
Malam yang sunyi telah menghilang, beberapa siluet terlihat sedang berlari dengan tergesa-gesa di dalam lorong sebuah mansion.
Mereka adalah sisa-sisa dari anak buah organisasi yang berhasil melarikan diri.
Beberapa dari mereka memakai kerudung hitam untuk menutupi wajah mereka, tapi terlihat jelas bahwa wajah mereka sangat pucat.
Nafas yang tidak beraturan, detak jantung yang berdebar-debar karena ketakutan alami, dan dada yang panas.
Hal itu terus-menerus menyiksa mereka sampai membuat mental mereka semakin lama semakin terkikis.
“Ke-Ketua! Bagaimana dengan bos?!”
Salah satu dari mereka bertanya dengan suara yang gemetar.
Terus berlari dan berlari, si ketua menjawabnya dengan wajah yang menakutkan.
“Kau pikir aku tau! Orang itu telah kabur duluan meninggalkan kita!!”
Ada kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya yang kerutan. Setelah mendapat jawaban dari ketua.
Wajah mereka semakin suram dengan jenis keputusasaan yang berbeda. Tidak ada yang percaya dengan kata-kata ketua.
... Tapi, jika itu benar. Itu berarti bos mereka telah mengkhianati mereka.
Dan hal itu membuat beberapa rasa sakit di hati mereka, kepercayaan yang mereka berikan telah di khianati.
Setelah beberapa tahun mereka mengabdi, pengkhianatan ini merupakan sesuatu yang sulit untuk di percaya.
Padahal selama ini pekerjaan yang mereka lakukan berakhir dengan baik-baik saja, itu semua berkat kepemimpinan bos mereka.
Dulu organisasi ini juga pernah di kejar ksatria kerajaan, tapi berkat bos mereka semuanya berhasil lolos.
Namun, kali berbeda. Sangat mustahil bagi mereka untuk berhasil melarikan diri lagi.
“Ke-Kenapa... Kenapa ini bisa terjadi?”
“Berisik, diamlah! Teruslah berlari sebelum 'dia' menyusul kita!!”
Sang ketua memberikan instruksi yang tegas saat anak buahnya menggumamkan rasa putus asanya.
Semuanya menatap ketua dengan tatapan berharap dan tidak mengatakan apa-apa lagi, yang bisa mereka lakukan hanyalah berlari.
... Itu saja. Yah, meskipun mereka juga tidak yakin apakah mereka akan berhasil melarikan diri atau tidak.
Kegelisahan dan ketakutan saat mereka memikirkan diri mereka tertangkap itu membuat kaki mereka terasa berat.
Kali ini lawan mereka benar-benar melapetaka di antara malapetaka.
Kemungkinan mereka untuk berhasil lolos sangat mendekati angka nol. Tapi, tidak ada salahnya untuk terus berjuang, kan?
Kehidupan mereka adalah hal utama yang harus mereka prioritas kan. Itu adalah hal yang wajar.
Kewajaran itulah yang membuat mereka berhasil bertahan hidup selama ini...
Oleh karena itulah—
“Ke-Ketua! Ma-Maafkan aku... Tapi, aku juga ingin hidup!!”
“Hah?! Oi, apa yang—”
Sebelum ketua sempat menyelesaikan kalimatnya, tusukan yang kuat datang dari belakangnya.
Seseorang berlari sangat cepat, menodong kan pedangnya dan menikam sang ketua.
“... Agh!”
Pedang pendek telah menusuk bagian pinggang ketua, darahnya mulai merembes keluar dan mengotori pakaiannya.
Rasa sakit yang tak tertahankan membuat nya ingin berteriak, tapi alih-alih ingin berteriak hanya darah yang keluar dari mulutnya.
Panas, tubuhnya menjadi sangat panas dengan rasa sakit yang luar biasa.
—{Apa yang terjadi?} Itu adalah pertanyaan pertama yang terlintas dalam benak si ketua.
Karena hal itu terjadi secara tiba-tiba, jadi tidak ada waktu yang cukup untuk mengetahui apa yang terjadi.
Dia secara tiba-tiba di tusuk dari belakang, dia lengah dan tidak sempat untuk refleks menghindarinya.
Saat si ketua terjatuh di lantai, semua orang yang melihat itu menghentikan langkah kaki mereka.
“Ketua!!”
Hal yang sama mereka teriakan.
Mereka semua benar-benar di kejutkan, tapi itu hanya sesaat. Segera mereka berlari dan membantu sang ketua.
