Dokter Genius Milik Putri Konglomerat

Dokter Genius Milik Putri Konglomerat
Bab 54." Kalah."


__ADS_3

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN.


Hari yang dengan cepat telah berlalu, siang yang tadinya sangat sepi diselimuti udara sedikit sejuk dan angin sepoi-sepoi yang menerjang, kini berganti malam yang terlihat cerah lan indah bersanding dengan jutaan bintang yang telah bersinar terang membangkitkan suasana malam hari ini.


Terlihat Pria itu masih setia mendampingi wanita yang sangat dicintainya itu, tanpa ada rasa bosan atau pun gejolak yang menganggu akan niat dirinya untuk tetap mendampingi Wanita yang dicintainya tersebut.


Terbaring dalam keadaan tidak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri itulah yang dilakukan Wanita cantik bernama Celine saat ini, perlahan-lahan Rasyel mulai menghampirinya menggenggam dengan erat tangan mungil sekaligus memberikan kecupan pada Kening wanita yang dicintainya Rasyel akhirnya meneteskan air matanya. Tak lupa dirinya mulai membasuh dari pergelangan tangan mau pun kaki dengan air hangat. Dengan telaten ia tetap melakukannya.


"Sayang? Kamu kenapa betah sekali tidurnya ini sudah masuk ke hari berapa kamu pulas dalam tidur seperti ini? Kamu gak lagi kasihan sama suamimu yang setiap hari harus membasuh tubuhmu dengan kain tipis ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu sangat takut bahkan tidak mau sampai kembali ke Rumah sakit ini. Kamu sendiri yang selalu berkata jika takut terbaring disini dan takut jika kejadian masa lalu mu akan kembali terulang apa kamu tidak ingat? Bahkan kamu sendiri yang mengatakannya tapi kenapa kali ini kamu sendiri juga yang memutuskan untuk tetap terbaring disini, kenapa?"


Membelai wajah cantik yang dimiliki sang Istri, dirinya terus memberikan belaian itu tak berapa lama suara seseorang yang memangilnya mengalihkan pandangannya kearah Seseorang itu.


"Mama?"


"Sampai kapan kamu akan terus menahannya seperti ini? Mungkin benar yang dikatakan para Dokter jika sekarang sudah saatnya kamu untuk melepaskannya ini sudah satu tahun apa mungkin dia akan bisa bertahan? Ingatlah Rasyel Mama tidak akan melarang kamu untuk mencintai bahkan menjadikan dia sebagai Istrimu tapi soal ini maaf! Mama tidak bisa lagi mendukungmu nak! Dia juga manusia ijinkan dan ikhlaskan dia untuk pergi ikhlaskan dia?"


"Tidak ma ini hanya satu tahun? Bahkan diluar sana masih banyak lagi orang-orang yang membutuhkan lebih banyak waktu bahkan tahun-an tapi apa? Mereka akhirnya kembali sadar jadi tolong! Tolong jangan paksa Rasyel untuk menghentikan semuanya jangan!"


"Baiklah Mama sudah memberikan saran terbaik untukmu? Mama sudah tidak tau lagi dengan jalan pikiran kamu, jika suatu saat nanti ia pergi Mama harap kamu ikhlas dan bisa menerima kepergiannya hanya itu saran Mama! Hanya itu ya sudah Mama pamit pergi?"


"Iya Ma sekali lagi terima kasih atas kunjungan Mama?"


"Iya sayang ya sudah Mama pergi dulu?"


"Baiklah!"


"Kamu tenang saja sayang aku pastikan selain aku tidak akan ada orang lain lagi yang akan bisa menghentikan semua ini. Aku suamimu jadi hanya aku yang bisa memutuskan semua ini kamu janganlah khawatir, aku akan selalu ada untukmu aku akan selalu ada untukmu!"


"Gimana kondisi kamu sekarang apa kamu baik-baik saja?"


"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja terus gimana dengan keadaan Istrimu?"


"Dia baik-baik saja aku juga sangat yakin tidak akan lama dia juga akan sadar aku yakin itu!"


"Mulutmu berkata seperti itu tapi tidak dengan hatimu Dok ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."

__ADS_1


"Oh iya selain itu ada hal lain lagi yang ingin aku katakan soal Monika apa kamu tau dimana tempat ia bersembunyi?"


"Iya aku tau dimana ia bersembunyi, dia tinggal disalah satu kediaman yang berada di Blok A jalan Permata Indah, kediaman itu sebenarnya Rumahku namun setelah tindakannya yang berencana membunuhku aku tidak yakin jika dia akan tetap menetap disana, namun Dokter tenang saja aku masih bisa melacaknya?"


"Melacak? Gimana caranya?"


"Tanpa dia curigai aku telah memasang GPS yang mampu mengetahui dimana ia berada, jadi hanya lewat ponselnya aku tau dia ada dimana sekarang?"


"Itu ide bagus!"ucapnya beralih keduanya sama-sama memberikan tatapan kepercayaannya.


Ruangan yang terlihat sangatlah sepi dan hanya ada satu seseorang yang telah terbaring lemas diatas brangkar Rumah sakit dengan beberapa selang yang tertempel pada tubuh seseorang wanita itu.


Awalnya suasana terlihat biasanya saja akan tetapi tak lama kemudian datanglah langkah kaki seseorang yang perlahan-lahan mulai mendekati Wanita itu.


Terlihat dari wajah senyumannya seseorang itu terlihat sedang merencanakan sesuatu. Dengan membawa pisau tajam yang berada di genggamannya langkahnya tambah semakin mendekatinya.


"Celine... Celine ternyata hidupmu sangatlah menyedihkan ya? Hanya bisa terbaring tidak berdaya seperti ini. Tapi apa kamu tau kedatangan-ku kesini aku hanya ingin bilang terima kasih! Terima kasih karena kamu sudah berhasil membuat hidupku hancur termasuk menggalami penderitaan semua ini? Bahkan hidup dalam pengejaran Polisi hidupku tampak sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dan kamu? Setelah apa yang kamu lakukan padaku apa aku akan membiarkan kamu bahagia begitu saja dan kembali pada Pria bernama Rasyel itu, tidak! Itu semua tidak akan pernah terjadi!"


Dan aku tahu kamu pasti sangatlah menderita dengan semua penderitaan ini dan kamu tenang aja mumpung aku baik jadi aku akan membuatmu tidak perlu susah-susah lagi bertahan dan merasakan rasa sakit yang selama ini telah membuatmu sangat menderita. Karena pisau ini, pisau inilah yang akan mengantarkan mu ke kebahagiaan kamu yang sesungguhnya.


Langkahnya mulai menghampiri seseorang yang dalam kondisi tidak berdaya itu, pisau tajam itu mulai ia arahnya dari arah dan tidak butuh waktu lama mungkin pisau itu mampu menembus jantung dari wanita yang sedang tertidur itu, namun belum pisau itu sampai menyentuh kulit mulusnya, terdengar suara tembakan yang menggelegar dari dalam ruangan rawat tersebut.


"Ah...!. Suara jeritan Monika yang seketika terjatuh tersungkur setelah mendapat tembakan tersebut. Kedua kakinya terasa nyeri setelah benda panas itu mampu menembus kakinya hingga mengakibatkan darah keluar derasnya.


Muncullah dua pria yang sengaja sembunyi dari dalam kamar mandi, tatapan Monika tak terhindarkan lagi melihat seseorang yang waktu itu berencana ia bunuh namun kenyataanya Pria itu masih nampak sehat bugar. Berdampingan dengan Rasyel dan dua polisi membuat dirinya tak berkutik lagi.


"Angkat kedua tangan anda! Anda sudah terpojok angkat tangan anda!"perintah Polisi.


"Ini? Ini apa-apaan anda? Bukankah anda sudah m4ti?"


