Divine Protection: Pride System

Divine Protection: Pride System
Episode 40: Ruang Pengadilan


__ADS_3

“Terkadang aku sedikit kagum dengan sifat seorang manusia. Mereka terkadang bodoh, tapi terkadang juga pintar...”


Menghadap ke lantai yang dingin, seorang pria mendengarkan.


Kepalanya terjatuh di lantai dalam posisi berlutut. Nafasnya tidak beraturan, detak jantung berdegup sampai ke otaknya, keringat dingin terus membasahi tubuhnya.


Dia adalah seorang pria, tampak seperti sudah berusia enam puluh-an.


Seorang pria paruh baya, dia memiliki aura seorang ayah yang terlihat seperti sudah memiliki anak, bahkan cucu.


Dia adalah seorang pria yang terkenal, dirinya memiliki organisasi yang dulunya di takuti oleh seluruh kerajaan.


Posisinya sedemikian rupa, dia adalah seorang kriminal terkenal dengan kekayaan dan kekuatan.


Dirinya adalah seseorang yang spesial, tidak aneh jika dia ingin menyombongkannya. Dia memiliki kepintaran yang di luar norma.


Oleh karena itulah, sekarang dia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah saat ini dia berada dalam ilusi atau mimpi.


Dia tidak mempercayainya.


—Dia yang seorang terkenal, bertekuk lutut di hadapan lawan yang lebih muda dari cucunya.


“Kalian tau, banyak tipe manusia di dunia ini. Berbagai macam, seperti seseorang yang tidak jujur kepada dirinya sendiri atau orang yang sombong dengan kekuatannya sendiri, munafik, jahat, baik, tulus, polos, bodoh, dan banyak lagi.”


“......”


“Namun, yang paling aku sukai adalah manusia yang saat dia sekarat, dia akan mati matian mencoba untuk bertahan hidup dari apapun. Aku kagum kepada manusia yang masih berpikir hendak memutar balikkan keadaan, tapi menurutku itu hanyalah perjuangan yang sia-sia. Mereka seharusnya menyerah saja dan menerima kebahagiaan itu dengan senyuman indah.”


Suara yang berada di atas kepalanya berbicara dengan lancar.


Tentang perkataannya, sebagian besar sulit untuk dimengerti dan sama sekali tidak berguna.


Akan tetapi, tidak ada satu katapun, satu kalimatpun yang di lewatkan olehnya. Apa mungkin itu karena takut menyulut amarah nya?


Bagaimanapun juga, rumor mengerikan mengenainya sudah menumpuk bagaikan gunung.


Pemuda itu, yang muncul tiga tahun lalu, telah di perbincangkan dalam desas-desus mengerikan semenjak itu.


Semua yang menentangnya, desa-desa di sekitarnya, dan mereka yang penting baginya di singkirkan dengan cara yang kejam.


Mereka semua di singkirkan dengan kekuatan tak terkalahkan yang terus dia sebar luas.


>Iblis Putih<, nama panggilan pemuda itu.


“.....”


Pria tua berlutut di hadapannya dengan ketakutan yang tidak masuk akal.


Saat ini mereka berada di dalam suatu ruangan bawah tanah tersembunyi, ini adalah tempat tersembunyi di dalam organisasinya yang hanya dirinya sendiri yang tau.


Barang-barang mewah, koin emas yang berjumlah puluhan ribu lebih, dan item sihir yang langka, semua hartanya berada di ruangan ini. Ini adalah ruangan harta.


Saat ini seorang iblis berada di kursi hitam di dalam ruangan itu— Dia duduk bersila di atas kursi yang bisa kau sebut tahta tertinggi.


Dia duduk santai dan memandang rendah tamunya.


Tapi, yang lebih membuat pria tua itu menjerit adalah dua eksistensi yang berdiri di kiri dan di kanan si >Iblis Putih<


Di sebelah kiri ada seorang gadis kecil dengan kegelapan yang menari-nari di sekelilingnya, dia sama sekali tidak mengenalnya.


Namun, dia tau dengan kekuatan yang gadis kecil itu miliki. Sebelumnya, dirinya telah melihatnya menebas anak buahnya dengan sangat kejam.


Jadi, dia sama sekali tidak bisa meremehkan atau bertindak tidak sopan di depan kekuatan yang tidak manusiawi itu.


