
"Pak! Saya berani bersumpah saya tidak kaitannya dengan pembunuhan yang dialami Papa saya? Apa saya tega membunuh Papaku hanya dengan adanya bukti perkataan dari Adikku sendiri? Apa saya tega membunuh Papa yang selama ini sudah mengasuhku? Tidak! Itu semua tidaklah benar jadi saya mohon bebaskan aku! Bebaskan aku, aku mohon?"
"Jika anda masih menyangkal jika anda bukanlah pelakunya? Terus gimana pendapat anda mengenai cairan berbahaya yang selama anda berikan pada korban yang tak lain dia adalah adik dari anda sendiri apa anda masih ingin menyangkalnya lagi?"
"Saya sungguh-sungguh tidak tau kalau cairan itu adalah cairan berbahaya. Saya hanya mengikuti permintaan yang diwasiatkan oleh Almarhum Papa. Dia sangat menyayangi Celine akibat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian dimana tewasnya tunangan dari Celine membuatnya depresi yang akhirnya dengan berusaha ia melakukan tindakan bunuh diri hampir tiga kali ia lakukan.
Bahkan dengan tidak ada rasa simpati sekaligus sayangnya pada Papanya dia pernah sekali mencoba terjun dari ketinggian beberapa meter dan untungnya Tuhan masih memberinya kesempatan. Jadi apa semua tindakan yang aku lakukan atas perintah dari Papaku sendiri mampu memenjarakan ku? Sadar tidak ada bukti yang lebih jelas yang mereka berikan?"
"Anda sudah tau salah tapi kenapa anda masih banyak menyangkal? Sudah jelas bukti-bukti yang saya berikan itu bukti yang kuat untuk memenjarakan anda tapi kenapa anda tidak kunjung sadar juga?"timpal Celine dengan kesalnya lantaran setelah melihat Monika beberapa kali melakukan pembelaan.
"Maaf saudari Celine apa semua perkataan yang diucapkan oleh saudari Monika memang benar jika anda sudah pernah beberapa kali berniat melakukan bunuh diri?"
"Iya saya akui aku memang pernah melakukan hal itu, tapi itu semua terjadi begitu cepat, seseorang yang ditinggalkan sang kekasih bahkan meninggal tepat dihadapan kita aku rasa hal itu akan mengakibatkan sebuah trauma besar bagi si wanita itu. Dan tak terkecuali jika itu aku sendiri yang mengalaminya. Aku tau ini kelihatan Bodoh tapi inilah dan aku akui aku sangat menyesal telah berniat melakukan bunuh diri itu, tapi biarpun begitu tidak ada sama sekali rasa jika aku tidak menyayangi Papa, aku sangat menyayangi namun rasa sayang itu telah tertutup sementara akibat trauma dalam kejadian itu jadi bapak sendiri pastinya paham!"ucap Celine berlalu Rasyel ikut menimpalinya.
"Kali ini aku berpendapat sama seperti Celine, tindakan bunuh diri yang dia lakukan akibat dari rasa trauma yang dialami akibat meninggalnya sang kekasih hal itulah yang mendorongnya berfikiran buruk, jadi tidak ada sama sekali kaitannya dengan ucapan seolah-olah Celine tidaklah perduli dengan Papanya karena itu semuanya bohong! Wanita itu sungguh licik, bahkan setelah meninggalnya Papanya, dia berbohong pada kita semua mengatakan jika Celine harus dibuat koma, padahal yang kita tau Papa almarhum dari Celine sendiri berwasiat pada para dokter untuk menghentikan semua tindakan itu jika dia telah meninggal, jadi bukankah dari sini kita bisa tau apa isi dari pikiran wanita licik ini? Semua bukti sudahlah ada dengan jelasnya dari bukti lebih jelas apalagi yang ingin anda mau?"
"Dari keterangan saksi sudah menunjukkan jika siapa yang salah dan siapa yang benar jadi anda harus kami tahan!"
"Tidak! Aku tidaklah salah jangan masukkan aku kepenjara jangan!"
"Tunggu apa lagi cepat bawa dia!"
"Baiklah!"
Melihat seseorang ia kenal akhirnya masuk kedalam jeruji besi akibat perbuatan yang dilakukannya. Tetesan air matanya mulai terjatuh, tak membayangkan jika nasib keluarganya akan sehancur ini. Melihat seseorang yang sangat Rasyel cintai menitihkan air matanya Rasyel lalu mengusap air mata tersebut.
"Kamu tidak perlu menangisinya? Apa yang kamu lakukan sudah benar untuk kamu lakukan. Dia memang salah jadi sudah seharusnya dia bertanggung jawab atas tindakannya jadi sudah jangan menangis lagi usap air mata kamu?"
"Terima kasih Dok! Kali ini aku tidak tau lagi jika aku tidak bersama Dokter apa yang akan terjadi padaku nanti?"
