
Setelah membuat data palsu untuk memalsukan identitas Celine yang sebenarnya, jasad yang tadinya sudah dinyatakan meninggal kini mulai dimasukkan disalah satu mobil hitam yang sudah Rasyel atur serapi mungkin. Tanpa adanya rasa kecurigaan mobil itu mulai berjalan. Dan siapa sangka pengemudi dari mobil tersebut yang tak lain ialah teman Rasyel yang sudah ia minta bantu.
Berhasil menjalankan rencana sesuai keinginannya, dalam tengah perjalanan mobil itu mulai menghentikan laju kendaraannya berpapasan dengan mobil hitam yang juga sudah sedari tadi menunggunya. Keduanya lantas keluar untuk menghampiri pemilik mobil itu yang siapa sangka adalah Rasyel sendiri.
"Gimana apa semuanya berjalan secara lancar?"
"Seperti permintaan kamu, semuanya berjalan sangat lancar tanpa adanya hambatan selanjutnya apa yang akan kamu lakukan pada wanita ini?"
"Soal itu aku tidak bisa jelaskan ke kalian, yang terpenting tindakan kalian ini sudah sangat membantunya agar dirinya tidak menjadi korban akibat ulah keluarganya sendiri, baiklah bisa bantu aku untuk mengeluarkannya?"
"Baiklah akan kami bantu!"
Membuka bagasi mobil, mengeluarkan brangkar yang terdapat Celine disana, Rasyel lantas langsung mengangkatnya dan memasukkannya kedalam mobil yang sudah ia sediakan.
"Semuanya sudah beres sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian?"
"Kamu tenang saja kita kaya siapa aja, kita kan teman jadi sudah seharusnya kita saling membantu ya sudah semoga berhasil!"
"Baiklah kita harus pergi!"
"Baiklah sekali lagi terima kasih!"
"Iya sama-sama Rasyel kami cabut dulu ya?"
"Iya berhati-hatilah!"
"Baiklah!"
Masuk kendali kedalam mobil dan menjalankan laju kendaraannya, sesekali ia melirik kearah Celine yang terlihat masih belum ada reaksi akan tanda-tanda kesadarannya.
"Kamu sekarang sudah ada ditempat yang aman!"gumam Rasyel yang sesekali ia memberikan senyumannya.
Melihat jari jemari Celine mulai menunjukkan akan tanda-tanda kesadarannya, terlebih dulu Rasyel menghentikan laju kendaraannya dan memeriksanya terlebih dulu.Kelopak mata dari wanita cantik itu mulai terbuka secara perlahan.
Membuka matanya secara perlahan-lahan ia terkejut melihat suasana yang berbeda dari suasana yang biasa ia pandang dan rasakan selama ia hidup selama ini, sejuk lan rimbun pepohonan. Tingginya bangunan yang kokoh yang terlintas jelas tepat dihadapannya tak mempercayai wanita itu dimana ia berada, melirik seorang pria yang fokus pada laju kendaraannya wajah tampan sekaligus senyuman manis ia tunjukkan telah terbalas sempurna pada wanita cantik yang tak mempercayai dimana ia berada.
"Aku ...aku sudah keluar dari ruangan siksaan itu? Aku tidak lagi bermimpi kan? Ini benar-benar sungguhan kan?"
"Iya sekarang kamu sudah terbebas dari penjara itu, sekarang saatnya kamu untuk melanjutkan hidup dan mulai dari awal kehidupan kamu yang suram ini apa kamu sangat senang saat ini?"
"Akhirnya setelah sekian lama aku dikurung di ruangan itu. Akhirnya sekarang aku bisa terbebas, terima kasih! Terima kasih karena kamu sudah mau membebaskan aku terima kasih!"
"Sama-sama aku juga senang karena bisa menyelamatkan kamu
Dalam perjalanan mereka yang masih terbilang jauh dari tempat yang akan mereka tuju, tanpa Celine sadari ternyata mobil yang dikemudikan Rasyel melintasi jalanan dimana lokasi tempat kejadian tragedi kecelakaan yang telah menewaskan kekasih dari Celine sendiri, sadar akan tempat yang barusan dia lintasi bayang-bayang tragedi kecelakaan itu seketika terlintas dalam pikirannya, bayang-bayang yang seketika menghantuinya tanpa sengaja telah menjatuhkan air matanya yang tadinya tidak terlihat akan kesedihan yang dirasakannya. Memejamkan matanya dengan cara paksa, menggenggam erat tangannya layaknya rasa takut yang amat sangat sulit untuk ia hindari.
