun, Kizuna pergi ke sumber suara tersebut dengan senyuman yang bahagia, dia terlihat seperti anak kecil yang tidak sabar untuk pergi bermain.
Setelah itu, matanya terpesona dengan pemandangan alam menakjubkan yang berada dihadapannya.
Itu adalah sebuah air terjun, sebuah aliran air yang terjatuh dan terus mengalir sampai ke laut, di sebelahnya terlihat seperti kolam. Di sanalah, Kizuna akan membasuh tubuhnya.
“Oohh~ Sudah lama sekali aku tidak ke sini.” Ujarnya, suaranya begitu halus dan hangat, terdengar seperti godaan malaikat. Sudah berapa banyak pria yang terpikat oleh suara indah itu, “Musim dingin benar-benar kejam. Tubuhku benar-benar menyukai air ini, inilah kenikmatan musim semi.”
Kizuna menyentuh air pelan-pelan dengan kaki putih dan halusnya untuk memeriksa apa airnya terlalu dingin atau tidak. Tapi, sepertinya itu sudah cocok, jadi dia tidak perlu ragu lagi untuk memasukinya.
Perasaan senangnya juga membuat sembilan ekornya ikut bereaksi. Mereka berdansa di belakang Kizuna.
Hembusan angin menyentuh kulit putihnya saat Kizuna mulai melepaskan satu per satu pakaiannya— Umm, Meskipun aku bilang satu per satu, sebenarnya dia hanya memakai satu pakaian, kalian taulah, dia kebiasaan tidak memakai pakaian dalam.
Yah, begitulah. Rasa dingin dan hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya saat dia melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam kolam sungai khusus dirinya sendiri.
“Aaahh~ Ini sangat nikmat~”
Suaranya terdengar sedikit mesum saat dia mengatakannya. Perasaan seperti di selimuti oleh alam benar-benar membuatnya sangat nikmat sampai lupa dengan dirinya sendiri.
Saat ini, Kizuna yang telanjang seperti saat dia baru lahir sedang mandi di bawah kolam dekat pancuran air terjun.
Siluetnya begitu indah bahkan membuat para Dewa jatuh cinta kepadanya.
Sembilan ekornya bersinar biru cerah saat dia mulai membasahi sekujur tubuhnya yang halus, parasnya yang cantik dan menggoda benar-benar cocok untuk di sebut malaikat.
Dadanya yang besar, lengkungan tubuh yang ideal, dan kulit seputih salju membuatnya benar-benar tidak manusiawi.
Ini adalah gambaran dari keindahan yang melampaui kemanusiaan, sebuah lukisan yang hanya bisa di lukis oleh para Dewa.
Kau bisa menyebutnya maha karya Dewa, Pelacur Di Musim Semi.
“Oh, gawat, aku terlalu terbawa suasana. Ini sudah waktunya, aku tidak ingin membuat dia menunggu lama.” Katanya, segera naik dari kolam itu setelah dia berendam cukup lama.
Ada perasaan hangat di dada Kizuna saat dirinya mengingat pemuda itu. Dia tidak yakin perasaan apa sebenarnya ini, baginya itu sangat asing, tapi dia menyukainya.
Pemuda itulah yang telah memberinya perasaan seperti ini.
Pemuda dengan rambut putih yang bersinar seperti bulan di langit malam, dia memiliki paras wajah yang tidak manusiawi.
Mata hitamnya terlihat sangat misterius seakan-akan dia sedang mengemban kutukan yang sangat kuat dan dalam.
Senyumannya yang menyihir telah memikat banyak kehidupan menuju kematian demi kebahagiaan egoisnya sendiri.
Pemuda itu memiliki sifat yang polos, dia adalah orang polos dengan kekejaman murni. Eksistensi dari salah tujuh dosa besar, yang mengemban dosa Kebanggaan.
Dia adalah seorang pemuda yang telah menerima Kizuna apa adanya.
Dia adalah seorang pemuda lemah yang terlihat sangat mudah untuk di bunuh.
Dia adalah seorang pemuda remaja yang lemah dan satu-satunya keberadaan di dunia ini yang bisa menolong >Kizuna Miko<
Seseorang yang sangat Kizuna dambakan, Night Rogant adalah satu-satunya orang yang berhasil merebut perasaannya.
Hal itu telah membuat Kizuna kacau dengan perasaan aneh yang terus menghantuinya.
Saat dia memikirkan pemuda itu, tubuhnya terasa panas seperti terbakar.
Saat dia berbicara dengannya, tubuhnya terus berteriak menginginkannya.
Saat pemuda itu menatapnya, dia merasa emosi bahagianya memuncak.
Saat dia bersama dengannya, dia hanya bisa memikirkan pemuda itu.
