
Di sebuah padang rumput dengan warna hijau megah dari rerumputan yang membentang luas sejauh mata memandang.
Begitu dia terbangun, remaja itu kebingungan dengan situasinya.
Dia, yang seharusnya sudah 'mati', masih bisa melihat dan merasakan tubuhnya yang seharusnya tidak mungkin untuk dia rasakan lagi.
Tempat ini indah, hanya saja, tidak memiliki tanda-tanda kehidupan dimana pun, yang membuat buluh kuduknya merinding.
Hal ini membuat remaja itu sadar, kalau dia sekarang berada di tempat yang tidak dia kenal.
“....”
Namun, meski demikian, dia tetap tenang dalam menghadapi situasi semacam ini.
Wajahnya yang dingin dan apatis tidak memperlihatkan tanda-tanda ketertarikan.
Tapi, ada satu hal yang menarik perhatiannya.
Mata gelapnya menoleh ke salah satu tempat yang paling mencolok di tempat ini.
Itu berada tidak jauh dari tempatnya, dan dengan rendah hati memperlihatkan entitasnya ditengah-tengah padang rumput yang luas ini.
Pada saat itu juga, 'dia' menyapanya dengan suara yang lirih dan lembut—
“Yah, selamat pagi~ Apa tidurmu nyenyak?”
Dia tersenyum, melihat ke arah remaja itu dengan tatapan yang penuh arti.
Saat kau melihatnya lebih jelas lagi, dia adalah seorang gadis— tidak, mungkin wanita. Dia memiliki tubuh yang masih terlihat muda, hanya saja, aura misterius yang dia keluarkan, membuat definisi itu tidak cocok untuknya.
Dia duduk dikursi putih bersama dengan meja dan payung putih yang didekorasi seperti halnya pesta teh ala bangsawan.
Di atas mejanya terdapat banyak cemilan dan juga seperangkat alat teh yang unik.
Teko itu memiliki corak biru ungu dan membentuk pola bunga mawar yang indah.
Saat melihat hal itu.
Iris mata remaja itu menajam, fokus hanya pada gadis berambut putih yang duduk dengan anggun dikursinya, sembari menikmati tehnya di atas cangkir yang istimewa.
Gadis itu tersenyum, dengan perasaan aneh yang membuat remaja itu tidak bisa berpaling darinya.
“Apa yang kau lakukan di sana? Ke sini lah, aku sudah menyiapkan kursi khusus hanya untukmu~”
Suaranya halus, seperti nyanyian peri yang suci.
Wajah polosnya yang putih, terlihat tidak manusiawi saat dia memiringkan kepalanya dan tersenyum bagaikan kelopak bunga yang mekar.
Gadis itu terlalu cantik untuk disebut manusia, dan terlalu berlebihan untuk disebut malaikat.
Kecantikannya yang menggoda seperti kupu-kupu beracun yang bisa dengan mudah menghipnotis orang lain untuk menyentuhnya.
Kecantikannya suci, seperti bilah pedang tajam yang masih belum tergores sedikit pun.
Rambut putih keperakannya tampak begitu indah, sampai-sampai tidak seorang pun berani untuk mengotorinya.
Citra yang indah, membuat Tuhan sekali pun tidak berani untuk memaafkan dirinya.
Pelita itu tampak rapuh, saat mata sayu dari pupil birunya yang seindah langit menutup seakan-akan akan tertutup untuk selamanya.
Pujian yang tulus akan terlalu sombong, bahkan untuk dirinya sendiri.
Kecantikannya terlalu murah hati untuk diperlihatkan kepadanya secara alami.
Yah, meski begitu...
“... Aku tidak memiliki alasan untuk menolak ajakannya.”
“Silahkan di nikmati~”
Tanpa sedikitpun keraguan, remaja itu duduk dikursi yang telah disiapkan, menyeruput teh saat gadis itu menyeduhkan secangkir teh untuknya.
__ADS_1
Rasanya manis, meski belum di isi dengan gula, teh itu terlalu manis untuk dinikmati.
“Bagaimana rasanya?”
“Ini... Enak.”
“Syukurlah~ Aku akan menuangkannya lagi jika kau mau.”
“Tidak, terima kasih.”
Remaja itu menaruh kembali tehnya ke dalam alasnya, dan menolak tawaran gadis itu dengan sopan.
Ibu pernah mengatakan kepadaku kalau aku harus bersikap sopan saat berhadapan dengan seorang gadis.
Penalaran itu sedikit mengejutkan untuk remaja yang seperti dirinya.
Dia sepertinya sudah sedikit tenang untuk bisa mengingat kembali ingatan masa lalu yang kelam.
Hembusan angin sejuk menerpa rambut mereka berdua, yang mana membuat remaja itu terpesona saat gadis itu membaguskan kembali rambutnya yang tertiup oleh angin.
Kemudian, sembari menikmati teh dengan senyuman lembut di wajah manisnya, gadis itu memulai pembicaraannya.
“Baiklah, aku pikir di sini aku perlu menjelaskannya kepadamu, tentang kenapa kau bisa berada di sini~”
Mata sayu gadis itu menyipit dengan indah, seolah-olah sedang mencari gara-gara dengan menggunakan kecantikannya yang tidak adil.
Tapi, dengan ekspresi yang apatis, remaja itu hanya membalasnya dengan suara yang datar.
“Jujur saja, aku masih tidak mengerti. Jadi, aku akan sangat berterima kasih jika kau menjelaskannya.”
