Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 14: Divine Protection: Wrath System


__ADS_3

“Ini...”


“Maaf, sungguh maaf. Aku tidak mau melakukan ini. Aku betulan, tidak mau.”


Suaranya bergetar kaget, Meily menahan tenaganya untuk bisa tetap berdiri. Namun gagal mendukungnya dan tubuh bawahnya tertekuk hingga berlutut di atas tanah.


Api merah yang membara memantul dimata kacanya, membawa rasa panas yang mengerikan dibagian dadanya.


Darah dan daging berceceran seperti sampah yang menjijikan, mereka menumpuk seperti tumpukan kotoran hewan.


Organ manusia, dari usus hingga otaknya, telah terbuang sia-sia di atas api yang menyala-nyala, membuat mata Meily kian menjadi samar ketika lupa harus berbuat apa.


Kegilaan yang terjadi telah berubah menjadi neraka yang penuh dengan penderitaan dan kehancuran.


Jika kau berpikir apa yang terjadi.


Itu adalah sebuah kegilaan. Sebuah Kegilaan yang akan menelan segalanya.


... Terbakar, membara, dan hangus.


Apa salah manusia ini sampai mereka harus mendapatkan jenis keputusasaan seperti itu?


Sayangnya tidak ada jawaban yang logis untuk menjawab pertanyaan tersebut.


“Ah, uh...”


“Yah, aku tidak tau apa yang kau katakan, Meily-chan. Tapi, kurasa kau tidak perlu membuat ekspresi seperti itu. Misalkan kau lebih memikirkan posisimu, bukankah sebaiknya kau bersyukur karena kau tidak menjadi salah satu dari mereka.”


Dari sampingnya, Rogant melihat antara pemandangan didepannya dan Meily dengan tingkah laku dan cara bicara yang ringan.


Rogant berdiri, mengutarakan opininya dengan songong kepada Meily yang terengah-engah kesakitan, kemudian tangannya terulur.


Meily mengulurkan tangannya ke arah Rogant, memegang bajunya, dan menolehkan pandangannya dengan tatapan yang suram.


“Rogant, kau... kah...”


Suara Meily mencapainya, tapi sedikit serak, dan kalimat yang ingin dilontarkannya juga tidak jelas.


Anggota tubuhnya gagal beroperasi dengan baik, seakan-akan hidupnya perlahan-lahan mulai menghilang. Bibirnya memudar menjadi ungu, mencoba mengusir keputusasaan yang hendak datang.


Mengenal pertanyaan yang ingin Meily sampaikan, Rogant mengangkat bahunya dan menjawab dengan suara yang seperti biasa.


“Kau tau, perlu usaha yang cukup bagus untuk memanfaatkanmu. Tidak kusangka aku akan serepot ini hanya untuk membunuh orang lain. Tapi, terbayarkan sih.”


“Apa... yang...”


“Sudah tidak ada hubungannya denganmu. Rileks. Jika tebakanku benar, aku bisa menggunakan skill ku dengan cara seperti ini. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengharapkannya ini akan berhasil. Tapi, yah. Entah apa yang akan terjadi jika aku gagal, ini hanya untuk hiburan saja.”


Mata coklat Meily berganti-ganti antara campuran bingung dan amarah, sedih dan kacau, duka dan curiga.


Namun, tidak satupun emosi itu berarti untuknya yang sekarang.


“Seorang penyelamat yang menyelematkanmu dari marabahaya. Lalu, kau mengikutiku dan bahkan sampai berteman denganku. Kepercayaan memang racun yang manis bukan, Meily-chan? Kau tenggelam didalamnya dan salah perhitungan.”


“... Ah, uh.”


“Sungguh menyenangkan menjadi seseorang yang dipercayai siapapun. Hidup jadi gampang banget sampai-sampai dicemburui. Meski kau mendapatkan kesialannya.”