Saat pemuda itu memanggil namanya, jantungnya tidak bisa berhenti berdegup.
Dia hanya membutuhkan pemuda itu, dia hanya menginginkan pemuda itu, dia hanya bisa memikirkan pemuda itu, dia hanya ingin pemuda itu terus bersama dengannya untuk selamanya. Karena bagaimanapun, hanya dirinya sajalah yang dia cintai.
__ADS_1
Setelah Kizuna memikirkan hal itu, tiba-tiba tubuhnya terasa sangat panas, dia memeluk erat seluruh tubuhnya yang indah. Tangannya perlahan mencapai perut menuju selangkangannya.
“Aaaaahhh... nnh... ahh... Aku menginginkan dirimu, Rogant... Jadikanlah aku milikmuuu..” Kizuna mendesah, dia yang telanjang mulai memanas, ekornya berdansa gembira.
Dia tidak bisa berhenti memikirkan pemuda itu, Kizuna mulai mengelus perutnya dan semakin ke bawah.
“... Aaah~♡ Aku mencintaimu, Rogant... Aku ingin kau menghancurkankuiii~~♡”
Jadi dia melanjutkan, melepaskan hasratnya sementara termakan oleh fantasi tentang ular python berkepala besar, seekor ular python yang panjang dari sesuatu yang bersembunyi di antara kaki Rogant.
...---[★★★★★★]---...
Itu adalah pagi hari, di saat Kizuna masih melakukan kegiatannya sendiri.
Saat ini, di depan gerbang kota, Rogant dan Meily sedang bersama di dalam sebuah kereta kuda ala dunia fantasi.
Namun, yang menarik keretanya bukan kuda, melainkan seekor naga. Dia terlihat seperti dinosaurus, mungkin raptor. Hanya saja, dia memiliki tanduk hitam di kepalanya.
“Hmm~ Meily merasa ada yang kurang.” Kata Meily, mengerutkan keningnya, berpikir.
“Ada apa?” Tanya Rogant, di sebelahnya, “Apa ada sesuatu yang ketinggalan?”
“Emm~ Bukan... Hanya saja, Meily merasa tidak nyaman. Seperti... Umm, ada sesuatu yang kelupaan.” Meily menjawab, dia kurang yakin dengan perkataannya.
Penjelasannya sedikit ambigu, jadi Rogant memiringkan kepalanya kebingungan.
—{Oh ya, dulu aku juga pernah seperti ini. Kalau tidak salah, waktu itu ada kegiatan darmawisata. Aku kelupaan sesuatu, tapi, aku tidak bisa mengingatnya apa itu.}
Tidak ada yang aneh dari hal itu, ini adalah sesuatu yang sering terjadi saat orang ingin berpergian jauh.
Mereka selalu memeriksa barang-barangnya beberapa kali, takut ada yang kelupaan.
Akan tetapi, meskipun sudah di periksa dua atau tiga kali, pada saat perjalanan, pasti selalu ada satu atau dua barang yang lupa di bawa.
Kejadian ini sering terjadi, bukan hal yang aneh. Jadi, Rogant hanya diam dan melihat tingkah laku Meily yang kebingungan.
Sekarang mereka akan melakukan perjalanan jauh, tujuannya adalah >Kuil Kehidupan<
Yah, bukan berarti mereka ingin bertamasya atau apa. Mereka adalah penantang bodoh yang ingin menaklukkan >Kuil Kehidupan<
Tempat yang akan mereka kunjungi sangat berbahaya, hanya orang toIoI yang akan pergi ke sana dengan niat seperti ingin pergi untuk bermain-main atau piknik.
Jadi di sini, Rogant harus membiarkan Meily kebingungan dan memberinya perasaan bahwa mereka pergi bukan untuk piknik.
Apa yang menunggu mereka di sana? Tidak ada seorangpun yang tau akan hal itu. Tapi, yang jelas itu bukanlah sesuatu yang baik.
Selagi Rogant memikirkan hal itu, tiba-tiba seseorang menarik jubah sihirnya yang memiliki efek khusus yang unik. Dia adalah Meily, wajahnya terlihat memelas.
“Umm... Rogant, Meily tidak menemukannya. Meily tidak menemukan Teddy dimana pun.” Kata Meily, dia terlihat hampir menangis.
Rogant menyipitkan matanya, dia menatap ke arah Meily. Bukan berarti tidak senang, hanya bingung saja.
“Teddy siapa?” Dia meludahkan sumber kebingungannya.
Meily menjawab, menundukkan kepalanya, sedikit malu, “Dia... Dia seekor beruang.”
“Beruang?” Rogant semakin bingung hampir terlihat seperti menggerutu, penjelasannya Meily tidak berguna, “Apa kau memelihara seekor beruang? Aku tidak tau.”
