
Lara mencurigai semua yang tejadi pada dirinya sekarang pasti karena topeng yang ia kenakan. Sebab memang tidak ada barang lain yang ia tidak bisa indentifikasi selain topengnya. Memikirkan itu Lara semakin yakin topeng yang ia kenakan pastilah tidak sesederhana topeng Narapidana seperti yang di katakan Igaram sebelumnya.
‘’Pasti ada sesuatu pada topeng ini’’ pikir Lara sambil memegang topengnya
Lara berjalan kedepan melewati sebuah cahaya yang menyilaukan matanya dan kemudian ia menemukan itu sebenarnya adalah jalan buntu dengan Lava yang mendidih di bawahnya yang membentuk seperti sebuah danau. Lara memeriksa temperatur di satu meter didepannya di mana itu adalah batas maksimal yang bisa di raih oleh fitur pengukur suhu yang ada di menu.
Lara melihat dengan jelas angka yang tertera di layar yang menunjukan angka 4500 derajat Celsius.
Melihat itu langsung Lara berpikir kemudian melihat ke belakang sesaat setalahnya. Ia menemukan fakta yang mengejutkan ia memeriksa lantai dan dinding gua itu panasnya dua kali lebih rendah dari suhu yang seharusnya dan itu tidak masuk akal dalam ilmu pengetahuan.
‘’Aku mengerti ini kemungkinan ini bukan lah tanah keras biasa’’ Pikir Lara sambil mengambil serpihan dinding gua dan kemudian mengidentifikasinya
Item
Fire Stone (Batu api)
Langka
0.2 Kg
v Ini adalah sebuah batuan yang dapat menyerap panas dari panas selama ribuan tahun. Batu api bisa menangkal dan melemahkan panas di sekitanya sampai pada tahap tertentu.
Lara berpikir bagaimana jika batu itu dicampurkan dengan biji besi dan dibuat sebagai tameng atau armor pasti akan sangat berguna saat melawan pengguna element api atau juga bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat peralatan untuk para penempa.
Lara melihat ujung pakaiannya yang tampak mulai terbakar sekarang dan menemukan itu Lara segera melepaskan pakaiannya kemudian menyimpannya ke dalam Inventorynya dan membuatnya hanya memakai celana kecil untuk menutupi bagian bawah perutnya sampai kelutut.
Lara tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi, kemudian ia sedikit bisa menebak bahwa Topengnya memang melindunginya dari panas dengan maksimal namun topeng tidak benar-benar melindungi barang-barangnya tapi hanya mengurangi dampak yang di terima.
Karena banyak serpihan yang ada disekitar, lara segera memungut semuanya. Semakin dekat dengan mulut gua menuju danau Lava semakin besar serpihan yang ia dapatkan.
Dengan cepat Lara membersihkan semua serpihan yang ia ada. Lara mencoba menggunakan panah cahayanya untuk menghancurkan dinding tapi tidak ada hasil karena itu lara memutuskan kembali ke desa platos, membeli alat penambangan serta belajar skill penambangan kemudian kembali lagi untuk mengumpulkan batu api lebih banyak.
***
Setelah dua hari berjalan dalam gua Lara akhirnya keluar dari dan kemudian langsung menuruni gunung. disisi lain di gereja sekarang terlihat seorang wanita bertanya pada suster tentang keberadaan lara ia mengenakan baju longgar dengan rambut panjang warna perak.
__ADS_1
Penampilannya sangat cantik an menarik perhatian banyak player yang dekat dengannya. Ia adalah Michel, ia telah berjalan dari Philotas di mana dia pertama muncul dalam game menuju ke platos untuk bertemu dan bermain dengan anaknya.
Saat lara kembali Michel langsung mendatanginya dan dengan cepat Lara mengenali ibunya yang datang ke arahnya. Michel tampak gembira melihat lara yang santai berjalan ke arahnya.
‘’Kau akhirnya kembali, aku sudah menunggu disini selama dua hari’’ kata Michel ketus
‘’Kenapa ibu tidak memberi tahuku jika ibu akan datang kesini’’ kata lara dengan tanpa dosa
‘’Kejutan… kau tau kejutan’’ kata Michel yang membuat orang yang melihatnya sekarang jadi sangat suram seakan telah menerima berita kematian orang tersayang mereka.
‘’Kejutan?… haha.. aku terkejut’’ lara mengeluarkan ekspresi terkejut
‘’Bodoh… gadis perawan ini mengutukmu sial seumur hidupmu’’ kata Michel dengan suara keras dan bertingkah seperti wanita berumur 20an
‘’Haha… maaf hidupku sudah sial sejak awal kutukan itu tidak akan berguna’’ Lara tertawa keras
‘’Tidak kau akan lebih sial mulai sekarang’’ kata Michel
‘’Haha… menambah setitik air ke lautan tidak ada gunanya... ayo masuk, ibu pasti lelah’’ Lara tertawa dan kemudian mengajak ibunya untuk masuk keruangannya
‘’Nah… begitu, kau akhirnya bisa bertindak dengan benar’’ Michel mengoda anaknya
Saat melihat lara, Ijah dan Mila langsung tampak semeringah mereka bersyukur karena lara pulang dengan selamat. mereka tau lara pergi ke gua di gunung dan sudah hampir seminggu mereka menunggu dengan khawatir.
‘’Masuk sebentar ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian’’ kata lara pada Ijah dan Mila
Michel melihat dua suster muda yang bersama lara membuatnya tersenyum dan terus mengikuti lara dari belakang. Lara mengeluarkan semua batu api ke lantai, Ijah dan Mila tidak tau apa itu. Baru kemudian setelah lara menerangkan apa itu, mereka terkejut karena itu termasuk kedalam mineral langka dan berharga.
Lara memerintahkan Ijah dan Mila untuk menjualnya pada pengepul dan hasilnya untuk diberikan ke pada lara 30% dan sisa digunakan untuk melanjutkan renovasi kuil.
Ijah dan Mila langsung menyetujui permintaan lara mereka langsung pergi ke pengepul dan menjualkan mineral sementara itu di ruangan hanya ada lara dan ibunya. Michel melihat lara duduk di kursi belajarnya membuka bukunya tampak menulis sesuatu
‘’Apa yang kau tulis?’’ tanya Michel penasaran dan mendekati lara untuk melihat
‘’Hanya pemikiranku saja terkait gua yang sebelumnya aku datangi’’ terang Lara
__ADS_1
‘’Gua?’’ Michel tampak tertarik dan lebih mendekat ke arah Lara.
Lara menjelaskan apa yang ia lakukan selama beberapa hari belakangan dengan sangat detail dan semakin lama semakin membuat Michel tertarik untuk masuk ke gua yang dimaksudkan lara namun ia tidak punya topeng seperti milik lara sehingga kemungkinan ia tidak akan bisa sampai ke titik lara terakhir berada.
Mila dan Ijah kembali setelah malam mereka tampaknya tidak sendiri mereka bersama-sama orang-orang yang merupakan penambang belerang desa Platos.
‘’Pendeta..’’ para penambang menyambut lara di raung utama
‘’Haha… ini hal yang baik berdoa setelah bekerja’’ lara berkata dengan santai
‘’Pendeta kami kesini tidak untuk berdoa ada sesuatu yang kami tanyakan kepada pendeta’’ kata salah satu penambang yang tampaknya menjadi panutan atau pemimpin dalam kelompok penambang belerang yang datang
‘’Silahkan..silahkan’’ lara sudah menebak apa yang mereka inginkan tapi ia hanya menjawab dengan formalitas saja.
‘’Menurut apa yang di katakan suster, sebelumnya pendeta telah masuk ke gua di gunung dan menemukan batu api dalam perjalanan. Apa itu benar?’’ kata pemimpin penambang dengan tegas
‘’Benar…’’ lara mengklarifikasi dengan cepat dan sudah mengetahui ke mana arah pembicaraan orang yang sedang berbicara dengannya sekarang.
‘’Desa ini adalah desa miskin dan batu api bisa memperbaiki itu. Namun, penduduk desa lemah. Kami sudah beberapa kali mencoba menjelah dan selalu gagal. Aku harap pendeta bisa membantu kami untuk menyingkirkan para monster dan membiarkan penembang untuk menambang batu api’’ kata penambang itu
‘’Kenapa aku harus membantu kalian?’’ kata lara dengan jijik
‘’Sebagai seorang pendeta anda harus membantu orang-orang. Jadi, tolong bantu kami pendeta’’ orang di depan lara berbicara lembut dan hormat namun sebenarnya itu adalah pemaksaan untuk lara.
‘’Aku harus membantu orang sepertimu?. Jangan bercanda, kau bahkan tidak tau cara menghormati kuil dan sekarang meminta tolong pada pendetanya. coba minta izin dulu pada pemiliknya jika ia membuka mulutnya sedikit saja katakan padaku’’ lara menoleh ke arah patung dewi luna dengan nada keras
Mendengar itu Ijah dan Mila sangat terkejut mereka melirik arah patung yang sudah termakan usia kemudian menundukkan kepala mereka sangat dalam. Entah apa yang mereka pikirkan tapi jelas mereka mengetahui Lara sangat marah dan menolak dengan keras untuk membantu.
Para penambang tampak tidak terima dengan penolakan lara dan sesaat kemudian terikan terdengar dari belakang kerumunan penambang
‘’Dasar pendeta berhati iblis, pergi saja dari desa ini kami tidak butuh orang sepertimu’’ salah satu rombongan yang berada di belakang berteriak
‘’Haha… bagus pergilah dari pendeta berhati iblis ini Dewi Luna tidak butuh sampah seperti kalian’’ lara tertawa dan berkata dengan jijik setelahnya
Suara lara menggelegar ke seluruh ruangan membuat ruangan menjadi sunyi, beberapa pengunjung kuil yang masih disana terkejut dan terdiam melihat kemarahan pendeta misterius di desa mereka.
__ADS_1
Para penambang yang tidak lagi bisa berkata apa pun lagi mendengar Lara berbicara, mereka hanya bisa menatap lara dengan kebencian dan kemudian keluar tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka.
Lara berbalik ke kamarnya Ijah dan Mila mengikuti Lara dan saat mereka berjalan di belakang mengikuti lara berbicara yang merubah pandangan mereka padanya.