Mengambil beberapa kain bersih dan menekankannya kepada luka sang ketua untuk memberikan pertolongan pertama.
Tapi, sayangnya mereka tidak bisa menghentikan pendarahannya. Darah dari pinggangnya terus menerus merembes keluar.
Pandangan mereka langsung mereka alihkan ke si pelaku, hanya ada satu orang yang melakukannya.
Dia mundur beberapa langkah ke belakang dengan tubuh yang gemetar hebat, di kedua tangan terdapat pedang pendek yang di lumuri darah merah.
Semuanya menatap ke arahnya dengan kebencian dan kemarahan.
Melihat semua tatapan dari temannya, si pelaku menjatuhkan pedangnya dengan jeritan lirih penuh ketakutan.
__ADS_1
Apa yang membuatnya sampai melakukan semua ini?
“Tidak ada cara lain!! Ji-Jika tidak seperti ini, semuanya akan mati! Aku ingin hidup!! Kalian buatlah waktu yang cukup untukku melarikan diri!!”
Jawaban dari alasannya segera dia berikan dengan mata yang berputar-putar penuh kegilaan.
Dengan senyuman yang gemetar, si pelaku mengungkapkan sifat aslinya di bawah keputusasaan yang dia rasakan.
“Hahahaha! Tetaplah di situ dan matilah untukku!”
Kegilaannya membuat dirinya seperti orang lain, segera pelaku itu melarikan diri dari sana sendirian.
Sosoknya yang membelakangi mereka semua menghilang di telan lorong yang gelap.
“Oi, kau bajing*n! Jangan kabur!!”
Mereka ingin mengejar dan membunuhnya, tapi langkah kaki mereka terpaku di lorong tempat tersebut.
Tidak ada satupun yang bisa meninggalkan ketua di sana sendirian, yang bisa mereka lakukan hanyalah menggertakkan gigi dan menahan amarah mereka.
Saat mereka mencoba untuk memikirkan perkataan dari bajing*n yang melarikan diri itu.Tidak ada satupun yang bisa menyangkal perkataannya.
Bagaimanapun semua yang di katakan nya ada benarnya juga. Mereka benar-benar terpojokkan, tidak ada tempat untuk melarikan diri.
Meskipun mereka berhasil melarikan diri, tidak ada jaminan mereka hidup dengan tenang selanjutnya.
Masa depan yang mereka dapatkan sangat suram, mereka hanya akan di buru oleh ksatria kerajaan berkat kejahatan yang selama ini mereka lakukan.
Semua yang mereka lakukan hanyalah jalan buntu, tidak ada harapan sekecil apapun yang bisa mereka temukan.
“Ugh! Dasar bodoh! Tidak ada gunanya kalian memikirkan hal itu saat ini.”
“Ke-Ketua!!”
Semua orang terkejut melebarkan matanya saat melihat ketua yang sekarat mengambil bagian untuk bisnis mereka.
“Ketua, bertahanlah! Kami akan mengangkat mu dan melarikan diri dari sini!”
“Hah! Lepaskan aku! Tinggalkan aku sendiri! Kalian larilah duluan!!”
Mengerahkan segenap kekuatannya, ketua mencoba untuk meyakinkan mereka semua untuk meninggalkannya.
“Kalian sendiri saja yang melarikan diri, tidak perlu memikirkan tentang diriku. Jika kalian berlari secepat mungkin, itu masih sempat.”
Mendengar itu, wajah mereka semakin pucat dan suram. Apa yang harus mereka lakukan?
Perasaan ingin hidup membuat mereka benar-benar terlihat sangat menyedihkan.
Jika mereka pergi meninggalkan ketua mereka di sini, maka itu sama saja seperti bajing*n itu.
Kerutan di wajah mereka terlihat jelas dari balik kerudung hitam mereka. Sekarang semuanya kebingungan harus memilih pilihan apa di sini.
Kedua opsi itu membuat kepala mereka kesakitan seperti dua dinding tebal yang saling berbenturan.
Tidak ada satupun orang yang berani mengambil inisiatif untuk berbicara duluan.
Semuanya menundukkan kepala mereka dengan keburukan di hati dan wajah mereka.
Keheningan ini membuat tubuh mereka seakan-akan di timpa oleh sesuatu yang berat.
Tenggorokan mereka tercekik membuat mereka kesulitan untuk mengambil nafas dengan baik.
“A-Aku...”
Seseorang mengangkat suaranya. Secara reflek semua nya melihat ke arah orang yang bersuara tersebut.