“Umm... Apa tidak boleh?” Tanya Meily, seperti anak kecil yang memohon dengan orang tuanya untuk memelihara kucing.
“Yah, aku hanya terkejut saja. Aku pikir, kau lebih suka kucing atau anjing, jadi beruang benar-benar mengejutkanku.” Jujur saja, Rogant benar-benar terkejut, tapi, dia tetap tersenyum lembut saat dia menunduk dan menjajarkan matanya dengan Meily, “Tenang saja, aku mengijinkan mu, itu terserah dirimu mau memelihara apapun. Selama kau bahagia, itu saja sudah cukup untukku.”
Dia menepuk kepala gadis kecil itu. Meily mengangkat kepalanya, tapi, dia tidak terlihat senang.
Jadi, Rogant bertanya, “Apa ada sesuatu lagi yang kau inginkan? Seperti naga.”
Meily menggeleng cepat, “Bukan!” Dia berteriak, lalu menundukkan kepalanya dan berbicara dengan nada sedih, “Meily hanya ingin Teddy... Tapi, Meily tidak tau dimana dia sekarang. Meily ingin mengajaknya ikut.”
—{Pada intinya Teddy itu hilang, kan? Meily benar-benar membingungkan.} Rogant mendengus.
Dia menatap ke arah Meily sekali lagi, dia mengelus kepalanya.
“Tenang saja, beruang itu pasti ketemu.” Kata Rogant, terlihat seperti seorang kakak yang menghibur adiknya, “Tapi, mungkin ini bagus untuk beruang itu.” Lanjutnya.
Meily bingung, di memiringkan kepalanya, “Hmm~ Kenapa?”
“Soalnya... Umm, yah, pikirkan sajalah,” Rogant mengangkat jari telunjuknya saat di menjawab, “Coba kau pikirkan. Saat ini kita akan pergi ke tempat yang berbahaya, kan? Dan saat itu kau membawa beruang mu. Bukannya nanti dia mati, apa kau tidak takut beruang mu di makan sama binatang iblis? Bukannya akan lebih baik, jika kita meninggalkannya saja.”
Berkat penjelasan Rogant yang bahkan monyet pun mengerti, Meily menjadi sedikit ragu, dia sedih atau lebih tepatnya kesepian.
Lalu, Meily menggeleng pelan, “Tidak, Meily bisa melindunginya. Karena Meily kuat, jadi pasti baik-baik saja!” Kata Meily, keras kepala.
Rogant tersenyum masam, bahunya merosot, dia kesusahan berhadapan dengan Meily yang imut. Untuk bisa mengatasi ini, dia memerlukan sebuah bantuan.
__ADS_1
“Pride-chan, bagaimana ini? Apa kau memiliki sebuah cara?” Tanya Rogant merajuk kepada Pride System yang ada di kepalanya.
Tentu saja, Pride System segera menjawab pertolongan Masternya.
[Yah, anda tidak perlu khawatir. Sebentar lagi, kesalahpahaman ini akan selesai.]
“Hah, apa maksudmu—” Rogant berhenti melanjutkannya, matanya terangkat, dia melihat siluet seseorang.
Siluet itu memiliki rambut panjang berwarna biru cerah yang sedikit bersinar, dengan iris mata berwarna biru cerah yang terlihat menggoda.
Wanita itu memiliki tubuh dengan daya tarik seksual yang tinggi, tapi, yang lebih menarik darinya adalah sembilan ekor rubah yang berdansa di belakangnya.
Dia memakai pakaian gadis kuil yang terbuka memperlihatkan belahan dadanya, Kizuna Miko sedang berjalan santai di tengah keramaian ke arah Rogant dan Meily.
Tapi, karena dia memakai jubah sihir yang di berikan oleh Rogant, dia sama sekali tidak menarik perhatian. Semua orang yang berlalu lalang hanya berjalan mengabaikannya.
Akan tetapi, mata Rogant bukan melihatnya. Dia melihat ke arah sesuatu yang di tangannya.
“Itu...” Rogant menyipitkan matanya untuk bisa melihat lebih jelas, lalu berkata, “Bukannya, itu boneka beruang.” Setelah itu, dia paham, tapi kebingungan juga, “Hah! Apa mungkin?”
[Yah, begitulah, Master.]
Pride System memberinya konfirmasi yang akurat, Rogant mengerang, dia mengutuk dirinya yang salah paham sebelumnya.
“Seperti yang aku duga, Meily benar-benar membingungkan.” Kata Rogant menggerutu.
“Heii~! Meily-chan, kau melupakan bonekamu.” Teriak Kizuna, tapi suaranya agak lirih.
Meily yang melihat boneka yang dia cari-cari langsung tersenyum, dia tersenyum lebar seperti anak kecil yang akhirnya di belikan mainan oleh orang tuanya.