"Ya sudah kita sekarang pulang kamu kelihatan sangat capek?"
"Iya aku memang sangat capek Dok!"
"Ya sudah kita pergilah!"
"Baiklah!"
Dengan terduduk dan membungkukkan tubuhnya bersandar ditembok. Tatapan Monika menjalar kesemua arah, tatapannya tak henti-hentinya ia alihkan pada arah yang lain untuk mencari cara gimana caranya agar ia bisa terbebas dari sel tahanan ini dengan cara melarikan diri.
"Aku harus secepatnya cari cara untuk melarikan diri tapi dengan cara apa?"batin Monika yang terus saja memperhatikan suasana, tak lama tangannya yang mulai ia masukkan dalam saku ia tak sengaja merasakan akan sesuatu yang terdapat pada saku celananya itu, sadar apa yang ada didalam sana wajah liciknya kembali terukir.
"Ini? Ini bukankah korek api yang kemaren aku gunakan untuk menyalakan rokok? Akhirnya aku menemukan ide cemerlang?"batinnya yang tak henti-hentinya menunjukkan tatapan sinisnya.
"Maaf Pak apa saya boleh ijin ke-kamar kecil saya sudah tidak tahan lagi," ucap Monika pada salah satu penjaga.
"Baiklah," balas seseorang itu kemudian Polisi itu pun membukanya tak lupa polisi itu juga memborgol kedua pergelangan tangan Monika.
Berjalan dengan kedua tangannya yang masih terborgol, Monika menatap suasana untuk memastikan keamanannya. Tepat sampai di-pintu kamar kecil, Polisi itu kemudian membuka borgol sementara dan membiarkannya masuk sendiri kedalam kamar kecil.
Polisi yang tidak tahu lantaran korek itu masih tersimpan dalam saku bajunya. Belum lagi Monika yang belum mengenakan pakaian tahanan membuatnya yakin jika dia akan berhasil.
"Aku sudah berhasil mengatur rencana ini, sekarang gimana caranya aku menyalakan korek ini untuk membakar Kantor kepolisian ini?" batinnya kemudian ia mengeluarkan korek itu dan mencoba menyalakannya.
__ADS_1
"Sudah berhasil kini saatnya menunggu api ini menjalar ketempat yang lebih banyak lagi!"
Keluar dari dalam kamar kecil tanpa polisi itu mencurigainya, polisi yang hendak akan memborgol Monika teriakan terdengar sangat mengelegar.
"Kebakaran... kebakaran.
Tak berselang lama teriakan seseorang yang mengatakan kata kebakaran seketika membangunkan semua orang yang mulai tertidur lelap.
Seketika suasana menjadi runyam dipenuhi dengan kepanikan semua orang berlari kesana kemari untuk memadamkan api.
"Astaga cepat keluarkan semua tahanan dari dalam sel tahanan ini cepat lepaskan mereka. Dan ingat kumpulkan mereka dihalaman cepat!"
"Baik Pak!"
"Rencana berjalan sesuai rencana!"batin Monika yang hanya menunjukkan senyuman liciknya.
Melihat suasana yang terlihat sangat riuh. Sedangkan para Polisi yang membagi tugas antara memadamkan kobaran api yang mulai menyebar kemana-mana, beberapa polisi yang lain sibuk menjaga 50 tahanan dalam satu tempat sekaligus kesempatan ini akhirnya digunakan Monika untuk mengatur rencana keduanya.
Melihat dua polisi yang sibuk mengatur napi yang lainnya, Monika gunakan cara ini untuk menyelinap keluar dari kumpulan tahanan ini.
Suasana yang terbilang agak gelap lantaran sinaran lampu yang mati membuatnya mempunyai kesempatan emas ini untuk bisa melarikan diri. Memundurkan diri beberapa langkah, kemudian ia berjalan perlahan-lahan dalam keadaan berjongkok tidak menyadarkan akan Polisi yang sibuk mengamankan napi yang lainnya.
Pemadam kebakaran yang sudah datang telah menyurutkan rasa kepanikan para Polisi yang akhirnya tersadar jika salah satu tahanan telah kabur dari kumpulan ini.
"Tunggu kenapa tahanan cuma berjumlah 49 orang?" tanya salah satu Polisi dengan wajah terkejutnya.
"49 tapi tadi saya barusan saja menghitungnya berjumlah 50 orang pak?"
"Baiklah cepat hitung kembali?"
"Baik Pak!"
Bergegas berlari, mencari dari berbagai arah para Polisi itu akhirnya menyisir semua jalanan yang biasa dilalui para pengendara.
Sedangkan Monika yang mulai panik lantaran ia mendengar suara Polisi seketika membuatnya mati berdiri dipenuhi dengan rasa takutnya.
