
Api menyala-nyala, membara, dan membakar segalanya.
Rumah, kenangan, teman, desa, manusia, keluarga, tetangga, adik, ayah, ibu, dan segalanya yang dia punya sudah terbakar di makan oleh api yang menyala-nyala—
“—Kenapa?”
Suara lirih dari seorang anak kecil terdengar di tengah-tengah kebakaran desa tersebut.
Tidak ada tenaga untuk berdiri, yang dia bisa hanyalah merayap dan bergerak maju.
Tidak ada udara untuk bernafas, yang dia bisa hanyalah menahan nafas yang sekarang dia miliki dan terus hidup.
Tidak ada orang untuk meminta pertolongan, yang dia bisa hanyalah menerima rasa sakit itu sendirian dan menjerit.
Tidak ada. Semuanya tidak ada, semuanya telah menghilang. Tidak ada, sudah tidak ada siapapun lagi, semuanya telah terbakar.
Lalu—
“... Kenapa?”
—Dengan siapa dia bertanya? Siapa yang bertanya? Apa yang dia tanyakan? Kenapa dia bertanya?
Apa dia bertanya tentang kondisinya? Apa dia bertanya tentang orang lain? Atau mungkin dia bertanya tentang situasi saat ini?
Tapi, jika memang begitu. Lalu, dengan siapa dia bisa bertanya? Apa dia bertanya kepada dirinya sendiri atau orang lain?
Orang lain? Siapa? Sudah tidak ada siapapun lagi di desa itu...
“... Kenapa?”
Tenggorokannya menjadi serak di penuhi dengan asap api yang dia hirup.
Sistem pernafasannya mulai panas, sakit, sesak dan seakan-akan ingin menghancurkan paru-parunya.
Seluruh tubuhnya terluka dan tangisannya yang terus mengalir membuat wajahnya kotor.
Dia merangkak dan mengulurkan tangannya ke depan berharap menyentuh sesuatu, tapi hanya bara panas yang dia sentuh.
Rasa sakit terus menjalar ke seluruh bagian tubuhnya, semuanya terasa sangat panas.
“... Kenapa?”
Pertanyaan itu terus di ulang-ulang seakan-akan pikirannya akan rusak hanya dengan pertanyaan itu.
Tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya, matanya hanya melihat api dan abu, hanya merah dan hitam, hanya mayat dan darah.
Pemandangan yang indah sebelumnya telah menghilang di bakar oleh api keputusasaan.
“... Kenapa?”
Namun, anak laki-laki itu terus bertanya sampai dia mendapatkan jawabannya.
Apa dia bertanya karena dia sedih? Atau dia bertanya karena dia marah?
Apapun itu, semua yang dia lihat sama sekali tidak manusiawi. Jika manusia adalah mahluk sosial...
Lalu, bagaimana jika manusia kehilangan kemanusiaannya? Mereka akan menjadi apa? Apa mereka akan menjadi monster atau apa?
Keberadaan manusia benar-benar sesuatu yang sulit untuk di pahami, pikirnya.
Buat apa mereka hidup jika kehidupan itu sendiri menyiksanya dan hanya memberinya penderitaan.
Buat apa? Kenapa manusia harus ada? Apa mereka hidup hanya untuk mendapatkan penderitaan? Apa itu hukuman?
“... Kenapa?”
“Hei, Aren-kun. Ternyata kau masih hidup, luar biasa. Kau benar-benar hebat...”
Cahaya bulan memasuki pandangan bocah laki-laki yang bernama >Aren<.
Dia melihat cahaya bulan yang bersinar kejam seolah-olah sedang mengejeknya dan mentertawakan nasipnya.
Tapi, saat dia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi, yang dia lihat bukanlah cahaya bulan.
... Melainkan seorang pemuda berambut putih dengan senyuman yang lembut.
Aren tau siapa pemuda itu, dia adalah seseorang yang menyebabkan kekacauan ini.
Bahkan saat ini namanya menjadi sangat terkenal sejak 3 tahun ini.
Meskipun Aren hanya anak desa biasa, dia masih tau rumor dan reputasi pemuda itu.
Terkadang seorang pedagang datang ke desanya dan menceritakan sesuatu tentang rumor-rumor atau berita yang menarik.
Aren sangat menyukai semua cerita yang di ceritakan oleh pedagang itu, dia selalu duduk di paling depan dan mendengarkannya dengan semangat.
Oleh karena itu, dia tau siapa pemuda yang ada di depannya sekarang.
__ADS_1
Dia pernah mendengarnya dari salah satu cerita yang di ceritakan pedagang itu...
Pemuda itu adalah seorang iblis keji yang berkeliling membakar desa-desa tanpa ampun. Nama sebutannya adalah >Iblis Putih<.