“Aaah~ Teddy, darimana saja kau?” Meily berlari mendekat ke arah Kizuna, atau lebih tepatnya boneka itu, “Hei, Kizuna cepat berikan Teddy kepada Meily.”
Kizuna tersenyum manis nan menggoda, dia dengan anggun memberikan boneka itu kepada Meily, “Baiklah, selanjutnya jangan sampai lupa.”
Mengabaikan perkataan Kizuna, Meily memeluk boneka beruangnya— Teddy, dengan erat.
Kizuna yang melihat itu tertawa kecil, padahal saat ini mereka akan menuju tempat yang mematikan, tapi Meily masih saja ceria.
Yah, itu adalah hal yang bagus.
“Baiklah, aku sudah siap, Tuan. Kita bisa berangkat kapan saja.” Kata Kizuna, suaranya terdengar halus dan hangat.
Rogant menatap Kizuna dengan tertegun, dia terus menatapnya hampir tidak berkedip.
Kizuna yang menyadari hal itu, mengerutkan bibir lembutnya yang merah, “Umm... Apa ada sesuatu di wajahku, Tuan?” Dia bertanya, pipinya memerah, dia tersipu malu.
Rogant tersadar bahwa dari tadi dia menatap ke arah Kizuna, dia mengedipkan matanya, dan menggeleng pelan, “Ah, tidak, maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, hari ini kau terlihat berbeda. Apa terjadi sesuatu?”
Pipi Kizuna semakin memerah sampai ke telinganya, ekornya juga ikut beraksi, “Ti-Tidak! Sama sekali tidak terjadi apa-apa, Tuan! Hari ini saya hanya sedikit berdandan lebih lama saja!” Dia segera menepis perkataan Rogant dengan gagap.
“Begitukah? Yah, jika seperti itu... Baiklah. Yah, seorang wanita juga pasti memiliki satu atau dua kegiatan yang tidak ingin orang lain ketahui.” Kata Rogant santai.
Hal itu membuat Kizuna tersentak, tanpa sadar dia menarik nafasnya. Lalu, Rogant pergi meninggalkan Kizuna yang masih di sana diam membeku.
“Ummm... Apa jangan-jangan dia mengetahui nya?” Kizuna bertanya kepada dirinya sendiri, pikirannya mengarah kepada saat dia berada di air terjun.
Alasan kenapa dia terlambat adalah karena sebelumnya, saat dia di air terjun. Dia telah melakukan itu dengan sangat intens, jadi dia terbawa suasana dan lupa dengan waktu.
Kizuna sedikit ragu dan bertanya-tanya, apa Rogant mengetahui dirinya telah melakukan itu sambil membayangkannya.
“Tidak tidak tidak! Itu pasti hanya perasaanku saja. Jadi, aku lebih baik melupakannya dan bersikap seperti biasa.” Dia menepis isi pikirannya.
Kizuna bisa merasakan dengan jelas bahwa saat ini pipinya memerah, dia memegang kedua pipinya dan bisa merasakan bahwa pipinya lebih hangat dari biasanya.
“Uuh...! Ini memalukan.”
Berusaha untuk tidak memikirkannya, Kizuna berjalan ke arah kereta kuda atau naga itu. Dia duduk di kursi kusir karena hanya dia saja yang bisa mengendarai kereta naganya.
Rogant duduk di dalam gerbongnya, Meily juga, dia duduk di pangkuan Rogant sambil bermain dengan boneka beruangnya— Teddy.
Karena ini adalah kereta kuda yang di beli oleh Kizuna, dia membeli gerbong kereta yang cukup mewah, terlihat seperti gerbong kereta milik suatu bangsawan besar dengan corak bunga-bunga emas.
Yah, memang cukup mahal, tapi selama itu untuk Rogant, maka dia tidak peduli. Lagian, mereka juga memiliki uang simpanan yang mereka rampok dari organisasi itu.
Merasa sedikit tegang, Kizuna memegang dadanya yang besar dan menarik nafas dan menghelanya kembali.
Setelah itu, dia memegang tali pelana naganya seperti seseorang yang sudah terbiasa, lalu Kizuna menghempas talinya.
Naga itu mengaum keras, menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras, lalu berlari dengan sangat cepat. Kereta berjalan dengan suara yang berderit.
“Baiklah, waktunya berangkat. Tujuannya adalah >Kuil Kehidupan
Dengan demikian, kelompok Rogant melangkahkan tujuannya pergi ke >Kuil Kehidupan<
__ADS_1
Salah satu dari tempat paling mematikan di dunia. Demi mencari tau kebenaran dari gadis berambut putih itu, Night Rogant berangkat menuju tempat yang mematikan tersebut.