Rogant berjongkok dan menatap wajah Meily. Tapi, Meily bahkan tidak menatap Rogant. Dia tidak terlalu memikirkan pola yang menjatuhkannya ke jurang keputusasaan.


Matanya terdapat kepedulian untuk seluruh keluarga dan orang-orang di desanya yang mati mengenaskan. Penyesalannya adalah temannya yang tidak hadir di sini—


“....”


“Meski dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan temanmu. Itu luar biasa, tapi aku membencinya.”


Ludah Rogant saat menatap wajah putus asa Meily, yang bungkam dalam kesengsaraannya.

__ADS_1


Perasaan mual di dadanya barangkali berasal dari fakta bahwa Rogant sama sekali tidak memiliki alasan untuk membunuh para penduduk desa itu.


Inilah kali pertama Rogant membunuh tanpa pembenaran.


Serigala dan Pandora mati dengan penuh arti. Namun, kali ini pembunuhannya murni hasil dari hasil pilihan Rogant yang memilih mana yang lebih mudah disiksa.


Ini hanyalah sebuah desa tanpa nama, dengan penjaga yang hanya bermalas-malasan, menghancurkannya begitu sangat mudah.


[Tidak, bukankah Master membantai seluruh penduduk desa hanya karena alasan ingin bersenang-senang. Apa anda sudah lupa saat anda mengatakan ingin menggunakan >Skill: Authority of Pride< sekali lagi dengan menggunakan manusia sebagai subjeknya?]


“Apa iya?”


[Yah, anda mengatakannya.]


“Benarkah? Maaf, aku lupa. Tapi kurasa kau benar, aku mengingat sesuatu tentang skill ku. Mungkin aku pernah mengatakannya.”


Rogant menaruh tangannya di belakang kepalanya, menggaruknya saat dia mengatakan hal itu dengan wajah yang apatis.


Kemudian, Pride System tiba-tiba bertanya—


[Ngomong-ngomong, apa yang akan anda lakukan kepada Meily? Apa anda akan membunuhnya juga?]


Alis mata Rogant terangkat saat mendengarnya, dan mengerutkan keningnya saat memikirkan berbagai cara untuk mengatasinya.


Namun, dia menggelengkan kepalanya.


“Tidak, biarkan saja. Meskipun tidak kubunuh, aku yakin dia akan mati dengan bunuh diri.”


[Master sangat kejam.]


Suara Pride System terdengar tanpa emosi, namun kematian Meily mungkin, dia tidak terlalu mengharapkannya.


Rogant sejenak berpikir saat merasakan perasaan aneh di dalam suara rekannya.


Apa itu rasa simpati?


Tapi, untungnya, dia tidak perlu mempermasalahkannya. Jika Pride System ingin memberontak, dia pun tidak akan bisa berbuat banyak.


Lebih dari itu, dia sudah tidak sabar untuk merasakan bagaimana jika dia menambahkan ingatan para manusia yang mati ini ke dalam dirinya.


“... Itu pasti akan menyenangkan.”


Mengabaikan norma-norma omong kosong yang mengganjal dipikirannya, Rogant melangkahkan kakinya, meninggalkan Meily yang masih berlutut lemah di belakangnya.


