
Jika saja saat itu aku memilih pilihan yang berbeda. Mungkin takdirku juga tidak akan seperti ini.
Jika saja saat itu aku memilih pilihan yang berbeda. Mungkin hidupku juga tidak akan seperti ini.
Jika saja saat itu aku memilih pilihan yang berbeda. Mungkin hatiku juga tidak akan seperti ini.
Jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja, jika saja—
Jika saja saat itu, aku memilih pilihan yang berbeda. Mungkinkah semuanya akan berubah?
Mungkinkah semuanya akan berakhir menjadi lebih baik? Mana yang benar? Mana yang salah?
Mungkinkah jika aku mengetahui semuanya, apa hati ini akan menjadi lebih lega? Apa semuanya akan berubah?
Jika saja— Itu adalah kata awal dari ratusan kemungkinan, atau mungkin ribuan, atau mungkin sampai jutaan.
Tidak ada yang tau, bahkan Dewa sekalipun tidak mengetahuinya.
Karena bagaimanapun, kata 'Jika saja' adalah bentuk dari kemungkinan tak terbatas.
Kata apa yang cocok untuk menggambarkan hal itu, mungkin jika kau bertanya kepada seluruh mahkluk hidup.
Maka mereka akan menjawab dengan jawaban yang sama, itu adalah sebuah Penyesalan!
...---[★★★★★★]---...
Matahari tenggelam seakan-akan itu adalah hal yang biasa, dunia akan terulang kembali seakan-akan itu adalah mimpi buruk.
Semua orang akan menutup pintu rumahnya dan berdiam diri di dalam rumah.
Malam yang gelap nan sunyi, semua orang telah tertidur.
Bulan akan segera tiba, tapi tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangannya.
Bukannya itu sedikit kasihan, kenapa hanya matahari saja yang mereka sambut?
Apa salah bulan sampai dia di perlakukan seperti itu? Padahal dia sudah berjuang keras menerangi malam yang gelap.
Sangat konyol, semuanya sangat konyol. Apa mereka semua takut dengan keberadaan bulan.
Jika iya, maka itu adalah sesuatu yang pantas untuk di tertawakan, meskipun tidak banyak orang yang menyambut kedatangan bulan.
Tapi, tetap saja tidak ada seorangpun yang berani mengejek bulan. Dia adalah eksistensi dari ketakutan sejati.
Memancarkan sinarnya yang redup, bulan itu dengan bangga berdiri di atas dunia dan meremehkan segala yang ada dibawahnya.
Seorang pemuda yang memiliki warna yang sama dengan bulan tersebut, saat ini sedang duduk bersila sembari memandang dosanya sendiri.
Senyuman yang penuh kepolosan dan kekejaman terlihat jelas di wajahnya yang tidak manusiawi.
Dia mengulurkan tangannya dan menggerakkan jari-jarinya seakan-akan ingin meraih bulan di atasnya.
Namun saat dia menggenggam tangannya, dia tidak merasakan apapun. Semuanya kosong dan hampa.
Pemuda itu sedikit sedih, tapi dia tidak patah semangat. Semuanya akan segera di mulai, perjalanan hidupnya akan segera di mulai.
Akan tetapi, apa yang sebenarnya ingin pemuda itu lakukan?
Apa yang dia pikirkan? Apa yang dia inginkan? Apa yang dia katakan? Apa yang dia renungkan?
Semua orang tidak mengetahuinya, hanya ada kegilaan dan kemarahan saat kau mendengarnya berbicara.
Sama sekali tidak ada kemanusiaan yang tersisa di dalam dirinya. Oleh karena itu, meskipun seseorang mati di depannya.
Dirinya tidak akan memperdulikannya.
“Rogant, aku sudah selesai. Bisakah kamu ke sini sebentar?”
“Aku mengerti.”
Seseorang menyebut namanya, segera pemuda itu berdiri dari tempat tersebut.
Perasaan bahagia yang aneh terpapar jelas di senyuman pemuda itu. Apa yang dia tertawakan?
