
"Maaf dokter aku tidak bisa menerima cinta kamu, aku tau kalau selama ini Dokter sudah sangat baik terhadapku, tapi bukan berarti aku mencintai Dokter Rasyel, selama ini aku cuma menganggap kamu cuma sebatas teman saja tidak lebih maaf!"
Tak menyangka jika cintanya telah ditolak secara halus, Rasyel yang kehabisan kata-kata ia seketika terdiam. Bahkan ekpresi wajah bahagianya tak terlihat seperti sejak awal ia berencana ingin mengungkapkan perasaannya. Genggaman tangan yang Rasyel berikan secara perlahan telah Celine lepas membuatnya hatinya tak terasa seperti hancur berkeping-keping
"Iya maaf Dokter diluar sana masih banyak wanita yang lebih baik dari aku, jadi maaf aku tidak bisa membalas perasaan Dokter maaf aku harus segera pergi karena ada hal penting yang harus aku lakukan permisi!"
"Maafkan aku! Maafkan aku karena aku telah melukai hati kamu
seandainya saja kamu tau kalau aku juga sangat mencintai kamu tapi kita tidak bisa bersatu aku tidak mau kamu sampai terluka gara-gara aku maafkan aku! Maafkan aku!"
Dari pandangan Rasyel yang masih syok akan ucapan Celine barusan, air matanya ingin sekali luluh tapi dengan sekuat hatinya ia tahan hingga pandangannya mulai membelakangi Rasyel yang tidak bisa berkutik lagi, sedangkan Rasyel yang hanya mampu terdiam akhirnya ia mengucapkan sesuatu.
"Jadi selama ini aku cuma ke gr'an kalau aku mengira dia juga cinta sama aku tapi apa ternyata dia cuma menganggapku cuma sebatas teman harusnya aku sadar diriku itu siapa aku cuma dokter panggilan sedangkan dia anak dari pengusaha konglomerat yang kaya raya kita jauh berbeda ibarat seperti langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersatu harusnya kau ini sadar Rasyel sadarlah!"
Setibanya ia dikediamannya sendiri tak terlihat raut wajah ceria seperti sedia kala,yang terlihat hanyalah lamunan bahkan diruang tamu yang terdapat dua temannya yang lagi fokus pada acara televisi, dia hanya menghiraukan keduanya tanpa tak terdengar secuil ucapan yang ia ucapan untuk menyambutnya.
"Darimana saja kau ini!"
"Hai kenapa kamu diam saja aku sedang berbicara kepadamu hai dokter?"
__ADS_1
"Apa dia punya masalah kenapa dia seperti itu sekarang.
"Kayaknya memang begitu tapi masalah apa yang sedang menimpanya?"
"Nyonya nyonya kenapa apa nyonya ada masalah!"
"Tidak Bik, aku tidak apa-apa tolong ambilkan minum ya?"
"Baiklah!"
Wanita itu lantas mengambil segelas air putih, pandangannya mulai melirik kesemua penjuru arah memastikan jika tindakan yang akan ia lakukan tidak kepergok sama siapapun. Lalu secara pelan dan waspada ia mulai mencampurkan bubuk sesuatu pada air jernih tersebut, berlalu ia mengantarkan untuk Celine yang masih menunggunya diruang tamu
"Ini nyonya-nyonya pasti haus banget!"
"Iya sama-sama maaf bibi pergi dulu ada kerjaan lain lagi yang harus bibi kerjakan?"
"Iya silahkan bik!"
Asisten rumah tangga itu lalu pergi, dia menelfon seseorang.
__ADS_1
"Nyonya saya sudah melakukan tugas yang Nyonya perintahkan!"
"Baik kerja bagus bik ingat kamu harus selalu memberikan obat itu kepada dia ya dan ingat jangan sampai dia mencurigai bibik!'
"Iya baik nyonya!"
Meminum air jernih yang barusan diberikan oleh Bibik, tanpa curiga ia meneguk beberapa cegukan air itu, memutuskan untuk tidur keesokan harinya setibanya ia bangun wajahnya terlihat sangatlah pucat bersamaan dengan rasa sedikit pusing yang dialaminya.
"Kenapa kepalaku rada-rada sakit gini? Apa ini efek karena aku jarang istirahat dan bertumpah masalah pekerjaan makanya aku jadi sering sakit kepala seperti ini mana hari ini aku ada acara penting. Tapi aku tidak bisa hanya beralas jika aku sakit seperti ini aku harus tetap datang entah bagaimanapun itu caranya
"Nyonya-nyonya kenapa? Kenapa nyonya kelihatan sangat pucat bgt apa nyonya sakit?"
"Tidak Bik aku baik-baik saja.
aku cuma kecapean aja ya udah bik aku pamit pergi dulu karena ada acara yang penting yang harus aku hadiri sekarang ini tolong jaga rumah ya?"
"Baik nyonya!"
"Ya udah saya pergi dulu!"
__ADS_1
"Iya silahkan!"
BERSAMBUNG.