
Saat mereka berhasil membunuh mangsa mereka, sekawanan serigala itu melolong, dalam suaranya yang keras dan ambigu.
Mereka cukup senang dengan penghargaan, ini membuktikan bahwa mereka serigala pemburu yang hebat.
Tapi—
Hal itu hanya akan sampai saat mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Itu toIoI, saat mereka dengan bangga mendeklarasikan kemenangan mereka.
Keberhasilan dan kesuksesan, bukanlah akhir dari takdir mereka.
Tak seperti suara hewan, suara yang datang dingin tapi jelas.
“Hei, apa yang menyenangkan?”
Hah?
Mungkin ekspresi semacam itulah yang akan serigala itu buat saat mereka tidak memahami kekonyolan ini, mereka terdiam membisu.
Duduk di sana, adalah seorang remaja dengan rambut berwarna putih dan memiliki mata belang yang tidak manusiawi.
Itu mustahil!
Adalah apa yang serigala itu pikirkan.
Mereka kembali dalam posisi, keganasan yang terlupakan sedikit telat saat mereka masih tercengang.
Remaja itu masih hidup, dia yang seharusnya sudah mati dalam koyakan tubuh yang luar biasa, masih berdiri tanpa ada bekas luka sedikitpun di bagian tubuhnya.
Apa yang terjadi?
Para serigala sedikit bingung, tapi mereka tidak ingin kebingungan itu mengganggu insting buas mereka, jadi mereka melupakannya, dan melanjutkannya tanpa memikirkan alasannya.
Kami hanya perlu membunuhnya lagi!!
Namun, apa perasaan itu sampai kepada remaja itu? Meskipun dia sadar dirinya sedang diburu, sinar matahari masih memperlihatkan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.
Yah, remaja itu tersenyum, diam di sana dan tidak melakukan perlawanan apapun.
Para serigala mencibir melihat kebodohan manusia itu, dan dengan senyuman bengis mereka menunjukkan taring mereka.
Dasar manusia toIoI!
Itu tidak lucu saat diperlihatkan, seni brutal mereka dalam membunuh cukup mengagumkan. Taring yang tajam adalah kebanggaan mereka, dan itulah yang mereka pikirkan.
Saat serigala itu menggigit tepat di leher remaja itu dan mendidiknya dengan taringnya.
Dia tidak menyangka, remaja itu—
“... Kau bersalah, jadi aku akan melakukan dosa yang sama kepadamu. Ini semua untuk membebaskan kalian, dan ini juga untuk kebahagiaanku.”
Apa?!
Tidak sempat untuk memikirkan apapun, sang serigala terkejut saat dia mendapati kulit ditubuhnya terkelupas.
Menahan rasa sakitnya, itu mustahil, dia segera melompat mundur dan tubuhnya gemetar hebat saat buluh, saraf, dan daging yang terkelupas di bagian pundaknya menjadi api panas yang menyebarkan rasa sakit di jiwanya.
__ADS_1
Mendengkur dengan menyedihkan, serigala itu mencari asal dari pelaku yang mengoyak dagingnya.
Pada saat itulah.
“....”
Dia, akhirnya menyadari, arti sebenarnya dari senyuman remaja itu.
Seluruh tubuh remaja itu ternodai oleh darah, pusatnya di bagian lehernya, terdapat bocoran dari daging yang terkoyak, dapat terlihat jelas deras darah merah yang mengalir.
Hanya membayangkan rasa sakitnya, mereka pasti akan mengerutkan raut wajah mereka.
Tapi, korbannya tersenyum, terlalu lebar untuk disebut sebagai hasil dari rasa sakit. Senyuman itu membuat buluh kuduk setiap serigala merinding ngeri.
Tapi, apa hanya itu, apa hanya itu saja yang membuat mereka merasakan rasa takut sebesar ini? Mereka tidak yakin.
Lagi pula, bekas luka terkelupas itu juga perbuatan dari remaja itu.
Darah yang mengalir dari mulutnya, dan kulit buluh yang berada di giginya, adalah bukti terkuat yang mereka punya.
“Hei, apa yang kalian bengongin?”
Suaranya gelap, hampir menenggelamkan seluruh suasana ke dalam lautan kegelapan.
Serigala itu menggonggong, dengan intimidasi yang mereka miliki, namun sepertinya itu gagal.
Keganasan mereka masih belum cukup untuk merayap ke akal sehat yang telah hancur.
Setelah itu, tiba-tiba... remaja itu tertawa—
“Heh.”
Para serigala menyipitkan mata mereka, mengerang dengan waspada saat remaja itu mulai menggila.
Menutup wajahnya seakan-akan tidak percaya, remaja itu terus tertawa seperti telah kehilangan akal sehatnya.
“Heh, hehee, ahahaha, hahahahahaha, ahahahahahahahahahahahahahahaha!!”