Sang gadis mengedipkan matanya, dan menghela nafasnya saat dia memulai kata-katanya yang selanjutnya.
Mulai dari sini, ada sedikit perubahan dalam suara bicaranya yang lugu. Setiap kata yang dia lontarkan memiliki kesan misterius yang membuat orang meragukan eksistensinya.
“Pertama, bolehkah aku bertanya?”
“Apa?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tau, kebanyakan orang yang datang ke sini selalu muntah-muntah saat melihatku, atau otaknya menjadi gila dan melakukan bunuh diri.”
“Itu konyol.”
“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak kesal karena tiba-tiba dipanggil ke tempat ini?”
Mendengar itu, remaja itu memiringkan kepalanya dengan acuh tak acuh saat menjawabnya.
“Aku tidak memiliki alasan untuk marah.”
Ibu juga sering mengatakan untuk menerima semua kenyataan, itu juga salah satu kunci menuju kebahagiaan.
“Begitu, maafkan aku karena telah bertanya hal yang tidak penting... bagaimanapun, itu sedikit membuatku tertarik.”
Alis mata remaja itu terangkat, dia mengangkat pandangannya untuk menatap langsung mata biru milik gadis itu.
Dia menyipitkan matanya, dan bertanya dengan suara yang dingin.
“Apa maksudmu?”
Gadis itu membalasnya dengan senyuman lembut, dan dengan natural dia menarik poninya, lalu berkata dalam ketenangan.
“Kematian adalah puncak dari bentuk sebuah kebahagiaan... aku rasa aku tidak perlu menyebutkannya lagi. Tapi, pemahaman yang kau miliki telah berada di luar nalar dari seorang manusia.”
“Jadi?”
“Oleh karena itu, aku sangat tertarik kepadamu.”
Remaja itu mengerutkan keningnya, mencoba untuk mencari arti sebenarnya dari kata-kata itu.
“Bisakah aku menganggapnya sebagai pernyataan cinta?”
__ADS_1
“Eh?”
Tiba-tiba mata gadis itu melebar, dia tidak mempertimbangkan apa yang dia katakan, dan secara tidak sengaja mengatakan kalimat yang membawa kesalahpahaman.
“Ma-Maafkan aku!”
“Kenapa kau meminta maaf?”
Begitu dia menyadari kesalahannya, dia segara menutupi wajahnya dengan lengannya, dan dengan buru-buru memalingkan pandangannya ke arah yang berbeda.
Wajahnya memerah, pipinya merona, dia tersipu malu, dan berusaha keras untuk menenangkan pikirannya.
“...?”
Remaja itu menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, jadi dia dengan santai berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuhnya, dan menempelkan tangannya dikening gadis itu.
“Ah, uh?!”
Di saat yang bersamaan, gadis itu mulai salah tingkah.
Pipinya menegang dalam kemerahan saat melihat remaja itu yang mendekatkan wajahnya dengan dirinya, membuat bibir mereka hampir berciuman.
“Apa kau baik-baik saja?”
Perasaannya meningkat saat dia memikirkan betapa bahagianya dirinya.
Tapi, dia mencoba untuk menyangkalnya—
“Biarkan aku sendiri!”
Gadis itu menepis lengan remaja itu yang menyentuh keningnya.
Kemudian, dengan terburu-buru dia melompat dari kursinya dan meringkuk di bawah untuk menyembunyikan perasaannya yang bergejolak didalam hatinya.
Sembari menutupi kedua pipinya yang memerah dengan kedua telapak tangannya yang kecil, dia membelakangi remaja itu, yang masih bingung dengan tingkah lakunya yang tiba-tiba berubah.
Remaja itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia memiringkan kepalanya, dan mencari alasan di balik semua ini.
Ibu pernah mengatakan kalau hati seorang gadis itu sulit di mengerti, ternyata itu benar. Aku tidak mengerti.
Mengingat kembali ajaran dari ibunya, remaja itu menggaruk pipinya dan mencari cara untuk melarikan diri dari situasi ini.
“Ngomong-ngomong, kalau dipikir-pikir. Aku masih belum mengetahui siapa namamu?”
Itu pengalihan yang sempurna, tapi dia masih meragukan keberhasilannya.
Dengan gugup, dia menunggu respon dari gadis tersebut.
Waktu terus berlalu, gadis itu masih diam, dan suasana masih dalam keheningan yang berlarut-larut, membuat waktu di tempat itu seakan-akan berhenti.
Sesaat kemudian, setelah diam selama lebih dari 10 detik, gadis itu berdiri, menolehkan pandangannya lagi ke arah remaja itu, dan berkata sambil berusaha menyembunyikan rasa malunya.
“Na-Namaku Pandora, Pandora Or'l Happiness. Kau bebas ingin memanggilku dengan nama apa.”
Alis mata remaja itu terangkat, tapi setelah itu, dia tersenyum dan berkata.
“Itu nama yang bagus... Pandora.”
Mendengar hal itu, Pandora akhirnya mengangkat pandangannya, mencoba untuk melihat raut wajah dari remaja itu.
Matanya melebar, seolah-olah dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Kemudian—
“Namaku Rogant, Night Rogant. Kau juga bebas ingin memanggilku dengan sebutan apa.”
Dengan demikian, hubungan diantara mereka berdua semakin dekat.
Tapi.
Tidak ada siapapun yang akan memikirkannya...
__ADS_1
—Bahwa ini semua akan berakhir menjadi sebuah penyesalan yang terburuk!