Sangat jarang melihat orang yang memiliki rambut putih, Aren pikir dia adalah monster seram dengan tubuh putih semua.
Jadi dia benar-benar terkejut saat melihat wujud >Iblis Putih< itu yang sebenarnya. Namun selain itu, dia juga sangat marah.
“... Kau!”
Kata-kata itu di penuhi dengan kebencian dan kemarahan yang besar.
Meskipun saat ini Aren benar-benar marah kepada pemuda itu, dia sekarang sama sekali tidak bisa bergerak dengan bebas.
Dia tidak bisa bangkit dan memukul wajah busuk dari iblis itu, dia juga tidak bisa meludah karena ludahnya sudah kering.
“Hei, Aren-kun. Sekarang apa yang ingin kau lakukan?”
Pertanyaan dari pemuda itu membuat mata Aren melebar keheranan.
Dia sama sekali tidak mengerti maksud dan tujuan dari pertanyaan yang ambigu itu.
“Maksudku, lihatlah. Semua orang telah mendapatkan kebahagiaan yang setara, tapi kau tidak mendapatkannya, kan?”
Hanya kebingungan yang di dapatkan oleh Aren, namun setelah Aren menatap ke arah api yang membakar desanya tersebut.
Pikirannya langsung terombang-ambing, dia mulai berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang?
Sekali lagi, pemuda itu berbicara dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
“... Itu artinya kau harus memilih jalan hidupmu sendiri, apa kau ingin tinggal di sini menunggu kebahagiaan? Atau kau akan pergi dari sini mencari kenikmatan?”
Apa yang ingin pemuda itu katakan adalah jika Aren terus di sini, maka dia akan mati.
Dan jika dia pergi dari sini, maka dia akan menderita.
Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Pemuda itu telah memberinya dua pilihan yang sangat kejam.
Apa yang akan dia pilih? Apa dia akan memilih mati atau menderita?
Kalau Aren memutuskan untuk pergi dari sini dan memutuskan untuk terus hidup.
Maka yang dia dapatkan hanyalah penderitaan, bagaimana dia bisa terus hidup setelah mengalami kejadian ini?
Apa dia masih bisa mempertahankan akal sehatnya dan hidup dengan normal? Tentu tidak, dia akan selamanya menderita oleh penyesalan atas keputusannya.
Aren bukanlah anak laki-laki yang kuat, dia hanya anak laki-laki biasa yang bisa kau temukan di mana saja.
Tapi, apa sekarang dia masih bisa melakukan hal itu? Tidak, bukan itu yang jadi masalahnya...
Apa dia boleh mendapatkan kebahagiaan seperti itu sedangkan seluruh keluarga dan teman-temannya mati dalam penderitaan.
Sudah jelas itu akan membuat Aren hanya di penuhi dengan penyesalan dan putus asa.
—{Lalu, sekarang apa yang harus aku lakukan?}
Pertanyaan itu sekali lagi menekankan pikiran Aren dengan pilihan kedua.
Bagaimana jika dia memutuskan untuk tetap tinggal di desa yang terbakar ini dan menunggu kematiannya?
Kalau dia mati, maka semuanya akan berakhir.
Tidak ada penderitaan, tidak ada mimpi, tidak ada kesedihan, tidak ada masalah, tidak ada cinta, tidak ada pertemuan, semuanya hanya akan berakhir dan tamat.
Itu pasti adalah jalan yang termudah baginya, dia tidak perlu menyesal memilih pilihan itu, karena semuanya telah berakhir.
Jadi, tidak akan ada yang salah baginya untuk mengakhiri hidupnya di sini, di desanya yang telah hancur terbakar.
Dia akan mati dengan menyedihkan seperti keluarga dan teman-temannya. Dengan begitu semuanya adil...
Namun, meskipun begitu, Aren takut akan kematian. Dia tidak menyukai rasa sakit, dia takut mati.
Itu adalah naluri yang alami bagi semua mahkluk hidup, dia juga takut akan kematian. Itu wajar...
Keinginannya untuk mati dan hidup tumpang tindih sampai membuatnya di lema oleh kebingungan abadi. Jadi...
“... Aku...”
—{Apa yang harus aku lakukan sekarang?}
Pertanyaan itu terulang-ulang terus-menerus di kepalanya seperti sebuah kutukan.
Sudah tidak ada waktu untuk memikirkannya kembali, dia harus segera memutuskan pilihannya.
Gunakan seluruh otakmu untuk berpikir dan terus berpikir sampai otakmu hancur.
Hancurkan semua sel-sel otakmu hanya untuk memikirkan jalan terbaik yang bisa kau dapatkan. Pikirkan, pikirkan dan pikirkan—
__ADS_1
—Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan??!!...
Semuanya terus-menerus terulang dan terulang kembali sampai benar-benar menghancurkan pikirannya.
