
Tanpa memberikan balasan dirinya kembali memeluk Istrinya tangis haru menyelimuti suasana ini, para wartawan yang tadinya mencoba memojokkannya kini semua berubah setelah kehadiran Celine.
"Disini aku yang bakal memberikan bukti jika cinta kita memang tulus tanpa melihat martabat dari kekurangan kita masing-masing. Aku sangat percaya jika dia Pria tulus karena tanpa permintaan ku dirinya telah bersedia mengorbankan satu ginjalnya untukku, jadi dari sinilah cinta tulus dan kepercayaan ku padanya akhirnya semakin membuatku yakin jika aku tidak salah mencintai dia dan menjadikan dia sebagai Suamiku, sama seperti yang kalian tau cinta memang buta tapi cinta kita buta bukan karena harta akan kekayaan atau pun karena ketampanan dan kecantikan, namun cinta yang kita perjuangan ialah kita yakin jika dalam diri kita terdapat ketulusan yang mungkin jarang bahkan langkah untuk dimiliki oleh setiap pasangan dan sekarang aku sangat bersyukur dihadapan kalian semua kita bisa menunjukkan perasaan kita dan aku sangat bangga memiliki dia!"
Pandangannya yang tertuju pada Rasyel, sedangkan Rasyel sendiri yang sedari tadi hanya diam tak menunjukkan satu patah pun ucapan yang berhasil keluar dari mulutnya. Semua kata dan isi hatinya sudah terwakili oleh Istrinya hal itulah yang membuatnya tak harus untuk mengucapkan kata-kata itu lagi, sang Istri yang akhirnya memberikan genggaman tangannya yang berlalu Rasyel sendiri membungkuk dan memeluk Istrinya yang dalam kondisi terduduk di kursi roda itu.
Tepuk tangan seketika meriah mereka luapkan melihat dua sejoli ini berpelukan dengan hangatnya, ke-salah pahaman yang berujung petaka dalam kehidupannya kini telah berangsur-angsur membaik, mendapatkan kesempatan kedua kalinya untuk bisa bersama dengan pujaan hatinya hatinya terasa tak percaya jika dirinya masih mendapatkan kebahagiaan yang belum terbayarkan.
"Seperti dirimu aku juga sangat bangga menjadi Suami dari Wanita seperti dirimu. Sekarang ini aku sadar bukan hanya aku yang berjuang mempertahankan kebahagiaan ini, namun ada seseorang lain lagi yang telah berjuang untuk mempertahankan hubungan ini dan aku sangat bahagia? Aku sangat bahagia?"
Kembali berpelukan dalam pelukan hangatnya, mengabaikan orang-orang yang ada dan hanya menganggapnya mereka semua telah mengontrak, keduanya hanya menunjukkan senyum lepasnya berharap apa yang terjadi hanya mimpi namun kebahagiaan kali ini sungguhlah nyata mereka mampu untuk mereka capai.
...........................
Hanya berdua dalam satu ruangan ini, Celine yang masih terbaring ia hanya terdiam, sedangkan Rasyel yang berada disebelahnya ia nampak sabar menunggunya sembari pandangannya yang tak juga ia alihkan pada pandangan yang lain.
"Kamu masih disini?"tanya Celine.
"Iya aku masih disini kok kamu tenang saja,"timpal Rasyel.
Meletakkan tasnya kembali disalah satu nakas. Celine dibuat terkejut setelah ada seseorang yang dengan tiba-tiba langsung membalikkan tubuhnya dan mengangkatnya agar terduduk diatas meja berhadapan dengan laki-laki tersebut yang sudah sigap berada dihadapannya.
"Sayang. Apa yang kamu lakukan kenapa Kamu bersikap seperti ini aku ingin turun! Ini rumah sakit kalau ada yang lihat gimana?"ucapnya yang hendak akan turun, tapi Rasyel menghalanginya.
"Jangan pernah pergi dari hadapan-ku jika aku tidak pernah menyuruh-mu untuk pergi apa kamu paham!"gertaknya yang spontan membuat Celine terdiam dan menelan s4liv4nya.
"Ada apa dengannya. Kenapa dia sikapnya sangatlah berbeda dari biasanya, dia tidak seperti Rasyel yang aku kenal menjadi pendiam dan pemalu selama ini?" batinnya yang nampak kebingungan. Bahkan raut wajahnya tidak bisa ia bohongi lagi.
"Kenapa kamu berkeringat dingin. Apa yang membuatmu takut? Apa aku telah membuat-mu sedikit gugup dengan perilaku-ku ini?" tanyanya dengan tatapan yang membuat Celine menjadi salah tingkah dan gelagapan.
"Aku bilang aku ingin turun jadi cepat turunkan aku!"
"Tidak! Aku baru akan turunkan kamu kalau kamu ....
"Kalau kamu apa?"
"Kalau kamu bersedia untuk aku ajak taruhan?"
"Taruhan? Taruhan seperti apa maksud kamu?"
