
“Tunggu, Tuan!! Anda tadi mengatakan apa?!” Teriak Kizuna yang panik.
Rogant masih tersenyum, “Aku mengatakan aku akan membasmi mereka semua sendiri.”
“Tidak! Itu tidak boleh! Apa anda ingin mati?!” Kizuna dengan keras kepala menolak saran Rogant, dia terdengar sangat khawatir, “Jika kita perlu membasmi mereka, tolong biarkan aku dan Meily-chan yang melakukannya! Anda tidak perlu repot-repot mengurusnya!— Meily-chan, kau juga! Tolong bantu aku untuk meyakinkan Tuan!” Teriaknya yang berusaha menghentikan Rogant untuk bertarung.
Namun, sepertinya Meily tidak terlalu peduli.
“Selama Rogant telah mengatakan dia ingin melakukannya, maka, Meily hanya bisa diam.” Kata Meily yang terdengar santai tidak seperti Kizuna yang panik, “Lagian, Rogant tidak akan kalah dengan serangga.”
“Oh, tentu saja. Aku tidak akan kalah dengan serangga-serangga itu.” Tambah Rogant sambil tersenyum lembut dan mengelus kepala Meily, “Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Mengatakan itu, Rogant turun dari gerbong kereta, di lanjutkan oleh Meily yang membawa boneka beruang di tangannya.
Kizuna yang melihat itu dengan panik turun dari kursi pengemudi dan mendekati Rogant.
“Tunggu! Tunggu sebentar, Tuan! Aku tidak akan membiarkan Anda pergi!” Teriaknya yang terdengar sangat khawatir yang telah membuat Rogant senang. Tapi, tetap saja...
“Oh ayolah, Kizuna. Aku akan baik-baik saja, percayalah kepadaku.” Kata Rogant dengan santai berjalan melewati Kizuna, lalu saat dia berada tepat di belakang Kizuna, Rogant berkata, “Tenang saja, aku tidak akan mati.”
Mata Kizuna melebar, dia dengan jelas mendengarnya, “ Apa... baru saja... Tuan tertawa?”
“Aaah~ Hei, Kizuna, lebih baik kita pergi dari sini. Mungkin di pinggir sana lebih bagus.”
Meily yang masih santai memanggil Kizuna yang melamun. Kizuna yang kembali sadar menoleh ke arah Meily, dia mengernyit.
“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya sambil memiringkan kepalanya kebingungan.
“Apa?” Meily juga bingung, lalu saat Kizuna menatap ke arah sampingnya akhirnya dia mengerti, “Aaah~ Kita akan pindah tempat.”
Meily menjelaskannya, hampir tidak berguna. Dia saat ini mengangkat gerbong kereta dan para naganya menggunakan kegelapannya.
Itulah yang membuat Kizuna bingung.
“Kenapa kita perlu pindah tempat?” Tanya Kizuna yang masih menatap Meily.
Lalu, Meily menjawab sambil menaruh jarinya ke pipinya yang mungil dengan gaya imut, “Hmm~ Jika kita tetap di sini, maka kita akan menghalangi Rogant.”
“Eh...?”
Tentu saja itu membuat Kizuna terkejut, dia dengan pelan-pelan membalikkan tubuhnya dan memandang seorang pemuda yang dengan bangga, dengan senyuman angkuh, dengan rambut putih, dengan syal merah, yang saat ini berhadapan dengan lima puluh binatang iblis tipe serangga monster.
Mata biru cerahnya menatap pemuda itu dengan penuh kasih sayang dan khawatir. Ekor dan telinganya menunduk dengan sedih karena tidak bisa menghentikan laki-laki yang dia cintai. Kizuna hanya bisa diam dan menunggu pemuda itu dengan gelisah.
“Nah, Meily-chan, apa Tuan kuat?” Tanya Kizuna sambil mengepalkan tangannya.
Setelah itu, Meily sambil membusungkan dada ratanya dengan bangga menjawab.
__ADS_1
“Tentu saja! Bahkan meskipun kita berdua bekerja sama melawannya. Aku yakin Rogant bisa mengalahkan kita dengan mudah...!”
...---[★★★★★★]---...
Selagi para perempuan masih berdebat di belakang sana, Rogant saat ini berjalan dengan santai menuju kawanan binatang buas yang berada di depan sana.
[Master, kenapa anda tiba-tiba mengatakan ingin bertarung? Bukannya lebih baik menyuruh Meily-chan dan Kizuna-chan untuk melakukannya saja.]
Mendengar itu, Rogant menghela nafas panjang seakan-akan mengatakan bahwa perkataan Pride System sangat bodoh.
Yah, lagi pula—
“'Kenapa aku bertarung?' Tentu saja, karena itu demi kematian. Di saat kematian berada di depanku, tidak mungkin aku melepaskan mereka begitu saja. Akhir-akhir ini aku tidak merasakan perasaan itu lagi, jadi aku sudah tidak bisa lagi menahan diriku untuk mati.”
—Rogant menjawab dengan senyuman lebar sampai membuatmu berpikir mungkinkah bibirnya koyak.