"Iya! Mungkin perkiraan mu aku sudah m*ti karena pendarahan waktu itu, tapi sekarang anda bisa lihat kan seperti apa kondisiku sekarang? Mungkin ini semua tidak akan terjadi kalau bukan karena berkat Dokter Rasyel yang berbaik hati mau menolongku, biarpun aku sempat membuatnya celaka dirinya masih punya hati tulus untuk mau menyelematkan nyawaku sedangkan anda?"


"Maafkan aku! Maafkan aku karena aku telah jahat berniat ingin membunuhmu! Maafkan aku! Aku mohon tolong beri kesempatan kepadaku untuk tetap bebas aku mohon!"


"Setelah apa yang ingin kamu lakukan padanya kamu masih mampu berkata seperti itu? Dia Adikmu apa setega itu kau ingin menghabisinya?"timpal Samuel yang tak tahan lagi.


"Sudah bawa wanita itu pergi! Aku tidak ingin melihatnya Pak, bisa cepat singkirkan wanita ini dari pandanganku?"ucap Rasyel tanpa banyak bicara, engan untuk menatapnya apalagi memandangnya secara langsung dirinya beralih menghampiri sang Istri.

__ADS_1


"Baik Tuan, wanita itu sudah lama jadi buronan kami harus cepat membawanya ayo jalan!"


"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara lepaskan aku! Lepaskan aku!"


Tanpa memperdulikan teriakan wanita itu, Samuel menghampiri Celine begitu juga yang Rasyel lakukan barusan.


"Apa dia baik-baik saja?"


"Alhamdulillah pisau itu tidak sampai terkena jadi dia masih aman!"


"Baiklah syukurlah kalau gitu, aku harus menyusul ke Kantor Polisi biar aku yang menanganinya!"


"Baiklah sekali lagi terima kasih atas bantuannya!"


"Iya sama-sama ya sudah aku cabut dulu!"


"Baiklah!"


Perginya Samuel dari ruangan ini, Rasyel menggenggam erat tangan Celine, tak kira-kira air matanya lagi-lagi menjatuhi pipinya.


"Maafkan aku! Maafkan aku karena aku hampir saja tidak bisa menjagamu, benar yang dikatakan orang-orang mungkin ini saatnya aku melepaskan kamu! Ini sudah satu tahun kamu terbaring disini dan selama ini aku tidak pernah sekali pun telat memberikan ramuan itu, tapi nyatanya kondisimu tidak kunjung membaik. Maafkan aku jika kali ini aku sudah pasrah dan menyerah maafkan aku!"


Mendatangi ruangan Dokter Andre, dirinya memasuki ruangan itu setelah mendapatkan ijin untuk masuk, ekpresi Rasyel yang tampak berbeda dari biasanya Dokter Andre lalu menghampirinya.


"Dokter Rasyel ada apa? Apa ada masalah yang terjadi?"


"Aku ingin mengakhirinya?"timpal Rasyel yang spontan Dokter Andre merasa bingung dirinya lantas bertanya lagi.


"Mengakhiri gimana maksud Dokter?"


"Aku sudah kalah! Benar yang dikatakan orang-orang jika tidak seharusnya aku membiarkannya dalam keadaan seperti ini. Sudah satu tahun lamanya namun dia masih tetap sama jadi aku pasrah! Aku pasrah untuk melepaskan semua alat-alat itu jadi aku putuskan ingin mengakhiri dan mencabut semua alat-alat itu Dokter bersedia kan?"


"Apa Dokter Rasyel sudah memikirkan dengan matang-matang keputusan Dokter barusan?"


"Iya aku sudah memikirkannya secara matang-matang dan ini sungguh tindakan atas keinginanku, mungkin dengan alat-alat itu dicabut dia akan pergi jadi kabari aku jika ada kabar yang datang aku harus pergi!"


Tanpa mengatakan apapun lagi dalam keadaan pasrah dirinya kembali meninggalkan ruangan ini, Dokter Andre yang melihat kesedihan terdalam yang dialami Dokter Rasyel tak membuatnya ingin banyak tanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2