
Di sebuah ruangan yang gelap, hanya ada sinar bulan yang memberikan cahayanya untuk ruangan tersebut melalui sela-sela jendela.
Api membara yang menyala-nyala berdiri di tengah ruangan tersebut. Itu adalah siluet dari seorang wanita cantik.
Patrecia Van Strovius, Pahlawan Pedang Suci generasi sekarang sedang merenung kan sesuatu sambil mengerutkan keningnya.
—{Apa yang sedang dia lakukan?}, Rogant yang baru sampai memiringkan kepalanya kebingungan.
Dia melihat Pedang Suci yang termenung dengan seksama sambil melangkahkan kakinya diam-diam untuk mendekatinya.
Namun, seperti yang di duga dari Pedang Suci. Dia segera menyadari keberadaan Rogant dan memalingkan pandangannya.
“Ah, Rogant, apa kamu sudah selesai? Apa kamu baik-baik saja?”
“Yah, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan di sana?... Aku pikir kau pasti akan baik-baik saja.”
Patrecia tersenyum dan tertawa kecil saat mendengar Rogant mencibir, dia berbicara dengan penuh martabat menggambarkan jiwa ksatrianya.
“Yah, seperti itulah. Sekiranya dirimu baik baik saja, itu membuatku sangat lega. Tapi...”
Dia mengerutkan keningnya dan menatap ke arah mayat yang ada di bawahnya, Rogant juga mengikuti pandangannya.
Itu adalah mayat dari seorang pria yang kabur menurut ingatan yang Rogant curi dari sisa-sisa organisasi sebelumnya.
Dia mendekat ke arah Patrecia dan bertanya dengan senyuman lembut.
“Apa ada masalah, Patrecia?”
Itu adalah tepukan yang lembut untuk menyadarkan Patrecia kembali ke dunia nyata.
Wajahnya sedikit bermasalah, Rogant kebingungan mencoba mencari tau arti dari reaksi Pedang Suci.
Namun, Patrecia segera berbicara dengan senyuman yang masam.
“Rogant, apa kamu juga melihatnya? Entah kenapa, diriku sedikit tidak nyaman dengan situasi ini.”
Alis mata Rogant terangkat, dia masih tidak mengerti. Tapi, Patrecia segera memberinya pandangan dengan kalimat yang singkat.
“... >Seven Deadly Sins<”
Sekarang mata Rogant membelalak terkejut dengan kata kata yang keluar dari mulut Pedang Suci.
“Sekiranya ini hanya firasatku saja, maka aku bisa mengabaikannya. Tapi, sayangnya ini tetap membuatku kepikiran saat aku melihat situasi yang terjadi di sini.”
“Apa maksudmu?”
“Mereka semua menjadi gila dan saling membunuh. Mau berapa kali aku memikirkannya, itu tetap tidak masuk akal.”
Nada bicara Patrecia menjadi serius saat dia mulai berpidato.
“Kamu tau, aku pernah melihat sesuatu yang sama seperti ini sebelumnya. Itu di saat aku pergi ke >Kuil Kehidupan<”
Pikiran Rogant langsung menangkap kata 'Kuil Kehidupan' yang keluar dari mulut Patrecia Van Strovius.
Ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan informasi tentang >Kuil Kehidupan< dari Pedang Suci.
Yah, tapi untuk beberapa alasan, Rogant tidak menduga kalau Pedang Suci akan memberinya langsung sebelum dia sempat menanyakannya.
Padahal dia berniat untuk lebih dekat lagi dengan Patrecia dan menanyakannya sendiri.
__ADS_1
Namun, sekarang dia sendiri yang berniat memberitahu Rogant. Ini adalah keberuntungannya.
Patrecia lanjut bicara sambil tersenyum samar, terlihat bahwa ada kesedihan di matanya saat dia mulai bicara.
“Dulu saat aku di kirim kerajaan untuk pergi ke >Kuil Kehidupan<, saat itu aku tidak sendirian. Aku di temani oleh beberapa ksatria, mereka di tugaskan untuk membawa barang-barang. Awalnya biasa saja, tapi saat kami masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi, rasa lapar mulai menghantui kami.”
“Rasa lapar?”
Rogant mengulangi kata-kata itu, Patrecia memberinya anggukan pelan dengan senyuman masam dan melanjutkannya.
“Itu berbeda dengan rasa lapar biasa. Rasanya benar-benar sangat mengerikan, para ksatria yang mulai kelaparan mulai memakan segalanya yang ada di sekitar mereka. Bahkan mereka saling memakan sesama rekan, itu benar-benar yang terburuk. Lalu, saat aku melihat kejadian yang terjadi di mansion ini, aku jadi teringat dengan hal itu. Aku merasakan hal yang sama dengan yang di >Kuil Kehidupan< dan setauku yang bisa melakukan itu semua hanya >Seven Deadly Sins< saja.”
Rogant setuju dengan pendapat itu, lagi pula yang menyebabkan kekacauan di mansion ini adalah dirinya yang memakai Unlimited Skill >Sinner Authority< untuk memperkuat segala perasaan yang mereka pendam.
Hal itulah yang menyebabkan kekacauan ini terjadi dan yang lebih penting lagi adalah dia juga salah satu dari Tujuh Dosa Besar yang mengemban dosa Kebanggaan.
Namun yang membuat dia bingung adalah, kenapa Pedang Suci membuat spekulasi bahwa ini semua perbuatan Tujuh Dosa Besar.
Apa dia pernah bertemu dengan Tujuh Dosa Besar sebelumnya? Rogant sama sekali tidak pernah dengar informasi seperti itu.
“Kenapa kau mengira ini ulah Tujuh Dosa Besar?”