Dia adalah seorang pria yang memiliki jangkung dan raut wajah menakutkan seperti bandit pada umumnya.
Namun, ada tekad dan keberanian yang terlihat di matanya yang coklat dan tajam.
Lalu dengan suara yang berat dan dalam, dia berkata.
“... Aku akan lari dari sini.”
Alis mata semua orang terangkat dengan raut wajah seakan-akan tidak percaya dengan apa yang di katakan pria itu.
Dari dua pilihan yang ada, dia memilih pilihan pertama yaitu melarikan diri meninggalkan ketua mereka.
Tentu saja, hal itu membuat semua orang menyipitkan matanya dengan penuh dengki dan benci ke pria tersebut.
Tapi, pria itu tetap tidak bergeming. Dia dengan jujur memberikan alasannya.
“Tidak ada gunanya untuk terus di sini. Kita harus meninggalkan ketua dan melarikan diri secepat mungkin.”
“Oi, apa maksudmu?! Pilihlah kata-kata yang bagus kalau kau mau membuat lolucon atau aku akan membunuhmu!!”
Segera seseorang mengambil kerah bajunya dan meneriakkan rasa tidak senangnya ke pria jangkung tersebut.
Lawannya adalah seorang pria dengan tubuh yang kekar dan wajah yang terlihat seperti seorang pencuri.
Pria itu memiliki rambut berwarna hijau kehitaman dan iris mata yang coklat juga.
Kemarahannya yang besar telah membangunkannya untuk bergerak dan membentak pria jangkung tersebut.
Namun, dirinya tidak bergeming sama sekali. Dia juga membalas sambil menarik kerah baju pria rambut hijau dan berteriak keras.
“Apa boleh buat?! Inilah keinginan ketua, kita semua harus menurutinya!!”
__ADS_1
“KAU PIKIR KAU SIAPA?!! SUdah jelas kita harus membawa ketua dan MELARIKAN DIRI!!!”
Mengepalkan tangannya, pria jangkung itu juga tidak mau mengalah. Dia juga ingin membawa ketua dan melarikan diri.
Namun—
“Jika kita melakukan itu!! Maka semuanya hanya akan mati, apa kau lupa dengan lawan kita kali ini?!!”
—Seperti yang pria jangkung itu katakan, jika mereka melarikan diri sambil membawa ketua yang sekarang terluka parah.
Maka kecepatan mereka akan menurun dan pada akhirnya akan terkejar juga. Jujur saja, ketua saat ini hanya akan menjadi beban bagi mereka.
Akan tetapi, pria berambut hijau hanya semakin marah dan marah. Dia sama sekali tidak mendengarkan perkataan pria jangkung.
“Aku tau kali ini lawan kita sulit!! Tapi, kita tetap saja tidak bisa meninggalkan ketua di sini!! Dia... Dia adalah satu-satunya orang yang tidak meninggalkan kita sampai akhir!! APA MAKSUDMU KITA HARUS MENGKHIANATI ORANG SEPERTI ITU?!! Heh, pada akhirnya pengabdianmu hanya SEGITU SAJA!!”
Mendengar penghinaan seperti itu, pria jangkung tidak bisa hanya diam saja.
Dia mendorong lawannya, mundur beberapa jarak dan menarik pedangnya.
“Oi, bajing*n!! TARIK KEMBALI KATA-KATA MU!! KAU PIKIR SEBERAPA SAKIT AKU SAAT AKU MEMUTUSKAN UNTUK MENINGGALKAN KETUA!!! Tentu saja, AKU TIDAK INGIN MENINGGALKANNYA!!! TAPI APA BOLEH BUAT!!”
Tentu saja, pria jangkung marah. Saat ini perasaannya telah di injak-injak.
Mengatakan pengabdiannya hanya segitu saja, itu adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Pria berambut hijau sama sekali tidak mengetahui perasaannya. Seberapa sedih dirinya, seberapa sakit dirinya saat memilih pilihan itu.
Perasaannya terasa seperti di koyak-koyak, tapi dia tetap menahannya. Dia berjuang keras untuk menahannya.
Bagaimanapun, dia ingin menghargai kebaikan Ketua yang menyuruh mereka untuk lari meninggalkannya.
Meskipun pria jangkung tidak menginginkan, tapi mereka tetap harus melakukannya.
Hanya itulah satu-satunya cara mereka untuk tetap bisa hidup. Dia harus hidup sambil menahan rasa sakit ini selamanya.
Namun, pria berambut hijau itu tidak mengerti sama sekali. Dia tidak mengerti dan seenaknya mengatakan bahwa pengabdiannya hanya segitu saja.
