Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 01: Jiwa Seorang Pendosa


__ADS_3

Remaja itu menoleh ke arah tempat pria paruh baya itu yang tergeletak di lantai, yang terus menggeliat seperti seekor cacing kepanasan.


—Dia adalah ayah mereka, atau memang begitulah yang seharusnya.


Saat pria itu menyadari tatapan gelap dari remaja itu yang sangat polos. Ketakutannya mengikat tenggorokannya dan membuat detak jantungnya berdegup kencang.


Mereka gila! Mereka sudah gila! Aku akan di Bunuh!


Itulah yang dipikirkan oleh pria itu, saat dia menyadari dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk berkomentar tentang kegilaan mereka yang diluar batas pemikirannya.


Sang ibu mendekatinya, dan mengelus kepalanya dengan senyuman yang penuh dengan kasih sayang.


Mereka adalah keluarga yang bahagia.


Itu tidak salah lagi, tapi pemahaman itu masih memiliki banyak pertanyaan yang harus diselesaikan, karena semua ini sangat tidak masuk akal.


Bagaimanapun juga...


Pria paruh baya itu sebenarnya bukanlah keluarga atau ayah mereka. Dia hanyalah korban dari kebahagiaan anak dan ibu sadis itu.


Jika kau melihat sekitar ruangan itu, kau akan melihat sebuah tumpukan mayat yang begitu banyak.


—Dan itu semua adalah mayat laki-laki.


Mereka adalah seluruh korban kesadisan dari ibu dan anak itu.


Bagaimana semuanya berakhir menjadi seperti ini?


“Ini semua demi kebahagiaan kita.”


Mereka percaya mereka bahagia, mereka percaya bahwa hanya kebahagiaan lah yang menjadi satu-satunya tujuan hidup di dunia ini.


—Tapi, bukannya aneh jika mereka bahagia tanpa seorang ayah?


Karena itu lah, jika mereka ingin bahagia dengan aset yang lengkap.


Mereka harus memiliki seorang ayah.


—Dan pria paruh baya itu menjadi korban selanjutnya untuk melengkapi kebahagiaan anak dan ibu itu.


Pada saat semuanya sudah lengkap.


Mereka bisa mati dengan bahagia.

__ADS_1


Pada awalnya, mereka berpikir bahwa tidak adil jika mereka tidak bahagia secara bersama.


Dari logika gila yang mereka kumpulkan, mereka menyimpulkan, bahwa kematian adalah keadilan dimana semua orang bisa menjadi setara.


Jadi...


Jika mereka mati sambil membawa kebahagiaan, itu adalah kebahagiaan yang setara.


Singkatnya, kematian adalah puncak dari bentuk kebahagiaan yang terindah—


“Ah, urk!”


Sesaat setelah mereka lengah dengan pemikiran mereka sendiri.


Tali yang mengikat tangan pria paruh baya itu terlepas secara tiba-tiba, seakan-akan dia telah menunggu momen-momen ini.


“A-Ayah?!”


Remaja itu tersentak dan terjatuh.


Tentu saja, pria paruh baya itu tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Dia segera menerjang tenggorokan remaja itu dan menekannya dengan sekuat tenaga.


“Mmpphhh–!!”


Dia berhasil, dia berhasil melakukannya.


Ini benar-benar sangat aneh, dia merasa bisa tertawa keras saat dia mencekik leher remaja itu.


Senyuman lebar yang mengerikan terbentuk di bibirnya, tapi itu bukan dari pria paruh baya itu melainkan dari anak laki-laki itu.


“Aa, aaah... Apa ayah akan membunuhku? Itu luar biasa!”


Apa?!


Pria paruh baya itu tersedak oleh keterkejutannya sendiri.


Remaja itu entah kenapa tersenyum lebar, seakan-akan dia juga telah menantikan momen ini.


“Maafkan aku ibu, sepertinya aku akan menjadi yang pertama untuk bahagia dan tidak bisa menepati janjiku untuk membunuh ibu.”


“Tidak perlu khawatirkan, sayang. Kau harus mendapatkan kebahagiaanmu, ini adalah sesuatu yang sepantasnya kau dapatkan. Jadi kau harus menikmatinya, kau mengerti?”

__ADS_1


Remaja itu mengangguk, yang mana membuat pria paruh baya itu mengerutkan keningnya dengan muram.


Wajahnya menjadi pucat saat dia menyaksikan kegilaan ini secara langsung. Tapi, tangannya masih tetap berada di setiap celah leher tenggorokan remaja itu.


Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa dia berbicara?! Bagaimana bisa dia tetap tersenyum di saat seperti ini?! Bagaimana bisa mereka sangat tenang?!


Pria paruh baya itu terus ketakutan memikirkan hal itu. Dia tidak mengerti dengan pola pikir dari kedua monster itu.


Kematian adalah puncak dari bentuk kebahagiaan.


—Dan itulah yang mereka percayai.


Pria paruh baya itu berkedip tidak percaya, saat dia terus menguat tangannya dileher remaja itu.


Sedangkan anak dan ibu itu hanya tersenyum seperti melihat keluarganya sedang bermain-main.


Senyuman tak kenal takut dari anak itu membuat seluruh organ dalam tubuhnya merinding.


Mata gelap remaja itu terus-menerus menaik ke atas dan berubah menjadi putih. Air liur mulai keluar dari ujung mulutnya.


Tapi.


Senyuman indah masih terbentuk di wajahnya yang tidak manusiawi.


Ini mengerikan.


Lama semakin lama kesadaran anak itu mulai menipis, busa putih keluar dari mulutnya saat dia kehabisan oksigen untuk mencerna pernapasannya.


Melihat anaknya akan mati, ibu itu berlinang air mata—


“Aaaahhh! ibu sangat iri padamu, sayang! Betapa bahagianya dirimu! Akhirnya, untuk sekian lama, akhirnya waktu ini datang juga!”


Sang ibu tersenyum, sambil memegang wajahnya yang menangis terharu. Dia benar-benar sangat bersyukur anaknya bisa mati.


Itu gila, dan kau tidak bisa memilih kata yang cocok untuk menggambarkan kegilaannya.


Yang pasti.


—Mereka adalah keluarga monster.


Setelah itu, remaja itu benar-benar mati. Dia mati dengan senyuman kebahagiaan di raut wajahnya.


Kenapa?

__ADS_1


Pria itu mencari tau jawabannya, dan dia menarik kesimpulan yang sederhana.


Dasar monster!


__ADS_2