Selanjutnya yang berada di sebelah kanan adalah seorang wanita penggoda dengan sembilan ekor rubah di belakangnya, dia kenal siapa wanita itu.


Sebelumnya dia pernah melihatnya, Kizuna Miko, seorang mahkluk agung dengan kekuatan yang di luar imajinasi.


Dia juga seorang pelacur yang memimpin distrik lampu merah.


Dari kedua orang tersebut, masing-masing memiliki kekuatan yang di luar kemanusiaan.


Sudah jelas pemuda itu tidak tertandingi, tiada bukti yang lebih baik lagi dari ini.


“Terota-san?”

__ADS_1


“.....”


Pada saat itu, pikirannya melamun, namanya di panggil. Hal itu membuat hati Terota Bizel membeku.


Menutup sebelah matanya, menaruh jarinya di sebelah kepalanya, dengan senyuman lembut, pemuda itu menatap Terota dengan mata hitam miliknya.


Seakan-akan jiwanya di lilit secara langsung dengan tanaman yang berduri, itu membuat Terota meronta-ronta.


Tenggorokannya yang kekurangan oksigen merinding di hadapan eksistensi Iblis Putih.


Akan tetapi, bahkan respon rapuh Terota bisa membuat bahu Iblis Putih merosot.


“Ah, maafkan aku, maafkan aku. Ceritaku jadi melenceng jauh, ini kebiasaan burukku. Yah, memang sejak dulu sih, kalau kita tidak segera ke intinya, maka ini akan menjadi sangat lama.”


“S-Saya baik-baik saja... Jika hanya—”


“Aku lagi ngomong.”


“.... Hk?!”


Jari tangan kanan menyentuh bibir, mata hitam menatapnya dengan tidak senang.


Pertanda bahwa alibinya di tolak, itu membuat buluh kuduknya berkeringat dingin.


Organ dalamnya seakan-akan berhenti mengoperasikan tubuhnya, dia menjerit lirih dengan kekacauan di pikirannya.


Tubuhnya gemetar dengan ketakutan yang sulit untuk di pahami, jantungnya seolah-olah lepas dari dalam tubuhnya sendiri.


Dalam keheningan yang serasa menghentikan waktu, sepuluh detik sudah berlalu.


“... Maafkan aku, Terota-san. Tidak ada maksud mengancammu. Hanya saja dua orang yang bersamaku ini terkadang sedikit ceroboh. Aku tidak ingin kau kenapa kenapa, jadi... Begitulah, maaf.”


Sejujurnya, secara harfiah nada bicara pemuda itu santai. Ukuran besarnya saja yang aneh.


Dia seperti orang yang memiliki sopan santun, dia bahkan menghormati dirinya, dia terlihat seperti anak muda yang polos.


Namun, berkat kepolosan itulah, dia bisa menyakiti orang lain dengan kekejaman yang tidak masuk akal.


Tidak ada niat tersembunyi di dalam dirinya, kata-kata yang di lontarkan Iblis Putih adalah kejujuran murni.


Apa yang dia pikirkan? Apa yang dia inginkan? Apa yang dia katakan? Apa yang dia renungkan?


Hitam atau putih, baik atau jahat, gila atau wajar, tidak ada satupun yang cocok untuk mendefinisikan pemuda itu.


Akan tetapi, satu hal saja yang bisa dia mengerti. Iblis Putih itu, pemuda itu, bukanlah seorang manusia.


Dia adalah eksistensi yang di luar nalar. Kegilaan, kebaikan, keburukan, kejahatan, kekejaman, kepolosan, kebanggaan, kebahagiaan, dan lainnya.


Semua itu sangat tidak cocok untuk Iblis Putih itu.


Terus, apa yang sebenarnya dia hadapi saat ini? Ketakutan terus menerus menyebar ke seluruh tubuhnya bagaikan sebuah kutukan.


Iblis Putih itu memiliki kekuatan untuk menyebarkan ketakutan sejati.


Hanya berhadapan dengannya saja sudah membuat dirinya seakan-akan berada di ujung jurang kematian.


Melangkah sedikit saja akan mengakhiri segalanya, itu adalah ketakutan terkuat yang terukir di dalam jiwanya.


Ibarat tenggelam di dalam lautan terdalam, Iblis Putih memulai pembicaraan.


Sekarang, kalau dia memang memiliki kesempatan. Walaupun itu sangat kecil, Terota akan mendapatkannya.