[Anda benar-benar memiliki hobi yang buruk.] Kata Pride System mencibir yang membuat Rogant terkekeh.
“Takdir adalah Kematian, dan Kematian adalah Kebahagiaan... Mari kita menari dan menginjak-injak harga diri kehidupan.”
Senyuman bak seorang iblis tersirat di wajah Rogant yang tidak manusiawi. Dia dengan bangga berjalan mendekati Kematian.
Dia berjalan dan berjalan mengubur dirinya sendiri, hatinya memanas dengan perasaan gembira akan kematian.
Awan di langit semakin gelap dan gelap seakan-akan berkumpul hanya untuk menonton kematian pemuda putih itu.
“HIIIIEEEKKHH—!!!”
Binatang iblis itu mendesis keras seperti anak bayi yang menangis.
Bentuknya yang besar dan menjijikan langsung terkejut saat melihat Rogant, atau lebih tepatnya mereka semua ketakutan saat melihat syal berwarna merah yang di pakai Rogant. Sayap hitam dan berduri melebar seperti ingin melarikan diri.
Namun, alih-alih melarikan diri, mereka dengan ganas terbang dan menerjang ke Rogant dengan kecepatan menakutkan.
Seketika itu juga, Rogant mati dengan tubuh yang di seret di jalan berbatu.
Darahnya meleset terlihat jelas di sepanjang jalan seperti membentuk sebuah karya seni.
Tubuhnya hancur dengan sangat sadis sampai terlihat otak dan organ bagian dalamnya.
“HIIIEEEKKKHH—!!!”
Mengetahui hal itu, para binatang iblis tipe ngengat, kita sebut saja mereka 'Mot'.
Saat para Mot berhasil membunuh Rogant, mereka semua mendesis seperti bayi menangis seakan-akan menikmatinya.
Namun—
__ADS_1
“He-he! Aha-ha-ha-ha-ha-ha!! Ya yah, anak manis, ke sinilah dan bunuh aku sesuka hati kalian sampai kalian puas!!”
—Rogant menulis ulang takdirnya dan muncul lagi dengan senyumannya yang mengejek.
Meskipun berhadapan dengan lima puluh binatang iblis, Rogant tertawa keras dan menyisir rambutnya ke belakang seolah-olah sedang meremehkan para Mot
“HIIIEEEKKKHH—!!! HIIIEEEKKKHH—!!!”
“HIIIEEEKKKHH—!!!”
Tentu saja, para Mot tidak akan pernah memaafkan pemuda sombong itu yang beraninya meremehkan mereka.
Dia harus mereka cabik-cabik sampai mati, begitulah pikir otak menjijikkan mereka.
Para Mot segera mengepakkan sayap mereka dengan aura intimidasi dan terbang ke langit secara tidak beraturan. Ada yang saling bertabrakan karena terkejut, ada juga yang bertengkar sesama mereka.
Para Mot itu benar-benar tidak bisa berkerja sama satu sama lain, itu sedikit membuat Rogant kecewa. Namun, karena mereka tidak melupakan keberadaannya, Rogant tidak peduli, mereka semua harus berfokus hanya untuk membunuh dirinya dan memberinya rasa kenikmatan akan kematian yang kejam.
Akan tetapi—
“Tidak akan seru jika aku membunuh mereka semua dengan >Soul Resonance< langsung.”
—Dengan begitu, Rogant mengambil sebuah pedang di dalam >Inventory<
Itu adalah >Blade of Fear<, sebuah pedang dengan panjang yang aneh, berbentuk lurus seperti sebuah katana, dan memiliki warna gelap yang memberinya kesan kematian.
Tapi, yang lebih aneh dari pedang itu, bagian bawahnya di bungkus dengan kain putih yang sedikit longgar.
“Hah? Apa ini?!” Rogant terkejut.
Saat Rogant memegang pedang itu, tiba-tiba saja tangannya berubah menjadi hitam seperti ada akar di dalamnya dan terus merambat di sekitar lengan kanan Rogant.
[Master! Itu adalah Pedang Iblis, dimana dia akan menjadi semakin kuat jika pengguna nya memiliki rasa takut yang dalam!]
Pride System segera memberikan Rogant penjelasan yang singkat, tapi, itu sama sekali tidak memberikan solusi untuk situasi ini.
“Sial! Oi, pedang ini mulai menelanku! Apa kau tau sesuatu tentang ini, Pride-chan?!”
[Maafkan saya, Master! Saya juga tidak tau, tapi, mungkin pedang itu terangsang di luar kendali saat dia merasakan rasa takut anda!]
Mendengar itu, mata Rogant melebar keheranan, “Rasa... Takutku...?”
Tidak di beri kesempatan untuk merasa kebingungan, sebuah tato hitam merambat dan hampir menutupi seluruh tubuh Rogant.
Sekarang, setengah bagian tubuh Rogant telah terbentuk tato seperti sebuah akar yang merambat. Pedang di lengan kanannya juga berubah bentuk, itu menjadi lebih besar dan lebih menakutkan dari sebelumnya.
Pedang Iblis Schrik, telah sepenuhnya menguasai tubuh Rogant.
__ADS_1