Itu adalah mayat-mayat manusia yang tergeletak di sepanjang koridor yang gelap dengan genangan darah merah.
Rogant melewati mereka semua seolah-olah semuanya hanya sampah di pinggir jalan.
Dia berjalan menghindari mayat-mayat tersebut seperti sedang menari di atas mereka.
Setelah berhasil melewati mereka semua, dia sampai ke suatu ruangan yang gelap. Tapi, dia bisa melihat dengan jelas.
Mata Rogant menangkap sebuah pemandangan yang sangat indah.
Sepucuk bunga mawar merah berdiri di hadapannya, tapi jika kau melihatnya lebih teliti. Itu adalah siluet dari seorang wanita.
Memiliki rambut merah yang terlihat seperti api yang membara, dengan iris mata berwarna biru semurni langit.
Wanita itu berdiri dengan anggun di bawah mayat-mayat manusia yang dia bunuh.
Dia adalah—
__ADS_1
“Apa kau memerlukan sesuatu, Patrecia?”
—Pedang Suci generasi sekarang, Patrecia Van Strovius sedang berada di hadapan Rogant.
Wanita yang terlihat seperti seorang ksatria itu menyeringai dengan penuh keberanian.
Dia memakai jubah putih ksatria Kerajaan Lavendel, dan membawa pedang besar di pinggangnya.
Semua orang mengenal pedang itu, setiap orang yang melihatnya akan memuji kecantikan dari pedang besar tersebut.
... Itu adalah salah satu dari tujuh pedang surgawi, Hemels.
Akan tetapi, saat ini pedang tersebut masih tertidur. Karenanya, Pedang Suci tidak bisa memakainya.
Untuk saat ini, dia hanya memakai pedang kayu di satu tangannya.
“Yah, seperti yang di duga dari Pedang Suci. Hanya dengan pedang kayu, kau bisa mengalahkan semua penjahatnya sendirian.”
“Sekiranya diriku sendirian, aku tidak bisa sampai ke sini dan tersesat. Semua ini juga berkat dirimu, Rogant.”
“Kau benar-benar rendah hati. Aku hanya ingin memujimu, terima kasih.”
Patrecia tertawa kecil saat Rogant mencoba untuk menggodanya.
Namun sayangnya Pedang Suci sama sekali tidak bergeming dengan godaan seperti itu, dia berbicara dengan penuh martabat.
“Bisa mendapatkan pujian darimu, itu membuatku bahagia. Aku harus berjuang lebih keras lagi agar bisa mengekspetasikan harapanmu.”
“Hei, kau terlalu kaku. Cobalah untuk lebih rileks.”
“Aku menghargai saranmu. Akan tetapi, seandainya diriku bisa seperti itu, aku akan menodai nama ksatria yang diberikan kepadaku. Jadi, kamu bisa mengatakan ini adalah kebiasaanku.”
Mereka bertukar kata seakan-akan mereka adalah teman dekat, Rogant berjalan dengan santai ke arah Patrecia.
Tapi, meskipun mereka saat ini berjarak sangat dekat sampai bisa membuat Rogant melakukan serangan dadakan kepada Pedang Suci.
Tetap saja, yang dia rasakan saat mendekati Pedang Suci hanya perasaan gelisah dan ragu.
Rogant tidak yakin apa dirinya bisa membunuh Pedang Suci menggunakan serangan dadakan atau tidak.
Rasanya hatinya di tekan oleh sesuatu yang besar, dia dengan jelas di buat sadar dengan perbedaan kekuatan mereka saat ini.
Saat Rogant melihat ke sekelilingnya, dia menemukan beberapa mayat yang berjatuhan.
Itu adalah pemandangan yang bisa di bilang kurang mengenakan. Tubuh mereka semua di tebas seperti sehelai kertas yang di gunting.
Rogant benar-benar ragu dengan apa yang dia lihat, semuanya benar-benar sangat rapi dan sempurna.
Tapi, yah, seperti itulah eksistensi dari Pedang Suci. Dia adalah manusia yang bisa melakukan apa saja.