Dia membuka papan statusnya, kemudian mengambil syal merah yang berada di dalam >Inventory“Aku bersyukur memiliki kekasih yang peka.”[Yah, itu adalah >Item< yang memiliki resistansi terhadap hawa dingin dan panas. Jadi anda akan baik-baik saja walaupun anda berada di kutub utara atau bahkan gurun pasir.]Mendengarkan penjelasan yang bahkan tidak dia minta, Rogant tersenyum dan berkata.“Ini masalah perasaan bukan kegunaannya, kecerdasan buatan sepertimu tidak akan pernah paham.”Sembari menyatakannya dengan wajah yang sombong, dia pergi ke arah desa.Seketika...Bau kematian menyebar tebal di udara. Setelah itu—...\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=...Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membentuk dirinya.Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membahagiakan dirinya.Menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan——Terus menambahkan sampai dia menyelesaikan semuanya.“Hm hm hm hm hm~”Seorang remaja laki-laki berambut putih pucat berjalan santai sambil bersenandung dengan suara yang tampak ceria, dengan nada lembut yang semua orang yakin bahwa dia telah mengalami hidup yang bahagia.Remaja laki-laki itu memiliki rambut putih pucat dengan mata belang hitam yang terlihat tidak manusiawi.Dia memakai pakaian yang serba hitam, yang menggambarkan tema dari dosanya sendiri, dengan tambahan syal merah di lehernya.Syal merah yang berwarna ruby itu membungkus lembut di sekitar lehernya, memperlihatkan eksistensinya yang sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya.Dia tampak seperti seorang anak SMA biasa, akan tetapi, tidak ada tanda-tanda pemahaman orang dewasa di ekspresi wajah remaja itu.Dia terlihat polos, seperti anak kecil yang baru memulai masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan.Ada lingkaran hitam di sekitar matanya yang gelap, terlihat begitu melankolis darimana pun kau melihatnya.Hm hm hm hm hm hm hm hm~“Sungguh, ini sangat luar biasa!”Ada sedikit kekaguman di balik suaranya yang apatis, dia menyipitkan matanya dengan cara yang aneh, dan tersenyum lembut seakan-akan dia mendapatkan keberkahan duniawi.Remaja itu meringis, dengan cara yang membuat semua orang berpikir— Dia bahagia.Tentu saja, bagaimana pun juga.Tujuan manusia hidup adalah untuk mendapatkan bahagia.Hm hm hm hm hm hm hm hm~“Aaaahh~ mau berapa kali pun aku merasakannya, ini benar-benar sangat luar biasa!”Dia terus mengulangi kata-katanya, seakan-akan sedang memuji dan mengagumi keindahan dari pemandangan yang tak termaafkan.Itu adalah pemandangan yang begitu indah, dimana pohon-pohon dan bunga-bunga menghiasi seluruh tempat dengan warna merah yang tidak seorang pun akan melupakan keindahan mereka.Pohon itu menetaskan dosanya, saat angin kencang menerpa daun-daun yang rindang akan warnanya.Bunga itu tertawa, merasa bahagia akan kedatangan kupu-kupu merah yang hinggap di kelopak bunga mereka.Itu bentuk keindahan alam yang bahkan telah melampaui apa yang mereka bayangkan.Dunia berputar, berharap semua manusia mengabadikan momen membahagiakan ini.“Aa, aaah... To, long.. aku...”—Itu adalah suara dari serangga kotor yang berkumpul di taman indah ini.Serangga itu merangkak, di tanah yang subur akan bunga-bunga indah yang berwarna merah. Tangannya mengulur dengan putus asa, mencoba untuk meraih pergelangan kaki remaja itu.Tapi, karena dia tidak ingin siapa pun mengganggu momen istimewanya.Dia hanya bisa tersenyum lembut kepada serangga tersebut dan mengabaikannya dengan cara yang sopan.Dia melanjutkan perjalanannya, sembari bersenandung dengan sangat bahagia...—Saat dia menikmati keindahan dari taman merah yang semuanya terbuat dari ratusan mayat manusia tersebut.Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membentuk dirinya.Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membahagiakan dirinya.Menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, manambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan——Terus menambahkan sampai dia menyelesaikan segalanya.Sampai dia mendapatkan karma yang selama ini dia dambakan.


“Aku bersyukur memiliki kekasih yang peka.”


[Yah, itu adalah >Item< yang memiliki resistansi terhadap hawa dingin dan panas. Jadi anda akan baik-baik saja walaupun anda berada di kutub utara atau bahkan gurun pasir.]


Mendengarkan penjelasan yang bahkan tidak dia minta, Rogant tersenyum dan berkata.


“Ini masalah perasaan bukan kegunaannya, kecerdasan buatan sepertimu tidak akan pernah paham.”


