
Michel mengambil paket sementara orang itu mundur dengan menundukan kepalanya tidak berani menatap kearah Michel, Lara melihat siapa yang datang dan itu adalah salah satu bawahannya yang biasanya mengantarkan paket kerumah.
Michel menyerahkan paket yang datang kepada anaknya dan Lara menerimanya kemudian langsung meletakkannya disamping piring makannya. Baru setelah selesai makan Lara membuka paket yang ia terima dan memeriksa isinya yang ternyata adalah dokumen-dokumen serta satu kartu kecil yang berada dalam kotak perhiasan mewah.
‘’Ini untuk ibu’’ Lara menyerahkan kotak perhiasan mewah berisi kartu member VVIP Sri Ayu Corp yang Lara minta sebelumnya.
‘’huhuhu.. akhirnya.. oh ya benar juga aku akan kesalon bersama Misha’’ kata Michel sambil melihat calon mantunya yang sibuk membersihkan piring serta sendok bekas makan dibelakang.
‘’Tuan monster ayo antar aku ke sekolah’’ Sasha akhirnya berbicara setalah lama menonton orang berbicara didepannya. Lara segera bahwa Sasha memakai pakaian sekolah dan hari ini bukan hari libur yang berarti Sasha harus sekolah.
Lara buru-buru mengangkat telpon kemudian berbicara dengan seseorang dan tak lama kemudian pria yang datang sebelumnya mengantarkan paket kembali. ia membawa tas milik Sasha keluar.
Sementara Itu Misha mulai hari ini ia tidak lagi pergi ke kantor untuk bekerja. Misha tidak bisa lagi bekerja di tempat ia bekerja karena ia akan menikah dan syarat bagi untuk terus bekerja adalah ia haruslah single. Karena ia bukanlah pegawai tetap maka ia hanya perlu mengirim surat ke perusahaan dimana ia berkeja menerangkan keadaannya maka ia akan otomatis di berhentikan dari pekerjaannya.
Lara bersama Sasha naik kendaraan untuk ke sekolah dan itu hanya memakan waktu beberapa menit saja sehingga Sasha tidak akan terlambat masuk kelas. Sasha tampak senang ketika naik kendaraan yang melaju kencang dalam lorong panjang yang seperti gelembung. Lara mengerti itu Sasha jarang naik kendaraan jadi wajar ia tempak sedikit antusias ketika menaiki kendaraan.
Saat tiba di sekolah banyak orang melihat Sasha turun dari kendaraan yang tampak sangat mewah dan mahal. Mereka tampkanya sangat penasaran dengan siapa Sasha berangkat kesekolah.
Sasha melambaikan tanganya ke arah kendaraan yang mulai masuk kejalur lintasan yang seperti gelembung panjang dan besar. Dari belakang seorang guru wanita mendekat kearah sasha dan berbicara
‘’Siapa itu sasha?’’
‘’Tuan monster yang baik’’ kata sahsa dengan santai dan guru wanita itu kembali bertanya
‘’Apa tuan monster memiliki rumah yang besar?’’
‘’ememm.. rumahnya sangat besar sangat indah dan kamarnya banyak’’ Sasha berkata dengan polos tanpa tau efek dari apa yang ia katakan.
‘’Apa dia sudah menikah?’’ kata wanita itu pada sasha
‘’Menikah?… ya dia akan menikah dengan kakak’’ kata Sasha yang membuat guru wanita itu terkejut dan tidak bertanya apapun lagi setelahnya. ia terlihat agak berpikir saat berjalan dan tampakanya ia tertarik pada pria yang ada dalam mobil itu.
__ADS_1
Ia mengambil cermin riasnya saat berjalan melihat wajahnya dalam kaca. Ia sendiri sudah melihat seperti apa rupa kakak sasha dan menurutnya ia tidak kalah cantik dengan Misha. Sementara itu Lara yang sudah kembali mengatakan pada pria berjas hitam untuk di sediakan satu orang driver beserta kendaraan untuknya.