"Aku ingin kita bertaruh siapa yang menang dia bersedia untuk meminta apapun permintaannya itu? Sedangkan jika kalah mau tidak mau salah satu kita harus bersedia untuk menjadi art dirumah kita nanti jadi apa kamu bersedia?"
"Tunggu! Maksud kamu? Seumpama aku yang menang aku akan bebas meminta apapun darimu? Sedangkan jika aku kalah aku akan jadi asisten rumah tangga sehari dirumah kita nanti?"
__ADS_1
"Ya bisa dibilang seperti itu, tapi pastikan kamu janganlah sampai kalah jika itu sampai terjadi kamu akan tau apa itu permintaan ku! Dan mungkin permintaan ku inilah yang akan membuatmu gugup?"
"Memangnya apa itu permintaan kamu!"
"Nanti kamu juga akan tau!"
"Baiklah aku sepakat terus taruhan ini berupa permainan apa? Petak umpet atau apa?"
"Jika petak umpet itu mainan anak kecil belum lagi ini Rumah sakit, jadi ...aku putuskan jika permainan kita ini kita harus berani bermain siapa yang paling bisa menggoda dan membuatnya tersenyum malu-malu disitulah dia akan menjadi pemenang jadi dimana seru kan?"
"Tunggu! Menggoda? Astaga kalau pun aku harus menggodamu aku rasa itu cara yang paling gampang dan pastinya akulah yang akan menang jadi sudah pasti itu!"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu jika kamu akan menang!"
"Ya kan aku tau kamu itu orangnya sedikit pendiam dan pemalu, jadi dalam hal goda menggoda aku rasa sudah jelas itu pasti aku pelakunya jadi sudahlah kapan kita mulai aku sudah tidak sabar ingin memerintah mu mencuci semua piring-piring di Rumah kita nanti!"
"Hari ini? Gimana kalau kita mulai dari sekarang?"
"Baiklah tidak masalah!
Tatapan keduanya mulai terfokuskan pada arah satu lain, keduanya mulai fokus menunggu siapa yang akan cepat tergoda dalam taruhan ini, keduanya mulai terbawa suasana memandangnya dengan tatapan manis tak sengaja Celine yang sedari tadi dengan percaya dirinya, dirinya lah yang ternyata terlebih dulu tersentuh akan senyuman manis dari suaminya itu, wajahnya tak sengaja tersenyum malu Rasyel yang sigap ia memegang dagu Celine dan mendekatkan kearahnya yang terlihat tidak mau menunjukkan akan kekalahannya.
"Kenapa? Kenapa kamu masih tidak jujur jika kamu telah kalah memandang wajah tampan Suamimu ini?"
"Baiklah jika istriku ini masih tidak mau mengaku juga biar giliran aku yang memakai godaan maut ini!"
"Godaan maut! Serem banget?"
"Sudahlah sayang nanti kamu juga akan tau!"
Pandangan mata mulai tertuju lagi, kini bukan hanya pandangan itu namun pergerakan Rasyel secara perlahan-lahan ia semakin mendekati wajah Celine tepat kearahnya. Karena terlalu mendalami perasaannya, Rasyel yang memberanikan diri mendekati b1b1r mungil Istrinya itu yang memakai lipstik minyak tersebut. Perlahan-lahan dirinya rasanya inggin sekali meng1g1t bibir mungil tersebut..hanya berjarak sekitar lima senti Rasyel sudah hampir berhasil menguasai b1b1r tersebut.
Niat Rasyel yang inggin sekali meng ucup b1b1r Istrinya untuk pertama kalinya. Akan tetapi belum juga Rasyel berhasil menyentuh b1b1r mungil tersebut, ia sudah keduluan dengan adanya dering ponselnya yang tiba-tiba berdering dengan kencangnya, merasa kesempatan berpihak padanya alasan pun mulai Celine utarakan untuk menghindari godaan yang mungkin akan benar-benar membuatnya kalah.
📞" Ya dengan siapa ini?"suaminya yang tampak tak percaya dirinya hanya terdiam dan memperhatikannya. Selang beberapa menit sambungan tak merespon Celine yang berencana ingin cari kesempatan untuk keluar namun telah keduluan dengan langkah Rasyel yang sigap menghalangi langkah dirinya yang akan pergi.
"Kenapa? Apa kamu mencoba untuk menghindar dariku? Apa kamu belum siap jika kamu akan kalah dan diriku akan memintamu untuk melepaskan keper4wan4n mu suatu saat nanti?"godanya yang sengaja membuatnya takut, Celine sendiri yang tak percaya dengan ucapan Rasyel barusan sesekali ia menelan air s4liv4nya.
Perlahan dirinya mulai memasukkan tangan nakalnya pada pakaian yang dikenakan sang Istri. Tangan itu mulai meraba-raba hingga menuju keatas bukit tinggi, mulai merasakan akan sesuatu yang menyentuh pada tubuhnya, kehangatan yang dia rasakan mulai membangun akan g4ir4h dari sang istri tercinta. Ekspresinya bahkan berubah setelah merasakan bel4i4n hangat yang terus saja suaminya lakukan.