Salah satu Polisi itu melihat seorang laki-laki yang juga seseorang itu nampak panik setelah melihat balik dirinya.
"Itu dia tahanan itu hey jangan lari ...."
"Sial para Polisi itu sadar kalau aku kabur aku harus pergi sekarang," ucapnya segera ia pun mempercepat jalannya.
Dyar
Dyar
Dyar
Beberapa tembakan mereka layangkan. Awalnya satu tembakan itu tidak berhasil mengenai dirinya, tapi tak lama kedua tembakan itu tepat mengenai kaki kanan Monika yang seketika membuatnya meringis kesakitan.
Tak ingin tertangkap lagi, ia melihat arah kiri yang terdapat-lah sebuah jurang tapi kedalamannya tidak terlalu dalam. Menerjunkan diri kedalam itu, tubuhnya seketika tersungkur dan membuat tubuhnya bergelimpangan beberapa kali.
Polisi yang terkejut akan tindakannya, seketika mereka terdiam tak berkutik.
__ADS_1
"Sial tahanan itu kabur, cepat carilah senter untuk menemukannya. Dan satu lagi hentikan perjalanan roda empat yang melintasi jalan raya dibawah saya karena ada kemungkinan tahanan itu akan selamat karena jurang ini tidak terlalu dalam. Jadi cepat laksanakan!"
"Baik Tuan!"
"Sial luka tembakan ini bisa-bisa akan membunuhku kalau aku tidak segera mendapatkan penangangan, tapi jika aku ke-Rumah sakit aku akan tertangkap lagi jadi apa yang harus aku lakukan sekarang. Ingat Monika kamu tidak bodoh masih ada jalan keluar dari permasalahan ini yang terpenting sekarang kamu harus lari, kamu harus lari!"
Melanjutkan lagi perjalanannya. Dan kondisinya yang pincang, darah segar yang sedari tadi mengalir tiada henti membuat raut wajah Rafa terlihat pucat.
Berjalan dengan menahan rasa sakit itu. Monika akhirnya bisa berlega hati setelah arah yang ia lalui tepat disampai jalanan beraspal biar pun jalanan sangat sepi.
Disisi lain dari arah barat terdapat-lah mobil hitam yang mulai berjalan kearahnya.
Tak berfikir kedua kali Monika seketika menghadang mobil merah itu yang akhirnya mobil pun mengerem secara mendadak dan hampir membuatnya tertabrak lagi oleh mobil merah tersebut.
Chit...
Pemilik mobil yang merasa terkejut, ditambah lagi dengan adanya rasa panik lantaran Wanita itu menghampirinya dan mengetuk-ngetuk kaca mobil layaknya membutuhkan pertolongan.
"Buka pintunya saya mohon buka. Saya akan mengabulkan apa pun yang anda minta tapi saya mohon buka!"
"Siapa Wanita itu kenapa dia seperti sedang membutuhkan pertolongan?" batin seorang pria dengan tubuh kekarnya, senyuman licik kembali muncul dalam diri Pria itu setelah melihat wanita yang mengetuk pintu kaca terbilang cantik dan bodynya yang ia incar..
"Baiklah cepat masuklah!" perintah Pria itu yang kemudian Monika pun memasuki mobilnya.
"Mimpi apa aku malam-malam gini dapat wanita secantik ini? Belum lagi bodynya bukankah ini yang kamu mau Samuel?"batinnya dengan memberikan tatapan licik.
"Sudah cepat jalankan mobil kamu ayo cepat!"
"Kamu memerintahkan-ku?"
"Kamu tidak lihat kakiku terluka aku harus segera mendapatkan penangangan cepat jalankan!"
"Baiklah aku akan menjalankan mobil ini!"
"Apa yang sebenarnya terjadi apa anda telah diculik?"
"Bukan saatnya aku untuk menjelaskan semuanya pada anda. Aku akan sangat berterima kasih pada anda, tapi saya mohon cepat jalankan kembali kendaraan ini saya mohon! Dan saya mohon juga jika nanti ada polisi yang datang untuk menghentikan mobil anda katakan anda hanya seorang diri paham!"
"Baiklah anda tenang saja aku akan membantu anda, tapi ...."
"Tapi apa? Apa anda masih memberikan syarat?"
"Jaman sekarang tidak ada kebaikan yang sempurna bahkan terlihat. Aku bukanlah Pria beruntung yang mampu menolong anda tapi ..."
"Tapi apa?"
"Sudahlah jangan dimasukkan kehati aku serius menolong anda, anda kelihatannya sangat butuh bantuan jadi tenanglah aku akan menolongmu!"
"Sekali lagi terima kasih!"
"Baiklah santai aja!"
"Ini hanya awalan cantik, selanjutnya kamu juga akan tau dengan siapa kamu akan berhadapan sekarang ini?"batinnya dengan tatapan liciknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.