Untuk mengetahui jawabannya, Rogant harus bertanya. Dia menatap lurus ke arah Patrecia.
Mengetahui dirinya di tatap seperti itu, sedikit membuat Patrecia malu, dia melirik ke arah Rogant dan memberikan senyuman lembutnya,
Dengan suara bermartabat, dia menjawab.
“Yah, apa kamu tau tentang kehancuran enam ratus tahun yang lalu, Rogant?”
“Hmmm, Apa maksud perang yang melawan Dosa Besar Kerakusan? Kalau itu aku tau.”
“Ah...”
Mulut Rogant menganga, dia langsung mengerti apa maksud Patrecia.
Dia benar, sebelumnya Rogant pernah mendengar informasi semacam itu dari Kizuna.
... Yang tentang kematian salah satu tujuh dosa besar yang mengemban dosa Kerakusan.
Dia memang mengatakan bahwa Kuil Kehidupan adalah makam dari Dosa Besar Kerakusan.
Sebab itu juga, binatang iblis yang ada di sana lebih banyak dan lebih ganas dari biasanya.
Kenapa dia bisa melupakan hal sepele seperti ini?
Apa karena dia terlalu memikirkan tentang gadis berambut putih yang mirip Pandora, sehingga dia melupakan hal kecil ini?
Rogant mungkin butuh istirahat sebelum dia berangkat ke perjalanan selanjutnya.
“Tapi, tunggu dulu. Bukannya Dosa Besar Kerakusan sudah mati? Terus kenapa kekuatannya masih tersisa?”
Rogant benar, Dosa Besar Kerakusan sudah mati, tapi kalau memang cerita Patrecia benar. Maka itu akan sampai ke spekulasi bahwa Dosa Besar Kerakusan masih hidup.
“Tidak.”
Pemikiran Rogant segera di tolak dengan jawaban Patrecia yang tegas.
“Kerakusan sudah mati, tapi rasa laparnya masih hidup, itulah menurut pendapatku.”
__ADS_1
Dia segera memberikan alasannya. Rogant termenung memikirkannya dengan serius.
Jika pendapat Patrecia benar, maka ini akan sampai kepada kesimpulan bahwa Dosa Besar Kerakusan masih berkeliaran di hutan Kuil Kehidupan.
Atau lebih tepatnya, kita sebut saja racunnya. Racun yang di keluarkan dari jasad Dosa Besar Kerakusan masih menyebar dan membuat semua orang yang terkenanya mengalami kegilaan akan kelaparan sejati.
Tubuh Rogant bergidik merinding setelah memikirkan hal itu, tapi ada kegembiraan aneh yang terbentuk di dalam hatinya.
Dia tersenyum gemetar. Sekali lagi, Night Rogant mengetahui tentang kengerian dari eksistensi dirinya sendiri.
>Seven Deadly Sins< adalah wujud sesungguhnya dari kekacauan sejati.
“Aku mengerti, terima kasih atas informasi menariknya, Nona Pedang Suci.”
“Ahaha, berhentilah menggodaku. Ngomong ngomong, Rogant, setelah ini kamu ingin kemana?”
“Ummm... Mungkin aku akan pulang. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan.”
“Begitu ya, sayang sekali. Aku harap kita bisa bertemu lagi lain kali.”
Ada kesedihan di dalam kata-kata Patrecia, tapi dia segera memulihkan kesedihannya dengan cepat.
Rogant hanya bisa memberinya senyuman lembut dan tertawa kecil.
“Yah, aku harap kita bisa makan-makan bersama selanjutnya.”
“Baiklah, itu bagus, aku menantikannya. Sekiranya, dirimu memerlukan bantuan kepadaku, jangan segan-segan untuk memanggilku.”
“Ahaha, yah, untuk sekarang aku tidak punya masalah yang harus membuat Pedang Suci-sama turun tangan.”
Rogant menepis perkataan Patrecia dengan sopan santun dan candaan. Itu membuat Patrecia tertawa kecil.
Tingkah lakunya menurut Rogant sedikit imut, tapi, dia segera menelan kata-katanya.
Jika dia mengatakannya, dia takut menghina jiwa ksatria wanita yang ada di hadapannya.
Setelah itu mereka berpisah mengucapkan 'Sampai jumpa', masing-masing dari mereka memiliki perbedaan dan tujuan yang berbeda beda.
Dengan begini seluruh organisasi yang ada di mansion tersebut telah hancur di buat oleh dua orang.
Mereka menghancurkan seluruh organisasi hanya dalam satu malam dan cerita berakhir di sini.
Yah, sayangnya itu masih belum. Masih ada satu lagi urusan yang harus di lakukan.
Di saat Rogant berniat pulang ke rumah, dia memutuskan untuk mampir di suatu tempat terlebih dahulu.
Itu adalah ruangan bawah tanah, di dalam ruangan itu terdapat dua siluet yang sudah berada di sana sejak lama.
Yang satu gadis kecil dengan jubah hitam dan yang satunya lagi adalah wanita cantik dengan sembilan ekor di belakangnya dan memakai pakaian gadis kuil.
“Yo, Meily, Kizuna, maaf membuat kalian menunggu.”
Rogant menyapa mereka berdua dengan senyuman lembut, lalu pandangannya berganti ke arah pria yang berlutut di atas lantai dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Melihat itu, Rogant langsung duduk bersila di atas kursi sambil menatap pria itu dengan satu mata tertutup.
“Baiklah, maaf membuatmu menunggu juga, bos penghianat dari organisasi.”
Dia adalah Terota Bizel, mantan bos dari organisasi yang di hancurkan oleh Rogant dan Pedang Suci.
__ADS_1