Lara hampir tidak pernah menggunakan kendaraan semenjak ia berhenti dari The Elder. Ia jarang pergi keluar rumah sehingga tidak perlu baginya untuk memiliki kendaraan. Tapi sekarang berbeda ia memiliki Sasha yang harus setiap hari sekolah. Lara tidak ingin membuat Sasha naik kedaraan umum ia ingin Sasha naik kendaraan mewah dan begaya layaknya seorang putri didepan semua orang.
***
Lara telah belajar banyak hal dari Igaram terkait dunia Dream dan para dewa serta masalah kegerejaan, mata Lara saat ini terfokus pada buku tebal yang ada di atas meja ia membalik halaman demi halaman kemudian saat ia melihat Igaram masuk kedalam kamar Lara berbicara bahwa ia sudah siap untuk ujian menjadi seorang pendeta.
Untuk menjadi pendeta tidak mudah mereka harus lolos ujian kependetaan terlebih dahulu untuk menjadi pendeta. Sementara itu untuk menjadi paladin atau priest orang harus menyelesaikan belajar mereka di gereja dan kemudian melamar menjadi paladin atau Priest tapi sebelum mereka menjadi priest dan Paladin mereka harus menjadi magang terlebih dahulu.
Dan job mereka yang awalnya student menjadi ke job peralihan yakni Claric atau bisa di sebut magang priest dan magang Paladin. Baru setelah mereka cukup kuat mereka akan di berikan kontrak serta berkat untuk menjadi Paladin atau Priest dari suatu gereja.
Disisi lain untuk menjadi Warior atau Archer seseorang hanya belatih di dojo beberapa saat kemudian langsung mendapat Job dasar mereka yakni Beginer dan setelah meraka keluar dari dojo dengan menyelesaikan semua pelatihan dasar, mereka akan langsung di angkat menjadi seorang Warior.
Hanya Job paladin dan priest yang memiki job peralihan sebelum job pertama mereka dan tidak ada yang atau alasannya kenapa tapi Lara tahu apa maksud dari ini.
Lara bisa aja menjadi paladin tapi ketika ia mengingat kebaikan igaram dan terus mengatakan Lara harus menjadi pendeta selain itu Lara juga pernah ditolong oleh seorang pendeta di masa lalunya sehingga pada akhirnya meneguhkan hatinya milih menjadi pendeta.
Setelah esok harinya Igaram menyampikan bahwa ujian Lara akan di adakan di gereja dewi Luna dimana ia ditolak sebelumnya, karena Lara tidak yakin dengan apa ia bisa masuk setelah penolakan itu Lara meminta untuk di berikan jubah sarung tangan dan topeng untuk menutupi penampilanya.
Lara melihat topeng besi itu kemudian sedikit tersenyum ia teringat masa lalunya bagaimana ia ketika masih kecil suka memakai topeng dan malu kektika berjalan keluar dengan wajahnya yang buruk rupa.
Walupun sekarang Lara masih suka menggunkan topeng tapi itu bukan untuk malu karena penampilanya tapi karena itu adalah gayanya berpakaiannya.
Lara Mendekatkan topeng itu kewajahnya dan seketika itu menempel seperti lem di wajahnya Lara melihat sekitar ia merasa topeng itu bukan topeng biasa karena bisa menyesuaikan dengan bentuk wajahnya dan kepalnya juga. Selain itu pandangannya juga tidak terganggu dengan adanya topeng itu di wajahnya.
Lara tidak tau apa topeng itu sebenarnya tapi ia cukup nyaman dengan itu sementara itu untuk jubah dan sarung tangan semua berwana hitam terlihat sangat serasi dengan topeng yang juga berwana gelap.
‘’pendeta… aku rasa ini tidak bisa di katakan topeng narapidana’’ Lara berkomentar merasakan topengnya yang terasa sangat pas dan nyaman
‘’itu memang topeng narapidana tapi bukan narapidana biasa itu milik bangsawan yang dihukum mati karena menggelapkan uang kekaisaran’’ kata Igaram
__ADS_1
‘’lalu bagaimana ini bisa bersamamu?’’ tanya Lara lagi
‘’Guru yang memberikannya padaku katanya itu dapat menyelamatkan nyawa aku sudah memeriksakannya pada penyihir tiangkat tinggi tapi katanya itu tidak ada apa -apa aku rasa guru saat itu hanya bercanda saat mengatakan tentang topeng itu. Setelah itu aku tidak menanyakanya lagi begitu juga guru tidak pernah mengatakan apa pun lagi tentang topeng itu’’ kata Igaram melihat topeng di wajah Lara
‘’Begitu…’’ Lara tidak terlalu memikirkannya dan kemudian Lara melanjutkan belajarnya ia membaca hingga larut.