“Jadi, umm... Seperti yang kita tau, Terota-san ingin berbicara bersama kita. Bukannya, kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku.”


“.....”


Mengatakan itu, Iblis Putih merentangkan tangan kirinya. Seolah-olah menyuruhnya untuk berbicara.


“Ah.”


Saat itu juga, seakan penahannya terlepas, nafas keluar dari bibir Terota.


Tubuhnya di dekap oleh rasa takut untuk tidak membuat sang Iblis tidak senang, di depan mata pemuda itu dia tidak bereaksi.


Tamunya diam, karena sang Iblis telah mengintip langsung ke dalam jiwa Terota.

__ADS_1


“Terota-san?”


“Ah, tidak... Saya minta maaf. Adapun pemikiran saya, sebagaimana yang di nyatakan dalam surat. Seluruh anggota organisasi kami berada di bawah perintah anda sekarang, untuk sekarang dan selamanya. Oleh karena itu, saya meminta anda untuk tidak melukai saya dan keluarga saya.”


Kata-katanya di pilih dengan hati-hati, sehingga tidak menampakkan kerendahan hati yang berlebihan.


Terota menyatakan posisinya terhadap masalah ini. Dia telah menjual organisasinya untuk kehidupannya dan keluarganya.


Dia saat ini telah membuat kontrak dengan seorang iblis, tanpa memperdulikan nyawa orang lain.


Itu adalah bentuk penghianatannya, namun bukan berarti dirinya tidak merasa bersalah.


Akan tetapi, sayangnya rasa bersalahnya telah di bunuh oleh ketakutan akan kehilangan keluarganya.


Mendengar itu, Iblis Putih menyipitkan matanya, tapi setelah di renungkan sejenak.


Dia tersenyum.


“.....”


Wajahnya tersenyum, itu adalah senyuman yang cocok untuk usia pemuda itu, Terota kaget.


Di hadapan Terota yang terkejut, Iblis Putih itu bicara dengan nada santai.


“Mari kita berhubungan dengan baik, Terota-san. Rinciannya akan di diskusikan bersama Kizuna nantinya... Inilah pilihan terbaik dan paling bijaksana untukmu.”


“Ah...”


“Mulai sekarang, mohon bantuannya.”


Tangannya terangkat, sembari tersenyum lembut, Iblis Putih mengakhiri pertemuan.


Setelah itu, Terota pelan-pelan mengangkat tubuhnya. Badannya kaku karena berlutut terus, postur tubuhnya sempat goyah, tapi dengan susah payah dia menghela nafasnya.


“Terima kasih banyak. Mulai sekarang, pihak kami juga mohon bantuannya.”


“Umu.”


Entah bagaimana, menahan ludah, kata-kata terakhir itu menyelesaikan pembicaraan.


Kemudian, pemuda itu mengangguk puas seakan-akan mengatakan akhir dari ini semua.


Mantan bos organisasi itu menundukkan kepalanya dan melangkah mundur.


Dalam hatinya, dia merasa lega dengan akhir dari semua ini. Seolah-olah dia baru saja berhasil mengalahkan Raja Iblis.


Tubuhnya yang beberapa detik terasa berat, kini mendadak seperti melayang.


Saat dia melangkahkan kakinya, wajah-wajah anggota keluarganya menunggu kepulangan nya terlintas satu per satu di dalam benaknya.


Setelah berhasil menghadapi badai yang kuat, sekarang keinginannya telah terkabul.


“....?”


Kala itu juga.


Dari belakangnya, terdengar suara yang lirih.


Suara itu sangat familiar bagi telinganya, dia mendengar suara seperti suara koin. Yah, begitulah.


Suara yang mirip koin yang tergelincir dari tangan lalu jatuh ke lantai...


“Ekor.”


Satu kata pendek, seseorang berkata.


—{Apa itu?} Kepala Terota bertanya-tanya, berputar cepat—


“.....”


Pandangan orang tua itu memiring.


Seperti melayang tinggi di udara, dia melihat tubuhnya yang berdiri tanpa kepala di hadapannya.


Apa yang terjadi, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Semuanya terjadi sangat singkat.

__ADS_1


Selanjutnya dia terjatuh mendatar dengan lantai. Bahkan lebih datar ketimbang saat dia berlutut.


Tanpa dia sadari, sang akhir telah menjemputnya.


__ADS_2