__ADS_1
"Tidak! Ini bukan tempat itu? Ini bukan tempat itu!"
"Aku memang sengaja melewati jalan ini agar aku tau apa kamu masih mengingatnya dan ternyata semua berbeda dari dugaan-ku kamu masih mengingat kejadian itu!"
Melihat air mata Celine yang terus saja terjatuh tidak terhitung berapa jumlahnya. Hati Rasyel yang merasa panas lantaran tidak bisa melihat seorang wanita menangis ia akhirnya memberhentikan laju kendaraannya.
Disisi lain Rasyel tak ingin mengganggunya ia lebih memilih meninggalkan Celine seorang diri didalam mobil sedangkan dalam dirinya lebih memilih duduk diatas back mobil.
"Kamu masih menangis seperti itu itu artinya sampai sekarang kamu masih mencintainya kenapa sekarang aku jadi gelisah gini melihat dia seperti ini? Apa yang aku rasakan sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?"
Kembali melanjutkan perjalanannya, Rasyel yang fokus pada laju kendaraannya sesekali ia melirik kearah Celine yang hanya terlihat memikirkan sesuatu. Matanya yang masih terlihat bengkak menyadarkan Rasyel jika memang Celine masih sangat mencintai almarhum kekasihnya itu.
Suasana yang terlihat sunyi tanpa adanya suara sahutan antara keduanya, Celine yang sedari tadi melamun kini lamunannya mulai buyar setelah pria disampingnya mengatakan akan sesuatu.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?"tanya Rasyel beralih tatapan Celine berbalik menatapnya.
"Boleh tanya saja?"balasnya.
"Apa kamu masih mencintai kekasih kamu itu?"
" Kenapa kamu bertanya seperti itu iya aku masih mencintainya walaupun dia sudah pergi tapi jujur bayang-bayang akan dirinya tidak akan pernah pergi dari hatiku?"
"Sudah jangan di terusin lagi aku tau apa yang kamu maksud dari omongan kamu tadi!"
"Baiklah."
"Kenapa kita berhenti? Apa kita sudah sampai dimana kita sekarang?"
"Iya kita sudah sampai, ini kontrakan yang akan kamu tempati sekarang karena sekarang tugas aku sudah selesai dan aku juga sudah mengeluarkan kamu dari Rumah Sakit itu tidak ada alasan lagi untukku selalu bersama denganmu jadi maaf sekarang aku harus pergi!"
"Tunggu! Apa maksud kamu melakukan semua ini apa kamu akan meninggalkan aku disini sendiri seorang diri sekarang?"
"Iya aku akan meninggalkan kamu sendiri disini karena aku tidak mau cemburu sama orang yang sudah meninggal, permisi!" Membalas ucapannya tanpa lirikan yang ditunjukannya, Rasyel bergegas pergi setelah jawaban tak masuk akal yang barusan diucapkannya.
Pergi dari pandangan Celine yang diselimuti rasa terheran nya, Rasyel tanpa melirik kebelakang dirinya bergegas masuk kedalam mobil tanpa adanya pamitan atau pun salam perpisahan yang saling sahut bersahutan antar mereka.
"Apa maksud dari omongan dokter Rasyel barusan kenapa dia berkata seperti itu?"
Membuka pintu yang tadinya kunci sudah diberikan Rasyel, wanita terduduk di kursi roda itu pun mulai memasuki rumah yang terbilang sunyi.
"Aku harus bisa hidup tanpa bantuan org lain walaupun aku belum punya tenaga tapi aku yakin aku pasti bisa! Aku pasti bisa!"
Berada dalam mobil seorang diri dirinya hanya terlihat melamun tanpa konsentrasi yang cukup, sesekali melirik kearah sampingnya, kursi yang barusan ditumpangi Celine yang sekarang sudah kosong dan bayang-bayang pertemuan pertama kali dirinya dengan Rasyel pun tiba-tiba terlintas dalam benak pikirannya secara jelas dan nyata.
