Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 15: Pengunjung Tak Terduga


__ADS_3

Kenapa... kenapa semuanya tidak ada?


—Apa ini mimpi?


Dimana ibuku? Dimana ayahku? Dimana semuanya?


Kenapa... kenapa aku tidak bisa melihat mereka semua? Kenapa aku tidak bisa menemukan mereka semua?


—Apa ini hanya mimpi?


Ini bukan desaku! Aku tidak bisa menemukan rumahku dimana pun! Jadi ini pasti bukan desaku... Tapi...


Kenapa aku merasa sakit?


“Ah, urk...”


Kenapa ini bisa terjadi?


Kenapa semua orang tidak ada?


Kenapa mereka pergi?


Kenapa aku hanya bisa melihat mayat mereka saja?


Kenapa rumah semua orang terbakar?


Kenapa tidak ada siapapun?


Kenapa mereka semua mati?


Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?—


Kenapa mereka meninggalkanku sendiri?


“Ah, aaah...”


Sakit.


Dadaku terasa sakit, pikiranku tidak bisa memikirkan apapun. Ini sakit, ini terlalu sakit, aku tidak bisa menahannya lagi.

__ADS_1


Ayah, ibu, dimana kalian? Aku sakit, aku tidak ingin mati. Aku ingin bersama kalian lagi.


Ini sakit, ini sangat sakit, tolong aku, ini sakit. Dadaku sangat sakit, ini terasa sakit, kumohon, tolong aku.


Kenapa... Kenapa tidak ada yang mendengarkanku? Ini sangat sakit!


Hatiku terasa sangat sakit! Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Dadaku seperti ingin meledak. Ini sangat sakit!


Aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin mati! Ini sakit! Kenapa! Kenapa! Kenapa tidak ada yang menolongku?!


Ini sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit!—


“Heh, he, hehe...”


Aku tidak tau lagi harus berbuat apa– tidak, mungkin aku sudah telat untuk melakukan sesuatu.


Peluang terakhirku untuk mengatakan hal yang pantas, haruskah kucoba?


Hei, mengapa dan bagaimana aku bisa berakhir dalam kondisi seperti ini?


“Apa yang lucu?”


Mendadak, aku mendengar suara.


Pemilik mata belang itu dipenuhi dengan kegelapan, bibirnya tersenyum tipis saat menatap ratusan kematian.


“Hei, apa yang lucu?”


Lucu? Apa yang lucu? Kau tanyapun tidak bisa kuberi tau jawabannya.


Dari awal tidak ada yang lucu. Tidak ada, jadi sebenarnya kau bertanya apa?


Pertanyaannya membingungkan. Apa ini semacam omong kosong atau teka-teki?


Walaupun kau memaksaku untuk menjawabnya, jawabannya tidak ada. Tapi, waktu yang aku habiskan dalam keheningan semuanya sangat sulit.


Apa ini semacam takdir? Berapa kali sebetulnya ini terjadi?


“—Apa yang lucu?”

__ADS_1


Tidak ada yang lucu.


“Huu, heh, heehee...”


Lalu, orang yang bertanyakah yang salah?


Atau orang ini saja yang tidak bisa membaca suasana, jadi bersenang-senang seperti ini?


Apa dia menikmati pemandangan anak kecil yang dikelabui oleh keputusasaan, dan kesedihanku?


Jika begitu, lantas kemanusiaannya pasti sudah benar-benar terbalik 180 derajat.


“—Apa yang lucu?”


Hentikan, tidak ada yang lucu. Kenapa kau terus menerus melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali?


Hentikan, menjauhlah dariku, jangan menggangguku. Kenapa kau terus mempermainkanku? Apa kau bersenang-senang dengan kesedihanku?


Tidak ada lucu, jangan bersenang-senang.


Ini tidak adil, tolong... Tolong biarkan aku mati.


Tidak bisakah aku mati dengan tenang? Aku hanya ingin mati tenang.


Sedamai mungkin, seolah-olah ingin tidur, itulah cara mati yang paling mengenakkan untukku.


Tapi, harapan itu takkan terwujud. Jauh dari dikabulkan, takdirku sepenuhnya berkebalikan.


“Hei, apa yang—”


Lucu.


Pertanyaan yang berkali-kali mencari jawabannya mendadak hilang bagaikan kabut.


Apa yang terjadi? Pikirku, segera menghilang saat suara harapan tiba-tiba mengguncangkan seluruh pikiranku.


“MEILY-CHANNNNNNNNNNN–!!!”


.....

__ADS_1


Mataku melebar dari rongganya, menggigit keras keputusasaan, hanya beberapa saat saja sampai tubuhku terbebas, dalam kondisi demikian lah, aku mengerang dan menggerakkan bibirku seraya tertegun.


“Eras... chan?”


__ADS_2