Bisa dibilang pemandangan ini adalah sesuatu yang wajar, seluruh ruangan yang dipenuhi dengan warna merah darah.
Dan seorang wanita yang berdiri di tengah-tengah semua itu dengan santai.
Selain itu, meskipun di sekitar tempat itu ada bekas pertempuran yang lumayan sengit.
Namun tidak ada satupun luka dan bercak darah yang menodai tubuh atau baju sang Pedang Suci.
Rogant menghela nafas panjang dan bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar.
“... Dasar monster.”
Itu adalah kata-kata alami yang keluar dari dalam hatinya. Antara wajar dan tidak masuk akal.
Maka Pedang Suci adalah eksistensi dari kedua kata tersebut. Sebenarnya, Rogant hanya ingin informasi saja dari Pedang Suci.
Seperti yang kalian tau, sebelumnya Kizuna pernah mengatakan bahwa Pedang Suci pernah menantang >Kuil Kehidupan<
Alasan Rogant mendekati Pedang Suci karena hal itu, dia mencoba untuk mengorek informasi darinya.
Sekecil apapun informasi itu, semuanya akan sangat berharga.
Akhir musim dingin juga sebentar lagi datang, ini adalah persiapan untuk keberangkatan kelompok Rogant.
Awalnya Kizuna melarang Rogant untuk berinteraksi dengan Pedang Suci.
Bagaimanapun, saat ini Rogant adalah seorang buronan yang memiliki julukan >Iblis Putih<
Apa jadinya jika dia berinteraksi dengan Pedang Suci yang merupakan pembela keadilan?
Sudah jelas itu akan menjadi tragedi dari yang terburuk dan terburuk.
Tapi, sayangnya Rogant sama sekali tidak memperdulikannya.
Jadi, dia diam-diam mencoba untuk berinteraksi dengan Pedang Suci.
Hal ini tentu saja dia sembunyikan dari Meily dan Kizuna. Jika mereka tau, Rogant pasti akan di ceramahi habis-habisan.
Lagian ini juga kesempatan yang bagus untuk bisa berkenalan dengan Pedang Suci yang merupakan ksatria terkuat di Kerajaan Lavendel.
Yah, meskipun sedikit sulit untuk berkenalan dengan Pedang Suci. Rogant sampai harus menyewa seorang pembunuh untuk itu.
__ADS_1
Dia menjadikan pembunuh itu sebagai tumbal untuk Rogant bisa berkenalan dengan Pedang Suci.
Menyuruh pembunuh bayaran untuk mengincar dirinya dan membuat skenario dimana Pedang Suci menyelamatkannya.
Rencananya benar-benar sangat sempurna, sekarang dia telah menjalin hubungan pertemanan dengan Pedang Suci.
Saat ini mereka sedang berada di dalam markas suatu organisasi.
Rogant mengarang bahwa ini adalah organisasi yang berniat untuk membunuhnya.
Tapi, sayangnya itu adalah kebohongan yang manis. Semuanya hanyalah sekedar rencana untuk lebih dekat dengan Pedang Suci.
Memang sangat kasihan untuk organisasi ini yang menjadi tumbal bagi Rogant, tapi dia sama sekali tidak memperdulikannya.
“Ngomong-ngomong, Rogant. Darimana kamu mengetahui letak markas organisasi ini? Pihak kerajaan telah mencari mereka selama ini, tapi hasilnya tetap nihil.”
Sembari melirik antara Rogant dan mayat yang ada di sekelilingnya, Patrecia Van Strovius bertanya dengan penuh penasaran.
Menatap lurus ke arah Patrecia, Rogant menyeringai tipis. Itu membuat Pedang Suci mengernyitkan keningnya.
Namun, Rogant hanya menghela nafas panjang dan menjawab sambil mengangkat bahunya.
“Yah, kau taulah. Mereka adalah organisasi yang berniat membunuhku, dan aku adalah seorang informan yang lumayan handal. Tentu saja, aku mengetahuinya.”