Tanpa terasa pagi telah datang lagi Lara sudah membersikan tubuhnya ia juga sudah sarapan di gereja memakan roti keras yang di beli oleh Igaram, sekarang tujuan Lara adalah gereja dewi Lunar dimana ia ditolak sebelumnya.
Lara berjalan bersama dengan Igram masuk ke dalam gereja yang tampak sudah banyak pendeta dan murid yang datang untuk mengikuti ujian Lara beruntung karena ia tidak harus menunggu jadwal ujian yang seharunya diadakan setahun sekali.
Melihat penampilan Lara semua orang menatapnya kemudian berbisik-bisik membicarakan Lara. Ada beberapa player disana selain dirinya, Lara bisa mengetahui mereka dari cara mereka bergerak dan penampilan mereka, karena waktu masih menunggu Lara duduk dan ia membuka buku yang ia bawa dan simpan di Inventorynya.
‘’Oi.. raksasa aneh kau baru belajar sekarang? Kau tau kata orang-orang orang yang berbadan besar biasanya bodoh’’ kata pemuda didepan Lara dengan nada menghina, Lara tidak memperdulikannya dan terus membaca yang membuat pemuda itu marah.
‘’Oi bodoh aku bicara padamu’’ pemuda itu memukul buku di tangan Lara untuk memancing Lara namun Lara hanya santai menunduk mengambil buku yang di tanah saat Lara memegang buku kaki pria itu menginjak tangan Lara dan sengaja menekannya dengan keras.
Lara menarik tanganya dengan cepat dan membuat pria itu kehilangan keseimbangan lalu terjengkang dengan kepalanya membentur lantai. Lara berdiri dan berjalan menjauh ia tidak ingin terlibat masalah lagi dengan NPC pembuat onar itu.
‘’Oi monyet.. berhenti’’ pemuda itu berteriak saat bangun menujuk arah Lara namuan Lara hanya melanjutkan jalannya tanpa terpengaruh sedikitpun.
‘’Berhenti… kataku… kalian tangkap dia’’ pemuda itu tidak sendiri ia bersama temannya namun saat pemuda itu memberi perintah teman-temanya tidak bergerak karena dari kejauhan terlihat seorang pendeta menatap kelompok itu dengan tajam dan sangat jelas terlihat oleh pria itu serta teman-temannya.
‘’Kalian pengecut…’’ pemuda itu memukul teman-temannya satu persatu sementara itu Lara sendiri telah duduk di tempat yang lebih sepi dan membaca buku kembali. Waktu berlalu dengan cepat gereja semakin banyak orang yang datang dengan segera bel gereja berbunyi tanda mereka harus masuk dan ujian akan dimulai.
Lara beranjak dari tempat duduknya ia berjalan ke arah pintu masuk tempat ujian dengan pasti dan yakin akan menyelesaikannya dengan mudah. Lara berjalan masuk kepintu bersama banyak Student Lainnya. Saat ini tidak ada lagi yang peduli dengan penampilan Lara mereka semua fokus pada ujian yang akan mereka hadapi. Lara memeriksa nomor bangkunya dan setelah beberapa saat ia menemukan nomor bangkunya.
Lara duduk dan kemudian sistem memberi tahunya bahwa inventorynya dikunci oleh sihir yang dibuat oleh para pengawas yang merupakan pendeta tingkat tinggi.
saat duduk menunggu kertas ujiannya tiba-tiba seorang pria datang dan duduk disebelahnya dan itu adalah pemuda yang tadi membulinya diluar. Ia tampak sangat percaya diri dan ketika melihat Lara ia langsung berbicara.
‘’ Jangan menyontek saat ujian’’ katanya dengan nada sombong
__ADS_1
‘’Aku tidak akan’’ kata Lara santai
‘’Bagus.. mari kita lihat bagaimana kau menangis padaku saat ujian nanti’’ kata pemuda itu lebih sombong