Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 12: Waktunya Kegelapan


__ADS_3

Di malam hari, di salah satu rumah disebuah desa.


Seorang wanita dengan rambut pirang panjang dan iris mata coklat, membuat raut wajah yang penuh dengan kegelisahan.


Disampingnya, seorang pria bertubuh kekar dengan jenggot, dan wajah yang kerutan, juga memiliki ekspresi yang sama dengan wanita itu— dia adalah suami dari wanita itu.


Atau lebih tepatnya, mereka berdua adalah ibu dan ayah dari anak yang bernama Meily.


Sang ayah bernama Kamal, dan sang ibu bernama Lusi.


Saat ini mereka berdua dibuat sangat gelisah dan takut oleh suatu alasan, itu adalah—


“... Meily belum juga pulang-pulang...”


Lusi hampir menangis saat mengatakan hal itu, dadanya tertekan, terasa sakit seperti ada yang mencekiknya.


Kekhawatiran dan ketakutan yang telah bersemayam di dalam dirinya, tidak lagi bisa dia sembunyikan di dalam ekspresi wajahnya.


“Bagaimana ini, Kamal? Meily masih belum pulang juga, apa yang harus kita lakukan?! Bagaimana jika dia menghilang?!”


Lusi sangat khawatir, menarik-narik baju Kamal dengan perasaan panik, berharap suaminya bisa melakukan sesuatu tentang hal ini.


Tapi, Kamal juga bermasalah, wajahnya memiliki ekspresi yang sama dengan istrinya, dia juga tidak tau harus ngapain.


“Diamlah! Percuma saja! Aku sudah mencari di sekitar ladang dan menanyakan orang-orang yang ada di desa, tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat Meily dimana pun!”


Mendengar itu, ekspresi Lusi seketika berubah menjadi gelap, dia telah kehilangan harapannya dan hampir tidak bisa mempertahankan tenaganya untuk berdiri.


“Kamal, apa Meily menghilang?! Anak itu sedikit nakal, tapi dia adalah anak yang baik! Jadi tidak mungkin dia akan pergi jauh-jauh tanpa meminta izin dari kita!”


“—Tch! AKU PUN TAU ITU!!!”


“Kyaa!!”


Kamal membentak Lusi dan mendorongnya sampai jatuh, membuat Lusi semakin tidak berdaya.


Mungkin, menyadari apa yang telah dia lakukan, Kamal segera menenangkan pikirannya dan membantu Lusi untuk berdiri.


“Aku minta maaf.”


“Tidak, aku juga salah. Aku juga minta maaf.”


Mereka segera berbaikan.


Tapi, itu tidak akan menjadi akhir dari semua ini.


Meily menghilang, dan mereka tidak memiliki pentunjuk untuk mencari dimana Meily hilang.


Hal itu menjatuhkan mereka kedalam pikiran-pikiran negatif, dan membuat mereka semakin putus asa.


Meily telah hilang sejak siang tadi, dan orang tuanya telah mencari Meily sejak sore hari, tapi tidak ada hasil yang memuaskan.


“Tidak ada gunanya, mungkin saja Meily pergi ke hutan. Mari kita tanya penjaga untuk hal ini.”


Mendengar proposal dari saran Kamal, Lusi mengangguk dan menyetujuinya.


“Kau benar, untuk sekarang lebih baik kita melakukan apa yang kita bisa.”


Setelah saling menatap, dengan wajah yang serius, mereka berlari ke arah gerbang desa.


Tidak ada waktu untuk bersiap-siap, meskipun diluar saat ini sangat dingin, nyawa putri mereka yang paling diprioritaskan. Mereka tidak akan bisa tenang sebelum mereka dapat menemukan Meily.

__ADS_1


Kamal menggertakkan gigi belakangnya dengan perasaan yang menyesal, dia berlari kencang sambil membawa cahaya lentera di tangan kirinya.