Tentu saja, itu hanyalah kebohongan di antara semua kebohongan yang Rogant lontarkan.
Yang sebenarnya mengetahui letak markas organisasi ini adalah Kizuna yang memakai koneksi sebagai seorang pelacur.
Rogant menggodanya agar dia memberikan informasi tersebut kepadanya.
Namun, terkadang Rogant sedikit khawatir. Mungkinkah, Pedang Suci ini telah mengetahui kebohongannya.
“Begitukah? Jika kamu mengatakannya seperti itu, maka diriku akan mempercayaimu.”
Tidak ada niat tersembunyi di balik kata-katanya, dan itu sedikit membuat Rogant tidak nyaman.
Dia menyipitkan matanya menatap emosi yang ada di dalam Pedang Suci tersebut.
Rogant selalu dibuat terkejut dengan sosok keadilan sejati yang ada di hadapannya.
“Kenapa kau mempercayaiku?”
Pertanyaan itu tiba-tiba saja di lontarkan dari mulut Rogant, dia juga terkejut dengan apa yang dia katakan.
Seiring dia bersama Patrecia, semakin bingung Rogant dengan sifatnya.
Karena tidak bisa membendung rasa penasarannya, dia secara tidak sengaja menanyakannya.
Mata Patrecia melebar keheranan dengan pertanyaan dadakan yang di buat Rogant.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Rogant, Patrecia merenungkannya, ekspresinya mengatakan bahwa dia juga tidak tau.
Namun, dengan senyuman damai yang menjiwai wujud ksatria nya, Patrecia menjawabnya.
“Rogant, meskipun kita baru bertemu satu malam ini. Aku telah menganggap dirimu sebagai temanku. Sekiranya kamu tidak menganggapku begitu juga, itu sedikit membuatku sedih.”
Satu alis mata Rogant naik saat dia mendengar hal itu, apa yang di katakan Pedang Suci benar-benar luar biasa.
Akan tetapi, ada kesedihan di dalam diri Rogant. Kata-kata yang di berikan kepadanya itu, benar-benar terasa berat di hatinya.
Tidak ada kebohongan di dalam perkataan Patrecia Van Strovius. Tapi, itulah yang membuat Rogant tidak nyaman.
Jika saja, dia berbohong. Itu akan membuat Rogant terasa sedikit nyaman saat dia membohonginya.
Akan tetapi, sayangnya yang berada di hadapannya adalah keadilan sejati. dia adalah eksistensi dari keadilan itu sendiri...
Dia memiliki keyakinan sebagai seorang ksatria dan pahlawan, melindungi orang yang lemah dan menyelamatkan semua orang yang butuh pertolongan.
Dia adalah pahlawan sejati yang membasmi kejahatan demi keadilan.
Membawa kebahagiaan dan keamanan kepada semua orang di dekatnya.
Dia adalah sosok yang sangat di kagumi oleh seorang pemuda yang bernama >Night Rogant<
Mau berapa kali Rogant berjuang keras, pada akhirnya dia tidak akan bisa menjadi Pahlawan.
Itu adalah dosa kecemburuan, dia iri kepada sosok Pahlawan yang berada di hadapannya.
Jika saja mereka bertemu dengan cara yang berbeda, mungkin mereka bisa menjadi sahabat dekat.
Namun—
“Ah, maafkan aku, maafkan aku. Kau benar, aku juga menganggapmu sebagai seorang teman.”
—Pada akhirnya itu hanyalah kemungkinan di antara semua kemungkinan.
Night Rogant merupakan eksistensi dari ketakutan sejati, dia tidak akan pernah bisa berteman dengan keadilan sejati.
Dunia tempat mereka tinggal berbeda, keyakinan yang mereka pegang juga berbeda.
Terlalu banyak perbedaan di antara mereka berdua. Jika itu di campur secara paksa, maka apa yang akan terlahir nantinya?
__ADS_1
—Hanya ada kekacauan dan kehancuran yang akan terlahir.