Suara tawanya menggelegar, seperti orang gila yang merangkul kesombongan.
Hal yang serupa terjadi kepada ekspresinya, mata gelapnya menyipit secara melankolis saat dia merendahkan martabat para serigala itu.
“Apa kalian tau? Kebiasaan dalam membunuh tidak pernah membuatku merasa baik. Aku tau kalian hanya nyawa dari hewan tak berguna. Tapi, aku percaya, bahkan kalian pasti memiliki sesuatu yang disebut kebahagiaan dalam filosofi kalian. Oleh karena itu, majulah, dan berikan aku semua yang kalian punya.”
Mendengar kata-katanya yang sulit dimengerti—
Perasaan hati para serigala seakan-akan dikelabui, mereka tidak memperdulikan lagi rasa takut yang membuat mereka terhenti. Mengabaikan segala norma-norma dan kebanggaan yang mereka miliki.
Para serigala memulai pemburuan yang paling memuaskan selama hidup mereka.
Dalam satu kejadian, mereka meraung, merasa senang saat tubuh dan hati mereka hancur.
Melihat itu, Rogant hanya tersenyum, saat para pemburu hebat itu mulai mengincarnya.
Dia tidak menghindari serangan mereka, malahan menggunakan luka yang dia tempa sebagai alat untuk membunuh para serigala itu.
Cakar tajam mencabik tubuhnya, menghancurkan dagingnya, menggores matanya, dan membeberkan ususnya. Merah darah menghiasi tubuhnya, tapi takdir tidak menyetujui kematiannya.
__ADS_1
“Kalian terlalu lemah.”
Dia hidup kembali, dan memulai kembali takdir yang telah di ubah.
Paru-paru mengembang dan mengempis, menyalurkan oksigen yang diperlukan ke seluruh tubuhnya secara bergantian. Itu juga refleks, naluri bertahan hidup.
Batuk-batuk, pahitnya darah naik dari tenggorokan.
Beberapa kali tubuhnya terputus menjadi dua, dan beberapa kalinya otaknya di koyak dan menunjukan benda bulat merah yang terlihat seperti usus yang di lilit.
Pikirannya masih bisa berdenyut bahagia, di bawah kematian yang berurutan.
Mati, dan muncul kembali. Seperti setan yang tak ada habisnya, seperti ular yang melilit kematiannya sendiri.
Biar begitu, senyumannya masih terpasang jelas, bahkan sangat lebar sampai-sampai serigala itu bisa menariknya dan mengoyaknya.
Dia seperti boneka, yang tubuhnya dihancurkan tanpa memandang moral kemanusiaan.
—Tentu saja, Rogant juga melawan.
Mengunakan luka yang dia dapatkan, dia mencongkel bola mata serigala itu, menggigit kulit-kulit mereka, dan membongkar isi dari organ pencernaan mereka.
Seakan-akan, dia sedang mencontoh pola pikir serangan para serigala itu, berharap mendapatkan kebahagiaan yang sama dari apa yang mereka lakukan.
Dia memanfaatkan kematiannya dan menari bersamanya.
Dia tidak memperdulikan luka yang di terimanya dan mempermainkan resiko dari tubuhnya sendiri.
Sekali dia mati, dia akan hidup lagi dengan mengubah takdir kematiannya.
“Ayolah, berikan aku kesenangan.”
—Gemetar, terkoyak, hancur, terputus, tercabik, tergigit, terpotong, seakan-akan Rogant dibenci oleh kehidupan.
Hewan buas pemakan jiwa, melibatkan diri dan menghancurkan jiwa, semuanya menjadi lautan darah yang tidak mungkin pada tempatnya.
Hutan rindang yang kasar, telah menjadi kuburan untuk mayat masa lalu dan sekarang.
Saat tubuhnya berkumpul dalam genangan darah kebahagiaan. Tanpa dia sadari, hari telah menjadi sore.
Warna langit yang merah menjadi warna yang cocok untuk melekat pada jiwa yang kotor.
“....”
Rogant terkapar, dengan nafas yang berangsur-angsur, dia membaringkan tubuhnya... di atas tumpukan mayat serigala yang jiwanya telah sirna.
Dia tidak tau sedang tertawa atau apa. Namun, bayangan yang berapi-api dalam benaknya masih memanas.
Darah merah yang bercucuran menjadi pemandangan yang sederhana di mata gelapnya.
Mengabaikan bentuk manusiawinya, Rogant tersenyum lebar dan mengulurkan tangan kanannya, seolah-olah ingin menggapai langit yang tak terjangkau.
Tindakannya aneh, pemilik rambut putih itu berbicara dengan lirih, namun suaranya jelas dan tidak diragukan.
“—Pasti, aku akan menyelamatkanmu.”
—Kepakan sayap burung, dalam hutan perlahan-lahan suara kematian selanjutnya bergema.
__ADS_1
[>Skill: Authority of Pride< di aktifkan!]