"Kenapa setelah aku meninggalkan dia kenapa hatiku jadi gelisah gini? Sudahlah lagian dia bukan siapa-siapa ku dan bukan tangung jawab ku juga untuk menjaganya tapi entah kenapa aku merasa aku sepertinya sudah mulai menyukai dia tapi untuk apa cinta jika dia masih mencintai kekasihnya yang sudah meninggal itu jadi lebih baik aku yang menghindar itu lebih baik?"
__ADS_1
Melakukan perjalanan hampir satu jam lamanya, kini kakinya mulai keluar dari dalam mobil, melangkahkan masuk kedalam salah satu kediaman pandangannya dikejutkan dengan hadirnya dua pria yang sudah menantinya sejak sedari tadi.
"Kalian ngapain kalian bisa ada disini?"
"Dokter Rasyel yang tampan kita kangen sama kamu!"
Menghindari pelukan antar keduanya yang hendak akan memeluknya, kedua temannya nampak bingung pria cukup berumur dan juga pria tampan berponi manis itu pun hanya menunjukkan ekpresi terheran nya.
" Hei jangan berani kalian lakukan itu paham!"tegas Rasyel dengan kesalnya.
"Hei jangan pernah kalian melakukan itu, mendingan sekarang kalian jujur aja sama aku! Aku tau tujuan kalian datang kemari pasti ada sesuatu jadi kalian apa yang kalian inginkan?"
"Kamu memang dokter yang genius bukan hanya bisa menyelamatkan nyawa pasien tapi kamu juga bisa mendengar pikiran kita, kita datang kesini karena kita mau numpang tinggal disini kamu mengijinkan kan?"
"Apa! Kalian mau tinggal disini tidak! Aku tidak mau kalian ini pasti kalau punya masalah selalu datangnya ke aku tidak! Aku tidak mau!"
"Dokter Rasyel! Dokter yang paling tampan dan baik ayo dong bantuin kita, masak kamu tidak mau nolongin kita, kan kita sahabat apa kamu membiarkan kita tidur di jalanan sih apa kamu tidak kasihan sama kita kamu sungguh tega?"ucap Bram yang terus menggodanya.
"Ya sudah iya kalian bisa tinggal disini tapi kalian harus ikuti peraturan di sini paham!"
"Iya ... Iya paham!"
Akhirnya mereka pun makan. Tiba-tiba Rasyel malah kepikiran akan kondisi Celine.
"Kira-kira dia sekarang lagi apa ya? Apa dia sudah makan atau belum kenapa aku terus memikirkannya?"
"Hei kenapa kamu malah bengong ada apa? Kamu ada masalah?"tanya Verrel.
"Tidak!tidak ada apa-apa aku kenyang aku mau tidur ngantuk!" Rasyel pun pergi ke kamarnya, dia pun msh kepikiran Celine.
"Astaga kalau gini caranya aku yang tidak tenang. Aku rasa sebelum aku ketemu dengannya aku tidak akan bisa tidur jadi lebih baik aku temui dia sekarang!"
Sedangkan Rasyel sendiri ia malam-malam dia pun akhirnya pergi ke kontrakan Celine. Sedangkan Celine sendiri yang berada didalam sendiri disana, ia pun kebingungan lantaran dia lapar tapi dia tidak bisa memegang sendoknya
"Kalau gini sampai besok pun aku rasa aku tidak akan bisa memakannya dimana ini padahal aku lapar banget sekarang tapi sudahlah mendingan aku tahan aja lapar aku ini!"
Rasyel yang sudah berada didepan pintu tapi takut untuk mengetuknya. Sedangkan Celine yang mengunakan kursi roda listrik yamg berjalan tak sadar tidak tau jika ada lonjakan, dia pun akhirnya menabraknya dan terjatuh
BRUAK
"Astaga!" Rasyel yang mendengar suara dari dalam, spontan dia langsung mendobraknya."
"Astaga suara apa itu?"
__ADS_1
BERSAMBUNG.