Dia menyesal, jika saja dia lebih memperhatikan putrinya, ini tidak akan terjadi.


“Kamal, apa yang akan terjadi jika Meily benar-benar menghilang?”


Sambil mengikuti dari belakang, Lusi bertanya, sambil memasang wajah yang menyedihkan.


Sejak tadi sore dia sudah seperti ini, dia tidak memiliki waktu untuk makan, dan sekarang wajahnya benar-benar sangat pucat, seperti sudah menua sebanyak puluhan tahun.


Pikirannya hanya dipenuhi tentang Meily dan Meily, jadi dia sama sekali tidak memperhatikan soal penampilannya.


Mendengar pertanyaan istrinya, Kamal merasa bersalah, dia ingin melakukan sesuatu untuk menghiburnya.


“Tenang saja, aku yakin ini akan baik-baik saja. Meily adalah anak yang kuat, kita pasti akan bertemu dengannya lagi.”


Mengatakan hal itu, Kamal memaksakan wajahnya untuk tersenyum, tapi matanya tidak.


Seperti Lusi, dia juga memiliki wajah yang sangat pucat seakan-akan telah menua sebanyak puluhan tahun.


Dia ingin menghibur Lusi, dan meringankan kekhawatirannya dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Namun—


“Kamal, apakah kau benar-benar mengkhawatirkan Meily?”


“....”


Seketika, suasana disekitar membeku, mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Kamal menolehkan pandangannya ke arah belakang, menatap tajam iris mata coklat milik istrinya. Tapi, Lusi juga keras kepala, dia memalingkan wajahnya dan berkata.


“Lihat, kau terdiam. Kamal, apa kau benar-benar mengkhawatirkan Meily? Dari tadi kau hanya mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi kau sama sekali tidak berjuang untuk itu! Apa yang sebenarnya kau inginkan?!”


“Apa maksudmu? Aku juga mengkhawatirkan Meily, bukankah itu sudah jelas.”


“....”


Perkataan dibalut oleh kemarahan, melihat wajah Lusi yang memerah, Kamal mengerutkan keningnya.


Dia juga marah, lagipula alasan kenapa dia tersenyum karena dia ingin menghibur Lusi, bukan karena dia tidak mengkhawatirkan Meily.


Menganggap bahwa ini hanya salah paham, Kamal mencoba untuk menjelaskannya.


“Lusi, ini—”


“Diamlah!! Ini salahmu karena kau tidak pernah becus menjadi seorang ayah!!”


Lusi membentak, memotong perkataan Kamal atas ketidaksabarannya yang membara.


Mendengar itupun, bahkan meskipun ini hanya salah paham, Kamal tidak bisa membiarkannya.


“Tentu saja aku khawatir kepada Meily! Kau pikir buat apa kita pergi ke gerbang! Bukankah itu untuk menanyakan apakah Meily pergi ke hutan!! Jika memang iya, maka kita perlu membuat tim pencarian secepat mungkin!! Aku mengkhawatirkan Meily! Semuanya terhubung!!”


“Itulah yang salah!! Mencari Meily adalah prioritas utama, setelah itu baru bertanya!! Kenapa kau tidak segera mengumpulkan orang-orang dan membuat tim pencarian?!! Tentu saja, itu karena kau sama sekali tidak mengkhawatirkan Meily, jadi kau bisa menganggap bahwa ini hanya masalah sepele!”


“....”


Memang benar, Kamal bisa saja mengatakan bahwa Meily menghilang dan mendiskusikan masalah ini dengan semua orang di desa.


Tapi, dia khawatir para penduduk desa tidak percaya, dan membuang-buang waktu untuk mendebatkan masalah ini.


Jadi, yang dia butuhkan adalah bukti. Untuk itu, dia perlu konfirmasi dari para penjaga.

