Dokter Genius Milik Putri Konglomerat

Dokter Genius Milik Putri Konglomerat
Bab 57."


__ADS_3

Dengan sekuat tenaga wanita itu mendorong tubuh si Pria hingga tersungkur kelantai, sekejap mata pria itu berhenti dari permainannya itu. Melihat suaminya tersungkur tak mengalihkan niat Celine untuk membantu suaminya berdiri ketika melihat suaminya serasa merasakan sakit dibagian pant4tnya.


Pintu ruangan pun tiba-tiba terbuka, melihat seseorang sedang bersimpuh dilantai salah seorang yang tak lain Dokter perempuan dirinya bergegas membantu Rasyel untuk berdiri.


"Astaga Dok apa yang terjadi kenapa Dokter bisa sampai terjatuh seperti ini? Non Celine juga kenapa hanya diam seperti tidak perduli pada Suami anda ini?"


"Biarin Dok dia sudah berani mesum pada saya?"ungkapnya dengan wajah jutek.


"Mesum? Mesum seperti apa maksud Non Celine?"


"Gini Dok! Ini semua salah faham! Dia salah faham mengira saya tukang mesum setelah melakukan tindakan itu, berhubung Dokter Ira ada disini cepat jelaskan ke dia soal perintah yang Dokter suruh waktu itu? Ketika Dokter menyuruh aku untuk meme ... sudahlah Dokter tau sendiri apa maksudnya intinya saya sudah kapok!"


"Tunggu! Jadi anda jatuh itu akibat didorong oleh Istri anda akibat permintaan saya yang menyuruh Anda untuk melakukan tindakan itu?"


"Iya Dok saya melakukannya tapi entah kenapa saya malah mendapatkan tindakan ini dari Istri saya sendiri, ini kekerasan dalam rumah tangga Dok? Kekerasan dalam rumah tangga namanya!"


"Tunggu maksud Dokter? Jadi dokter yang menyuruh dia untuk melakukan tindakan yaitu merem4s itu saya?"


"Iya Non Celine itu memang atas perintah saya, Non baru mengalami koma, belum lagi penyakit yang anda derita dikata waktu itu sudah menyebar ke bagian yang lain jadi saya sengaja menyuruh suami anda untuk melakukannya agar anda bisa merasakan. Sekarang apa rasanya itu sakit, nyeri dan tidak ada gumpalan didalam sana, jika rasanya nyaman dan tidak ada gumpalannya jadi itu bisa dikatakan aman apa Dokter Rasyel tidak bilang terlebih dulu?"


"Malu lagi Dok pengantin baru masak langsung bilang aku mau me*em4s itumu bisa-bisa aku ditampar yang ada!"


"Astaga kalian ini lucu? Kalian ini bisa dikatakan pengantin baru kenapa masih malu-malu?"


"Sudahlah Dok aku malas!"


"Eh ngambek!"


"Sudahlah Dokter Rasyel sudah cukup membantu saya menjalankan pemeriksaan itu? Jadi sudah tidak ada alasan bagiku untuk tetap disini, kondisi kamu sudah bisa dikatakan membaik jadi janganlah cemas jadi minta maaflah pada Suami sayang?"


"Iya Dok, saya akui saya yang salah, jika tadi dirinya berkata jujur aku juga tidak akan mungkin bertindak sampai seperti itu sekali lagi terima kasih atas penjelasannya Dok?"


"Iya sama-sama ya sudah saya permisi dulu!"


"Iya Dok sama-sama!"


Melihat ekspresi Rasyel terlihat kesal dirinya tak berani untuk menghampirinya, namun jika dirinya tidak menghampiri terlebih dulu dan meminta maaf keduanya akan semakin dalam keadaan tidak harmonis.


"Sayang kamu masih marah ya sama aku? Aku minta maaf aku kira kamu memang sungguh-sungguh berniat mesum, Jika kamu katakan sejujurnya aku juga tidak akan mungkin mendorong kamu paling gak Jambak iya! Sudah jangan ngambek dong senyum ....


Mendapatkan ledekan dari Istrinya tak terlihat dirinya akan menunjukkan senyumnya.


"Sudahlah aku ingin sendiri kamu disini aja! Jangan ganggu aku! Aku ingin sendiri Bay!"


Tak terucap ucapan kata-kata romantis yang biasa ia ucapkan ketika akan pergi, berganti Celine yang kesal lantaran dirinya yang merasa dilecehkan namun dirinya juga yang harus jadi korbannya.


"Kadang dipikir-pikir kok aneh juga ya? Aku yang merasa dilecehkan tapi kenapa aku juga yang harus minta maaf apa ini adil? Tidak! Ini sungguh tidak adil jadi kenapa harus aku yang minta maaf?"


Knop pintu terbuka, melihat langkah Suster yang menghampirinya dirinya.

__ADS_1


"Gimana keadaan Non? Apa keadaan Non sudah mulai membaik?"


