Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 04: Skill Paling Menakjubkan


__ADS_3

“Semuanya telah berakhir.”


Gumaman sepi itu mengisi seluruh ruangan, begitu dia menyadarinya, dia telah sendirian di tempat itu, bersama dengan mayat gadis yang merupakan kekasihnya.


“Ini sudah berakhir.”


Dia mengulangi perbuatannya, menembus dosanya dengan perkataan yang hampa. Kesepian saat ini adalah apa yang mengutuknya.


Seperti sedang melamun, wajah remaja itu menatap lurus cinta kasihnya yang terbaring lugu.


Dia telah menangis sebanyak yang dia bisa, tapi dia tidak pernah bisa memberikan sebutir kebahagiaan untuk kekasihnya.


“Seharusnya aku menciumnya terlebih dahulu sebelum membunuhnya... Yah, percuma, ini hanya penyesalan, lupakan saja.”


Menolak hakikatnya sendiri, remaja itu membaringkan tubuh kekasihnya.


Alih-alih menaruhnya di padang rumput yang luas, dia membawanya duduk di kursi dan membaringkan tubuhnya di atas meja.


“Jika seperti ini, kau tampak seperti hanya tertidur.”


Menatap, remaja itu sedikit tersenyum saat mengharapkan sebuah harapan yang percuma.


Kemudian, dia berjalan, menjauh dari tempat dia berdiri sebelumnya. Pandangannya sekali-kali menoleh ke arah belakang, untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.


Setelah itu, dia meraih tangannya, merebut pikirannya, dan berkata dalam tutur katanya yang terletak di dalam hatinya.


“Selamat tinggal, Pandora.”


Helaan nafas menyusul dalam diam yang damai. Setelah dia selesai menyelesaikan tujuannya, dia berlari—


Seharusnya ada pintu keluarnya di sekitar sini...


Tidak ada bukti yang valid, dia hanya menebak-nebak bahwa pemikirannya benar.


Dan—


[Pengujian telah selesai, persentase kecocokan mencapai 99%]


“Apa?!”


Rogant sedikit terkejut, dia berhenti, mencoba untuk fokus dengan suara yang tiba-tiba muncul di dalam pikirannya.


“Siapa kau?”


[Pemilihan telah selesai, syarat telah terpenuhi. Proses pemindahan akan di lakukan dalam waktu 10 detik.]


[1...]


[2...]


“....”


Pertanyaannya di abaikan, tapi, meski demikian. Tidak ada tanda-tanda ketidaksenangan dalam ekspresinya.


Rogant mengangguk dalam diam, mengerti dengan semua yang akan terjadi.


“Begitu... jadi, ini yang kau maksud.”


[3...]


[4...]

__ADS_1


[5...]


[6...]


Bibirnya membentuk senyuman, meski pandangannya gelap, tidak ada sedikitpun keraguan saat dia mulai mengekpresikannya.


“Aku mengerti.”


Begitu segalanya telah selesai, tubuhnya berubah menjadi partikel-partikel kecil berwarna biru, mengelilingi tubuhnya seperti kawanan kupu-kupu yang indah.


Mereka menggerogoti tubuhnya, dalam kedamaian tanpa rasa sakit.


Jikalau apa yang sekarang dia pikirkan adalah penyesalan, maka, dia pasti akan mendambakan waktu yang akan datang.


“Aku mencintaimu, Pandora.”


[8...]


[9...]


[10...]


[Pemindahan dimulai. Selamat datang di {Divine Protection: Pride System}, Master!]


Seketika.


Rogant menghilang, meninggalkan satu-satunya kesunyian di tempat dia berada.


\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=


Saat dia sadar, sekelilingnya adalah tempat yang gelap dan di penuhi dengan pohon-pohon besar yang rindang.


Matahari masih berdiri di atas langit, tersenyum ceria kepada dunia yang bahagia.


Dia langsung paham, bahwa dia berada di dalam hutan.


Tapi—


Ada di hutan mana dia berada?


“Adakah yang bisa menjelaskannya untukku?”


[Apa ada yang bisa saya bantu, Master?]


“Woo!!”