__ADS_1


Juga, mengumpulkan tim pencarian akan membuang banyak waktu, jika bisa, dia ingin segera mencari Meily meskipun hanya berjumlah sedikit orang— tidak, bahkan meskipun dia sendiri, dia akan tetap mencarinya.


Kamal tidak mengatakan hal itu atas kesimpulan bahwa mungkin istrinya memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.


Tapi, sepertinya dia salah, dan itu malah membuat kesalahpahaman yang membawa mereka ke pertengkaran ini.


“Dengar, kau salah paham. Aku melakukan hal itu bukan karena aku tidak mengkhawatirkan Meily. Tapi, itu untuk mempersingkat waktu kita saat kita ingin mencarinya.”


“PEMBOHONG!!! Sejak dulu kau memang seperti ini!! Kau sama sekali tidak menyayangi Meily!! Aku memprioritaskan Meily di atas segalanya!! Tapi, kau, apa kau pernah sekalipun mengatakan kalau kau peduli sama Meily?!!”


“....”


Lusi menghujani pertanyaan-pertanyaan itu padanya, tetapi dia tetap diam, tidak berbicara sepatah katapun sebagai balasan.


Namun, suasana hati Kamal berubah saat melihat Lusi melontarkan hinaan kepadanya.


“Kau telah gagal menjadi seorang ayah! Jika saja kau menjaganya dan tidak memanjakannya. Ini tidak akan pernah terjadi!”


“.... Diam.”


“Sejak Meily menghilang, kau tidak pernah sekalipun mengatakan kalau kau mengkhawatirkannya, tidak pernah sekalipun! Kau hanya tersenyum seperti orang idiot yang mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan!”


“DIAM!”


“Tidak, aku tidak akan diam. Berapa kali aku harus mengulanginya. Kamal, kau sama sekali tidak peduli dengan Meily. Bahkan, jika dia tidak ditemukan, kau hanya akan merasa senang!”


“SUDAH KUBILANG DIAM!!”


Bidang pandangnya mati dalam warna merah, dan sarafnya berkobar mendengar Lusi melampiaskan komentar tak berpikirnya.


Kemarahannya pada istrinya yang tidak peka, yang telah melontarkan kata-kata egois itu sambil memandang rendah dirinya dari jarak aman, meledak.


Dia akan meraihnya dan menyeretnya ke bawah— Meskipun waktu yang dibutuhkan untuk itu tidak cukup cepat.


“AL EARTH—!!!”


“KH, AH?!”


Kamal menjatuhkan sensasi gelap yang berputar-putar di otaknya hingga ke dadanya, dan melepaskannya.


Sihir tanah berteriak kegirangan saat tanah di bawah kaki Kamal meledak dan retak begitu dia menghentakkan kakinya.


Tanah yang retak merayap seperti mahkluk hidup, berjalan menuju ke bawah kaki Lusi, dan pada saat tanah itu sudah sampai, sebuah tanah padat menonjol seperti batu besar, melemparkan gadis berambut pirang yang telah mencelanya.


Sambil menjerit, Lusi dengan liar jatuh lebih jauh ke belakangnya, menghantam tanah dengan keras.


Kebingungan melanda wajah Lusi, menunjukkan bahwa dia tidak tau apa yang baru saja terjadi setelah dia dipukul oleh sihir tanah milik suaminya sendiri.


Kamal bergegas ke samping tempat Lusi berbaring di atas tanah.


“Jangan bermain-main denganku!”


Mengatakan bahwa dia sama sekali tidak memikirkan Meily, mengatakan hal seperti itu, bukanlah lolucon yang bagus.


Dikonsumsi oleh kemarahan, semuanya menjadi seperti dari manapun dia melihatnya, itu mengikuti pikirannya yang terlalu panas.


“Urkh...!”


Kamal membungkuk di atas Lusi yang terlentang, dan mulai mencekik lehernya yang ramping.


Krek, krek.

__ADS_1


Krek, krek, krek.


__ADS_2