"Seperti yang Suster lihat aku baik-baik saja Sus, oh iya aku ingin tau apa Suster tau dimana perginya Dokter Rasyel apa dia masih ada diluar atau sedang memeriksa pasien yang lain?"


"Dokter sudah tidak ada lagi diluar Non, Dokter Rasyel juga sudah dipecat di Rumah sakit ini jadi dia mungkin pergi entah ke-suatu tempat?"


"Tunggu! Dokter Rasyel sudah tidak dipekerjakan di Rumah sakit ini lagi?"


"Iya Non, akibat adanya kasus anda dan Dokter Rasyel menikah media pada heboh sampai-sampai Dokter dipecat secara tidak adil!"


"Kenapa dia tidak berkata apa-apa padaku? Baiklah sekali lagi terima kasih atas pemberitahuannya Sus?"


"Iya sama-sama Non, oh iya selain itu ada hal lain yang ingin saya katakan pada Non Celine, hari ini waktunya Anda untuk terapi jadi anda bersedia kan saya ajak keluar hari ini?"


"Iya Sus tidak masalah!"


.........................


Langkahnya yang mulai masuk kedalam salah satu ruangan. Kakinya yang perlahan-lahan mulai masuk diruang itu tapi pemandangan apa yang ia lihat saat ini hanyalah pemandangan gelap gurita yang membuatnya hampir terjatuh akibat tanpa adanya sinaran cahaya.


"Sus ini tempat apa? Bukankah tadi Suster bilang saya mau di kemoterapi?"


"Saya sendiri juga kurang tau Non, saya akan coba menyalakan lampunya mungkin ruangan ini lupa untuk dinyalakan!"


"Iya sus!"


Suster itu kemudian menekan lampu yang terdapat di kanannya, pandangan Celine seketika dikejutkan dengan hadirnya semua orang yang sudah menyambutnya. Dengan bersamaan petasan kertas yang seketika membuat Celine yang tidak percaya dan hanya bisa membungkam mulutnya sendiri.


"Kamu apa sama sekali gak sadar jika hari ini itu hari ulang tahun kamu? Tanggal 31 Januari apa kamu lupa jika hari ini hari ulang tahun kamu sendiri?"ucap Rasyel yang mulai menghampirinya terlebih dulu.


"Kamu! Kenapa kamu bisa tau kalau aku ulang tahun? Bukankah tadi kamu juga seperti marah denganku!"tanya Celine yang tak percaya.


"Bukan aku namanya kalau aku tidak bisa mengatur rencana ini semua, cepat tiup lah!"pinta Rasyel yang terus saja memberikan senyumnya


"Harusnya aku sadar seperti apa Suamiku itu baiklah aku akan meniupnya."


Beberapa tiupan Celine lakukan, beberapa lilin yang tadinya menyala dengan terangnya, kini dalam hitungan menit lilin itu pun seketika padam dalam sesaat setelah Celine yang meniupnya dengan beberapa tiupan yang dilakukannya.


Memotong perlahan Kue ulang tahun yang berada tepat dihadapan mereka. Celine akhirnya memberikan potongan pertama pada orang yang paling ia sayangi yaitu Rasyel sang suami tercinta.


"Di-dunia ini aku sudah tidak punya siapa-siapa jadi hanya kamu yang aku punya sekarang jadi bolehkah aku memberikan potongan kue ini?"


"Potongan kue inilah yang aku nantikan sejak sedari tadi, sini suapi aku?"


Dengan wajah senyum bahagia yang terpancar jelas dirinya mulai menyuapi sang suami potongan kue tersebut.


Aku bahagia akhirnya sekian lama aku berfikir kebahagiaan tidak akan berpihak padaku, kali ini aku percaya jika setiap kebahagiaan seseorang sangatlah ada, hanya butuh kesabaran lah bagi setiap orang untuk berhasil melewati tahap sulit dalam badai yang dilaluinya.


Memandang langit yang amat cerah tanpa adanya awan mendukung yang berseliweran mendukung akan suasana ini. Pandangan Celine nampak takjub akan adanya dua bintang yang saling berdekatan dengan indahnya. Sinaran yang dihasilkannya membuatnya serasa ikut terjatuh dalam suasana yang amat membahagiakan ini.

__ADS_1


Sebuah tangan kemudian mulai melilit tubuhnya dari belakang, seorang pria yang tiba-tiba datang kemudian menenggelamkan kepalanya pada leher jenjang sang istri, bersamaan dengan belaian dan kecupan manis yang ditunjukkan pria tampan tersebut pada sang Istri. Sadar siapa yang datang dirinya nampak pasrah merasakan bel4i4n hangat yang ditunjukkan suaminya sendiri.


"Apa kamu menyukai dengan kecup4n yang aku berikan ini?"ledeknya yang tetap saja membel4inya.


"Apa kamu akan terus melakukan hal ini? Jika tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dan memergoki kita apa yang akan kamu lakukan?"tanyanya dengan nada meledek.