Sembari menyatakannya dengan wajah yang sombong, dia pergi ke arah desa.


Seketika...


Bau kematian menyebar tebal di udara. Setelah itu—


...\=\=\=[★★★★★★]\=\=\=...


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membentuk dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membahagiakan dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan—

__ADS_1


—Terus menambahkan sampai dia menyelesaikan semuanya.


“Hm hm hm hm hm~”


Seorang remaja laki-laki berambut putih pucat berjalan santai sambil bersenandung dengan suara yang tampak ceria, dengan nada lembut yang semua orang yakin bahwa dia telah mengalami hidup yang bahagia.


Remaja laki-laki itu memiliki rambut putih pucat dengan mata belang hitam yang terlihat tidak manusiawi.


Dia memakai pakaian yang serba hitam, yang menggambarkan tema dari dosanya sendiri, dengan tambahan syal merah di lehernya.


Syal merah yang berwarna ruby itu membungkus lembut di sekitar lehernya, memperlihatkan eksistensinya yang sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya.


Dia tampak seperti seorang anak SMA biasa, akan tetapi, tidak ada tanda-tanda pemahaman orang dewasa di ekspresi wajah remaja itu.


Dia terlihat polos, seperti anak kecil yang baru memulai masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan.


Ada lingkaran hitam di sekitar matanya yang gelap, terlihat begitu melankolis darimana pun kau melihatnya.


Hm hm hm hm hm hm hm hm~


“Sungguh, ini sangat luar biasa!”


Ada sedikit kekaguman di balik suaranya yang apatis, dia menyipitkan matanya dengan cara yang aneh, dan tersenyum lembut seakan-akan dia mendapatkan keberkahan duniawi.


Remaja itu meringis, dengan cara yang membuat semua orang berpikir— Dia bahagia.


Tentu saja, bagaimana pun juga.


Tujuan manusia hidup adalah untuk mendapatkan bahagia.


Hm hm hm hm hm hm hm hm~


“Aaaahh~ mau berapa kali pun aku merasakannya, ini benar-benar sangat luar biasa!”


Dia terus mengulangi kata-katanya, seakan-akan sedang memuji dan mengagumi keindahan dari pemandangan yang tak termaafkan.


Itu adalah pemandangan yang begitu indah, dimana pohon-pohon dan bunga-bunga menghiasi seluruh tempat dengan warna merah yang tidak seorang pun akan melupakan keindahan mereka.


Pohon itu menetaskan dosanya, saat angin kencang menerpa daun-daun yang rindang akan warnanya.


Bunga itu tertawa, merasa bahagia akan kedatangan kupu-kupu merah yang hinggap di kelopak bunga mereka.


Itu bentuk keindahan alam yang bahkan telah melampaui apa yang mereka bayangkan.


Dunia berputar, berharap semua manusia mengabadikan momen membahagiakan ini.


“Aa, aaah... To, long.. aku...”


—Itu adalah suara dari serangga kotor yang berkumpul di taman indah ini.


Serangga itu merangkak, di tanah yang subur akan bunga-bunga indah yang berwarna merah. Tangannya mengulur dengan putus asa, mencoba untuk meraih pergelangan kaki remaja itu.


Tapi, karena dia tidak ingin siapa pun mengganggu momen istimewanya.


Dia hanya bisa tersenyum lembut kepada serangga tersebut dan mengabaikannya dengan cara yang sopan.


Dia melanjutkan perjalanannya, sembari bersenandung dengan sangat bahagia...


—Saat dia menikmati keindahan dari taman merah yang semuanya terbuat dari ratusan mayat manusia tersebut.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membentuk dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, terus membahagiakan dirinya.


Menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, manambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan, menambahkan—


—Terus menambahkan sampai dia menyelesaikan segalanya.

__ADS_1


Sampai dia mendapatkan karma yang selama ini dia dambakan.


__ADS_2