Hingga tepat diatas puncak bukit dua gunung kembar tangan Celine seketika meraih tangan nakal itu, menghalangi tangan Rasyel yang mulai nakal ingin melepaskan kedua rakitan itu.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah mencoba untuk menggodaku secara licik? Siapa yang mengajarimu?"
__ADS_1
"Tidak ada seorang pun yang mengajariku,aku melihat cara ini di Tiktok dan ini cukup membantuku agar aku bisa mampu memancing g4ir4hmu?"
"Kamu salah! Cara kamu tidak akan mungkin mampu membangunkan akan g4ir4hku! Jadi stop sampai disini kamu berlagak berani katakan saja kamu sesungguhnya merasa cemas dan deg-degan kan?"
"Bagiku saat ini bukan aku yang merasa cemas tapi itu dirimu sendiri. Oh iya apa kamu yakin caraku tidak akan mampu membangunkan akan g4ir4h mu? Ini bahkan baru pemanasan untuk tindakan yang sesungguhnya aku bahkan belum menunjukkannya dan kenapa kamu malah yang terlebih dulu menunjukkan akan wajah cemas mu itu?"
"Siapa yang bilang cemas! Aku tidak pernah cemas!"
"Baiklah jika kamu tidaklah cemas mari kita tunjukkan siapa yang cemas kali ini sayang? Dan rasakan lah godaan ku!"
Tanpa memperdulikan omongan sang istri, dirinya terus saja mendekatinya, mengambil gunting yang ada diatas nakas sebelahnya, Celine yang melihat tindakan suaminya semakin bar-bar wajah paniknya tidak lupa ikut serta dalam benak pikirannya namun itu semua tidak berarti bagi Rasyel yang nampak tak perduli akan rasa takut yang dirasakan sang Istri, dirinya semakin menggoda tak tertahan lagi
"Apa yang ingin kamu lakukan kamu ingin membunuhku dengan gunting itu?"
"Kamu janganlah cemas itu semua tidak akan mungkin pernah terjadi.
"Terus gunting itu ingin kamu gunakan untuk apa?"
"Untuk aku gunakan sebagai pelepasan!"spontan balasan yang Rasyel ucapan sekejap membuyarkan akan pikiran Celine yang semakin dibuat kacau.
Terus saja mendekati lirikan mata licik Rasyel ia tunjukkan pada istrinya. Melihat sang istri nampak ketakutan dibuatnya tak membuat langkahnya untuk berhenti dari tingkah bar-bar nya ini.
Mulai memotong dua tali yang dikenakan sang Istri, telah menajamkan pandangan Celine dengan sekejap mata setelah sadar sesuatu yang tadinya nyaman ia pakai pada tubuhnya dengan sekejap mata sesuatu itu serasa telah melonggar, ingin terlepas dengan sendirinya.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan kamu jangan membuatku takut?"ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
"Aku sama sekali tidak pernah menakut-nakuti kamu sayang! Aku hanya ingin ....
"Hanya ingin apa?"
"Katakan saja kamu mulai gugup kan?"
"Tidak siapa yang gugup aku baik-baik saja,
"Baiklah jika kamu masih tidak mau menyerah juga jangan salahkan aku!"
Tangannya kembali mulai menyentuh . Tangan itu perlahan-lahan mulai meraba-raba kembali dengan pelan dengan sentuhan sangat lembutnya. Wajah Celine nampak menunjukkan akan sesuatu kenikmatan, bahkan dirinya sampai kecolongan meng1g1t bibir bawahnya sendiri.
Rasyel yang melihat dirinya hanya menunjukkan akan senyum liciknya, telah sampai pada penyatu dua pengait itu yang spontan Rasyel langsung melepaskannya tanpa persetujuan dari sang istri. Melihat jelas sesuatu yang jatuh kebawah, mata Celine sengaja ia pejamkan, menyilangkan kedua tangannya agar pria itu tak melihat jika terlihat sedikit terawang. Namun hal itu sia-sia setelah dirinya yang dengan langsung menghempaskan kedua tangannya itu.
Melihat pemandangan yang tadinya tertutup dengan jaring tebal yang menutupinya kini barang itu kini telah terbuka, menampakkan sesuatu kecil yang terlihat sangat menonjol dan menerawang, kedua tangan kekar itu mulai memainkan dua gunung kembar dengan leluasa, memejamkan matanya merasakan akan kenikmatan dari sentuhan tangannya ketika menyentuh dua barang kenyal tersebut.
Sesekali ia memainkan barang itu dengan leluasa, hingga telah menunjukkan akan wajah kenikmatan yang amat berbeda yang telah dirasakan dari pemilik barang berharga tersebut. Dirinya serasa tak tahan dengan sentuhan lembut tangan kekar itu yang terus saja memainkan dengan sesuka hati tanpa memperdulikan akan pemilik barang itu yang terlihat seperti tak tahan akan rasa yang sangat sulit diartikan. Dengan sekuat tenaga wanita itu mendorong tubuh si Pria hingga tersungkur kelantai, sekejap mata pria itu berhenti dari permainannya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG