
Ditempat lain Mira dan Michel sekarang berada di tempat aman, mereka sekarang ada di sebuah pemukiman di atas pohon. Elf pohon tidak seperti manusia mereka membantuk koloni mereka di atas pohon pohon dekat Pohon Dunia. Para Elf kebanyakan adalah adalah petani, tentu saja bukan hanya petani biasa. Dalam beberapa jam mereka dapat membuat bibit menjadi pohon yang siap berbuah dan kemudian dengan beberapa lama saja buah yang awalnya mentah langsung mejadi matang dan siap untuk di konsumsi.
Para warga Desa Mor selalu terpesona ketika menonton pertunjukan itu sekaligus mengagumi para Elf Pohon. Sementara itu menurut para elf itu adalah hal biasa di para Elf Pohon mereka bakan sedikit sesumbar bisa membuat pohon hanya dalam beberapa detik.
Penampilan elf pohon hampir seperti manusia, tapi mereka jauh lebih sempurna secara postur tubuh dengan telinga runcing dan mata berwarna hijau daun senada dengan rambut mereka yang bergelombang. Penampilan Elf Pohon begitu sempurna, mereka tidak punya kecacatan fisik, rupa mereka pada dasarnya hampir sama secara keseluruhan. Tapi, setiap elf memiiki ciri khasnya sendiri dan dengan mudah bisa di bedakan antara satu sama lain.
‘’Hanna… apa yang terjadi’’ Mira bertanya pada salah satu bangsa Elf Pohon yang di sebelahnya
‘’Mata Gelap semakin dekat ke sini, kita mungkin harus segera bertindak’’ kata wanita itu
Mira tampak khawatir, ia tidak menyangka itu akan datang secepat itu. Hanna adalah seorang Putri Pohon ia adalah anak Raja Pohon yang merupakan pemimpin para Bangsa Elf Pohon. Mira dan Hanna cukup dekat belakangan karena memiliki sifat dan hobi yang hampir sama. Michel disisi lain mengikuti elf pemburu menghabiskan hari-harinya bertarung melawan para monster dengan tinjunya.
Ia menjadi primadona para elf lelaki terutama para Elf Pohon Pemburu. Kemampuan Michel saat ini memang tidak sekuat para elf pohon elit. Tepi, caranya memukul lawan seperti singa betina membuat para pria Elf Pohon tertarik padanya.
Ketika mereka sedang sibuk berburu terdengar suara lonceng yang berasal dari Pohon Dunia, menandakan bahaya akan ada datang. Seluruh pemburu cepat meninggalkan pertarungan mereka dan langsung berlari kencang ke Pohon Dunia. Saat mereka tiba pengumuman keras terdengar di hingga setiap sudut kota Pohon mendengar dengan jelas apa yang terjadi.
Dalam suara terdengar jelas para Mata Gelap sudah sampai di tepi Hutan Mor dan akan memasuki hutan dalam beberapa jam mendatang. Mendengar itu semua pemburu Bangsa Elf Pohon yang baru datang mengepalkan tangan mereka yang gemetar karena perang bear akan segera datang.
‘’Segera bentuk formasi’’ para pimpinan Elf pohon memberi perintah dengan cepat setelah beberapa saat semua pasukan berkumpul membentuk barisan besar
Michel mengenakan baju tempur Elf Pohon ia menggunakan senjatanya yang berupa sepatu besi dan tinju tinju. Mira disisi lain hanya mengamati apa yang terjadi besama Hanna. Warga Desa Mor tidak mau diam diri, mereka juga bersiap untuk membantu segala yang mereka bisa.
Mereka tidak ingin hanya berpangku tangan, para wanita Desa Mor segera mengikuti para Elf Wanita yang tidak bisa bertarung membantu menyiapkan makanan bagi para prajurit. Di depan pohon dunia terlihat 10 barisan lengkap Elf dengan pakaian Warna Hijau mengkilat terkena sinar matahari bersiap untuk bertempur
‘’Bergerakkkkkk!!!!’’ Raja pohon memberi perintah dan memimpin semua prajurit Elf pohon dengan gagah berani
Mira tidak tau apa yang dipikirkan Raja pohon untuk langsung menyerang ke depan, baginya tindakan itu agak terburu-baru. kemudian setelah ia mendengar alasannya dari Hanna ia mengerti. Mata Gelap bukan monster sembarangan memberi mereka celah mengamati adalah tindakan bodoh.
Menurut hanna mata gelap saling terhubung satu sama lain yang berarti mereka saling bisa memberi informasi. Menyerang adalah keputusan langsung tanpa ampun adalah rencana yang paling tepat. Semakin sedikit mereka tau semakin baik disisi lain para Elf Pohon penyihir membuat kabut tebal di hutan untuk menghalangi pandangan Mata Gelap dan juga membuat sihir ilusi kuat untuk membuat mereka kebingungan
Perang pecah sangat cepat, Para Serigala Mata Gelap yang masuk dari tepi dengan cepat di bantai tanpa diberikan sedikitpun kesempatan. Namun, kemudian monster Mata Gelap datang seperti banjir dan seketika itu pula pertarungan sebenarnya terjadi saat itu.
__ADS_1
***
disisi Ligar sendiri saat ini pertarungan juga pecah di dalam gua mereka sedang berhadapan dangan para Mata Gelap yang menyusup masuk kedalam melalui yang tidak di ketahui. Ligar bersama dengan para player lain bertempur dengan sengit.