Sudah jelas itu adalah sesuatu yang tidak bisa di maafkan.
“CEPATLAH TARIK KEMBALI KATA-KATAMU ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!! KALIAN SEMUA JUGA!! KENAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA!! BANTU AKU MEMBUNUH PRIA BAJING*N INI!!! APA JANGAN-JANGAN KALIAN JUGA MEMIHAKNYA!!!”
Semua orang yang di bentak oleh pria jangkung langsung tersadar, mereka semua saling bertatapan dengan tetangga mereka.
Semuanya merenungkan apa yang harus mereka putuskan.
Setelah itu semuanya berdiri dari tempat mereka. Masing-masing dari mereka memilih pihak yang berbeda-beda.
Ada beberapa yang memilih untuk melarikan diri meninggalkan ketua dan ada juga beberapa yang memilih untuk melarikan diri bersama ketua.
Mereka semua mengikuti kata hati mereka sendiri. Sekarang mereka terpecah menjadi dua pihak.
Melihat ada seseorang yang berpikiran yang sama dengan dirinya, pria jangkung sedikit senang.
Akan tetapi, tidak untuk pria berambut hijau.
“SIALAN!! SIALAN SIALAN SIALAN SIALAN!! KALIAN PARA PENGHIANAT SIALAN!!! PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT PENGHIANAT!!! DASAR BAJING*N PENGHIANAT!!! AAARRRGGHH!! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!!!!”
Pria berambut hijau itu menggaruk-garuk rambutnya dengan kuat sampai melukai dirinya sendiri.
Dia menggertakkan giginya beberapa kali, matanya melebar bulat penuh sampai mengeluarkan darah segar.
Dia terus berbicara sendirian dengan suara yang keras dan di ulang-ulang, terakhir dia meledakkan amarahnya dan berteriak dengan sangat keras.
Kemarahannya telah melampaui batas sampai membuatnya benar-benar gila, banyak luka di rambutnya yang berantakan.
Tapi, dia sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Mengangkat pedangnya dan menatap dengan tajam ke arah para penghianat yang ada di hadapannya.
Semua orang yang melihat itu juga mengangkat pedang mereka semua, tidak ada satupun yang memikirkan tentang pria gila berambut hijau itu.
Pikiran mereka hanya untuk saat ini bersatu memikirkan sesuatu yang sama, itu adalah...
... Jika kau tidak membunuh maka kau akan di bunuh.
“KALIAN!!! BUNUH PENGHIANAT ITUUUU!!!”'
“RAAARRRGGHHH!!!”
—Letusan pertempuran terjadi di lorong gelap tersebut bersamaan dengan raungan yang keras.
Mereka semua berakhir dengan saling membunuh satu sama lain. Tidak ada lagi pertemanan di antara mereka.
Kemarahan dan kemarahan, pedang dan pedang, semuanya saling berbenturan satu sama lain.
Niat membunuh, suara teriakan dan jeritan kematian. Semua itu bercampur menjadi satu dengan penuh kegilaan.
Darah bermuncratan di mana-mana, anggota tubuh manusia berserakan di sekitar lorong tersebut.
Karena sulit untuk membedakan mana musuh dan teman, mereka semua secara membabi buta saling menusuk dan menebas.
Keputusasaan, Kesakitan, Kesengsaraan, Kemarahan dan Kegilaan telah merasuki diri mereka sampai menghancurkan kemanusiaan mereka sendiri.
“RAAARRRGGGHHH BUNUH PENGHIANAT ITU!!!” “TARIK KEMBALI KATA-KATAMU!!!” “AAAARRRGGGHHHH!!! TOLONG AKU!!!” “Aaah, aaaah... Kenapa semuanya menjadi seperti ini?!” “AHAHAHAHA!! MATI KALIAN SEMUA!!” “Sial sial sial sial sial!!! Aku tidak ingin mati!!” “Aaarrggghhh!! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!!” “TIDAAAKKKKK!!!” “OI BAJING*N!!! KAU NYERANG DIMANA!!! AKU ADALAH TEMANMU!!!” “AAAARRRRGGGGHHHH!!!”
Semuanya benar-benar kekacauan, tidak ada lagi yang peduli dengan teman atau musuh.
Tidak ada lagi yang peduli dengan kemanusiaan dan kepercayaan.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang peduli dengan kehidupan dan kematian.
Mereka semuanya hanya saling membunuh seperti binatang buas yang penuh dengan kegilaan!