Alis mata Rogant terangkat, sedikit terkejut saat mendengar suara balasan datang dari dalam kepalanya sendiri.


Dia memiliki perasaan yang aneh, dan itu adalah pengalaman yang susah untuk di jelaskan.


“Kau, sebelumnya aku juga mendengar suaramu di tempat itu, siapa kau sebenarnya?”


['Siapa?' Master, mungkin pertanyaan itu sedikit kurang tepat. Karena saya bukan-bukan siapa-siapa, saya hanyalah alat yang akan anda gunakan. Tapi, jika anda bertanya 'Apa?', maka saya akan menjawab, bahwa saya adalah {Divine Protection: Pride System}. Sebuah kekuatan yang di tugaskan untuk anda gunakan.]


“Di tugaskan...?”


Mendengar itu, Rogant sedikit mengernyit,


“Bisakah kau memberitahuku siapa itu?”


[Pandora Or'l Happiness-sama.]

__ADS_1


Begitu Rogant mendengar namanya, dia tersenyum, seakan-akan dia telah kerasukan.


Ekspresi-nya seperti sedang menatap masa lalu yang kelam, dengan bocoran dingin di dalam tatapannya yang gelap.


[Master?]


Merasakan ada sesuatu yang aneh dari tingkah laku masternya, dia mencoba untuk bertanya.


Remaja itu, yang di tanyain, hanya mengedipkan matanya dalam bentuk jawabannya, dan menghiraukan topik itu dengan tingkah laku yang jelas.


“Hei, Pride-chan, bisakah kau memberitahuku apa saja yang kau miliki di dalam sana?”


[Maksud anda?]


“Kau sebelumnya mengatakan kau adalah sebuah kekuatan, kan? Aku bertanya, kekuatan apa saja itu?”


Rogant menjelaskan, dalam bahasa yang mudah di mengerti bahkan untuk anak SD.


Perihal sebuah kekuatan yang dia maksud, membuat rasa penasarannya juga meningkat, dan membuat Rogant terlihat seperti anak SD yang menebak-nebak isi kado ulang tahunnya.


[Yah, jika soal itu—]


“Pride-chan? Ada apa?”


Dengan bingung, Rogant memiringkan kepalanya, atas dugaan yang dia punya, itu mencurigakan.


Kata-kata Pride System yang tiba-tiba terhambat, membuat suasana di sekitar mereka sedikit tertegun.


Setelah itu, dalam kesunyian yang di mulai dari sebuah pertanyaan, mendatangkan bencana yang sesungguhnya—


[Master, waktu yang sangat pas, anda bisa merasakan kekuatan anda dengan pengalaman langsung.]


Tidak sempat untuk bertanya apa maksudnya, bencana yang di maksudkan telah datang terlebih dahulu melampaui apa yang dia harapkan.


Melebihi seni kekerasan, gigi taring dari sekawanan serigala menerjang dan mengoyak-koyak tubuh Rogant dalam hitungan detik.


—Saat dia menyadarinya, dia telah mati.


\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=


—Aku mendengar suara yang penuh kebencian, akan tetapi itu tidak di arahkan kepadaku.


—Kata-kata yang terbalut kebencian menghantui seorang gadis yang menangis, aku seperti mengenal siapa dirinya.


—Itu menyeramkan, sungguh menyeramkan sampai tidak bisa ku tahan lagi.


—Di hancurkan oleh tekanan suara yang tak menangkap hasrat-hasrat kebenciannya.


—Gadis itu mencengkeram jiwaku dan tidak mau lepas.


—Semakin kau bergantung pada hidup, semakin pasti pula kau akan menyakiti orang lain, bibirnya bergerak.


—Karena terawal dan terpenting, aku menyesal dan merasa bersalah sebab kita kian tenggelam menuju kedalaman.


—Jiwaku meringis, menatap buku-buku yang tak terhitung jumlahnya.


—Gadis itu berjalan, mendekatiku dan memberikanku sebuah buku yang menjadi pilihannya.


—Sesaat kemudian, aku berhasil menulis ulang kembali takdirku.


\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=

__ADS_1


[Menggunakan Skill >Book of Destiny< untuk menulis ulang takdir dari kematian menjadi kehidupan.]-


__ADS_2