‘’ligar, ini terlalu banyak’’ salah satu player berbicara
‘’terus tahan mereka, kita tidak bisa membiarkan mereka maju lebih jauh jika tidak para warga akan menjadi korban’’ Ligar berbicara layaknya pemimpin sebuah kelompok
‘’tidak ini terlalu berbahaya aku akan mundur’’ kata salah satu player yang lain
‘’Pergilah, aku bisa mempertahankan ini sendiri’’ Ligar menatap semua orang dengan ganas
‘’kalau begitu selamat tinggal’’ kata salah satu Player langsung melarikan diri dari lokasi
‘’aku juga’’
‘’Bangsat,’’ Ligar kesal dengan semakin banyaknya Player yang pergi darinya
‘’tidak,… ini berbahaya kalian…’’
‘’tuan, kami tidak bisa berdiam diri melihat anda berjuang sendri’’
‘’jangan salahkan aku jika kalian mati’’ Ligar tampak terharu melihat orang-orang desa ingin berjuang bersamanya
Beberapa player yang sedikit memiliki kemanusiaan mereka datang pergi menolong Ligar dan lainnya. Pertarungan mereka terus-menerus terjadi dan semakin berat setiap saat.
***
Lara dan yang lainnya telah selesai dengan para warewolf mereka naik ke atas menaiki Gunung bersama. Perjalanan masih panjang, mereka terus di ganggu oleh Warewolf.
Lara dan lainnya akhirnya sampai di desa Platos keadaan di sana sangat buruk, semua telah hancur terbakar oleh lava yang yang meluap sebelumnya, di tambah dengan debu Vulkanik yang menumpuk kian tinggi setiap hingga sekarang membuat semua wilayah desa Platos terlihat seperti padang abu vulkanik dan hanya menyisakan beberapa atap bangunan yang masih belum tertimbun.
__ADS_1
Lara berhasilkan menemukan lokasi Kuil Dewi Luna sebelumnya, ia hanya bagian ujung atapnya. Menemukan itu lara segera membobol atapnya dan menemukan bahwa ruangan di dalam masih selamat. Lara tidak tau bagaimana kuil itu masih bisa selamat dari letusan bahkan tidak tampak tergores sedikitpun.
Lara masuk ke dalam ruangan kamar milik Imam Senior yang sebelumnya mati terkubur dalam Gua Platos. Ketika masuk, ia menemukan beberapa buku di meja belajar. Beberapa masih terbuka dan beberapa tersusun rapi di sisi Meja. Lara sekilas membuka satu demi satu buku yang ada kemudian menyimpannya ke dalam inventorinya.
Lara tidak berhenti sampai disitu, ia membuka surat yang tersimpan di laci dengan sangat rapi. Ketika lara membuka itu, ia tiba-tiba berpikir sesuatu. Giezmen dan lainnya ikut masuk ke dalam dan terkejut kuil masih baik-baik saja, mereka masuk ke ruangan belakang dan menemukan Lara di sana
‘’apa pendeta menemukan sesuatu?’’ tanya Geizmen dengan santai
‘’yeah, aku menemukan sesuatu yang berguna’’ kata lara tenang dan menyimpan surat di tangannya ke inventori milikinya’’
‘’Baguslah, sepertinya gereja ini masih bertahan kita bisa menginap disini malam ini’’ kata Monca di luar mendengar percakapan Lara dan Giezmen
‘’Benar ketua, kita akan menginap disini malam ini’’ Big hardi tampak bersemangat melihat ruangan, sudah lama ia tidak beristirahat di ruangan di game, setidaknya sejak raid datang ia bahkan hampir tidak bisa istirahat dengan tenang. Lara tidak keberatan mereka untuk tidur kuil, karena memang tidak ada tempat lain juga sekarang untuk di tempati.
Giezmen melihat ekspresi Lara menjadi lega dan cukup bersemangat lalu menutup pintu karena itu adalah ruangan pendeta yang berarti itu adalah ruangan milik lara. Monca yang baru tiba ke dalam melihat Giezmen mengunci pintu kemudian bertanya
‘’Ada apa di dalam’’
‘’ketua ini ruangan adalah pendeta’’ kata Gizemen pada Monca menghalangi masuk
‘’Bagus, aku tidur di sana. Itu adalah kamarku’’ Kata monca dengan nada memerintah
‘’tidak bisa, Pendeta Lara sudah di sana anda tidak bisa masuk’’ kata Giezmen dengan sedikit gugup
‘’kenapa aku tidak, aku ketua, aku harus tidur di ruangan paling bagus’’ Monca protes
‘’ketua tolong tenang, anda tidak bisa masuk. jika anda masuk, pendeta bisa menandai anda dan membuat tanda pada anda. jika itu terjadi ia terjadi, maka anda akan dicap musuh gereja luna’’ terang Mica di belakang dengan sedikit berbohong
‘’apa!!! bagaimana bisa begitu?, tidak ini bukan kuil miliknya. jadi…..’’ Monca menemukan kesalahan dari kata-kata Mica
‘’Setiap pendeta memiliki hak di setiap kuil dewi mereka, Monca kau tidak bisa masuk tanpa izin dari Pendeta’’ kata Han membuat Monca cemberut dan pergi mengecek kamar lainnya
__ADS_1