"Aku rasa selain kita tidak akan ada lagi seseorang yang akan menganggu suasana indah ini. bukankah kamu juga tau kalau dikediaman ini hanya ada kita berdua? Ataukah kamu sengaja menggodaku karena kamu takut jika aku akan terus bertindak kelewatan lebih dari ini?"


"Aku sadar dengan siapa aku berhadapan saat ini,"ledeknya.


Terlihat dari raut wajah mereka terlihat sangatlah bahagia melihat semua ini, senyum bahagia yang terpancar lepas tanpa beban atau pun ketakutan yang mereka takutkan selama ini


Beberapa menit mereka berpelukan, Rasyel mengakhiri pelukan itu ketika ingat dirinya masih punya satu tanggungan lagi.


Rasyel yang kemudian dia pun membalikkan badan Celine menghadap kearahnya.


"Kenapa? Apa yang ingin kamu katakan?"


"Tidak! Tidak jadi aku ucapkan, ini sudah malam kamu harus istirahat jadi ayo kita istirahat!"


"Baiklah aku juga ngantuk!"


Membuka matanya secara perlahan sambil mengumpulkan nyawanya. Hampir saja dia berteriak saking kagetnya ia menyadari jika ada Rasyel-lah yang tertidur pulas menghadapnya sambil memeluk pinggang Celine dengan cukup erat.


Memandangnya dengan seksama, ia membelai pucuk rambut Rasyel sembari berkata.


Aku sangat bahagia akhirnya kebahagiaan ku yang sesungguhnya telah kembali menghampiri-ku, aku pernah berfikir jika aku tidak punya siapa-siapa tapi semua itu ternyata hanyalah cobaan yang harus aku hadapi.


Dan dia? Laki-laki yang sangat aku cintai dan pria kedua bagi diri-ku mengenal akan cinta dan seorang laki-laki yang sangat tulus mencintai dan mau menerima semua kekuranganku. Biar pun hubungan kita layaknya seperti layangan putus yang mampu untuk disambungkan ketika ditengah-tengah jalan terputus tanpa sebab. Aku sadar semua itu terjadi karena Tuhan lagi menguji akan kemampuan dan ketulusan dua hati kita masing-masing dan sekarang kita sudah melewati ujian itu.


Kamu pangeran yang aku sangat cintai. Aku sangat mencintaimu Rasyel, aku berharap kamu mampu menjadikan-ku sebagai Ratu didalam hidupmu hinga sampai akhir hayat mu nanti.


Satu kecupan telah dilontarkan Celine pada Suami tercintanya, satu kecupan yang mungkin mampu mempererat akan hubungan keduanya. Tak lama Rasyel menyadari akan kecupan yang dilakukan Istrinya. Rasyel yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur, ia berlalu membalikkan tubuh Celine dan menindihnya tepat diatas tubuhnya.


Tersungkur ke belakang, hingga akhirnya Rasyel pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di bawah tubuhnya. Memegang kedua pergelangan tangan Celine, mengunci dengan kedua tangannya.


"Rasyel aku?"tanya Celine, lalu Rasyel membungkamnya.


"Kamu tidak perlu grogi atau canggung, kita sudah menjadi sepasang Suami-istri jadi selama hubungan kita berjalan kita tidak pernah melakukan hubungan layaknya Suami-istri, aku tidak berfikir kearah yang mana tapi aku sadar jika selama ini aku egois karena hanya memikirkan kebahagiaan ku sendiri dan mengorbankan kamu pada saat itu, jadi saat ini apa kamu bersedia?"


"Bersedia apa maksudmu?"


"Haruskah aku menjelaskan semuanya ke-kamu? Kamu pastinya tau kan apa maksud dari permintaan yang barusan aku tujukan ke-kamu?"


Memandang dengan seksama wajah cantik Celine yang sudah berada dihadapannya. Tatapan Rasyel tak henti-hentinya berkedip, ia terus saja memandang wajah cantik Wanita yang mungkin sudah menjadi Wanita yang sangat ia cintai.


Sedangkan cengkraman yang dilakukan Rasyel yang semakin mempersulit Celine untuk melarikan diri darinya.


Memberikan satu kecupan yang ia tunjukkan pada Wanita itu, wanita itu nampak tak percaya dengan apa yang barusan diberikan laki-laki yang sudah menjadi Suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak tau apa ucapanku akan membuatmu terkejut bahkan percaya, tapi kali ini aku ijin padamu apa kamu memperbolehkan aku untuk merebut kesucian yang kamu miliki saat ini? Apa kamu memberikan aku kesempatan untuk menanam benih dari rahim kamu?"tanya Rasyel secara perlahan dan penuh dengan kepastian, Celine yang mendengar akan ucapan yang dilakukan Rasyel air matanya akhirnya luluh, tanpa berkata lebih panjang ia hanya menganggukkan kepalanya, memperbolehkan Rasyel untuk meminta apa yang sudah seharusnya ia miliki.


BERSAMBUNG.


__ADS_2