... Ini adalah penderitaan akan kebingungan abadi.
Kepalanya sangat sakit dan pusing, dia bingung, bingung, bingung, bingung, dan bingung.
Setelah itu—
“... Aku... Ingin mati.”
—Itu adalah keinginan yang keluar dari mulut dan hatinya.
Dia memilih jalan yang termudah, pikirannya sudah lama hancur, matanya mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Dia melotot seakan-akan bola matanya ingin keluar, dia terlalu banyak berpikir sampai membuat dirinya hancur.
.... Sungguh anak yang malang.
Namun—
“Hehe, Kau luar biasa! Hebat! Kau memilih kebahagiaan atas keinginanmu sendiri!! Kau benar-benar anak yang hebat, Aren-kun!”
—Pemuda yang mendengarnya itu tertawa, tersenyum lebar, dan memuji kehebatan Aren.
Seorang anak kecil yang memutuskan untuk mati, itu adalah kehebatan yang di luar masuk akal.
Tapi bagi pemuda berambut putih itu, bagi iblis putih itu, bagi eksistensi yang bernama >Night Rogant< itu semuanya sangat luar biasa.
Keinginan anak kecil untuk meraih kematian itu benar-benar sangat luar biasa.
Dia pantas mendapatkan pujian dan penghargaan atas keinginan murninya untuk mendapatkan kematian.
Seorang anak kecil yang menyedihkan telah memilih kematian untuk mencari kebahagiaan.
... Karena kamatian adalah bentuk dari kebahagiaan sejati.
“Matilah dan raihlah kebahagiaan, Aren-kun! Api ini, kebakaran ini, semuanya adalah pesta perayaan untuk menyambut kematianmu.”
Senyuman Rogant seolah-olah seperti senyuman orang tua yang melihat anaknya tumbuh menjadi orang yang hebat.
Tangannya di rentangkan selebar mungkin untuk menyambut kematian anak kecil yang bernama >Aren< itu.
Dia menatap Aren dengan tatapan kelembutan yang hangat.
Semuanya penuh dengan kegilaan dan tidak masuk akal, namun Aren menatap Rogant seakan-akan Rogant adalah dewanya.
Meskipun anak itu memilih jalan yang mudah, Rogant tetap tersenyum memuji pilihan anak laki-laki itu.
Bagi Aren itu sudah cukup untuk membuatnya menangis dalam kebahagiaan.
Semua kata-kata yang di lontarkan Rogant membuat hati Aren penuh dengan kelembutan dan kehangatan.
Apa ini semacam sihirnya? Jika memang iya, sudah pasti ini adalah sihir yang membuat hati orang di penuhi dengan kebahagiaan.
Matanya mulai kabur, kesadarannya mulai memudar, tubuhnya mulai merasa lelah, telinganya tidak bisa mendengar apapun lagi, paru-parunya sudah tidak berguna lagi untuk bernafas dengan baik, dia ingin tidur...
Tidur untuk selamanya, tidur dan tidak akan pernah bangun lagi, kematian telah menjemputnya.
“... Maafkan aku... Lina.”
Pemuda itu teringat kembali kepada teman yang selalu bersamanya, dia membayangkan wajah manis dari gadis kecil yang dia sukai.
Namun dia sudah mati, dia mati di bunuh oleh seseorang. Gadis itu telah mati mengenaskan di tangan Aren sendiri!
Dia telah membunuh temannya sendiri, dia bahkan sudah lupa kenapa dia harus membunuhnya.
Pada saat sebelum semua ini terjadi, warga desa mulai saling membunuh dan melukai. Semuanya menjadi gila...
Saat itu Aren bersembunyi dengan Lina berdua untuk menghindari kegilaan para warga desa.
Tapi, pada akhirnya mereka bertengkar dan saling membunuh. Semuanya berubah menjadi kegilaan di luar nalar.
... Dia tidak tau kenapa semua ini terjadi.
Selagi Aren memikirkan hal itu, dia sedikit menyesal dengan apa yang dia lakukan dan—
“... Sungguh menyedihkan.”
—Setelah kata-kata itu, Aren mati tertimpa oleh reruntuhan rumah roboh sampai membuatnya tenggelam.
Hanya tangannya saja yang terlihat, tangannya yang di ulurkan seolah-olah ingin meraih sesuatu.
... Dan itu adalah mayat dari temannya yang dia bunuh memakai tangannya sendiri.
Aren tetap mati mengenaskan di penuhi dengan penyesalan yang sangat kejam.
__ADS_1
“Baiklah, semuanya sudah berakhir. Aku harus berkumpul lagi bersama Meily sekarang. Dia akan marah kalau menunggu terlalu lama.”
—Dengan begitu, seorang iblis memutuskan untuk pergi dan sekali lagi telah berhasil menyebarkan kekacauan di dunia ini.