
Semakin hari pemberitaan semakin merajalela hingga mengakibatkan Rumah sakit tempat ia kerja salah satu tempat yang mungkin juga akan terkena imbasnya. Sehabis dirinya melakukan tindakan operasi itu tanpa adanya angin atau pun hujan dirinya dipanggil pihak kepala dari rumah sakit itu untuk menghadapnya secara langsung, bukan tanpa alasan jelas lagi dirinya akhirnya masuk kedalam ruangan yang hanya sesekali orang dipanggil jika terdapat masalah yang dilakukannya.
Terlebih dulu ia mengetuk pintu ruangan itu, dirinya lantas masuk setelah seseorang dari dalam mengijinkannya, masuk dan melihat seseorang itu menghadap kearah belakang mengalihkan pandangannya dari tamu yang hadir, Rasyel yang angkat bicara seseorang itu akhirnya mulai buka suara dan membalikkan badannya dan mengalihkan pandangannya kearah Rasyel.
"Maaf tuan salah satu Dokter meminta saya datang kesini katanya tuan memangil saya?"tanya Rasyel pada seseorang itu.
"Iya itu benar! Pastinya tujuanmu datang kesini anda tau kan resiko apa yang akan terjadi?"balas seseorang itu dengan wajah kaku lan juteknya.
"Saat ini saya tidak mau permasalahan yang mana yang ingin tuan bahas terlebih dulu, saya sadar saya banyak melakukan tindakan ceroboh dan saya akui saya salah maafkan saya! Maafkan saya!"ucap Rasyel yang kembali berbicara dengan menundukkan kepalanya.
"Seseorang yang datang kemari maka tidak akan mungkin jika seseorang itu akan selamat dalam hal masalah pekerjannya? Anda aku utus menghadap ke saya secara langsung sudah pastinya sesuatu lain akan terjadi, jadi apa anda sudah siap dengan resiko yang akan anda dapat?"ucap balik seseorang itu seperti menantang.
__ADS_1
"Saya hanya anak buah Tuan? Bahkan kalau bukan kebaikan tuan, saya juga tidak akan mungkin mampu bertahan bekerja di Rumah sakit ini, jadi apapun resikonya aku sudah menerimanya katakan saja apa yang ingin tuan katakan saya tidak keberatan?"
"Aku akui sangat kagum terhadap anda? Biarpun kali ini masalah yang akan anda terima bukan lagi masalah sepele? Tapi anda masih berusaha bersikap tegar, bahkan tenang layaknya tidak ada hal serius yang akan terjadi, saya selama ini cukup bangga anda mampu bekerja ditempat ini. Pekerjaan anda aku akui sangatlah lihai dalam bidang kedokteran dan anda tidak pernah sekalipun mengecewakan saya dan itulah yang membuatku bangga. Namun hari ini nyatanya tidak sepenuhnya kebahagiaan itu akan selamanya anda raih. Hari ini aku harus ucapkan secara tidak langsung dan terpaksa jika hari ini aku sebagai pimpinan mengatakan jika anda aku pecat! Pergilah dari hadapanku karena hari ini tempat dan Rumah sakit ini bukanlah tempat anda, pergi! Karena anda sudah aku pecat pergi!"
Suasana tangis telah terpadu jadi satu dari dalam ruangan ini. Terlihat jelas air mata bercucuran dari seorang pimpinan ternama telah jatuh membasahi kedua pipinya, bukan tanpa alasan air mata pria itu jatuh ketika dirinya harus mengatakan secara tidak keinginannnya untuk memecat seseorang yang mungkin selama ini sudah ia anggap sudah seperti putra kandungnya sendiri.
Jabatan yang selama ini ia impikan kini dalam sekejab mata jabatan itu hanya tingal kenangan tak akan menangisinya dirinya hanya tersenyum lepas. Dan tak ingin menunjukkan kecewakan ia hanya menunjukkan senyumannya.
Tanpa menunjukkan reaksi sombong, angkuh yang dimiliki sang pimpinan, seorang Pria yang sudah berstatus tinggi akan jabatannya itu pun tak segan-segan memberikan pelukan hangat pada seorang Pria muda yang sudah ia anggap sudah seperti Putra kandungnya sendiri. Pria yang selama ini sudah jadi anak dari sahabat terbaik dari Almarhum sahabatnya kini telah melekat hingga pada Putra dari sahabatnya itu.
"Tingkahmu inilah yang tidak membuatku lupa untuk tetap mengingat siapa anda? Anda sangatlah percis seperti almarhum Ayah anda yang selalu santai tak menunjukkan akan kecewakan pada orang lain, maafkan saya sebagai teman dari Ayahmu aku tidak mampu untuk tetap mempertahankan kamu tetap berada disini? Ditempat yang selama ini telah kamu banggakan maafkan aku! Maafkan aku!"
__ADS_1
"Om Victor tidak perlu berkata seperti itu? Kebaikan Om selama ini sudah sangat membuatku bangga, aku sangat bersyukur memiliki Om dan kalau bukan bantuan Om aku rasa aku tidak akan mampu bisa berjalan dilantai mewah rumah sakit ini tidak akan mungkin?"
"Dalam masalah ini aku tidak pernah menyalahkan kamu atas kecerobohan atau mungkin keteledoran mu ini? Yang aku lihat sekarang kamu bukanlah seseorang yang ingin menguasai harta itu, itu sungguh bukanlah sifat kamu. Dan kali ini aku mendukungmu, tetap semangat dan perjuangan apa yang harusnya jadi milikmu, Tuhan tidak akan pernah tidur jika tiba waktunya nanti kamu akan mendapatkan segalanya termasuk balasan dari Tuhan atas kesabaranmu selama ini tetap bertahan dan ingat jangan pantas menyerah paham!"
"Iya Om Rasyel paham kok! Beruntungnya Rasyel memiliki orang-orang yang peduli pada Rasyel, demi kalian semua Rasyel akan bisa melewati semua ini, Rasyel akan bisa?"
"Tetap semangat Nak, ya sudah kamu pergilah!"
"Baik Om sekali lagi terima kasih atas semua keperdulian yang selama Om kasih pada Rasyel terima kasih!"
Langkahnya mulai beranjak dari ruangan tempat pimpinan ini. Setibanya ia keluar dari ruangan itu pandangannya dikejutkan dengan beberapa Dokter yang sudah menunggunya sejak sedari tadi, sadar dirinya tidaklah bersalah dan sadar seseorang yang sedang ia hadapi bukanlah seseorang biasa satu persatu Dokter itu memberikan pelukannya pada Rasyel, menepuk pundaknya berharap seseorang yang sedang ia tepuk bertahan dari badai yang telah membantainya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.